
Leonzio Chris Arginata, ia telah menyelesaikan kuliahnya dan langsung memutuskan pindah ke Indonesia menyusul keluarganya. Leonzio sangat lembut dengan orang terdekatnya, seperti keluarganya sendiri. Beda hal ketika ia sudah di luar, sifat dingin lah yang akan muncul dihadapan orang-orang.
Leonzio sudah terbilang cukup mapan dengan penghasilannya sendiri, walaupun ia baru selesai kuliah. Leonzio memiliki bisnis otomotif yang sudah berkembang cukup luas. Dari situlah Queen terinspirasi untuk menggunakan motor dan mempelajarinya cukup serius. Sampailah dimana ia sangat pandai mengendalikan dunia permotoran, bahkan Queen selalu menang balap tanpa sepengatahuan keluarganya.
Leonzio tidak memanfaatkan harta orang tuanya, karena ia sudah berpenghasilan sendiri sama seperti Ilona. Sementara Lorenzo dan Queen, mereka masih mengandalkan pemberian orang tuanya. Walaupun sesekali mereka berdua menghasilkan uang dari menang balap. Mereka masih menikmati masa sekolah tanpa memikirkan kerasnya mencari uang. Tapi, tidak ada yang tau bagaimana mereka ke depannya.
Javer dan Clarissa selaku orang tua Queen dan saudaranya, selalu memberikan apa yang anak-anaknya inginkan. Bahkan, Leonzio dan Ilona yang sudah berpenghasilan sendiri pun, masih dikasih uang jajan. Alasan Javer, selagi anak-anaknya belum menikah, hartanya akan terus mengalir kepada Queen dan ketiga saudaranya.
...****************...
Di balkon kamar Leonzio, ia sedang berbicara empat mata dengan adiknya Lorenzo. Lorenzo menyiapkan diri, kalau-kalau abangnya ini akan memarahinya.
Leonzio menghadap ke arah pekarangan rumah dengan Lorenzo di belakangnya. Leonzio menumpukan kedua tangannya di atas pagar besi balkonnya, dengan kedua tangan saling menyatu. Wajahnya datar, membuat Lorenzo berkali-kali menarik nafas kasar.
"Why?" tanya Leonzio tiba-tiba.
"H-ha? Apa? Apa yang why?" sahut Lorenzo gugup.
"Kenapa lo biarin Nara ke club?" tanya Leonzio lagi. Ia memutar badannya menghadap Lorenzo dengan tangan di atas pagar.
"Gue gak tau Nara ke club, bang. Gue ke club bareng temen gue. Pas nyampe di club, eh, tiba-tiba ketemu Nara lagi clubbing sama temen-temennya. Beneran gue gak tau," jelas Lorenzo dengan wajah panik.
"Terus kenapa gak lo bawa langsung Nara pulang? Malah dibiarin joget-joget gak jelas di sana. Gue gak pernah ngelarang lo buat gituan, karena gue juga gitu. Gue kan cuma minta satu, jagain adek sama kakak lo selagi gue gak ada. Kenapa dibiarin? Mau hilang satu kaki lo? Biar gak bisa kemana-mana lagi," ucap Leonzio sedikit memarahi Lorenzo. Bukan gimana-gimana, Leonzio hanya takut saudara perempuannya kenapa-kenapa.
"Iya gue salah, gak langsung bawa Nara pulang. Maafin gue lalai ngejaga Nara," ucap Lorenzo nyesal membiarkan Nara di club.
"Iya, gue maafin. Lain kali jangan teledor kaya gini lagi, paham?"
Lorenzo hanya mengangguk dengan wajah murung. Lalu kemudian, Leonzio merentangkan tangannya dihadapan Lorenzo. Lorenzo yang paham pun langsung memeluk erat abangnya. Bagaimana pun seorang abang memarahi adiknya, ia tidak akan tega melihat sang adik dilanda rasa Sedih.
...****************...
Hari ini, Queen diantar oleh Leonzio ke sekolah. Padahal Queen menolak, tapi Leonzio dengan segala keras kepalanya akan tetap mengantarkan adiknya ini. Bukan Queen tidak mau sebenarnya, tapi ia tau bagaimana reaksi murid sekolah setelah melihat ia diantar oleh pria bak dewa ke sekolahnya. Ia diantar Lorenzo saja sudah banyak fans baru Lorenzo, apalagi Leonzio. Membuat Queen pusing dan muak memikirkannya.
Saat sampai di halaman sekolah, Leonzio turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Queen.
"Silahkan kanjeng ratu," goda Leonzio.
"Bang Zio, apaan sih!" seru Queen. Ia menatap horor Leonzio, sedangkan yang ditatap hanya mendengus tersenyum.
Setelah keluar dari mobil, sesuai tebakan Queen. Mereka berdua menjadi sorotan para murid, lebih tepatnya sorotan untuk Leonzio Chris Arginata.
"OMG ...! Pangeran gue udah datang!!" teriak histeris salah satu murid.
"Gila-gila, gue gak kuat berdiri. Ganteng banget!"
"Tutup mata lo semua, dia punya gue!"
"Queen, gue cemburu lo sama cowo lain!"
"Siapa sih tuh cowo, gatel banget sama Queen?!"
"Cocok banget mereka berdua, serasi!"
Begitulah ocehan tidak jelas dari para murid untuk mereka berdua, Queen pusing mendengarnya. Tapi Leonzio hanya memasang wajah datar, seolah hanya bebek lewat.
"Ya udah, gue masuk kelas dulu. Makasih," ucap Queen.
"Iya, gue balik. Belajar yang rajin, biar pinter kaya gue." Ucap Leonzio sembari mengelus surai indah milik Queen.
Leonzio hanya tertawa pelan, lalu memasuki mobilnya.
"Bye ...!" seru Leonzio meninggalkan halaman sekolah.
Saat akan memasuki kelas, ternyata teman-temannya menyaksikan obrolan antara ia dan abangnya. Dengan wajah malas, Queen mulai mendekati ketiga temannya.
"Gila-gila ...! Siapa tuh, ganteng banget ... kaya pangeran gue," ucap Audrey merangkul pundak Queen.
"Iya, Queen! Ganteng banget. Gue rasa hidup lu dikelilingi cowok-cowok ganteng deh, heran. Beruntung banget," ucap Chelsie sumringah.
"Lebay lo pada. Ganteng sih ganteng, tapi biasa aja kali!" sindir Riska.
"Yeee ... jomblo gak diajak."
"Kaya lo gak jomblo aja!"
"Heh, udah! Apa sih, malah berantem. Itu tu abang pertama gue, bang Zio. Yang kemarin gue bilang masih kuliah di Prancis," ucap Queen.
"Ooo ...," mereka semua membulatkan mulutnya.
"Buat gue boleh gak, Queen?" ucap Audrey bercanda.
"Tanya orangnya sendiri."
"Yee, elu mah."
Mereka pun sampai di kelas dan pelajaran segera dimulai. Beberapa jam mereka lewati, waktu istirahat tiba. Semua murid berpencar menuju tujuan masing-masing, begitupun dengan Queen dan teman-temannya yang akan menuju ke kantin.
"Girls! Kalian duluan aja ke kantin. Gue mau ke toilet bentar," ucap Queen yang berada di ambang pintu.
"Muka lo kok pucat sih, Queen? Lo sakit? Mau gue temenin?" tanya Riska.
"Gak usah, gue gak papa, sendiri aja. Lagian cuma kebelet doang, kok."
"Lo yakin?" tanya Chelsie khawatir.
"Iya, yakin!" seru Queen. Kepalanya memang sedikit pusing dan perutnya mual, tapi ia tahan karena tidak terlalu kuat.
"Ya udah, kalo gitu kita duluan ya. Jangan lama-lama lo, ntar babang Tristan lama nungguin!" seru Audrey menggoda Queen.
Memang semenjak sebulan sekolah, banyak yang men-shipper Queen dan Tristan. Pasalnya, terlihat sekali dari cara perlakuan Tristan yang berbeda antara Queen dan semua temannya yang lain.
Queen tidak bodoh untuk menangkap semua perlakuan berbeda Tristan padanya. Tapi, Queen hanya mengabaikan. Ia tulus untuk berteman dengan mereka semua, apalagi Tristan sudah ia anggap seperti abangnya sendiri. Karena, memang Tristan sebaik dan se-menjaga itu padanya, sudah seperti abangnya sendiri.
"Yeee elu .... Ya udah sana! Pesenin gue mie ayam, jus alpukat sama ...,"
"Sama es kosong!" sela ketiganya serempak.
"Bukan begitu kanjeng ratu?" tanya Audrey mengejek.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Queen tidak bisa lepas dari es kosong ketika memesan makanan. Walaupun sudah ada jus atau es dingin lainnya, tetap saja es kosong number one. Adakah yang sama dengan Queen?
"Hehe ..., good girls. Udah ah gue duluan, keburu pipis celana ntar!"
Mereka pun berpisah, Queen ke toilet, teman-temannya ke kantin.
...****************...