
Saat di kantin, "Hey! Ciwi-ciwi, sini!" Teriak Jack dari arah sudut kantin, yang seperti biasa kumpul dengan teman-temannya di jam istirahat.
Audrey yang melihat Jack memanggil pun, membawa teman-temannya ke arah Jack dan yang lainnya.
"Nah, yang dicari-cari. Itu mereka, ayo ke sana!" seru Audrey.
Circle Queen dan circle abangnya Lorenzo, memang sudah sangat dekat semenjak sebulanan ini. Tentu saja itu karena Queen. Sebab Lorenzo adalah abangnya, dan teman-teman abangnya sering main ke rumah.
Queen dan teman-temannya secara otomatis menjadi dekat dengan Lorenzo DKK. Dan, itu jugalah pemicu adanya shipper antara Tristan dan Queen.
"Lah, kok bertiga? Nara mana?" tanya Lorenzo heran.
"Oh ... Queen ke toilet bentar tadi," jawab Audrey. Mereka semua sudah hafal kalau keluarga Queen memanggilnya Nara, sementara orang luar memanggilnya Queen.
"Bang Nico, mana?" tanya Chelsie.
"Nico ke ruang guru tadi. Ada yang diurus bentar katanya," jawab Randy.
Kini mereka sedang menunggu pesanan datang. Sementara Queen di toilet terus memuntahkan isi perutnya. Entah salah makan atau bagaimana, ia merasa sangat mual dan pusing.
Huek!
Huek!
"Huh ... Huh ...," Queen mengatur nafasnya yang tersengal.
Setelah mengeluarkan semua isi yang ada di dalam perutnya, Queen beranjak keluar dari toilet. Tapi, saat sampai di depan pintu keluar, Queen tidak bisa menahan diri lagi. Ia pingsan tepat di depan pintu keluar toilet. Keadaan toilet saat ini sepi.
Beberapa menit Queen pingsan tanpa ada yang membantu, ada seorang gadis lewat dan melihat keadaan Queen yang sudah tergeletak di depan toilet.
Gadis itu kembali membawa Queen masuk ke dalam toilet, karena di sekitaran toilet tidak ada CCTV. Rencananya ia akan membawa Queen ke gudang belakang sekolah. Tapi, mengingat CCTV ada dimana-mana dan murid sedang jam istirahat tak memungkinkan untuk ia lakukan.
"Gak perlu susah-susah gue buat nangkap lo, Queen! Karena tanpa ditangkap pun, lo nyerahin diri sendiri ke gue. Gue bakal kasih lo pelajaran, karena orang yang gue suka harus suka sama lo!" Seru gadis itu sambil menyeret Queen yang masih pingsan ke dalam toilet.
Di dalam toilet, gadis itu mengguyur tubuh Queen dengan air hingga basah kuyup. Queen yang pingsan, masih belum sadarkan diri. Setelah puas menyiram Queen, orang itu keluar dari toilet dan menutup tanpa dikunci. Karena kuncinya tidak ada, tentu saja kunci tersebut ada pada satpam di sekolah itu.
"Kok, Queen lama banget ya?" tanya Riska pada teman-temannya.
"Paling juga boker," jawab Randy.
"Iya juga sih, ya udah bentar lagi mungkin."
Nico yang habis dari ruang guru berniat pergi ke toilet, karena ia kebelet pipis. Setelah selesai dengan aktivitasnya, Nico mendengar ada siswi berteriak minta tolong dan ia yakini itu dari toilet wanita.
Karena memang toilet pria dan wanita jaraknya cukup dekat. Nico yang mendengar teriakan itu pun berlari ke arah sumber suara.
"Tolong ...! Tolong ...!" teriaknya.
"Queen, lo kenapa? Queen ... sadar Queen ...," ucap siswi itu panik.
"Hey! Kenapa teriak?" Tanya Nico yang baru masuk ke dalam toilet wanita. Ia terpaksa masuk karena khawatir ada apa-apa dengan siswi itu.
"Kak! Kak! Tolongin! Tolongin Queen, dia pingsan terus basah kuyup. Gue gak mungkin bisa gendong dia ke UKS!" Teriak siswi yang Nico yakini seangkatan dengan Queen, mungkin sekelas.
"Astaga, Queen! Ya udah biar gue bawa Queen ke UKS. Lo, tolong panggil temen-temen gue di kantin!" seru Nico. Tatapan Nico saat ini tersirat rasa yang tidak biasa, tapi entah tatapan apa itu.
Siswi yang disuruh itu pun pergi ke kantin, sementara Nico pergi membawa Queen ke UKS.
Di UKS, Queen ditangani oleh Bu Ririn, penjaga UKS. Bu Ririn bilang, maag nya kambuh dan tubuhnya tambah melemah karena masuk angin akibat basah kuyup.
Tadi pagi, memang Queen tidak sarapan. Ia bilang akan sarapan di kantin sebelum masuk, nyatanya tidak. Padahal kedua abangnya sudah memaksanya untuk sarapan terlebih dahulu. Tapi kalian tau Queen kan? Keras kepala.
"Terima kasih, bu."
Nico duduk di ranjang Queen berbaring tepat di sebelah kepala Queen. Ia menatap Queen dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ia terus memberikan minyak telon ke hidung Queen, tak lupa ia juga memijat kepala Queen. Di tengah kegiatannya yang berusaha membangunkan Queen, datanglah teman-temannya.
"Queen ...!" teriak Audrey.
"Heh monyet, tau sikon. Lo gak liat ini di UKS bukan di hutan?" ucap Riska menggeplak kepala Audrey.
"Aws .... Sakit gobl*k!" Riska mengabaikan Audrey yang berisik.
"Nico, adek gue kenapa? Terus ini kenapa dia ganti baju?" tanya Lorenzo panik yang sudah berada di samping Queen.
"Maag nya kambuh, tadi pingsan di toilet. Bajunya basah semua gak tau abis ngapain," jawab Nico apa adanya.
"Tadi Bu Ririn bolehin pulang, dia ke ruang kepsek mintain izin!" seru Nico lagi.
"Keras kepala banget sih, ni anak. Bisa-bisa gue di geprek nih sama bang Zio," ucap Lorenzo frustasi.
"Sabar-sabar," ucap Randy.
"Terus yang gantiin baju Queen, bukan lo kan?" tanya Tristan.
"Bu Ririn!" Singkat, padat, jelas, itulah jawaban Nico.
"Ya udah, gue bawa adek gue pulang dulu. Ntar kalo udah selesai, gue balik lagi ke sini."
"Iya ntar gue izinin," ucap Alex.
Lorenzo pun membawa Queen pulang ke rumah, agar ia bisa istirahat lebih nyaman.
"Gue kok ngerasa aneh ya," ucap Tristan membatin.
Tristan memang peka terhadap hal-hal seperti ini, apalagi menyangkut tentang Queen. Ia berniat mencari tau apa yang terjadi dengan Queen. Apakah hanya pingsan karena maag atau ada hal lain. Ia akan menyelidiki ini, sendiri.
...****************...
"Halo tuan," sapa bodyguard dari ponselnya.
"Selidiki kasus pingsannya Queen di toilet sekolah tadi pagi. Secepatnya!" titahnya kepada bodyguard di seberang sana.
"Baik tuan." Seolah sudah terbiasa menyelidiki kasus Queen, bodyguard itu tidak bertanya Queen siapa dan yang mana.
Seseorang itu langsung memutuskan panggilan, raut wajahnya datar. Tapi, siapa yang tau ada sesuatu dibalik itu semua.
Sementara di ruang tamu keluarga Abraham, seseorang juga sedang menyelidiki kasus Queen di toilet sekolah tadi pagi.
"Paman Petran, tolong selidiki kejadian cewek yang bernama Queen di sekolah tadi pagi tepatnya di toilet. Kenapa dia bisa pingsan, apa pingsan karena memang sakit atau ada hal lain. Beri aku info segera!" pinta Tristan kepada tangan kanan orang tuanya.
"Baik den! Akan segera saya beritahukan infonya jika sudah dapat," jawab Petran.
"Terima kasih paman, aku keluar dulu."
"Baik den, hati-hati."
Tristan pergi ke sebuah rumah, yang ternyata itu adalah rumah Queen. Teman-teman Lorenzo memang berniat akan main ke rumahnya, sekalian berkunjung melihat keadaan Queen. Bukan hanya teman-teman Lorenzo, teman-teman Queen juga ikut bergabung.
...****************...