
"Gretta! Kau membaca dongeng lagi?"
Mendengar suara sang kakak, Gretta segera mengangkat kepala dan berlari menghampiri. Gadis kecil itu menunjukkan buku dongengnya dengan antusias seraya bertanya, "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada Putri Ariel? Apa mereka benar-benar menikah?"
Edna menyeringai, "Kau penasaran?" tanya nya balik, Gretta menganggukkan kepalanya cepat
"Baiklah, akan kuberitahu rahasia dongeng yang baru saja kau baca. Ayo duduk" ucap Edna, dia mengajak adiknya duduk sebelum melemparkan buku dongeng tadi ke sembarang arah. "Nah, lupakan buku itu dan dengar baik-baik, Gretta... Ini adalah kisah asli Little Mermaid yang tidak diketahui banyak orang"
Setelah kejadian dongeng Snow White waktu itu, Gretta sebenarnya cukup marah dengan Edna karena merasa dibohongi. Tapi sama seperti sekarang, sang kakak terus saja datang ketika Gretta sedang membaca dongeng yang mana kemudian putri sulung Schnee itu akan menceritakan (dengan agak memaksa) pada nya 'kisah asli' dari dongeng tersebut yang isinya sangat berbeda jauh. Kebanyakan dongeng milik Edna selalu menyalahkan karakter lelaki atau sang Pangeran
Pada awalnya Gretta tidak menghiraukan ucapan kakaknya karena dia sangat menyukai kehadiran karakter Pangeran di setiap dongeng yang dibacanya, namun semakin sering dia mendengar nya, gadis kecil itu lama-lama jadi penasaran dengan cerita versi sang kakak setiap dia membaca dongeng baru. Dia ingin tahu apakah akhirnya nanti akan ada seorang Pangeran yang 'sama' di versi Edna
Sayangnya seperti yang kita tahu, Edna tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia selalu menjelekkan karakter Pangeran di setiap kesempatan tidak peduli se-sempurna apapun penulis dongeng menuliskan sang Pangeran.
"Seperti yang ada di dongeng, Putri Ariel dikisahkan jatuh cinta pada Pangeran Erik yang ditolongnya. Rasa cinta nya sangat besar sampai dia memberanikan diri menghadap penyihir laut bernama Ursula untuk menjadikannya manusia. Nah, bedanya di kisah asli ini Ursula berkata bahwa Ariel harus menukar suaranya dengan sebuah kaki untuk bisa hidup di darat bersama sang Pangeran. Namun, apabila ia gagal mendapatkan cinta Pangeran Erik, sang Putri akan hilang menjadi gelembung udara."
"Gelembung udara?" Gretta memiringkan kepala tidak paham
"Maksudnya dia akan mati dan berubah menjadi gelembung." jelas Edna singkat, dia lalu meneruskan. "Akibat itu, Putri Ariel tidak bisa hidup di darat dan juga di laut tanpa menerima cinta sang Pangeran terlebih dahulu"
"..... Kasihan sekali. Lalu apa yang terjadi? Pangeran Erik tidak menerima cintanya?" tebak Gretta pesimis saking seringnya dibuat kecewa oleh cerita Edna, sang kakak menahan tawa sebelum memasang wajah paling sedih yang bisa ditunjukkan nya lalu menghela napas panjang
"Sayangnya.... Kau benar. Pangeran Erik menikah dengan gadis lain dari Kerajaan seberang dan mengkhianati Ariel karena dia bodoh. Dia salah mengira orang lain yang menyelamatkan nyawanya, bukan Ariel"
"Apa....? T-Tapi Ariel kan bisa menjelaskannya! Apa dia tidak menjelaskan kalau dia yang menyelamatkan Pangeran Erik?"
Edna menjentikkan jari, "Pertanyaan bagus, tapi sepertinya kau lupa satu hal. Ariel menukar suaranya demi sepasang kaki supaya bisa bertemu Pangeran Erik, jadi dia tidak bisa bicara apalagi menjelaskan. Selain itu, si Putri duyung sudah terlalu sakit hati jadi dia lebih memilih untuk bunuh diri melompat dari tebing dan berubah menjadi gelembung daripada melihat si Pangeran bodoh yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain. Tamat"
"Cerita ini.... Sangat berbeda dari yang kubaca di buku dongeng" Gretta berkata murung, tak lama kemudian matanya jadi berkaca-kaca. "Kak, kasihan sekali Putri Ariel. Pangeran Erik bodoh, aku tidak suka dengannya"
Edna menarik adiknya ke dalam pelukan lalu mengusap rambut anak itu dengan lembut, "Itulah kenapa kau tidak boleh jatuh cinta dengan Pangeran, Gretta. Mereka manja dan bodoh, beberapa ada juga yang tidak waras seperti Pangeran nya Snow White" ucapnya, Gretta mengangguk setuju dalam pelukan yang mana membuat senyum licik terlukis di bibir Edna
Akhirnya semua usaha nya mulai membuahkan hasil. Gretta perlahan tidak lagi mempercayai dongeng yang mengagungkan sosok Pangeran berkuda putih, dan itu semua berkat Edna yang 'memberi bumbu' pada cerita aslinya
Tok tok tok!
"Masuklah,"
"Mohon maaf nona Edna, kereta kuda tuan muda Diven baru saja sampai di depan. Nyonya meminta anda untuk pergi menyambutnya seperti biasa"
Senyuman langsung luntur dari bibir gadis bersurai ungu itu, dia menghela napas malas lalu melepaskan pelukan adiknya
"Tunggu disini sebentar ya, Gretta. Aku akan segera kembali"
Edna berjalan keluar dari ruang bermain dengan wajah ditekuk. Dia kesal karena persis seperti janji Jeffrey di pesta ulang tahun nya waktu itu, lelaki itu benar-benar datang berkunjung ke mansion Schnee hampir setiap hari mengganggu waktunya untuk mendoktrin Gretta dengan alasan ingin bermain
Padahal menurut novel maupun ingatan kehidupan kedua Edna, Jeffrey merupakan teman bermain resmi Pangeran Genio yang juga berteman dengan Eleanor. Hubungan pertemanan mereka berjalan baik sampai dewasa jadi jelas harusnya mereka masih sering bermain bersama sekarang, tapi entah kenapa lelaki itu malah datang ke rumah Edna terus akhir-akhir ini
'Ini tidak seharusnya terjadi..' batin Edna, matanya tidak sengaja bertatapan dengan Jeffrey yang tadinya sedang berjalan sambil mengobrol dengan para pelayan, dan anak lelaki itu langsung tersenyum lebar.
Edna berdecak. Melihat senyuman manis Jeffrey bukannya membuat suasana hatinya membaik malah jadi semakin buruk sampai dia ingin mengumpat
"Selamat pagi, Edna. Aku datang lagi untuk berteman denganmu hari ini" sapa lelaki itu ramah sambil melambaikan tangan. Para pelayan yang berada di sekitar Jeffrey mengalihkan pandangan kepada Edna menanti respon sang nona
Namun harapan mereka akan nona nya yang juga menyapa dengan ramah pupus begitu Edna mengerutkan kening tidak suka
"Kenapa datang lagi? Seingatku aku tidak pernah memintamu untuk datang lagi." ketus gadis bersurai ungu itu seraya menyilangkan tangan di dada
"Tentu saja karena aku ingin berteman denganmu"
"....."
Edna tidak mengerti, beberapa bulan ini dia selalu mendorong Jeffrey menjauh di setiap kesempatan, bahkan sering berbicara dengan kasar meski derajat lelaki itu sebagai putra semata wayang Duke Diven sebenarnya lebih tinggi darinya yang hanya putri sulung keluarga Marquis. Namun bak robot rusak, Jeffrey selalu datang pada keesokan hari dengan senyuman sepolos malaikat seperti sekarang
"Aku tidak mau berteman denganmu" tolak gadis itu lagi yang entah sudah ke berapa kalinya dalam beberapa bulan ini, Jeffrey mengangguk santai lalu mengekor pada Edna seolah hal ini sudah jadi rutinitas nya
"Edna, apa anak bernama Rery itu akan datang juga hari ini?"
"Apa urusannya denganmu?"
"... Begini, kalau misalnya dia tidak datang, apa mungkin aku bisa... Ehem, menggantikan posisinya kalau kau dan adikmu bermain rumah-rumahan hari ini?" tanya Jeffrey mencari kesempatan, matanya melirik ke arah Edna penuh harapan
Setiap bermain rumah-rumahan bersama, biasanya Edna selalu dipasangkan bersama Rery oleh Gretta untuk menjadi 'Ayah dan Ibu' sedangkan Gretta sendiri nantinya akan berperan sebagai anak mereka. Lalu apa peran yang didapat oleh Jeffrey? Bukan 'paman', dia menjadi 'orang sampingan' yang hanya muncul ketika mereka memerlukannya untuk menjadi pedagang buah atau pelayan restoran.
Jeffrey tidak mampu protes meski merasa tidak adil karena dari awal sebenarnya Edna tidak mengijinkan nya ikut bermain sama sekali, masih beruntung adik gadis itu kadang memerlukannya jadi dia tidak sepenuhnya diabaikan seperti pertama kali
Tapi hari ini sepertinya Rery tidak datang, jadi Jeffrey ingin mencoba peruntungan nya menggantikan posisi anak itu
'Awalnya mungkin hanya menggantikan posisi, tapi siapa tahu nanti akhirnya aku akan mendapat peran penting bersama Edna' batin Jeffrey bersemangat
"Terserah kau saja"
"Oh? Benarkah? Terima kasih, Edna!" Lelaki bersurai hitam itu menarik tangan gadis di depannya senang, "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini"
"Tentu saja!"
...*****...
Jeffrey menyesal.
Lelaki bersurai hitam itu duduk dengan wajah tertekuk, matanya mengamati pemandangan di depannya saat ini. Edna dan Gretta sedang berlatih pedang. Pantas saja gadis yang selama ini menolaknya itu tiba-tiba memberi ijin, ternyata dari awal mereka tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan hari ini
"Anak bernama Rery itu pasti tahu jadwal hari ini makanya tidak datang" gumam Jeffrey iri, dia menoleh ketika sudut matanya melihat nampan berisi segelas jus jeruk
"Saya bisa memberi tuan muda semua jadwal nona Edna jika tuan muda menginginkannya, tentunya tanpa sepengetahuan nona" Sophia tersenyum lembut, dia kasihan pada Jeffrey karena Edna terlihat sangat tidak menyukai nya, jadi meski sedikit Sophia ingin membantu anak itu untuk akrab dengan sang nona
Namun seraya balas tersenyum, Jeffrey menggelengkan kepala kemudian berkata, "Tidak perlu. Aku tidak ingin membuat Edna tidak nyaman dan nantinya malah semakin tidak mau berteman denganku"
"Baik, tuan muda"
"Ah, tolong panggil aku Jeffrey saja, tuan muda terasa agak... Asing. Aku juga ingin akrab dengan semua orang di sekitar Edna"
"Kalau begitu.... Baik, tuan Jeffrey" ralat Sophia menuruti keinginan anak itu, Jeffrey tersenyum lebar lalu mengangguk senang
Sementara itu, di seberang sana Edna berhenti mengayunkan pedang ketika sudut matanya menangkap Jeffrey tampak sedang mengobrol akrab dengan pengasuhnya, Sophia. Mereka juga saling melempar senyum yang membuatnya jadi curiga.
"Apa ada masalah, nona Edna?" Kepala Ksatria keluarga Schnee sekaligus guru berpedang Edna serta Gretta, Sir John, bertanya penasaran karena tidak biasanya sang nona teralihkan fokusnya seperti ini kecuali ketika Gretta terjatuh atau luka
"Tidak ada" balas Edna menggelengkan kepala, dia mempererat pegangan tangan nya pada pedang lalu kembali berlatih dengan fokus
Dalam hati gadis itu berucap, 'Lupakan yang lain, aku harus menjadi kuat'
Sir John tidak bisa berhenti untuk tidak kagum akan kemampuan Edna dalam berpedang. Dia baru mengajari kedua putri tuannya itu sekitar 6 bulan yang lalu, tapi baik Edna maupun Gretta sudah berkembang pesat meski usia mereka masih sangat muda, terutama Edna yang terlihat seperti sudah berlatih selama bertahun-tahun.
'Aku akan menjadi lebih kuat lalu membunuh paman Eleanor lebih dulu ketika dia datang untuk menghabisi orang tuaku nanti' batin Edna bertekad. Karena dendam ingin menemukan pelakunya, dulu dia menghafal segala detail pembunuhan kedua orang tuanya termasuk lokasi, tanggal, bagaimana mereka dibunuh, serta waktu kematian. Sekarang dia kembali ke masa orang tuanya belum mati, Edna akan menggunakan ingatan itu untuk mencegah kejadian tersebut terulang kembali
Sebenarnya memang lebih mudah untuk membunuh si pelaku jauh sebelum hari kejadian karena dengan begitu keselamatan kedua orang tuanya akan lebih terjamin, tapi Edna tidak bisa melacak posisi si pelaku sekarang akibat usianya yang terlalu kecil untuk pergi ke guild.
Memang sedikit disayangkan, tapi bukan berarti tidak ada cara lain kalau yang itu tidak bisa dilakukan. Edna akan memotong leher paman Eleanor itu dengan tangannya sendiri dan menyelamatkan orang tuanya tepat di hari kejadian
"Baik, nona Edna dan nona Gretta mari kita istirahat dulu sebentar"
Gretta menoleh, dia tersenyum lebar seraya menurunkan pedangnya. "Yeiy istirahat!" pekiknya senang sebelum berlari menghampiri Sophia yang sudah mempersiapkan berbagai kudapan ringan serta minuman
Sir John terkekeh gemas melihat anak itu, lalu pandangannya berubah ke arah Edna yang masih berlatih. "Nona Edna, anda bisa istirahat sebentar. Tidak perlu memaksakan diri" panggilnya
"Aku tidak apa, tidak perlu istirahat" balas si gadis bersurai ungu, dia mengusap keringatnya sambil mengatur napas kemudian kembali mengayunkan pedang. 'Aku harus cepat kuat, orang tuaku bisa mati lagi kalau aku tidak lebih kuat dari sekarang'
Di kehidupan kedua Edna belajar menggunakan pedang karena merasa tidak bisa terus menerus menggantungkan pertolongan Rery, dan kemampuan berpedang nya cukup baik melihat jumlah mayat dari orang bayaran pamannya yang sudah dibunuhnya. Dia bisa saja membunuh paman Eleanor dengan mudah menggunakan kemampuan itu, namun sayangnya tubuh 10 tahun ini bahkan kesulitan untuk sekedar mengangkat pedang.
Oleh sebab itu Edna sekarang mempelajari semua dari dasar lagi supaya tubuhnya lebih kuat dan terbiasa memegang pedang. Tidak ada waktu untuk istirahat. Dia harus menjadi sangat kuat dalam setengah tahun ini atau dia akan kembali menjalani kehidupan gelap tanpa kedua orang tuanya
Lalu soal Gretta, salah satu penyesalan Edna dulu adalah tidak mengajak adiknya untuk ikut serta belajar berpedang guna menjaga diri. Tapi sekarang dia mengubah penyesalan itu dengan membuat Gretta ikut berlatih, sehingga sang adik nanti bisa melindungi dirinya sendiri di masa depan, tidak seperti di kehidupan sebelumnya yang hanya bisa menangis ketakutan ketika ada bahaya
Jeffrey menatap Edna dalam diam, kemudian dia menghela napas pendek dan menoleh ke arah Sophia. "Aku ingin membawakan Edna minum" ucapnya
Sang pengasuh mengangguk paham lalu dengan segera menyiapkan segelas es jus jeruk kesukaan nonanya dan memberikannya pada Jeffrey. "Silakan, tuan Jeffrey"
"Terima kasih, Sophia" ucap anak itu, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Edna yang berdiri memunggungi arahnya.
Jeffrey tersentak dan segera berhenti melangkah ketika Edna tiba-tiba menoleh dan menodongkan pedang kayu ke arah lehernya. Jus jeruk di tangan lelaki itu tumpah sedikit akibat gerakan mendadak tadi
'6 bulan... Kalau aku bisa membunuh orang itu 6 bulan lagi, aku tidak perlu melihat mayat Ibu dan Ayahku' batin Edna dalam hati, napasnya terengah dengan mata yang menatap Jeffrey tajam
"Sedang apa kau disini?"
------------------------------------------------
To be continued...
(*) Bonus
"Gretta, ayo pergi. Hari ini kita berlatih pedang!"
"Hm? Bukankah jadwal nya masih besok? Kakak kan sudah janji mau bermain rumah-rumahan denganku hari ini" tanya Gretta polos, Edna melirik Jeffrey yang berdiri agak jauh dari mereka
"Besok saja, Rery juga tidak kesini hari ini jadi tidak ada yang menjadi ayah. Kita latihan pedang saja hari ini, aku akan memberi tahu Sir. John sekarang"
"Kan ada kakak itu-"
Edna menggeleng kuat, dia menarik tangan adiknya sampai berdiri. "Tidak, tidak. Pokoknya kita berlatih pedang hari ini. Sekarang juga."
"Ugh, baiklah"