
Sebulan sudah Queen lewati dengan hari-harinya di sekolah, dan hari ini juga hari libur. Queen memiliki janji dengan teman-temannya untuk sekedar nongki di sebuah cafe yang lumayan hits.
"Hm ..., gue pake motor apa mobil ya?" tanya Queen pada dirinya sendiri.
"Kayanya pake mobil aja, deh. Kan mau santai-santai, kecuali buru-buru baru pake motor." Akhirnya Queen memutuskan pergi menggunakan mobil.
Queen mengendarai mobil dengan santai, dan jangan lupakan musik yang mengiringi perjalanannya. Queen mengikuti setiap musik yang mengalun indah di telinganya, dengan lagu dari penyanyi Anne Marie. Anne Marie menjadi salah-satu favorite singer Queen sedari dulu.
🎵🎵🎵
Anne Marie - 2002
🎶 I will always remember
The day you kissed my lips
Light as a feather
And it went just like this
No, it's never been better
Than the summer of 2002 (ooh)
Uh, we were only eleven
But acting like grown-ups
Like we are in the present
Drinking from plastic cups
Singing, "Love is forever and ever"
Well, I guess that was true
Dancing on the hood in the middle of the woods
On an old Mustang, where we sang
Songs with all our childhood friends
And it went like this, say
Oops, I got 99 problems singing bye, bye, bye
Hold up, if you wanna go and take a ride with me
Better hit me, baby, one more time, uh
Paint a picture for you and me
On the days when we were young, uh
Singing at the top of both our lungs
Now we're under the covers
Fast forward to eighteen
We are more than lovers
Yeah, we are all we need
When we're holding each other
I'm taken back to 2002 (ooh)
Yeah🎶
...****************...
Beberapa menit mengendarai mobilnya, kini Queen telah sampai di depan cafe yang banyak pengunjung. Cafe itu bernama 'Ilona's Hangout Place'. Ya, itu adalah cafe kakaknya sendiri, Ilona.
Queen sengaja mengajak teman-temannya nongkrong di cafe Ilona, hitung-hitung Queen menampakkan batang hidungnya di cafe tersebut biar tidak dikira mati. Karena, meskipun pemilik cafe itu adalah kakaknya sendiri, ia sangat jarang berkunjung. Entah karena sekolah atau kegiatan lainnya.
Cafe itu terdiri dari tiga lantai, itu adalah pusatnya. Sementara cabangnya di Bandung hanya dua tingkat. Queen dan teman-temannya menyukai lantai atas, maka mereka memilih di lantai 2 karena lantai 3 sudah penuh.
Queen lupa bilang pada kakaknya untuk membooking meja khusus buat mereka. Jangankan booking, bilang mereka mau ke cafenya saja tidak Queen lakukan.
Baru akan menginjakkan kakinya ke dalam cafe, Queen melihat Audrey dan Riska datang menggunakan mobil yang ia yakini itu adalah mobil Riska. Karena mobil Riska mudah dikenali, dan emang rumah keduanya searah.
"Eh, Queen baru nyampe juga?" tanya Audrey sembari keluar dari mobil.
"Iya, baru aja. Chelsie gak bareng kalian?" tanya Queen balik.
"Gak, kan gak searah. Paling bentar lagi juga nyampe," jawab Riska.
"Oh ya udah, masuk dulu aja." Queen mengajak kedua temannya masuk ke dalam cafe.
Ketika akan menaiki lantai dua, mereka dikagetkan dengan suara Ilona yang menyapa mereka. Bahkan Ilona lebih kaget lagi, sebab adiknya ini tidak bilang mau ke cafenya.
"Hey, kalian datang ke sini? Kok, gak bilang-bilang dek?" tanya Ilona yang sedang memantau keadaan cafe.
"Eh, kakak. Iya, tadi aku lupa bilang. Jadinya ya gitu deh," jawab Queen diiringi cengiran.
"Oh ya, kalian mau ke lantai berapa? Biar kakak minta karyawan buat siapin."
"Ah, gak usah kak. Kita cuma mau nongki biasa kok. Kita mau ke lantai dua aja, lantai tiga udah penuh soalnya."
"Ya udah kalo gitu, have fun girls!" seru Ilona meninggalkan mereka.
"Of course, sist!" jawab mereka kompak setengah berteriak.
Tidak heran jika mereka semua terlihat akrab, karena memang Queen sering membawa teman-temannya main ke rumah bahkan menginap. Dan itu juga atas permintaan orang tua dan saudaranya, kata mereka sih biar kenal langsung dengan teman-teman Queen buat jaga-jaga.
Mereka pun naik ke lantai dua, yang dimana hampir penuh pengunjung, untung mereka cepat. Mereka memilih meja tengah di pinggir jalan raya nomor 24, karena itu salah satu meja yang masih kosong.
Sembari menunggu pesanan datang, mereka terus berbincang mengenai apapun yang bisa diceritakan. Sebulan berteman, membuat mereka menjadi lebih akrab. Hingga datanglah pesanan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Kok Chelsie belum datang juga ya. Gue jadi khawatir," ucap Audrey. Ia terus melirik ke arah jalan raya, berharap melihat kedatangan Chelsie.
"Nah, itu dia anaknya!" ucap Queen antusias melihat Chelsie.
"Heh nyet! Dari mana aja lo, lama bener baru nyampe! Ngelontong dulu lo ya?!"
Audrey yang mendengar teriakan Riska pun membekap kuat mulut temannya itu. Malu didengar pengunjung lain, pikir Audrey.
"Woy! Yang lo bekap itu hidung sama mata gue, bukan mulut gue!" teriak Riska.
"Oh iya, maaf salah." Setelah mengatakan itu, kembali Audrey menutup mulut Riska yang tadi sempat salah bekap.
'Punya temen kok gobl*k gini, ya?' batin Queen.
"Iya maaf, tadi gue disuruh mijitin nyokap dulu baru dibolehin keluar. Lo pada tau sendiri nyokap gue gimana," jawab Chelsie.
Tanpa Audrey sadari, minumannya sudah tandas dihabiskan oleh Chelsie.
"Chelsie!!!"
"Hehe .... Maaf, habisnya gue haus." Audrey sangat kesal melihat temannya yang satu ini, ditambah lagi cengengesan nya Chelsie. Seperti mak lampir, pikirnya.
"Udah-udah, pesan lagi sana. Gue traktir sepuasnya!" seru Queen menikmati indahnya suasana malam.
Mereka yang mendengar traktiran keluar dari mulut sang ratu pun, memesan sepuas hati mereka. Ya, karena Queen sering mentraktir teman-temannya, mereka jadi menganggap Queen, ratu. Lebih tepatnya, ATM berjalan. Tapi bukan berarti mereka memanfaatkan harta Queen ya girls, hanya senang-senang saja.
"Kaya orang miskin aja lo pada, ditraktir gitu doang padahal!" ucap Queen dengan tatapan busuknya.
"Mata lo gue miskin, gue kaya. Tapi, kalo ditraktir siapa yang gak mau coba?" ucap Riska.
"Tau lo, kekayaan keluarga gue bahkan melebihi kekayaan Chelsie. Ya, walaupun gak bisa saingin sama kekayaan lo," ucap Audrey yang ditatap tak terima oleh Chelsie.
"Woy, monyet kaki lima! Keluarga gue lebih kaya ya, dari keluarga lo!" sarkas Chelsie tidak terima dengan ucapan Audrey.
"Udah ah, berisik banget sih kalian. Mau nongki kok ribut!" ujar Queen muak. Padahal sumber masalahnya kan dari dia, hadeh.
Di tengah asik ngobrol, ternyata ada seorang pria yang berada di meja pojok sedang memperhatikan Queen. Dari cara ia menatap, tidak bisa ditebak apa isi pikirannya.
"Gue gak tau ini perasaan apa. Tapi, gue akan pastikan lebih dalam tentang perasaan gue!" seru pria itu lalu pergi dari sana.
...****************...
Pagi harinya, di kediaman keluarga Arginata. Semua sedang berkumpul di meja makan untuk melaksanakan kegiatan sarapan pagi. Semua memakan makanannya dengan hikmat, sampai sang mama mengeluarkan suara.
"Sayang! Hari ini, mama sama papa mau ke luar kota buat ngurus bisnis yang di sana. Kalian kita tinggal gak papa ya?" tanya Clarissa kepada anak-anaknya.
"Emang, mama sama papa mau ngurus bisnis yang dimana?" tanya Queen. Ia yang sedang mengoleskan selai stroberi ke rotinya, mengalihkan pandangan ke arah Clarissa.
Karena bisnis orang tuanya terlalu banyak, Queen terpaksa bertanya bisnis mana yang mau diurus.
"Yang di bandung, sekalian ngeliat keadaan grandma sama grandpa kalian." Bukan Clarissa yang menjawab, melainkan Javer, sang ayah.
Grandma dan grandpa yang Javer maksud itu adalah orang tuanya, sebab itulah kenapa Ilona membuka cabang cafe nya di Bandung. Biar bisa sekalian berkunjung ke rumah kakek neneknya jika memantau cafe di sana.
"Kalo gitu, sekalian liatin cafe aku yang di sana ya ma, pa!" seru Ilona.
"Oh boleh sayang, kamu gak mau sekalian ikut?" tanya Clarissa.
"Gak dulu ma, masih ngurus yang di sini soalnya."
"Oh ya udah kalo gitu gak papa," jawab Clarissa.
"Berapa hari, ma?" tanya Lorenzo yang sedari tadi diam sekarang buka suara.
"Seminggu kalo gak ada perubahan," jawab Javer.
"Oke deh, yang penting uang jajan aman!" seru Lorenzo.
"Gila duit lo!" sarkas Queen.
"Yeee, kaya lo gak aja!" ucap Lorenzo tidak terima.
...****************...
...-ILONA'S HANGOUT PLACE-...