
"Halo semua! Perkenalkan, saya Queenara Vhrins Arginata. Queen, panggilan saya. Pindahan dari sekolah di Prancis, alasan pindah karena orang tua saya pindah kerja di sini. Salam kenal semua, Terima kasih."
Ya, dia Queenara Vhrins Arginata. Putri dari Verry Arginata dan Clarissa Fransisca Arginata. Queen memiliki 4 bersaudara, 2 laki-laki dan 2 perempuan termasuk dia.
Anak pertama bernama, Leonzio Chris Arginata (22th). Kedua, Ilona Vhrins Arginata (20th). Ketiga, Lorenzo Thryan Arginata (18th). Terkahir, Queenara Vhrins Arginata (17th).
Queen hidup berkecukupan tanpa kekurangan sedikitpun. Mungkin seperti namanya, Queen yang artinya ratu. Entah itu sebuah takdir atau hanya kebetulan, antara nama dan kehidupannya bagaikan seorang ratu yang nyata.
Apa yang tidak Queen dapatkan, keluarga yang harmonis? Harta yang berlimpah? Kehidupan yang bebas? Bahkan Queen sudah mendapatkan itu semua.
Tapi, ada satu yang tidak Queen punya. Yaitu, seorang pacar. Bukan karena tidak ada yang mau dengannya, justru para pria mengantri untuk menjadikannya kekasih. Hanya saja, dia lah yang belum menemukan sosok pria yang cocok dengan kriteria di dalam daftarnya.
Queen termasuk anak muda yang nakal, mungkin karena kekuasaan lah yang membuatnya seperti itu. Nakalnya Queen tetap dalam pengawasan orang tua, apalagi saudara-saudaranya.
Keluarga Queen lumayan posesif, mereka tidak membiarkan Queen lecet sedikitpun. Karena bagi mereka, Queen adalah berlian yang harus dijaga. Salah jika kalian berfikir orang tua Queen pilih kasih, justru saudaranya lah yang lebih posesif terhadap adik bungsu mereka.
Queen dan saudara-saudaranya blasteran Indo Prancis. Ayahnya Indo, ibu nya Prancis. Awalnya, mereka menetap di Prancis. Tapi, karena Verry harus mengurus perusahaannya yang di Indonesia, terpaksa mereka pindah ke Indonesia.
Jangan tanyakan kenapa mereka semua fasih berbahasa Indonesia, itu karena mereka lumayan sering bolak balik Prancis-Indo untuk liburan. Queen dan keluarganya juga mempelajari bahasa Indonesia, semua atas permintaan sang ayah yang mengharuskan keluarganya bisa berbahasa Indonesia.
...
Oke, kembali ke sekolah. Queen mendapatkan kelas XI MIPA 2, yang dimana dia hanya mengenali teman sebangkunya. Yaitu, Audrey Anastasya.
"Hay! Gue Audrey Anastasya. Lo bisa panggil gue Audrey," sapa Audrey mengulurkan tangan.
"Hay! Gue Queenara Vhrins Arginata. Lo bisa panggil gue Queen," balas Queen menjabat tangan Audrey.
Audrey tidak memiliki teman dekat di kelas, karena teman dekat atau sahabatnya tidak satu kelas dengannya.
Di kelas, Audrey hanya berteman biasa dengan semua teman kelasnya. Saat jam istirahat tiba, Audrey akan pergi ke kelas sahabatnya atau sebaliknya, sahabatnya lah yang datang padanya.
Beberapa jam berkutat dengan papan tulis, akhirnya waktu istirahat pun tiba. Beberapa murid pergi keluar kelas, entah menuju kantin ataupun perpustakaan. Sebagian juga ada yang tetap di kelas.
"Queen, lo belum punya temen kan di sini?" tanya Audrey.
"Belum, gue baru tau lo doang. Kenapa?" tanya Queen balik.
"Ya udah, ayok ke kantin. Dari pada lo di sini, gak ngapa-ngapain."
"Boleh juga, ayok!" seru Queen sembari mengemas buku-bukunya.
"Oh ya, kita ke kelas sahabat gue dulu ya. Entar ke kantinnya barengan sama mereka."
Queen hanya mengiyakan apa yang diucapkan Audrey, hingga sampailah mereka di kelas XI MIPA 3. Kelas tersebut nampak sepi, hanya ada 3 orang saja di kelas itu.
"Chelsie! Riska! Ayok ke kantin," teriak Audrey. Padahal jarak antara dia dan temannya tidaklah jauh.
Ya, sahabat yang Audrey maksud adalah Chelsie Deskiana dan Friska Adriyhani. Mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA, yang artinya sudah setahun mereka sahabatan.
"Heh monyet, lo bisa gak sih gak usah teriak-teriak, sehari aja!" geram Chelsie kesal setengah mati. Pasalnya, Audrey ini seperti hidup di hutan yang bebas teriak sana sini.
"Tau ni anak, bener-bener udah mendarah daging sama monyet. Ngeselin," sahut Riska. Ia baru selesai menulis catatan dari gurunya tadi, begitupun Chelsie.
"Hehe, iya iya maaf. Lagian kalian lama bener, gue laper soalnya. Oh ya, kenalin nih, anak baru di kelas gua. Tadi sekalian gue ajak, kasian masih belum kenal siapa-siapa. Gak papa kan?" tanya Audrey.
Audrey bertanya dulu kepada sahabat-sahabatnya ini, apakah boleh Queen ikut sama mereka. Audrey takut, kedua sahabatnya tidak nyaman ada orang baru.
"Em, gue gak papa kalo dia mau gabung, yang penting gak muka dua aja." Itu suara Riska. Audrey menatap Riska sedih, beralih menatap Chelsie dan Queen.
"Just kidding bestie!" Riska hanya tertawa melihat ekspresi teman-temannya, terutama Audrey.
"Lo boleh gabung, yang penting traktir gue. Gimana, deal?" tanya Riska mengulurkan tangan.
Queen tersenyum tipis dan menjabat tangan Riska, "Oke deal."
"Chelsie, gimana? tanya Audrey.
"Gue juga oke aja. Soalnya kalo diliat-liat, dia anak orkay." Jawaban Chelsie membuat Audrey melongo.
Bisa-bisanya sahabatnya ini menjawab sesantai itu di depan Queen langsung. Audrey jadi tidak enak hati, takut Queen tersinggung.
Kedua sahabatnya memang seperti ini, mereka hanya bercanda. Padahal mereka juga dari keluarga yang sangat mampu. Tapi hey, setidaknya tau kondisi. Pikir Audrey.
"Oke, karena kalian udah nerima gue buat jadi temen kalian, gue akan traktir kalian bertiga sepuasnya!" seru Queen dengan senyum tipis tapi manis.
"Gak-gak! Gak ada ya, Queen. Lo jangan masuk hati ucapan mereka, mereka cuma bercanda kok. Maaf kalo lo tersinggung sama ucapan mereka," ucap Audrey.
"Gak papa Audrey, gue tau mereka juga orang berada. Gue emang mau traktir kalian, lagian uang gue ga akan habis sekedar buat traktir kalian doang. Anggap aja sebagai ungkapan terima kasih gue, karena kalian udah nerima gue di circle kalian."
Terkesan menyombongkan diri bukan? Mau bagaimana lagi, memang itu sifat Queen yang sedikit angkuh dan sombong. Mereka hanya tertawa menanggapi ucapan Queen, mereka tau Queen juga bercanda walaupun hartanya tidak bercanda.
"Ya udah, udah selesaikan dramanya. Ayok ke kantin laper gue," ucap Chelsie meninggalkan ketiganya.
Mereka pun menyusul Chelsie. Sampai di kantin, terlihat ruangan itu sudah padat dengan para murid. Hanya ada beberapa meja saja yang tersisa, dan untungnya itu cukup untuk mereka berempat.
Audrey mengajak Queen untuk membeli makanan yang mereka inginkan, hitung-hitung mengajak Queen berkenalan dengan penjual di kantin. Queen mengikuti saja, karena dia juga mau mengenal sekolahnya lebih jauh.
...****************...
Sedangkan di kelas XII IPS 1, Lorenzo atau yang biasa dipanggil Enzo juga sudah akrab dengan teman sekelasnya. Oh ya, Lorenzo satu sekolah dengan Queen.
Mereka satu sekolah itu atas permintaan orang tua dan saudaranya, termasuk Lorenzo sendiri yang mau. Alasannya, supaya Queen ada yang menjaga jika terjadi sesuatu padanya.
Baru beberapa jam yang lalu Lorenzo menempatkan diri di kelas itu, sudah mendapatkan geng saja. Biasa cowok mudah bergaul, apalagi orkay.
Lorenzo memiliki 5 teman tetap, yang artinya mereka lah teman dekat Lorenzo untuk ke depannya. Mereka adalah Gebrata Niconardo (Nico), Tristan Putra Abraham (Tristan), Jack Georgino (Jack), Randy Federo (Randy), dan terakhir Alex Saputra (Alex).
Mereka bukanlah geng motor atau geng apapun, mereka hanya murid biasa yang mengikuti perkembangan zaman. Tapi, bukan berarti mereka polos yang tidak tau dunia luar. Justru sebaliknya, mereka juga berandalan terkenal.
Bukan tanpa sebab mereka tidak membuat sebuah komunitas, mereka memiliki alasan tersendiri. Salah satunya, mereka tidak ingin banyak yang terluka apalagi sampai masuk penjara.
Jika mereka membuat sebuah geng, tentunya memerlukan banyak anggota. Dan otomatis banyak musuh yang mengintai, entah karena iri atau alasan lainnya.
Mereka memilih hidup tanpa ribet, melakukan semuanya atas dasar kesenangan masing-masing. Dan sejauh ini, belum ada keributan besar yang terjadi. Karena, ya memang meraka tidak pernah mau berurusan dengan geng-geng tidak jelas.
Mereka hanya melakukan semua hal-hal yang dilakukan anak muda zaman sekarang, tanpa harus ada perkelahian. Kecuali, salah satu dari mereka ada yang terusik. Jangankan membalas, masuk penjara pun mereka rela jika yang terusik orang terdekat mereka.
Kegiatan yang mereka ikuti sehari-hari biasanya, balap motor, clubing, bersantai riya. Dan, jangan lupakan kegiatan-kegiatan di sekolah yang selalu mereka ikuti.
...****************...