I'M THE QUEEN

I'M THE QUEEN
PART 4



Setelah pulang sekolah, semua murid bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tapi, berbeda dengan Queen dan Lorenzo.


Lorenzo mengajak Queen ke suatu tempat, tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Karena jika diberitahu, Queen seratus persen akan menolak mentah-mentah.


"Mau kemana sih, nyet?!" geram Queen karena abangnya itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Udah, ikut aja. Lo pasti suka," jawab Lorenzo. Sembari ia memberikan kunci motornya kepada Queen.


"Maksud?" tanya Queen tidak mengerti.


"Ya, lo yang bawa."


"Ah, ogah. Dimana-mana, cowok yang bawa. Gila lo!"


"Lo lupa, syarat tadi malam? Ya, hitung-hitung gue jadi raja sehari. Lo mah enak, tiap hari jadi ratu."


Dalam hati, Lorenzo tertawa terbahak-bahak karena seharian full akan mengerjai adiknya.


"Fu*k ...!" Queen memakai helmnya, dan menaiki motor gagah milik Lorenzo.


"Buru, naik!!" teriak Queen.


Ia seperti ingin menelan Lorenzo hidup-hidup, kemudian bibir tipisnya mengeluarkan senyum smirk dibalik helm.


Lorenzo pun naik dengan santai dan jangan lupakan wajah yang menyebalkan itu.


...----------------...


"Woyyy! Nara! Lo mau ngajak gue mati? Udah dek, udah. Biar gue aja yang bawa! Sumpah demi orang tua gue yang kaya, gue nyesel nyuruh lo bawa motor. Huaaaa ... mama, papa ...!" teriak Lorenzo memeluk pinggang ramping Queen erat.


Sepanjang jalan, Lorenzo terus berteriak seperti orang yang akan sakaratul maut. Bagaimana tidak, Queen yang notabene nya jago bawa motor tapi bukan pembalap juga karena dilarang keras sama keluarganya. Ia membawa motor dengan salip menyalip pengemudi di depan, beberapa kali orang-orang berteriak merutuki mereka. Lebay sekali bukan, Lorenzo ini. Padahal setiap harinya ia juga seperti itu bawa motor, ketika ia yang dibonceng malah teriak-teriak.


Queen tertawa puas ketika mendengar teriakan Lorenzo, berhasil sudah rencananya mengerjai balik abangnya.


Tak berapa lama Lorenzo berteriak mengatakan, "Stop!"


Queen pun mendadak menge-rem, membuat kepala Lorenzo menghantam kuat kepala Queen yang sama-sama menggunakan helm.


Duk!


"Aws .... Pelan-pelan pak supir! Meregang nyawa gue, punya adek lakn*t kaya lo!" ucap Lorenzo sembari turun dari motor.


"Salah elu lah gobl*k, mendadak nyuruh stop!" teriak Queen tidak terima disalahkan. Toh, emang bukan dia yang salah.


"Terus, kita ngapain berhenti di sini?" tanya Queen dengan perasaan curiga.


"Ya, keliling lah. Siapa tau ada yang mau lo beli," jawab Lorenzo santai.


"Gak ya, Lorenzo Thryan Arginata! Jangan ngadi-ngadi lo! Gue gak mau ke tempat ini, penuh emak-emak rempong terus bau dimana-mana!" teriak Queen. Ia sangat tidak suka dengan tempat seperti ini, sombong bukan?


"Oh, lo gak mau? Ya udah, gue tinggal telpon mama papa bilang kalau anaknya gak mau nurut!" ancam Lorenzo sembari mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


"Heh monyet, gak lucu. Buru, jalan!" sarkas Queen dengan merampas ponsel Lorenzo.


Dengan terpaksa Queen harus berada di tempat ini. Ya, kalian pasti sudah menebak tempat apa ini. Pasar rakyat, di sini lah mereka sekarang. Tempat yang padat dengan pejalan kaki, dan beraneka ragam bau menusuk indera penciuman.


Lorenzo sengaja membawa Queen ke sini. Karena, Queen sangat anti dengan tempat-tempat seperti ini. Dari awal sudah dibilang, Lorenzo akan mengerjai sang adik habis-habisan satu harian ini.


"Sumpah ya bang, mending kita ke tempat lain aja deh. Bau banget gak tahan gue, panas lagi!" ujar Queen mengipas-ngipas wajahnya yang panas.


Ia masih berusaha membujuk abangnya untuk pindah tempat. Tapi, Lorenzo tetaplah Lorenzo dengan segala kejahilannya terhadap si adik.


Jujur saja, Queen sudah tidak tahan dengan bau di kerumunan orang ramai ini. Pasalnya, sudah setengah jam mereka di sana. Dan yang membuat Queen lebih kesal, Lorenzo hanya berkeliling tanpa membeli apapun. Terlihat sekali bukan, Lorenzo ini hanya ingin mengerjainya.


"Setengah jam lagi, baru habis itu kita ke tempat lain."


"Nara! Lo mau kemana?!" teriak Lorenzo. Ia ikut berlari mengejar Queen.


Setelah sampai di tempat sepi, dengan terburu-buru Queen mengeluarkan seluruh isi perutnya yang bisa ia keluarkan.


Huek!


Huek!


Ternyata sedari tadi Queen menahan rasa mualnya, hingga rasa itu tidak lagi bisa ia tahan. Memilih meninggalkan Lorenzo dan memuntahkan isi perutnya.


Lorenzo yang melihat adiknya muntah, menjadi tidak tega dan khawatir.


"Dek, lo gak papa?" tanya Lorenzo dengan raut wajah panik.


Sementara yang ditanya hanya diam lemas, karena perutnya menjadi kosong setelah muntah. Lorenzo pergi membeli air yang tidak jauh dari situ. Setelahnya, air itu diberikan kepada Queen.


"Nih, minum dulu." Lorenzo menyodorkan air tersebut.


Queen menerima air itu, dan langsung meminumnya. Lorenzo yang melihat adiknya lemas begitu, menjadi tidak tega.


"Aman? Bisa gak lo naik motor? Kalau gak, naik taksi aja?" ujar Lorenzo sembari merangkul Queen.


"Udah gue gak papa, muntah dikit doang gak ngaruh."


Queen melepaskan rangkulan Lorenzo padanya, karena emang ia tidak apa-apa. Malu juga dilihat orang. Emang dirinya selemah itu, pikirnya.


"Berarti syaratnya udah kelarkan? Secara gue muntah-muntah gini," ucap Queen.


Ia berfikir karena sudah muntah, mungkin abangnya ini menyudahi persyaratan tadi malam.


"Oh tidak bisa, perjanjian tetaplah perjanjian. Lo juga kan gak papa, kecuali lo tadi beneran udah gak sanggup!" seru Lorenzo. Dan, jangan lupakan wajah menyebalkannya walaupun sedikit tersirat rasa cemas.


"Kurang ajar ya lo jadi abang, adeknya udah kaya gini masih aja dikerjain!" ujar Queen dengan wajah kesal.


"Ya, kalau lo tadi lemes juga gue gak akan lanjut. Tapi kan lo sendiri yang bilang, muntah dikit gak ngaruh."


Betapa menyebalkannya Lorenzo sekarang, ingin sekali ia lemparkan abangnya ini ke WC tetangga. Queen mempunyai ide, dengan senyum tipis ia mulai berakting.


"Aws ...." Tiba-tiba Queen sempoyongan sembari memegang kepalanya.


"Heh! Dek, lo kenapa?" tanya Lorenzo panik. Ia reflek memeluk adiknya yang hampir jatuh.


"Kepala gue sakit banget," jawab Queen dramatis. Seberusaha mungkin ia akan buat abangnya percaya kalau ia betulan sakit.


"Lo gak bohong kan, supaya gue udahin ...!"


Belum sempat Lorenzo meneruskan ucapannya, Queen tiba-tiba pingsan di dekapannya. Jangan lupakan, ini hanya akting belaka.


"Astaga dek, lo beneran sakit ternyata. Maafin gue dek, gue tadinya cuma mau ngerjain lo doang. Kita pulang sekarang," ucap Lorenzo dengan rasa bersalah sembari menggendong Queen ala bridal style.


Padahal adiknya hanya berakting, tidak disangka aktingnya memuaskan hasil. Perlu diberi apresiasi bukan?


Lorenzo segera memasukkan Queen ke dalam taksi dan diiringi olehnya dari belakang menggunakan motornya tadi. Dalam diam Queen tersenyum kemenangan, 'Mampus sih kalau kata gue,' ucapnya membatin.


Di dalam taksi, Queen sudah tidak bisa manahan tawanya. Hingga pecahlah tawa yang sudah ia tahan sedari tadi. Supir yang membawa mobil itupun keheranan, ia langsung ngeh kalau penumpangnya hanya pura-pura pingsan.


Sesampainya di halaman rumah mewah milik keluarga Arginata, Lorenzo segera membawa Queen ke dalam kamar. Ia membiarkan Queen beristirahat setelah dipastikan aman.


"Hahaha .... Main-main sih sama Queenara Vhrins Arginata," ucap Queen setelah Lorenzo keluar dari kamarnya. Untung saja setiap kamar di rumahnya kedap suara.


"Hah, akhirnya bebas juga gue dari monyet itu."


...****************...