I'M THE QUEEN

I'M THE QUEEN
PART 7



Ketika akan pulang, Queen ingin memesan taksi. Pasalnya, saat pergi sekolah tadi pagi ia nebeng Lorenzo. Karena moodnya sedang ingin dibonceng. Tapi sayangnya Lorenzo sekarang ada urusan mendadak. Padahal Lorenzo sudah menawarkan akan mengantar adiknya ini pulang terlebih dahulu, baru ia akan pergi mengurus urusannya. Tapi, Queen lebih memilih pulang dengan taksi. Percuma Lorenzo memaksa, karena ia tahu betul watak sang adik. Queen tetaplah Queen. Sekali tidak ya tidak, sekali iya maka harus iya. Ini salah satu sifatnya, keras kepala. Menurun dari sang ayah dan abangnya Leonzio.


Baru akan memesan taksi, ada sebuah Lamborghini silver berhenti tepat di hadapannya.


"Butuh tebengan?" tanya seseorang itu. Yang ternyata ia adalah Gebrata Niconardo, teman abangnya.


"Eh bang Nico, gak usah ntar ngerepotin. Gue pesan taksi aja," jawab Queen santai.


Queen memang terbiasa memanggil cowok yang di atas umurnya dengan sebutan abang. Begitupun teman-temannya, mereka lebih nyaman memanggil kakak kelasnya dengan sebutan abang dibanding kakak.


"Gak terima penolakan, buru naik!"


Sebenarnya Queen tidak terlalu ingin menolak, hanya saja ia gengsi. Berhubung Nico terkesan memaksa maka, Queen tidak akan menolaknya. Mayan cogan, pikir Queen. Padahal hampir setiap hari mereka bertemu, tapi Queen baru menyadari seorang Nico yang terkesan tiada kurangnya.


"Ya udah, gue ikut. Tapi, lo yang maksa ya. Bukan gue yang mau," ucap Queen seraya memasuki mobil Nico.


"Gengsi lo turunin dikit," tutur Nico mulai melajukan mobilnya.


Mobil Nico membelah jalan ibu kota yang indah. Jalanan tidak terlalu ramai, membuat mereka tidak akan terkena macet. Tapi, disepanjang jalan tidak ada yang memulai pembicaraan. Itu membuat Queen kesal. Ia seperti memaksa ikut dengan seseorang yang tidak mau membawanya, dan berakhir diam-diaman di dalam mobil. Padahal ia ditawari bukan menawarkan diri untuk nebeng.


Dengan kesal Queen berkata, "Lo ikhlas gak sih bang nawarin mau ngantar gue?"


"Ikhlas," jawab Nico singkat tanpa menoleh ke arah Queen.


"Terus ngapa lo diem aja, kaya orang bisu."


"Terus, harus ngapain?"


"Ya, apa kek. Nanya mungkin ... bahas sesuatu, yang penting ngomong!" seru Queen kesal.


"Gak ada yang penting," jawab Nico santai. Ia tidak lihat saja Queen sudah kesal menahan amarahnya.


"Huh .... Udah, gak papa. Sumpah gak papa, lo diem aja. Lo ngomong bikin sakit hati," ucap Queen mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Nico menolehkan pandangannya sekilas ke arah Queen, bisa ia lihat wajah Queen memerah akibat menahan kesalnya. Tapi ia seolah tidak peduli, kembali memfokuskan kemudi mobil.


Saat sampai di halaman rumah mewah Queen, Lorenzo menghentikan mobilnya. Queen segera turun dari mobil Lorenzo.


"Makasih ya bang, mampir dulu gak? Cuma ya bang Enzo gak ada," ujar Queen. Ia berusaha tetap sopan dan tersenyum kepada orang yang sudah mengantarnya pulang, padahal sedari tadi hanya membuatnya kesal.


"Kemana?" tanya Nico menatap Queen.


"Siapa? Bang Enzo?" tanya Queen dan hanya dibalas deheman dari Nico.


"Kaya orang bisu aja, ham hem doang! Gak tau, tadi dia bilang ada urusan."


"Ya udah, gue balik."


"Gak!" Singkat, padat, jelas.


Queen harus ekstra sabar menghadapi sifat dari teman abangnya yang satu ini. Rasanya ingin sekali ia menjual Nico ke Mister Limbat , biar tidak bicara sekalian.


"Baiklah. Hati-hati Mister Limbat!" seru Queen dan dibalas tatapan tajam oleh Nico. Queen hanya mengangkat satu alisnya dengan wajah datar. Seolah menantang Nico, 'apa lo? gak terima?'. Kira-kira begitulah arti tatapan Queen.


Setelah mobil Nico menghilang dari pandangannya, barulah ia masuk ke istananya.


"Non Nara ... baru pulang, non?" sapa bi Jum yang baru selesai beberes dapur. Ia pun menghampiri Queen.


Bi Jum adalah ART yang sudah bekerja 18 tahun di rumah nenek dan kakek Queen yang di Bandung. Bi Jum juga ART kepercayaan keluarganya, mereka juga mengenal dekat bi Jum. Karena semasa tinggal di Prancis, setiap berlibur ke Indonesia Queen sekeluarga akan menginap di rumah nenek kakeknya. Bahkan, bi Jum sudah dianggap keluarga oleh keluarganya.


Karena itulah nenek dan kakeknya menyuruh bi Jum yang akan menjadi ART di rumah barunya. Ya, rumah mewah Queen sekarang adalah rumah yang baru ayahnya beli saat pindah ke Indonesia. Nenek kakek Queen tidak mudah percaya pada orang baru, sebab itulah bi Jum yang dioper ke rumahnya. Sementara di rumah nenek kakeknya juga ada ART terpercaya, bi Ruti namanya. Beda sedikit dengan bi Jum, bi Ruti sudah bekerja 20 tahun di rumah nenek kakeknya.


"Eh ... iya bi Jum, Nara baru pulang." Queen duduk di meja makan karena sapaan bi Jum tadi, ia juga ingin mencurahkan isi hatinya yang kesepian.


"Sepi ya rumah bi, gak ada mama papa. Padahal udah biasa kaya gini, tapi tetep aja gak enak!" seru Queen lirih sambil memainkan sendok di tempatnya. Bi Jum bisa melihat tatapan sendu dari anak majikannya ini, ia pun berusaha menenangkan Queen.


"Ya gak papa dong non, tuan sama nyonya kan kerja buat kita semua juga toh? Buat jajan anak-anaknya, buat gaji pekerjanya. Nanti kalau tuan sama nyonya gak punya uang, anak-anaknya gimana mau jajan? Terus, semua pekerja di keluarga ini digaji pake apa?Hayo ...," ucap bi Jum panjang. Ia berusaha membuat Queen tidak bersedih lagi.


"Iya, bi Jum bener. Papa mama kerja buat kita semua. Tapi, sepi aja rumah kalo gak ada mereka. Apalagi bang Zio gak tau kapan ke Indo, terus kak Ilo juga jarang di rumah karena bisnisnya. Sekarang, bang Enzo juga gak di rumah. Huft ...," Queen menghela nafas berat.


"Cepat atau lambat, pasti kalian semua akan berkumpul bersama lagi non. Cuma nunggu waktunya saja," ucap bi Jum sembari mengelus surai Queen.


Karena merasa sudah tenang, Queen pamit ke kamarnya.


"Makasih ya bi, udah nenangin Nara. Nara ke kamar dulu, ya."


"Iya non, istirahat ya. Jangan banyak pikiran, nanti sakit. Kasian keluarga, pasti sedih kalo non sakit." Ucapan bi Jum hanya dibalas anggukan dan senyuman dari Queen.


Setelahnya, Queen beranjak dari kursi dapur menuju kamarnya di lantai 2. Ia melempar tas sekolahnya ke meja belajar, lalu merebahkan diri di kasur king size miliknya.


"Huh ... males banget di rumah, sepi gak ada isinya. Mama papa keluar kota, bang Zio masih di Prancis, kak Ilo ngurus bisnisnya, bang Enzo keluar. Terus, gue kemana??!!!" teriak Queen frustasi. Untungnya setiap kamar di rumah ini di desain kedap suara, jadi tidak ada yang akan mendengar teriakan Queen.


"Gue tau harus kemana dan ngapain ...!" Terpancar senyum jahat di bibirnya, segera Queen bersiap.


......................


"Oke girls!! Kita akan party malam ini!!!" Teriak Queen berdiri di samping Chelsie yang sedang mengemudi mobil milik Queen.


"Yuhu ...!!" Teriak mereka bertiga menyahut teriakan Queen yang juga berdiri di kursi belakang.


Mereka begitu menikmati angin yang menerpa wajah. Sepertinya mereka akan menggila malam ini.


...****************...