I'M THE QUEEN

I'M THE QUEEN
PART 3



Di kelas X MIPA 1, kedatangan murid baru. Ya, dia adalah seorang gadis yang tadi sempat menjadi pusat perhatian murid.


"Baik. Iva perkenalkan dirimu," titah bu Rossa.


"Halo semua, perkenalkan aku Ivarez Jovanka. Panggilan ku Iva. Pindahan dari SMA Karya Bersama. Ada beberapa alasan kenapa aku pindah, salah satunya karena aku tidak nyaman di sekolah lama. Baiklah itu saja perkenalan dariku, semoga kita bisa berteman." Dengan senyum manis, Iva memperkenalkan dirinya.


"Baiklah Iva, kamu bisa duduk di sebelah Nesya. Nesya, angkat tanganmu!" seru bu Rossa.


Setelah Nesya mengangkat tangan, barulah Iva duduk disebelahnya. Kini, keduanya mulai berbicara untuk membuka suasana yang nyaman.


Nesya Prisca, adalah siswi yang tidak memiliki teman dekat. Semua murid di kelas hanyalah teman biasa untuknya, tidak ada yang istimewa seperti seorang sahabat. Entahlah, alasannya hanya Nesya yang tau.


Setelah melihat Iva, Nesya berniat menjadikannya teman. Entah kenapa, Nesya merasa Iva akan cocok untuk berteman dengannya.


Iva lumayan mudah bergaul, yang dimana membuat ia tidak terlalu susah berteman di hari pertamanya di SMA Bhintara Jaya.


Beberapa jam kemudian, waktu istirahat pun tiba. Queen, Audrey, Riska, dan Chelsie, kini sudah berada di kantin. Mereka sengaja menuju kantin lebih awal, supaya bisa memilih meja yang diinginkan. Tidak seperti kemarin, harus menduduki meja terakhir.


Saat ini, Riska lah yang memesan makanan untuk mereka berempat. Saat akan membawa pesanannya, Riska tidak sengaja ditabrak oleh seseorang hingga makanan yang ia bawa habis tertumpah.


Prang!


"Woy, lo punya mata gak sih, hah? Liat makanan gue tumpah semua!" sentak Riska melihat gadis yang menabraknya.


Perlu kalian ketahui, diantara mereka berempat Riska lah yang paling galak. Ia tidak segan-segan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas untuk orang yang membuatnya kesal ditambah lagi ia jago bela diri.


"Maaf kak maaf, aku gak sengaja. Aku ganti aja ya pesanannya," ucap gadis itu merasa bersalah.


Karena suara jatuhnya nampan yang dibawa Riska lumayan besar, membuat ia menjadi pusat perhatian ditambah suara Riska yang nyaring.


Queen yang melihat kejadian itu, berniat menghampiri Riska tapi dicegah oleh Audrey. Audrey bilang Riska bisa ngatasin itu sendiri, udah biasa jadi tidak usah dihampiri. Lagian tidak ada yang berani sama Riska, lantaran mulutnya yang pedas dan galak apalagi jago bela diri.


"Siapa nama lo?" tanya Riska pada orang yang telah menabraknya.


"Iva, kak. Sekali lagi maaf," ucap Iva lirih.


Ya, dia adalah Iva. cewek yang baru saja menjadi siswi baru di kelas X MIPA 1. Ia tidak sengaja menyenggol Riska saat berbicara dengan Nesya, karena pandangannya terus menatap Nesya saat bicara.


"Murid baru?" tanya Riska lagi.


"Iya kak, aku baru masuk tadi di kelas X MIPA 1." Lagi-lagi Iva menjawab dengan sedikit takut.


"Ya udah gak papa, tapi lain kali hati-hati. Liat tuh jadi tumpah semua gara-gara lo," ucap Riska. Ia memperingati dengan sedikit ketus karena ia masih kesal.


Bukan tanpa sebab Riska kesal setengah mati, pasalnya jika harus memesan lagi akan butuh waktu lama. Apalagi, kantin sudah lumayan ramai murid.


"Iya kak, lain kali aku akan lebih hati-hati lagi. Makanan sama minumannya aku ganti aja ya kak," ujar Iva. Ia sedikit tenang karena Riska tidak memarahinya.


"Gak usah, udah ramai juga pasti lama. Ya udah lo pergi aja," ucap Riska sedikit mengusir.


"Baik kak, sekali lagi maaf dan terima kasih."


Riska hanya membalas dengan deheman, setelahnya, Iva dan Nesya pergi ke meja pojok. Sedangkan Riska kembali ke meja dimana ketiga temannya duduk.


"Alamat gak jadi makan nih kita," ucap Chelsie.


"Sorry ya guys, kita gak jadi makan. Gara-gara tuh anak semua pesanan tumpah, mau pesan lagi juga pasti lama keburu masuk. Gimana dong?" tanya Riska dengan tampang sedih.


Sebenarnya di sekolah itu tidak hanya satu kantin saja yang tersedia. Namun, kantin lain pun sama juga ramainya. Mereka tetap tidak akan kebagian.


Di tengah kebingungan, ponsel Queen bergetar tanda ada notifikasi masuk. Yang ternyata itu adalah notif WhatsApp. Dari notif itu tertera nama 'Monyed Laknat' yang tak lain dan tak bukan adalah Lorenzo, abangnya sendiri.


WhatsApp


Monyed Laknat


Dek, lo dimana?


^^^You^^^


^^^Di kantin, samping kelas XI MIPA 1^^^


^^^Kenapa?^^^


Monyed laknat


Tapi karena lo udah di kantin, ya udah lain kali aja


^^^You^^^


^^^Eh, boleh deh gue gabung soalnya gak kebagian tempat. Tapi gue sama temen gue, gak papa?^^^


Monyed laknat


Iya gak papa, ya udah buru sini


Gue di kantin bu Eem, temen lo pasti tau


^^^You^^^


^^^Oke, otewe nyed^^^


^^^Read^^^


Setelah selesai chatting-an, Queen mengajak ketiga temannya ke tempat Lorenzo.


"Guys! Kita ke kantin bu Eem yuk, abang gue ngajak gabung sama temennya. Itu pun kalau kalian mau," ajak Queen pada temannya.


"Wih, boleh tuh. Bisa pas gini ya," jawab Audrey antusias. Sedangkan Chelsie dan Riska hanya mengikuti saja.


Mereka berempat akhirnya pergi ke kantin bu Eem. Sesampainya di sana, Queen mencari meja yang ditempati Lorenzo. Kantin bu Eem tidak terlalu ramai ternyata, tapi tidak sedikit juga.


Lorenzo yang menyadari sang adik telah sampai di kantin pun, melambaikan tangan sembari memanggil dengan sedikit teriak.


"Nara! Sini, dek!" seru Lorenzo.


Queen yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu abangnya, segeralah ia dan teman-temannya menghampiri Lorenzo DKK.


Karena merasa kantin ini memungkinkan untuk memesan makanan sebelum bel berbunyi, Queen dan teman-temannya ikut memesan.


Sembari menunggu pesanan datang, mereka berbincang guna mencairkan suasana. Terlihat mereka semua orang-orang yang mudah berbaur, membuat mereka tidak sulit untuk memulai komunikasi.


"Rame banget ya, di kantin sana?" tanya Alex. Ia melemparkan pertanyaan itu kepada keempat cewek yang ada dihadapannya sekarang.


"Iya bang. Sebenernya kita sempat pesan makanan, tapi tumpah. Mau pesan lagi juga gak akan keburu, orang muridnya ramai gitu." Itu suara Audrey, ia lah yang menjawab pertanyaan Alex.


"Lah, tumpah kenapa?" tanya Randy.


"Gak sengaja disenggol adek kelas, si cewek yang anak baru itu lho. Kan sempat jadi perhatian murid," jawab Chelsie menimpali.


"Oh, tadi gue sempat ketemu sih. Cantik!" seru Jack.


"Yee ... Elu mah mana bisa liat yang bening dikit. Langsung dah tu mata melotot," sarkas Tristan.


"Bay the way, adek lu cakep banget coy." Lorenzo melotot mendengar bisikan Jack di sebelah kanannya.


"Gue colok mata lo kalau berani godain dia!" ujar Lorenzo. Jack bergidik ngeri melihat tatapan tajam Lorenzo.


"Becanda elah."


Tak lama pesanan mereka pun datang. Lorenzo menyenggol lengan seseorang yang berada di sebelah kirinya. Itu adalah Niconardo, orang yang dianggap ketua diantara mereka. Tapi Nico sendiri tidak pernah menganggap dirinya seperti itu, menurutnya semua sama saja.


"Makan dulu, hp mulu perasaan!" seru Lorenzo.


"Tau nih bos satu, dingin bener kaya di neraka. Cewek bening depan mata pun gak dilirik," sindir Alex. Cewek yang dimaksud Alex adalah Queen, karena posisi duduk Queen tepat di depan Nico.


"Panas gobl*k kalo neraka mah!" ujar Tristan. Tidak terima dengan ucapan Alex, padahal bukan dia yang disindir.


Sementara yang disindir hanya acuh, kemudian memakan makanannya tanpa ekspresi.


Selama mereka berbincang, ada sepasang mata gadis yang diam-diam memperhatikan Nico dengan tatapan kagum.


'Cowok begini nih impian gue,' batinnya.


Selesai sudah acara makan di kantin. Kini, semua murid masuk ke kelas masing-masing karena bel masuk telah berbunyi.


...****************...