
Selesai sudah kegiatan hari pertama di sekolah. Kini, Queen sedang berkumpul dengan keluarganya. Semua ada di ruang keluarga kecuali, Leonzio. Ia masih melaksanakan kegiatan kuliahnya di Prancis.
Leonzio sengaja tidak ikut pindah ke Indonesia dengan mereka, alasannya karena sebentar lagi ia akan menyelesaikan kuliahnya. Tanggung, pikirnya. Setelah selesai, barulah ia akan pindah ke Indonesia untuk menetap dengan keluarganya.
Sementara kakaknya, Ilona. Ia tidak minat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, Ilona lebih tertarik memulai bisnis. Ya, Ilona membuka bisnis cafe yang kini sudah ada dua cabang. Satu di Jakarta sebagai cabang pertama, dan satunya lagi di Bandung. Tentu semua usahanya atas bantuan orang tuanya, dan dukungan saudara-saudaranya.
"Ma, bang Zio kapan sih pindah ke sini? Biar kita bisa kumpul bareng lagi," tanya Queen pada Clarissa.
"Gak lama lagi kok, abang kamu kan bentar lagi selesai kuliah. Kalau udah selesai baru pindah ke sini," jawab Clarissa sembari memijat kepala Javer sang suami.
"Pasti masih lama," ujar Queen cemberut.
"Sabar dong sayang, paling beberapa bulan lagi. Lagian kamu gak bisa jauh bentar sama bang Zio," sahut Javer gemas melihat tingkah putrinya.
Pasalnya, Queen lebih dekat dengan Leonzio ketimbang Lorenzo. Tapi, bukan berarti mereka tidak dekat juga. Hanya saja, Leonzio lebih masuk di kriteria sebagai abangnya. Sementara Leonzio lebih ke teman, mungkin karena umur mereka yang sangat dekat.
"Kan, ada gue, Nara!" seru Lorenzo menyambung.
"Beda lah, bang Zio abang gue."
"Lah terus gue, bukan abang lo?" ngegas Lorenzo tak terima.
Sebelum menjawab, Queen berdiri terlebih dahulu. Karena, setelah menjawab ia akan kabur dari terkaman macan. Semua hanya melihat gerak gerik sang empu yang mencurigakan.
"Ya, abang gue sih. Tapi, lo gak cocok jadi abang gue. Lo, lebih cocok jadi babu gue!"
Setelah mengatakan itu, Queen berlari mengelilingi rumah sambil tertawa mengejek. Karena ia sudah dikejar habis-habisan oleh Lorenzo.
"Queenara Vhrins Arginata! Berhenti gak lo. Gue gak terima ya!"
Lorenzo terus mengejar Queen yang mengitari rumah. Queen berlari ke dekapan ayahnya, guna menghindari amukan sang abang.
"Papa, tolongin Nara!" jerit Queen memeluk Javer.
Sementara orang tua dan kakaknya hanya tertawa melihat tingkah Queen dan Lorenzo.
"Sudah, sudah. Kalian ini, terus saja bertengkar. Nara, Minta maaf sama abang kamu."
Javer membujuk Queen, agar anak-anaknya itu tidak terus bertengkar.
"Iya, iya. Abang ku yang ganteng, maafkan adikmu yang cantik nan comel ini ya?" ucap Queen dengan puppy eyes nya.
Jijik? Tentu saja, Queen ingin memuntahkan isi perutnya setelah mengatakan itu.
"Gue bakal maafin lo tapi, ada syaratnya!" seru Lorenzo.
Ia berniat mengerjai adiknya. Kapan lagi bisa mengerjai sang ratu di rumah ini, pikirnya.
"Lo kok ngelunjak, sih?" ujar Queen tidak terima.
"Mama, lihat! Nara gak mau minta maaf dengan tulus. Harusnya kan, Nara belajar meminta maaf dengan sepenuh hati." Adu Lorenzo penuh akting kepada Clarissa, yang membuat Queen tambah kesal.
"Sayang, apa yang dikatakan abang mu benar. Kamu harus belajar meminta maaf dengan tulus ketika kamu melakukan kesalahan," ujar Clarissa berusaha memberi pengertian lembut pada sang anak.
"Hm, iya deh. Ya udah, apa syaratnya biar gue dimaafin?" tanya Queen sedikit jutek. Ia masih tidak terima dikerjai oleh Lorenzo.
"Gampang. Gue mau, satu harian besok lo harus ikutin semua kemauan gue. Gimana? Gak perlu nanya sih sebenarnya. Karena, kalau lo nolak ya, bakal jadi adek durhaka. Ya gak ma, pa, kak?"
Semua yang ditanya hanya tersenyum menanggapi, yang artinya ucapan Lorenzo benar. Queen hanya pasrah mengikuti kemauan sang abang. Ia malas ribut di depan orang tua, yang ada malah buat ia terlihat menjadi adik yang lebih durhaka karena tidak bisa kontrol emosi.
"Oh ya, bisnis cafe kamu gimana sayang?" tanya Javer pada Ilona.
"Lancar Pa. Aku ada rencana buat buka cabang ketiga. Tapi masih proses," jawab Ilona.
"Bagus lah. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama Papa Mama ya sayang," ucap Clarissa.
"Iya Ma, siap!" seru Ilona.
"Keren ya, lo kak. Udah berbisnis diusia yang masih muda. Mana udah banyak lagi cafe nya," ujar Queen kagum melihat prestasi bisnis kakaknya.
"Ya iyalah, kakak gue gitu lho!" seru Lorenzo.
"Heh, nyet. Kakak gue juga!" sarkas Queen tidak terima.
"Durhaka, lo!" ucap Lorenzo.
Mereka semua tertawa, terutama Javer dan Clarissa. Mereka berdua masih tidak menyangka bahwa keluarganya akan seharmonis ini. Javer dan Clarissa, mengucapkan beribu terima kasih kepada Tuhan yang sudah memberikan keluarga seperti ini.
...****************...
"Sumpah ya, bang. Harus banget, gue pergi sekolah bareng lo. Apa kata dunia, gue ke sekolah bareng opet kaya lo?“
Ya, pagi ini Queen harus berangkat ke sekolah bersama Lorenzo. Tentu saja, itu atas permintaan Lorenzo.
"Mata lo opet, gue ganteng gini lo bilang opet. Harusnya, lo bangga punya abang yang super duper tampan kaya gue."
"Dih, najis. Ya udah, cepetan entar telat."
Karena tidak mau terus ribut, Queen terpaksa pergi sekolah dengan abangnya. Ya walaupun itu harus, karena syaratnya dimulai dari sekarang.
SMA BHINTARA JAYA. Ya, di sini lah sekarang. Dimana, banyak pasang mata tertuju ke arah mobil oren yang baru datang. Dari kendaraan itu, keluarlah seorang gadis cantik yang membuat banyak mata tertarik padanya.
Bagaimana tidak, gadis itu memang sangat cantik. Menggunakan baju putih yang pas dengan tubuhnya dan rok abu di atas lutut. Rambut digerai, yang membuat ia semakin cantik.
"Sepertinya dia murid baru, cantik banget."
"Wah, makin banyak aja murid baru di sekolah ini."
"Iya, mana cantik-cantik lagi."
"Gue tebak dia kelas sebelas."
"Gak-gak, gue tebak dia kelas dua belas."
"Pepet ah, siapa tau nyantol."
"Pasti antagonis nih."
"Dih, sok kecakepan banget."
Ya, kira-kira begitulah yang gadis baru itu dengar. Banyak yang memuji tapi tidak sedikit pula yang menjelekkannya.
Tak lama pandangan mereka tertuju pada sebuah motor sport hitam, yang tak lain dan tak bukan adalah Queen dan Lorenzo.
Queen yang menggunakan seragam pas ditubuhnya, dengan lapisan jaket hitam dan rambut hitam pekat bergelombang yang digerai indah. Sedangkan Lorenzo tak kalah keren. Walaupun hanya memakai pakaian sekolah dengan lengan tangan pendeknya ia gulung sedikit, ia sudah terlihat kece dimata kaum hawa.
"Demi monyet makan buaya, gue gak akan pernah mau lagi naik motor sama lo!" ujar Queen kesal setengah mati.
"Kenapa sih, salah mulu gue perasaan."
"Lo nanya, kenapa? Heh monyet, lo bawa motor lambat kaya siput gitu lo masih nanya kenapa? Ya Tuhan, gini amat yak punya abang."
Rasanya Queen ingin menangis saat ini juga. Bagaimana tidak, Lorenzo dengan santainya membawa motor selambat siput padahal 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi dan untungnya gerbang belum ditutup.
"Gue sengaja biar lo telat terus dihukum," ucap Lorenzo tertawa sepuas hati.
Dengan kesal, Queen menendang tulang kering di kaki Lorenzo. Lorenzo yang tidak siap menghindar pun, meringis kesakitan.
Padahal kalau Queen telat masuk kelas, ia juga akan telat dan otomatis mereka berdua akan dihukum sama-sama. Bodoh sekali abangnya yang satu ini, pikir Queen.
"Makan tu hukuman!" Setelah itu, Queen pergi meninggalkan Lorenzo sendirian di parkiran.
Sementara sedari tadi semua mata tertuju pada pertengkaran kedua saudara itu, begitupun gadis yang katanya murid baru yang terus melihat pertengkaran kecil tersebut.
Hingga Lorenzo tersadar menjadi pusat perhatian, ia segera merubah ekspresinya dengan sedikit menahan malu.
"Gila ya, adeknya cantik, abangnya ganteng. Benar-benar saudara yang sempurna."
"Itu sih calon istri gue kelak."
"Beautiful nya tidak tertolong."
"Kok bisa sih, pangeran jatuh ke sekolah ini."
"Paksu, tunggu istrimu yang cantik ini."
"Benar-benar sesuai dengan namanya. Queen, sang ratu."
Begitulah pujian-pujian yang dilontarkan para murid untuk Queen dan Lorenzo. Setelah memarkirkan motornya, Lorenzo segera masuk ke kelas karena bel masuk sudah bunyi.
...****************...