
Setelah acara sarapan di meja makan tadi. Kini, Queen sedang berada di perpustakaan dan di temani oleh Riska. Mereka berniat mencari buku novel. Yang kebetulan keduanya memiliki hobi yang sama yaitu sangat menyukai novel. Di kamar Queen bahkan sudah ada lemari khusus buku novel, tapi sudah ia baca semua. Rencananya Queen akan ke toko buku untuk membeli novel yang baru, Untuk sekarang ia akan meminjam dulu di perpustakaan. Sementara Riska hanya ikut menemani Queen, siapa tau ada novel yang menarik hatinya untuk ia pinjam juga.
Saat sedang asik memilih novel, seseorang datang menabrak Queen. Entah sengaja atau tidak.
Bruk!
"Aww ...!" pekik Queen.
Seseorang itu lumayan keras menabraknya, sampai-sampai tangannya tergores paku yang timbul di salah satu meja kayu.
"Heh! Lo kok hobi banget nabrak orang, bangs*t!" teriak Riska yang tersulut emosi.
Untungnya perpus saat ini sedang sepi hanya ada beberapa murid saja, dan guru yang menjaga perpus pun juga tidak ada.
"Maaf kak maaf .... Aku bener-bener gak sengaja," jawab orang itu.
"Lo ada masalah sama gue? Kayanya lo sengaja deh nabrak gue. Gue tau mana yang tulus, mana yang sok polos kaya lo, Ivarez Jovanka!" ujar Queen. Ya, dia Iva, murid baru di kelas X MIPA 1. Terdengar halus dan lembut memang, bahkan suara Queen terkesan pelan. Tapi setiap kalimatnya penuh tekanan yang mengintimidasi.
Sebenarnya Queen tau kalau Iva ini selalu, seperti ingin mencari gara-gara dengannya. Bukan baru kali ini saja, tapi sudah berkali-kali semenjak sebulan belakangan. Entah apa penyebabnya Queen sendiri pun bingung. Tapi Queen berusaha untuk tetap diam dan mengabaikan, ia akan lihat sejauh mana bocah ingusan itu bertindak.
"Maksud kakak apa ya? Kok bilangin aku kaya gitu? Aku kan udah bilang, aku gak sengaja! Gak sopan banget" sarkas Iva.
"Terus, sopan lo teriak-teriak depan kakak kelas lo?" ujar Riska tak terima.
"Kakak duluan yang teriak-teriak depan aku!" ucap Iva tak mau kalah.
"Mending lo pergi, sebelum hal yang gak lo inginkan terjadi!" seru Queen.
"Emang apa yang bisa terjadi? Kakak kan cuma bisa berlindung di bawah ketek kak Lorenzo dan teman-temannya!" ucap Iva dengan wajah songongnya.
Plak!
Queen menampar pipi Iva namun tidak terlalu keras, hanya tercetak bekas telapak tangan Queen saja di pipinya.
"Aws .... Kakak apa-apaan sih! Main tampar aja, aku bisa ya laporan tindakan kakak!" ucap Iva dengan pipi dan mata yang sudah memerah.
"Apa? Lo kira gue takut? Laporin sana, kita liat siapa yang bakal di penjara!"
"Yah ... Queen, kayanya bentar lagi hujan deh. Udah mendung nih," ujar Riska yang melihat mata Iva berkaca-kaca.
"Udah yuk, tinggalin aja. Gak jelas soalnya," lanjut Riska menggandeng tangan Queen.
Baru ingin melangkah, tangan Queen dicekal oleh Iva. Dengan cepat Queen memelintir balik tangan Iva ke belakang, membuat sang empu meringis kesakitan.
"Aws ...."
"Kurang ajar lo! Berani-beraninya nyentuh temen gue?!" ucap Riska ngegas.
"Temen kakak yang duluan nyentuh aku. Aws ...,"
"Kalo lo gak mau disentuh sama gue, jauh-jauh dari gue! Paham?!" tekan Queen. Queen semakin memelintir tangan Iva membuat sang empu terus meringis kesakitan.
"Gue tau, dari mata lo tersirat rasa benci untuk gue. Tapi, gue gak tau lo benci sama gue karena apa. Kita bahkan gak saling kenal. Gue diem selama lo ganggu gue dalam sebulan ini, bukan berarti gue takut. Jadi saran gue, jangan pernah ganggu hidup gue kalo lo gak mau kenapa-napa.
Jangan lo pikir karena gue diam, gue gak bisa apa-apa. Mungkin gue terlihat polos, tapi justru sebaliknya. Jadi, jangan coba-coba buat ganggu kehidupan gue. NGERTI, LO?!"
Setelah mengatakan itu, Queen melepas cekalan tangan Iva dengan sedikit dorongan. Membuat Iva terjungkal ke depan. Lalu ia menarik tangan Riska untuk keluar dari perpus. Gagal sudah niatnya yang ingin mencari buku novel tadi.
Tujuan mereka sekarang adalah kantin. Masih ada 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
"Tu anak emang gila kali, ya. Gak habis pikir gue bisa ketemu sama cewek modelan dia," ucap Riska yang ngedumel sepanjang perjalanan.
Sementara Queen hanya diam, ia berusaha meredam emosinya. Sesampainya di kantin, mereka ikut bergabung dengan Audrey dan Chelsie yang sedang memakan makanannya.
"Ada apa nih, nona Riska ngedumel gak jelas?" tanya Audrey heran melihat kedua temannya. Terutama Queen, wajah gadis itu terlihat sekali merah sedang menahan amarah.
"Diem lo! Gak usah nanya-nanya. Sebel gue sama tu anak, pengen gue tonjok aja muka sok polosnya itu!" ujar Riska merebut minuman Audrey dan menenggaknya habis.
"Marah sih marah. Tapi minuman gue gak diembat juga elah," ucap Audrey.
"Muka lo kenapa Queen? Merah bener. Kaya abis makan sambel satu mangkok aja," seru Chelsie.
"Tau nih. Awas lo ntar tanduknya keluar," sambung Audrey.
"Lagian siapa sih anak yang kalian maksud? Terus kenapa? Ngomong tu yang jelas!" seru Chelsie.
"Kesel gue sama Iva-Iva itu, hobi banget nabrak orang mana ngeyel lagi dibilangin. Masa dia yang nabrak Queen, dia juga yang marah-marah. Ya gak terima lah gue," ujar Riska dengan nada yang masih kesal.
"Kelas X MIPA 1 gak sih?" tanya Chelsie balik.
"Gak tau. Yang jelas dia adkel yang sebulan lalu nabrak gue di kantin," jawab Riska.
Sementara Queen terus diam tanpa berniat buka suara, ia masih dalam mode kesal jadi tidak minat bersuara.
"Oh ... yang itu! Iya-iya, gue ingat!" seru Audrey.
"Iya sama gue juga ingat," ucap Chelsie.
"Terus lo diapain sama dia Queen?" tanya Audrey.
"Gak diapa-apain, yang ada dia yang diapa-apain sama Queen." Bukan Queen yang menjawab, melainkan Riska.
"Queen ...," panggil Riska.
"Hm?" jawab Queen dengan deheman. Ia masih belum minat buat bersuara.
"Lo bisa bela diri? Soalnya, dari cara lo ke Iva tadi kaya udah terlatih. Bahkan dari yang gue liat, lo jago banget. Karena lo tau gimana cara melintir tangan seseorang tanpa membuatnya cedera. Dan lo lakuin itu ke Iva tadi?" tanya Riska serius. Memang benar apa yang dikatakan Riska, Queen hanya memelintir sedikit tangan Iva tanpa membuatnya cedera tapi sangat sakit.
Audrey dan Chelsie pun jadi ikut penasaran, apakah benar temannya Queen ini bisa bela diri. Pasalnya mereka tidak pernah melihat Queen menghajar seseorang, memberitahu pun tidak.
"Bisa dikit," jawab Queen singkat. Sebenarnya Queen sangat jago bela diri sedari kecil, tapi ia sedang malas banyak suara.
"Widih ... gue jadi punya temen searah nih. Udah hobinya sama, sekarang olahraganya pun sama, main otot."
Mereka tertawa mendengar penuturan Riska. Tapi, benar juga, pikir mereka. Kok bisa Queen dan Riska punya banyak kesamaan, benar-benar langit menyetujui pertemanan mereka.
Tak jauh dari tempat Queen dan teman-temannya, ada dua orang pria yang sedang membeli air mineral. Salah satunya memperhatikan Queen dengan tatapan lekat. Dalam hati ia berkata, 'Lo milik gue, Queenara Vhrins Arginata. Tunggu sampai masa itu datang. Gue biarin cowok manapun yang berusaha buat deketin lo. Tapi, jangan pikir gue hanya diam. Gue akan selalu ada di dekat lo, bahkan di depan mata lo.'
Setelah membatin, kedua pria itu pergi dari kantin menyusul teman-temannya di kelas.
"Nah, ini dia anaknya. Dari mana aja lo Jack, baru balik ke kelas?" tanya Alex.
"Dari toilet abis boker," jawab Jack.
"Iyuwh ... udah cebok belum lo?" tanya Randy dengan tatapan jijik.
"Lo kira gue cowo apaan? Abis boker kagak cebok! Ngadi-ngadi lo!" sarkas Jack.
"Yeee ... kan sia ...,"
"Nico sama Tristan mana?" sela Lorenzo. Ia jengah melihat teman-temannya ini, ada saja tingkat mereka, pikir Lorenzo.
"Gak tau, tadi mereka bilang mau ke kantin bentar. Gue gak ikut soalnya kan gue ke toilet atit uyut," jawab Jack mendramatis.
"Jijik banget suwer dah, temen siapa sih? Temen lo ya, Lex?"
"Temen lo juga gobl*k!"
"Ngapain ke kantin? Kan tadi kita baru abis dari kantin," tanya Lorenzo heran.
"Mene ke tehe," jawab Jack tak ambil pusing.
"Mungkin haus terus beli minum," ujar Alex.
"Nah ... itu dia, bos kita!" seru Randy.
"Ngapain lo ke kantin, bos?" tanya Alex saat melihat Nico dan Tristan.
"Beli minum," jawab Nico. Jangan lupakan ekspresi datarnya yang tidak pernah hilang. Ia memang membawa sebotol air mineral, begitu pun Tristan.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Beli minum kan mereka," tutur Alex kesenangan karena tebakannya benar.
"Emang, kenapa?" tanya Tristan.
"Gak papa, gue kira lo lagi nyari janda samping sekolah." Ucapan Lorenzo berhasil membuat mereka semua tertawa, kecuali satu orang yang diam membatin.
'Tunggu gue, Queenara Vhrins Arginata!' seru seseorang dalam hatinya.
****************
Baru bisa up dong saya! Maaf yaa, sinyal lagi lemot banget hampir seminggu ini kaya otak author. Ini juga effort banget supaya bisa up. Jam 1 malam, tak usahain. Karena udah berapa hari gak up. But, its oke. Karena akan author ganti keterlambatan ini dengan beberapa part, walaupun gak banyak.
Oke next.