
Siang nya Gretta yang baru selesai kelasnya memilih untuk ke kantin, dia merasa perut nya sangat kelaparan.
Dan sesampainya di kantin Gretta mulai memesan makanan yang dia suka.
Tring..
"Makan!"
Pesan singkat dari Albert itu berhasil membuat bibir Gretta manyun.
Dia tidak tau harus happy atau apa, tapi Gretta mencoba untuk biasa saja mengingat selalu ada saja tingkah Albert nantinya.
"Lagi makan ini juga"
Gretta memberikan balasan pada Albert.
Dan semenit kemudian dia kembali mendapatkan balasan lagi.
"Bagus, aku jemput jam berapa?"
Gretta diam, dia pulang jam satu siang tapi Gretta ingin membeli buku dulu.
"Jam 2 di toko buku"
Dan setelah mengirimkan balasan pesan nya makanan Gretta datang, Gretta mengambil gambar lalu mengirimkan makanan itu pada Albert.
Setelah itu Gretta pun tak menunggu balasan Albert lagi, dia sangat lapar yang membuat Gretta mengabaikan telpon dari Albert.
"Enak" gumam Gretta yang baru makan satu suap.
Saat Gretta fokus dengan makanan nya tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang di tindas, Gretta diam dan melihat apa yang akan di lakukan gadis malang itu.
Tiga orang gadis nampak kompak membuat makanan gadis malang itu menjadi berantakan, tak hanya itu mereka juga menumpahkan jus ke celana yang di pakai gadis itu.
"Astaga mereka benar-benar keterlaluan" Gretta sudah tidak bisa diam.
Dia tidak bisa berpura-pura tidak melihat seperti yang di lakukan teman-temannya saat masa SMA dulu.
Dengan langkah berani Gretta mendekati ketiga gadis pembully itu.
"Apa kalian merasa puas saat menindas nya?" tanya Gretta yang langsung di lirik ke tiga gadis itu.
"Jangan ikut campur, ini masalahku dan si miskin" tegas gadis itu.
"Oh" Gretta melirik sekitar.
Dan saat dia melihat pria berkacamata tebal yang dia lihat di gerbang itu Gretta langsung mengambil es teh manis pria itu.
"Hey itu es teh manis ku!" kata si pria berkacamata tebal.
Byur!
Dengan wajah santainya Gretta menyeramkan es teh manis itu ke salah satu gadis pembully yang dia yakini adalah bosnya.
"Hey apa yang kau lakukan!" teriak gadis itu tidak terima.
"Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan, dan begitulah rasanya menjadi dia" jelas Gretta dengan senyuman mengejek nya.
Sial!
Gadis pembully itu ingin membalas, tapi belum sempat dia menberikan balasan tiba-tiba datang Johan, si dosen tampan.
Gretta menatap tajam ke arah tiga gadis pembully itu, lalu dia pun melirik gadis yang penampilan nya bahkan tidak culun lebih tepatnya penampilan gadis di depan nya itu terlalu sederhana.
"Kamu nggak papa?" tanya Gretta.
"Tidak" balas gadis itu singkat.
"Hey kenapa nada bicara mu ketus, kau baru saja di bully dan aku menolong mu" jata Gretta lagi.
"Lalu? apa aku harus bersyukur setelah makanan ku seperti ini?" tanya gadis itu.
Gretta diam, ini pertama kalinya dia membantu seseorang yang sedang di bully, dan bukannya di perlakukan seperti pahlawan dia malah mendapatkan kenyataan jika gadis yang di tolong nya ternyata sangat dingin dan tak menyukai pertolongan nya.
Tak mengatakan apa-apa Gretta yang kesal karena salah membantu orang memilih duduk kembali, dia memilih melanjutkan makan nya karena dia tak mau membuat bayinya kelaparan di dalam perut nya.
"Gret" panggil Johan yang langsung duduk.
"Kak Johan, apa yang kakak lakukan" Gretta melihat sekitar.
"Santai saja, wajah mu terlihat kesal apa ada yang mengganggu mu?" tanya Johan.
Dia tentu tau akan Gretta yang selalu dibully, hal itu dia ketahui karena Gretta selalu menangis setiap pulang sekolah.
"Sebaik nya kakak jaga jarak dengan ku, banyak yang melihat kita di sini dan aku tak mau banyak mahasiswa lain yang berpikiran aneh tentang kita, aku mohon" ucap Gretta sambil menatap Johan dengan penuh permohonan.
Johan menghembuskan nafas nya kasar, dan mau tak mau dia pun akhir nya memilih beranjak dari duduk nya dan memilih meja lain.
Sebenernya Johan ingin mendekati Gretta karena dia merasa kasihan dengan Gretta yang tak punya siapa-sispa, selain itu Johan juga merasa memiliki ketertarikan pada Gretta yang menurut nya layak untuk dia lindungi.
"Aku harap kamu bisa menerima perasaan kuku Gret" gumam Johan matanya terus melihat ke arah Gretta yang sedang makan dengan porsi banyak.
Sedangkan di tempat lain nampak Albert yang kesal karena telpon nya tidak diangkat oleh Gretta.
Mike yang kebetulan sedang melihat hasil kerja adiknya itu mengerutkan kening nya heran melihat Adik nya yang terlihat seperti sedang kesal.
"Kamu berantem dengan Gretta?" tanya Mike lebih ke menebak.
Dan membuat nya mendapatkan lirikan dari
Albert.
"Sotau" sahut Albert sewot.
Huh..
"Jika ada masalah selesaikan baik-baik, kalian harus bisa bersikap dewasa apalagi saat ini kalian sebentar lagi akan memiliki bayi yang artinya kalian harus bisa menyelesaikan masalah dengan bijak" kata Mike.
"Lalu bagaimana jika keduanya sama keras?" tanya Albert.
"Kamu harus mengalah, istri itu harus di buat nyaman jangan di buat pusing apalagi di saat istri sedang hamil, kamu harus bisa menjaga mood nya agar tetap baik karena itu semua juga untuk kesehatan janin yang ada di dalam perut Gretta." sahut Mike cepat.
Albert manggut-manggut mendengar penjelasan dari kakaknya.
"Kalau aku sih sukanya kasih enak kak, merem melek sampai desaaah, apa itu bagus buat kesehatan bayi aku dan Gretta?" tanya Albert dengan senyuman tengilnya.
Dan Mike yang mendengar jawaban melenceng sang adik merasa menyesal telah membuang waktu nya lima menit untuk mendengarkan pikiran mesum adik nya.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🙏🤗