How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 8: Luka



“HAH!!”


Kananga terbangun kaget. Berat terasa dadanya sulit bernapas. Air matanya seketika mengalir deras. Kutukannya baru saja membawanya kembali. Siapa sangka, kutukan yang tujuannya diberikan sebagai hukuman, malah kali ini bisa membantunya.. Napasnya berat. Kepanikan dalam gubuk itu membangunkan seluruh penghuninya. Tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang.


“Kananga..? Ada apa?”


“Kak...?”


Kedua adiknya masih setengah sadar. Pikir mereka, gadis itu hanya sedang bermimpi buruk.


“Kananga, tenanglah. Kau baru saja bermimpi buruk.” Si tengah, Elfad, berusaha meraih dan menenangkan Kakaknya. “Kak..? Kak Kananga baik-baik saja?” Enrich menguap. Mengucek pelupuk matanya yang terasa berat dan perih karena tiba-tiba dibuka. Kananga terlihat pucat. Gemetar tangannya menggenggam erat lengan Elfad yang berusaha menenangkannya. Dia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan apa yang akan terjadi ke adik-adiknya. Berusaha dia kumpulkan tenaga untuk mengeluarkan suaranya. Hening sejenak. Genggamannya di lengan Elfad semakin erat, membuat Elfad sempat mengaduh.


“Ki-kita harus pergi secepat mungkin dari tempat ini...” Terbata-bata kalimat itu keluar dari mulutnya.


“Kananga.. Bukannya kita akan pergi besok?” Elfad dibuat bingung oleh tingkah Kananga. Terlebih lagi Enrich yang baru saja mendengar topik pembicaraan itu.


“Sudah tidak ada waktu lagi- Ku mohon, jangan tanyakan dulu..Kita tidak punya banyak waktu-“


Grasak-grusuk


Suara itu terdengar lagi. Membuat napas Kananga terhenti seketika. Sekujur tubuhnya terasa kaku.


“..Siapa? Tumben sekali binatang-binatang malam itu seberisik ini.” Elfad berusaha mendengarkan suara di luar gubuk yang semakin lama semakin mendekat. Kali ini ketiga bocah itu bisa mendengan jelas. Langkah kaki berat orang dewasa. Sekumpulan orang dewasa.


Oh, tidak!


Cepat. Dengan cepat Kananga berusaha meraih Elfad dan Enrich. Berusaha melindungi mereka bagaimanapun caranya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk lari keluar gubuk itu. Walaupun mereka berhasil keluar, mereka hanya akan menjadi tawanan oleh siapapun di luar sana.


DUARRR!!


Sayang sekali. Sungguh sangat disayangkan. Secepat apapun Kananga berusaha meraih kedua adiknya. Kecepatan tubuh ringkihnya masih terkalahkan oleh gelombang kejut yang sekali lagi berhasil memporak-porandakan gubung reyot itu. Api mulai menyebar kemana-mana. Gubuk yang memang dibangun sebagian dari kayu itu dengan cepat dihalap api. Terdengar suara teriakan seorang bocah. Nyaring terdengar menggema diantara reruntuhan dan kobaran api.


“KAK!!”


Garau suaranya terdengar karena tangisan dan teriakannya. Itu si bungsu, Enrich. Dia berhasil selamat dari ledakan itu. Dipeluknya tubuh Elfad, yang tidak sadarkan diri. Kepalanya terhantam pecahan kayu dari sisa-sisa reruntuhan gubuk.


“KAK!!” Suara teriakan bercampur tangisan itu terdengar lagi. Ditujukan ke sosok tubuh ringkih yang sedang berusaha menahan dahan pohon raksasa yang juga ikut runtuh oleh ledakan. Entah berapa tulangnya yang sudah patah dan retak. Tubuhnya berlumuran darah. Luka terbuka dimana-mana. Dengan sisa tenanganya, Kananga berusaha menahan dahan yang puluhan kali lebih berat dan besar dari tubuh ringkihnya. Tangisan dan teriakan Enrich tetap membuatnya terjaga. Membantunya tidak kehilangan kesadarannya.


“...Enrich.. Cepat bawa Elfad menjauh dari tempat ini..” Pelan suaranya terdengar. Sekujur tubuhnya mulai gemetar. Mulai tak kuasa menahan berat dahan pohon raksasa yang pastinya bisa meremukkan tubuh


adik-adiknya jika menimpa mereka.


“Ta-Tapi bagaimana dengan Kak-?”


“CEPAT PERGI DARI TEMPAT INI! AKU MOHON!”


Enrich tersentak kaget. Ini pertama kalinya kakaknya itu teriak kepadanya. Tubuh kecilnya mulai menarik tubuh Elfad. Menyeretnya keluar dari reruntuhan.


“Kak...” Air matanya berlinang, meleleh bercampur darah dari luka di wajah kecilnya.


“..Tenang saja. Aku..Aku pasti akan menemukan kalian..Dimana pun kalian berada..Aku janji..Aku pasti..” Gadis ringkih itu sudah tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hanya disambung dengan senyuman ke adiknya. Dilihatnya jelas wajah adiknya yang berlinang air mata.


Aku janji.


“Kak. Aku akan segera mencari bantuan!”


Tidak. Ku mohon pergi saja. Sejauh mungkin.


Sudah tidak ada lagi tenaga tersisa untuk mengatakan kalimat itu. Dilihatnya tubuh kecil si bungsu berusaha menyeret tubuh si tengah menjauh dari puing-puing gubuk dan pohon raksasa. Berusaha berteriak dengan sisa-sisa tenaganya. Berharap keajaiban terjadi. Berharap kali ini seseorang selain Kak Asa atau Nenek datang menyelamatkan Kakaknya. Itu adalah ingatan terakhir Kananga. Sebelum akhirnya dia benar-benar kehilangan kesadarannya.


***


Suara ketikan keyboard komputer terdengar riuh disaat seperti ini. Bercampur dengan detak jam dan beberapa suara karyawan yang saling berinteraksi. Meminta pendapat, bahkan sampai membuang-buang waktu dengan bergosip. Semua orang di bagunan perkantoran itu sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tak terkecuali seorang wanita yang sedari tadi memandang jam. Entah dari monitor yang berada di atas meja tepat dihadapannya. Entah dari jam tangannya. Entah dari layar smartphone nya. Gelisah dia terus menerus memandangi jam. Menunggu jarum jam tepat berada di atas angka empat. Gerakan tangannya yang sedang sibuk mengetik di keyboard semakin cepat. Begitu jarum jam tepat berada di atas angka empat, wanita itu lekas bergegas bangkit dari duduknya. Secepat kilat menyambar barang-barangnya di atas meja. Tunggang-langgang berlari kecil keluar dari ruang kerjanya. Keluar dari gedung perkantoran modern. Menyusuri jalanan yang saat itu sedang ramai. Jam pulang kerja. Segera dia berlari menyebrangi jalan ketika lampu lalu lintas mengubah cahayanya menjadi kemerahan.


Wanita itu berlari. Senyum merekah di wajah cantiknya. Rambutnya melambai lembut seiring dengan langkah larinya. Sedikit lagi dia akan sampai. Bangunan tepat disebelah perempatan adalah tujuannya.


Tak peduli bulir kecil keringat mulai membasahi dahinya. Tak peduli rambutnya yang mulai berantakan. Senyumnya terus merekah saat semakin dekat dengan bangunan itu.


“Bunda!”


Tersenyum wanita cantik itu. Langkahnya sekali lagi dipercepat. Mendekati seorang anak yang sedang digandeng oleh wanita lain. Nampaknya wanita itu adalah gurunya. Tepat jam empat sore, guru di daycare itu setia menemani anak itu hingga Bundanya datang menjemput.


“Angga!” Dipeluknya tubuh kecil itu. Kangen sekali rasanya, padahal mereka hanya berpisah dalam berapa jam saja. Tak peduli selelah apapun. Asalkan melihat wajah anak itu, rasa lelah, letihnya pasti akan pergi entah kemana.


Setelah berpamitan dengan gurunya, bocah itu menggenggam erat tangan bundanya. Berjalan beriringan di pematang jalan.


“Bunda, tadi Bu Guru muji Angga pintar loh!” Dengan bangganya anak itu mulai menceritakan kesehariannya. Sama seperti biasa. Anak itu cerewet. Tidak berhenti berbicara sepanjang perjalanan pulang mereka. Keseharian yang tidak akan pernah Aylin, bundanya, merasa bosan.


“Oh ya?”


“Iya, katanya Angga pintar menghitung. Nanti bisa kerja seperti Bunda”


“Memangnya Angga tau kerjaan Bunda apa?”


“Angga tau..” Agak ragu putranya menjawab.


Senyuman jahit muncul di wajah Aylin mendengar putranya, Angga yang sok tau itu. Wajah bulatnya berpikir keras. Berusaha mengingat apa nama pekerjaan Bundanya yang tadi Bu Guru katakan.


“Tau dong!” Kali ini suara lebih nyaring. Anak itu sepertinya sudah menemukan kepercayaan dirinya.


“Akututu, kan?” Dengan bangga Angga mengatakan ke Bundanya, yakin kalau cara penyebutannya benar.


“Akutuaris, nak.”


“Iya! Yang itu! Aku tau kok!”


Aylin tertawa mendengarnya. Anak itu benar-benar tak mau kalah.


Langkah kecilnya tiba-tiba terhenti. Binar di matanya ketika bercerita dengan Bundanya seketika terlihat sedikit redup.


“Angga?”


Aylin bingung melihat putranya yang seketika berhenti berjalan. Senyum di wajah bulat itu menghilang. Dia mengunci pandangannya ke depan. Ke arah keluarga kecil yang juga sedang berjalan berpapasan dengan mereka. Lengkap keluarga itu. Ada Ayah, ada Ibu, juga ada putri mereka yang terlihat sepantaran dengan Angga. Pemandangan yang anak itu rindukan. Keluarga lengkap yang bahagia.


Dia mulai menggenggam tangan Bundanya lebih erat, namun disaat bersamaan genggaman kecilnya juga terasa lembut di jemari Bundanya.


Aylin tentu saja menyadari apa yang ada di pikiran putra semata wayangnya itu. Senyum di wajah cantiknya juga ikut redup, berganti dengan sedih di matanya.


“Bunda...”


“Hmm?”


“Hari ini Angga boleh makan es krim, ya?” Wajah bulatnya tersenyum lebar. Seperti mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.


“Boleh kok. Tapi setelah makan malam ya, nak.” Dibalasnya senyuman putranya dengan lembut. Segera mereka kembali berjalan menyusuri pematang jalan.


***


Suara senandung lagu pengantar tidur itu terdengar lagi. Senandung yang selalu setia tiap malam mengantar tidur Angga di pelukan Bundanya. Aylin mengusap lembut rambut putranya. Anak itu terlihat sangat mengantuk setelah selesai makan malam dan memakan es krim yang sudah dijanjikan Bundanya.


“Bunda?”


“Hmm?”


“...Bunda sedih Ayah gak bakalan pulang lagi?” Anak berwajah bulat itu ragu-ragu bertanya. Takut melukai perasaan Bundanya. Tak ingin melihat Bundanya bersedih lagi, sama seperti ketika Ayahnya meninggalkan mereka berdua.


“Tidak, nak. Bunda kan masih punya Angga.” Dijawabnya pertanyaan putranya tanpa ragu. Dia masih melanjutkan senandung lembutnya. Masih saja mengusap kepala putranya dengan lembut.


“..Bunda, ‘darah daging’ itu artinya apa?” Dilanjutkannya lagi pertanyaannya dengan ragu. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala kecilnya sejak Ayahnya memilih meninggalkan mereka berdua. Memilih pergi bersama seorang wanita berperut buncit yang pernah akrab dengannya, yang dulu selalu dia panggil ‘Tante’. Yang dulu sangat baik dengannya dan Bundanya. Yang dulu seperti saudara kandung bagi Bundanya.


“Waktu terakhir ketemu Oma..Oma bilang Angga bukan darah dagingnya Ayah.” Wajah polos nan bulatnya kali menatap lurus ke wajah Bundanya. Aylin sangat terkejut mendengarnya. Tua bangka itu! Berani-beraninya dia-


Tenggorokannya keluh. Sumpah serapahnya terhenti. Air matanya seperti akan tumpah dari ujung matanya. Air mata yang datang dari kesedihannya karena putra tersayangnya yang tak tau apa-apa juga ikut diolok oleh wanita tua itu. Air matanya juga datang dari kemarahannya. Apa tak cukup wanita tua itu mengolok dirinya saja?


Kembali teringat bagaimana wanita tua itu mempermalukannya. Mengoloknya sebagai ‘wanita cacat’. Suaminya yang melemparkan cincin pernikahan mereka ke wajahnya. Senyuman di wajah sahabatnya dengan perutnya yang membuncit dan menggandeng pria yang sangat Aylin cintai. Semua memori itu kembali terpintas di benaknya dengan cepat. Hanya sepersekian detik.


“Kok Oma benci banget sama Angga? Emang Angga salah apa ya...”


“Bunda berantem sama Oma karena Angga, kan?”


Pertanyaan yang datang dari wajah polos putranya bagai ribuan panah menghunjam hatinya. Bahkan anak sekecil Angga pun bisa mengerti keadaannya hari itu. Hari saat dua orang yang dia anggap berharga dalam


hidupnya menghianatinya. Tentang apa dan mengapa semuanya bisa terjadi. Aylin terdiam. Suaranya masih tak sanggup keluar dari mulutnya. Dia hanya bisa kembali menatap mata bulat putranya.


“Bunda juga benci sama Angga? Bunda juga bakalan ninggalin Angga sendiri seperti Ayah?”


“Tidak, nak. Angga gak salah apa-apa. Apapun yang terjadi Bunda tidak mungkin benci dan ninggalin Angga sendirian”


Dipeluknya erat tubuh kecil putranya. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Kembali diusapnya dengan lembut rambut putranya.


“...Tapi kan, Bunda udah ninggalin Angga. Berarti Bunda juga benci dong sama Angga..” Suara anak itu mulai terdengar pelan. Seketika tubuh kecil yang ada dipelukan Aylin mulai mendingin. Kaku, tak bergerak sama sekali, bahkan tak ada jejak detakan jantungdi dada kecilnya.


“..Angga?”


Deg! Ingatan lain kembali terlintas di benak Aylin. Sama dengan yang sekarang. Dia tak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa memeluk tubuh putranya yang semakin lama semakin mendingin. Panik, Aylin mulai mengguncang badan Angga.


Tidak! Tidak! Ku mohon! Jangan lagi! Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi!


Set! Sebuah genggaman kuat dari telapak tangan kecil yang dingin tiba-tiba menggenggam lengannya. Wajah kecil nan bulat Angga kini telah pucat.


“KAU PASTI INGIN AKU LENYAP!!”


Teriak wajah kecil menyeramkan itu di depan wajahnya. Membuatnya tersontak kaget terbangun dari mimpinya.


Deg!


Kananga tersadar dari pingsannya. Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri. Dia mendapati tubuh ringkihnyanya terbaring di atas dipan, beralaskan kasur tipis. Sekujur tubuhnya sudah dipenuhi perban. Darah dimana-mana membekas di perban itu. Mata kanannya, lehernya. Semuanya ikut terperban. Kaki kiri dan kedua tangannya berasa mati rasa. Sulit digerakkan. Perlahan dia mulai mengumpulkan kesadarannya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan melihat langit-langit bangunan yang tak asing. Langit-langit yang dia lihat pertama kali saat membuka mata di tubuh barunya. Itu adalah rumah Kak Asa dan Nenek.


Bruk!


Suara kursi terbanting kebelakang terdengar dari telinga kirinya. Dengan cepat diikuti oleh suara langkah kaki yang sedang berlari. Ekor matanya berusaha mencari sumber suara. Sempat menangkap siluet seorang gadis desa yang berlari tunggang langgang ke arah pintu, ke luar kamar.


“Nenek! Ka-Kananga sudah sadar!!” Teriak Kak Asa sambil berlari memanggil Nenek.


Rusuh keadaan rumah kayu sederhana itu dibuatnya. Walaupun begitu, tak membuat sepenuhnya kesadaran Kananga pulih. Gadis kecil itu masih melihat ke langit-langit. Merasakan luka di hatinya yang baru saja tertutup kini terbuka kembali dengan lebar. Hampa terlihat tatapannya. Sekilas kenangan tentang putranya, orang tuanya, orang-orang yang menyakiti dan menghianatinya terpintas kembali di benaknya. Tak ada yang tersisa. Malaikat kecilnya sudah pergi meninggalkannya terlebih dahulu. Dia tak bisa lagi bertemu dan memeluk kedua orang tuanya. Sungguh tak ada yang tersisa darinya. Takdir memang sungguh kejam. Baru saja luka di hatinya terobati oleh dua bocah bebal itu. Enrich yang sepantaran dengan putranya, Angga, saat menutup usia. Elfad yang usianya sepantaran dengan putranya, Angga, jika saja anak berwajah bulat nan polos itu panjang umur. Apa mereka juga akan pergi menginggalkanku?


Elfad dan Enrich.


Kananga tersadar. Dua adik tak sedarahnya itu masih hidup di luar sana! Teringat kembali teriakan dan tangisan Enrich yang memanggilnya. Elfad yang tak sadarkan diri. Dirinya yang memohon untuk kedua adiknya pergi menjauh dari reruntuhan gubuk itu. Kemana perginya mereka?


“Ugh...” Kananga memaksakan dirinya bangkit. Dia berkeluh. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Sekarang dia menyadari,  kakinya patah, tulangnya retak dimana-dimana. Bagaimana mungkin dia masih bisa hidup tanpa mengaktifkan kembali kutukannya?


“Hentikan, nak. Tubuhmu tidak akan bisa bertahan di luar sana walaupun kau berhasil berdiri.” Nenek berjalan cepat memasuki kamar tempat dia dan Kak Asa merawat Kananga.


Dengan cepat Kak Asa membantu Kananga kembali berbaring di atas kasur tipisnya.


“Elfad..Enrich..Dimana mereka?” Terbata-bata sambil menahan sakit, akhirnya pertanyaan itu berhasil dia lontarkan. Ekspresi dua orang dihadapannya tak terlihat bagus.


“Kananga, maafkan Kak Asa.. Adik-adikmu. Mereka sudah tertangkap”


“...Apa?”


Terbelalak mata Kananga mendengarnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja Kak Asa katakan.