
Di kasur king size nya, seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya. Siapa lagi kalau bukan, Queenara Vhrins Arginata. Tirai gorden yang terbuka, membuat mimpinya terganggu karena sinar matahari yang mulai menampakkan diri. Dengan malas, ia mulai membuka mata dan berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang menusuk pandangannya. Siapa yang membuka tirai gordennya, mungkin teman-temannya. Pikirnya.
Saat matanya sudah mulai terbuka, Queen melihat langit-langit ruangan itu. Ternyata ini adalah kamarnya sendiri, ia sedikit kaget. Kenapa ia bisa berada di kamarnya sendiri, seingatnya setelah selesai party ia akan menginap di rumah Riska. Queen benar-benar tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, sampai ia berakhir di kamarnya sendiri.
Saat tengah asik dengan pikiran bingungnya, Queen merasa ada yang aneh. Ia merasa ada yang sedang memperhatikannya, dari arah toilet. Dan, benar saja. Mata Queen membola melihat apa yang ia lihat saat ini. Ada seorang pria yang sangat tampan sedang berdiri di depan pintu toilet kamarnya, memperhatikannya dengan tatapan horor.
Queen benar-benar merindukan sosok itu, pria yang ia tunggu-tunggu kedatangannya ke Indonesia. Akhirnya menampakkan diri di depan matanya. Dengan kepala yang masih sedikit sakit, Queen buru-buru beranjak dari kasurnya menghampiri pria tersebut.
"Bang Ziooo ...!" teriak Queen.
Ya, pria itu adalah Leonzio Chris Arginata. Abang pertama Queen, yang baru menyelesaikan kuliahnya di Prancis. Queen memeluk Zio erat menyalurkan rasa rindu yang lama terpendam, tapi Zio tidak membalas pelukan sang adik. Queen yang mendapati Zio tidak membalas pelukannya pun, segera melepasnya dengan eskpresi bertanya-tanya.
"Why? Why aren't my hugs returned?!" tanya Queen heran dan tidak terima.
(Mengapa pelukanku tidak dibalas?)
"You still dare to ask why?" tanya Zio balik dengan nada lembut tapi menekan.
(Kamu masih berani bertanya kenapa?)
"Yeah. I don't know, what's wrong with you?" Queen bingung dengan abangnya ini, datang-datang bukannya merindukannya malah marah-marah.
(Ya. Aku tidak tahu, ada apa denganmu?)
"Lupa tadi malam habis ngapain, hm?" Tanya Zio bersedekap dada, dan bersandar di pintu toilet.
"H-ha? Gue ngapain emang tadi malam? Gak ngapa-ngapain kok, perasaan."
Sebenarnya Queen paham apa yang dimaksud abangnya, tapi ia pura-pura bodoh. Karena Queen tau, jika ia menjawab apa yang ia lakukan tadi malam pasti abangnya ini akan marah. Walaupun Leonzio sudah mengetahuinya, tentu saja dari bodyguard yang ia percaya. Leonzio sangat tidak suka saudara perempuannya ke tempat seperti itu, apalagi sampai mabuk-mabuk. Leonzio tidak melarang Lorenzo karena ia sendiri pun juga pecinta club. Tapi, ia tidak suka jika saudara perempuannya melakukan kegiatan tersebut.
Tanpa basa-basi, Leonzio menunjukkan sebuah video. Dimana dalam video itu menampakkan dirinya yang sedang dibopong Lorenzo dengan keadaan kacau. Terlihat jelas bahwa ia tengah mabuk berat, bahkan Queen sendiri lah yang bilang bahwa ia mabuk.
Flashback on ....
"Dek, ayo buruan ke kamar. Lo gak capek apa, ngoceh terus dari tadi? Mana gak bisa diem lagi," ucap Lorenzo sembari membopong Queen.
"Salahin kambing tetangga lah, ngapain bikin gue kalo gak dimakan." Oceh Queen dengan mata terpejam tapi badannya terus bergerak aktif, sampai Lorenzo hampir menjatuhkan Queen.
Lorenzo melongo mendengar jawaban Queen yang tidak ada artinya. Selalu saja begini, jika sudah mabuk Queen pasti akan mengoceh tidak jelas. Tak lama Queen lanjut berucap.
"Gue tu mabuk karena kesepian, di rumah gak ada siapa-siapa. Mama papa ke luar kota, bang Zio masih kuliah, kak Ilo ngurus bisnis jarang pulang, terus lo pergi gak tau kemana. Gak bisa gue, apalagi gak ada mama papa. Lo udah tau kita cuma berdua, masih aja ninggalin gue."
Itulah kalimat yang Queen lontarkan, untuk mengeluarkan isi hatinya di depan abangnya. Lorenzo terpaku mendengar ucapan Queen. Tapi setelah itu, Queen benar-benar terlelap dalam tidurnya.
"Maafin gue, dek. Gue janji gak bakal ninggalin lo sendirian lagi." Setelah mengatakan itu, Lorenzo lanjut membawa Queen ke kamarnya.
Flashback off ....
"Masih mau ngelak?" Tanya Leonzio datar dan memasukkan ponsel nya ke dalam saku jaket.
"Okey! Iya, gue clubbing tadi malam. Tapikan itu juga gara-gara kalian semua, yang gak ada di rumah satupun. Gue kesepian," jawab Queen. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Gue tau lo kesepian, dek. Tapi tolong dengerin gue sebagai abang tertua lo, jangan lakuin hal kaya gini lagi. Lo boleh ngapain aja, yang penting jangan lakuin hal yang bisa ngerugiin diri lo sendiri. Gue sayang kalian semua, gue gak mau terjadi apa-apa sama kalian. Paham?" Ucap Leonzio berusaha menasehati Queen dengan lembut sembari mengelus surai Queen.
"Iya ... maafin Nara ya, bang. Nara juga sayang kalian semua," ucap Queen. Leonzio yang melihat adiknya akan menangis pun segera memeluknya dengan erat, melepaskan rasa rindu yang selama ini bersarang.
Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini sudah jatuh membanjiri pipinya. Ia nangis bukan karena terharu mendengar kalimat Leonzio. Tetapi, ia menangis karena tutur kata Leonzio yang sangat lembut lah yang membuatnya menangis. Selalu saja begini, Queen akan sangat manja dan cengeng jika bersama Leonzio. Leonzio itu orangnya lembut ketika berhadapan dengan orang terkasihnya, walaupun sedang marah. Berbeda ketika ia di luar, seperti memiliki dua kepribadian.
"Udah ... udah, makin jelek kalo nangis. Masa ratunya Arginata nangis," goda Leonzio berusaha menghibur Queen.
Dugh!
"Huft ...." Queen kesal dengan godaan Leonzio, berakhir memukul dada sang abang di tengah pelukan mereka.
"Eh ... oleh-oleh gue mana?" tanya Queen sembari melepas pelukannya.
"Gak ada oleh-oleh, gue lupa. Beli di sini aja," jawab Leonzio santai.
Leonzio tertawa kuat mendengar teriakan Queen, berhasil sudah ia mengerjai adiknya ini.
"Just kidding, baby! Oleh-olehnya ada di ruang tamu, gue letak di atas meja. Ambil aja apa yang lo mau di bawah, gak sanggup bawa ke atas."
Queen yang mendengar ucapan Leonzio pun teriak histeris dan memeluk abangnya itu.
"Thank you brother, you're the best, I love you so much!"
"Love you more, princess. Ya udah. Sarapan dulu yuk," ajak Leonzio sembari melepas pelukannya.
Tanpa aba-aba, Queen meloncat ke atas punggung Leonzio. Dengan sigap Leonzio memegang adiknya agar tidak terjatuh, Queen pun mengalungkan tangannya di leher Leonzio.
"Kebiasaan, kalo mau gendong tu bilang-bilang dulu. Untung abang lo ini kuat, sigap, dan cekatan."
Saat di jalan menuruni tangga, Leonzio lagi-lagi menggoda Queen. Membuat yang digoda sangat kesal.
"Ngapain coba lo nyalahin kambing tetangga gara-gara bikin lo tapi gak dimakan, gak jelas banget. Eh tunggu, berarti lo anak kambing dong. Secara kan lo dibikin sama kambing, haha .... Terus nih ya, mana ada tetangga yang melihara kambing. Ngadi-ngadi banget racauan lo tadi malam," ucap Leonzio yang terus saja menggoda Queen.
Dugh!
Aws!
"Diem lo! Gak ada yang lucu!"
Queen yang tidak terima diejek pun memukul kembali dada Leonzio. Kali ini lumayan kuat, membuat sang empu yang dipukul sedikit meringis. Memang tidak usah diragukan lagi kekuatan tenaga seorang Queenara. Bagaimana tidak, ia sudah terlatih seni bela diri semenjak kecil. Di keluarganya, hanya mama dan kakaknya saja lah yang tidak bisa bela diri. Ilona sempat ingin diajari, tetapi ia sangat tidak mau sampai menangis. Jadilah hanya Queen perempuan yang bisa bela diri dalam keluarganya.
Sesampainya di meja makan, Leonzio menurunkan Queen di salah satu kursi. Di sana sudah ada Lorenzo yang sedang menyantap sarapannya.
"Pagi bang. Pagi-ratu!" ketus Lorenzo saat menyapa Queen.
"Pagi Enzo," balas Leonzio. Sementara Queen, bukannya membalas sapaan Lorenzo malah balik ketus.
"Apa lo?!" balas Queen dengan nada tak kalah ketus.
"Udah, udah. Gak baik ribut depan makanan," tegur Leonzio.
"Puas anda kanjeng ratu? Menyusahkan saya tadi malam. Untung lo gak gue lempar ke kubangan lumpur," sindir Lorenzo.
"Heh, monyet! Itu juga gara-gara lo ninggalin gue sendirian. Gue juga mau happy-happy, bukan lo aja!" balas Queen dengan raut wajah kesal.
"Udah, udah. Kenapa malah lanjut berantem sih? Enzo!" Tegas Leonzio menatap Lorenzo dengan tatapan maut. Lorenzo yang mengerti tatapan itu pun menghentikan aksinya, sementara Queen hanya diam saja melanjutkan sarapannya.
"Enzo! Gue mau ngomong sama lo habis sarapan ini," ucap Leonzio tiba-tiba.
"I-iya bang."
Lorenzo yang mendengar abangnya ini ingin bicara empat mata dengannya pun ketar-ketir. Apakah Leonzio akan memarahinya karena ribut dengan Queen? Atau memarahinya karena tidak menjemputnya di bandara saat sampai tadi? Tapi kan abangnya tidak bilang minta jemput, dan ia juga tidak ada niat mau jemput. Lorenzo frustasi memikirkannya. Menurutnya, Leonzio memang lembut tapi sangat tegas.
Queen yang mendengar Leonzio mau bicara berdua dengan Lorenzo, tentu saja kepo. Apa yang akan kedua abangnya ini bicarakan? Tapi ia tidak berani bertanya, pasalnya dari tatapan Leonzio sedang tidak bersahabat.
"Eh ... tunggu! Kalian gak sekolah? Udah jam berapa ini. Hari inikan hari selasa, emang libur apa gimana?" Tanya Leonzio heran melihat adik-adiknya masih nyantai di rumah, di jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Eh anu ... itu ... apa namanya," ucap Lorenzo panik.
"Namanya apa? Gue gak nanya nama, gue nanya kenapa gak sekolah?"
"Itu ... tadi malem kan habis clubbing. Karena kecapekan, pulangnya langsung tidur terus paginya telat bangun. Hehe ...." Jawab Lorenzo cengengesan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Queen santai menyuap sarapannya, merasa ada Lorenzo yang menjawab mending ia diam saja.
"Bagus, lain kali ulangi lagi ya."
Queen yang melihat tatapan menghunus milik Leonzio pun menelan ludah kasar. Jangankan Queen, Lorenzo pun ketar ketir melihat tatapan horor abangnya.
...****************...