How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 6: Penduduk Gelap



Kerajaan Empyrean. Kerajaan yang terkenal damai dan makmur. Menjadi tempat yang orang-orang di luar sana dambakan untuk hidup dan menetap di daratannya. Masalah perekonomian, pendidikan, kesehatan, tingkat kemiskinan, bahkan hingga tingkat kejahatan. Semua dapat diatasi dengan baik. Bukan hal yang aneh lagi jika pemerintahan Kerajaan Empryrean sering dihujani dengan pujian oleh negeri-negeri tetangga. Mulai  dari tetangga dekat, bahkan hingga tetangga jauh. Tapi siapa yang menyangka. Kata damai dan makmur itu hanya sekedar label belaka ditengah kekacauan yang sedang melanda kerajaan itu. Sengaja dibuat untuk menutupi boroknya sistem pemerintahan mereka. Tak perlu menilik jauh-jauh hanya untuk mencari contoh boroknya sistem pemerintahan mereka. Cukup dengan melihat hidup ketiga yatim piatu bertubuh ringkih itu. Mereka dikenal sebagai penduduk gelap. Sebutan untuk orang-orang yang kehilangan hak asasinya sebagai seorang manusia. Beberapa orang bahkan lebih memilih mati dibandingkan menyandang status sebagai penduduk gelap. Orang yang derajatnya bahkan dianggap lebih rendah dibandingkan seorang budak.


Apa yang membuat ketiga yatim piatu itu menjadi penduduk gelap? Apa karena mereka tuna wisma? Atau karena mereka tidak memiliki sanak keluarga yang bertanggung jawab atas mereka setelah kepergian orang tua


mereka? Tidak. Bukan itu. Itu semua bukan alasannya. Bahkan ketiga bocah itu masih memiliki orang tua yang lengkap. Hanya saja orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai orang tua itu sudah tidak mengakui ketiga bocah itu lagi.


Elfad dan Enrich, mereka dibuang. Mereka kehilangan pengakuan dari orang tua kandung mereka setelah sadar kalau kedua bocah itu adalah monster. Sihir berkembang secara abnormal di tubuh kecil mereka. Membuat orang tua mereka bergidik ngeri karena telah melahirkan seorang penduduk gelap. Kekuatan sihir mereka melampaui bangsawan. Tidak. Bahkan keluarga kerajaan pun, yang legenda katakan keturunan mereka telah diberkahi oleh sang dewa-dewi tak bisa dibandingkan dengan sihir kedua bocah itu. Bagi para bangsawan, keberadaan bocah seperti mereka adalah aib yang mengotori wajah mereka.


Bagaimana mungkin rakyat jelata memiliki kemampuan sihir melebihi mereka? Hal itu sama saja dengan mempermalukan diri mereka. Berdasarkan rasa iri dan dengki dari para bangsawan, mereka pun mulai menyebarkan kabar kalau orang-orang yang memiliki kemampuan sihir melebihi bangsawan adalah orang-orang yang telah dikutuk oleh iblis. Mereka adalah monster. Mereka akan menjadi sumber malapetaka bagi Kerajaan Empyrean. Karena kabar yang tentu saja tidak benar itu, pihak Kerajaan mulai turun tangan. Menciptakan undang-undang agar monster-monster itu tidak menjadi ancaman bagi Kerajaan Empyrean. Dasar! Mereka memang hanya bergerak cepat jika ada komplain dari bangsawan! Mereka akan tetap diladeni bahkan dengan berbagai tuduhan yang tidak masuk akal.


Singkatnya undang-undang omong kosong itu berisikan tentang para monster itu akan dianggap sebagai penduduk gelap, juga hak asasi mereka sebagai manusia akan dihapuskan. Memberikan hukuman mati bagi para penduduk gelap dan orang tua mereka untuk menghindari lahirnya monster-monster lain. Hah! Omong kosong! Hukum macam apa itu! Saat undang-undang itu disahkan, maka dimulailah aturan omong kosong tersebut. Dimulai dari pendataan penduduk dengan usia lima tahun keatas, mengukur tingkatan sihir mereka lewat batu sihir, lalu mengkarantina orang-orang yang akan dikategorikan sebagai penduduk gelap. Tentu saja, tujuan akhirnya untuk mengeksekusi mereka. Siapapun mereka. Entah itu anak-anak, atau lanjut usia, laki-laki atau perempuan, jika mereka memiliki kemampuan sihir diatas para bangwasan maka harus dihukum mati.


Tentu saja dua bocah itu bukan satu-satunya rakyat jelata yang memiliki kekuatan sihir melampaui bangsawan. Sudah banyak pendahulu mereka, bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Ini bukan pertama kalinya aturan itu dilaksanakan. Dulu, ratusan tahun yang lalu, saat undang-undang itu baru saja diberlakukan, ada banyak orang dewasa yang juga ikut dieksekusi. Sekarang pendataan dan pendeteksian sihir itu sudah rutin dilakukan setiap enam tahun sekali, karena itulah sudah tidak ada orang dewasa yang dikategorikan sebagai penduduk gelap. Mereka semua sudah dieksekusi. Apa ada perlawanan? Tentu saja. Sayangnya mereka kalah jumlah. Tak bisa lolos dari aturan tidak masuk akal itu. Menyisahkan anak-anak yang tidak tau apa-apa tentang dunia menanggung beban sebagai penduduk gelap. Selain itu, orang tua mereka juga ikut dieksekusi untuk mencegah lahirnya monster-monster lain.


Hukuman inilah yang membuat orang tua kedua bocah itu bergidik ngeri setelah tau anak yang mereka lahirkan adalah seorang penduduk gelap. Tak peduli bagaimana nasib kedua bocah itu, mereka pada akhirnya mencabut pengakuan mereka sebagai orang tua dari kedua bocah itu. Jadilah mereka yatim piatu. Belum selesai merana hidup mereka, tak lama setelah pengakuan dari orang tua mereka dicabut, mereka pun teridentifikasi sebagai penduduk gelap. Mereka yang telah terindenifikasi sebagai penduduk gelap, sama seperti nasib kedua adik Kananga, mereka diberikan dua pilihan. Pilihan pertama menjadi alat untuk para bangsawan, kurang lebih sisa hidup mereka akan dijadikan seperti sapi perah. Sihir mereka akan terus menerus dimanfaatkan untuk kepentingan para bangsawan. Pilihan kedua adalah hukuman mati untuk mengakhiri segala penderitaan mereka. Sungguh, ada yang salah dengan kepala bangsawan-bangsawan biadab itu. Mereka benar-benar bertindak sampai sejauh ini hanya untuk mempertahankan ego mereka.


Elfad yang saat itu memilih untuk dihukum mati, beruntungnya bisa kabur saat sekelompok orang tua penduduk gelap lain mulai rusuh melihat anak-anak mereka siap dihujani ribuan panah sihir. Keberuntungan juga memihak pada Enrich. Bukan main, waktu itu, bocah itu hanya berusia empat tahun. Belum genap umurnya lima tahun saat itu, hanya tinggal dua hari lagi sebelum dia genap berusia lima tahun tapi dia sudah dimasukkan kedalam daftar anak-anak yang akan diukur kemampuan sihirnya. Sungguh takdir begitu tidak adil untuk bocah itu. Dia bahkan memilih menjadi alat para bangsawan karena dibuat takut oleh kata-kata eksekutor. “Kalian akan dijadikan makanan hewan buas. Mati perlahan setelah tubuh kalian tercabik-cabik!” Itu kata eksekutor gila itu meyakinkan beberapa anak menjadi alat untuk para bangsawan. Namun, setelah Enrich setuju dan akan diantarkan ke kediaman seorang bangsawan, bocah itu malah terpisah dari rombongannya. Dia malah terjatuh dari tebing saat kembali ke kamp tempat peristirahatan rombongannya setelah buang air kecil di malam hari. Minim penerangan membuatnya tidak sadar kalau dirinya sedang berjalan di bibir tebing. Beruntungnya, tubuh kecilnya tersangkut diantara dahan dan ranting pohon. Tak ada luka besar, hanya beberapa goresan di tangan, kaki, dan wajahnya. Bocah itu pingsan, saking terkejutnya. Bocah lain yang sedang tergesah-gesah berlari di hutan di malam hari tanpa adanya penerangan kecuali dari bulan pun yang menemukan tubuh kecilnya. Tergantung diantara dedahanan pohon. Tak sulit membopong tubuh kecil bocah berusia empat tahun itu turun dari atas pohon, bahkan untuk bocah berusia delapan tahun yang saat itu berusaha menolongnya. Seperti itulah pertemuan si tengah dan si bungsu, dan mulailah pelarian mereka menjadi buronan selama setahun terakhir. Lalu bagaimana dengan Kananga? Beda lagi ceritanya dengan kedua adiknya. Si sulung ini nampaknya tak seberuntung adik-adiknya.


Kananga terlahir dari seorang pria pemabuk dan istrinya, seorang mantan kupu-kupu malam. Mereka sadar putri


mereka itu cacat setelah gadis kecil itu tidak menunjukkan sama sekali bakat sihir. Semakin bertambah usia gadis kecil itu, semakin yakin kedua orang tuanya kalau anak itu terlahir cacat. Tidak seperti kedaua adiknya, Kananga sama sekali tidak memiliki sihir dalam tubuhnya. Jangankan memiliki sihir, bakat menggunakan sihir pun dia tidak punya. Tidak ada gunanya membesarkan anak sepertinya. Mereka memang berniat segera mencabut pengakuan mereka atas Kananga.


Ibunya pernah ditawarkan oleh mantan mucikarinya untuk menjual putri satu-satu mereka ke dirinya. Akhirnya timbul niatan mereka menjadikan gadis kecil itu mengikuti jejak Ibunya. Keseharian gadis kecil itu penuh dengan tendangan dan tonjokan dari kedua orang tuanya. Tiada hari baginya tanpa mendapatkan lebih dari satu lebam di tubuhnya. Dia diperlakukan layaknya seorang budak oleh orang tuanya sendiri. Namun beruntungnya, gadis kecil itu tetap diberikan makan yang cukup, tempat bernaung, dan pakaian yang layak. Semua agar gadis itu bisa tetap hidup dan tumbuh besar hingga mencapai usia sepuluh tahun, sebelum akhirnya mereka bisa menjualnya ke rumah bordil.


Tapi takdir berkata lain. Keluarga berisikan tiga anggota itu, memang sejak awal bukan keluarga yang tercukupi kebetuhan ekonominya, juga diperparah lagi dengan kebiasaan buruk si kepala keluarga, berjudi. Hancur sudahlah rencana mereka untuk membesarkan dan menjual putri semata wayang mereka di rumah bordil. Tak cukup uang mereka untuk memberi makan tiga anggota keluarga, maka diputuskanlah untuk membuang satu tanggungan mereka, putri mereka, Kananga. Hilang sudah pengakuan orang tuanya, membuatnya sekarang menjadi yatim piatu, tak punya apa-apa, kelaparan, berkelana entah kemana demi sepotong roti atau apapun itu yang bisa dia makan. Sebelum akhirnya tiga saudara tak sedarah itu bertemu.


Baiklah, cukup dengan kilas balik pahit ketiga bocah yatim piatu itu. Kananga sekarang menginjakkan kaki di tanah setelah beberapa menit kakinya gemetaran berusaha membujuk Elfad untuk membantunya turun dari pohon. Hap! Tak sulit bagi Elfad menangkap tubuh ringkih kakaknya, meletakkannya hingga kakinya menyentuh tanah.


“Kananga, lain kali sebaiknya kau tak memanjat pohon lagi. Nyusahin aja.” Gerutu si tengah. Lihat dia, dia kembali menyebalkan. Hilang sudah tingkah murungnya dan tidak banyak bicaranya. “Kau ini. Percuma saja aku mengkhawatirkanmu. Menyebalkan sekali!” dibalas balik gerutunya oleh si sulung. Pada akhirnya Elfad tetap saja Elfad. Tidak ada imut-imutnya, tidak seperti Enrich. Bocah itu bahkan menyebalkan bagi Kananga yang berjiwa tua. Entah seberapa menyebalkannya bocah itu bagi Kananga jika jiwa dalam tubuh gadis kecil itu tetap jiwa aslinya. Jiwa gadis cilik berusia sepuluh tahun.


“Kak-” Groooooo. Sadar kalau kedua kakaknya akan mulai berseteru lagi, seperti kegiatan normal sehari-hari yang biasa mereka lakukan. Jika sudah seperti itu, akan lama lagi menunggu selesainya pertengkaran mereka. Baru saja Enrich berusaha menghentikan perkelahian kedua kakaknya, kalimatnya malah dipotong oleh gemuruh perutnya sendiri. Enrich memegang perutnya. Bahkan perut bocah itu pun berusaha menghentikan pertengkaran dua kakak dari bocah itu.


Pfft! “Hahaha, ayo kita pulang.” Ada-ada saja cara bocah itu mencairkan suasana. Kananga menarik kedua tangan adiknya. Menuntun mereka pulang. “Hari ini Kak Kananga akan masak apa? Masakan Kakak akhir-akhir


serius seperti memikirkan sesuatu. Perubahan air wajah itu tentu saja disadari oleh Elfad yang berjalan di belakang mereka. Jelas sekali. Ada yang aneh dengan Kananga.


***


Tak! Tak! Tak! Kananga sedang sibuk berusaha menyalakan api di perapian rumah mereka. Gubuk terbengkalai tepat di bawah akar pohon raksasa itu sudah beberapa bulan menjadi rumah mereka. Tempat yang menurut si sulung paling aman karena untuk mencapai gubuk itu saja harus masuk ke dalam hutan bak labirin.


Tak! Tak! Tak! Batu api itu terus diadu. Entah sudah berapa menit Kanangamengadu dua batu itu di tangannya untuk sepercik bunga api di perapian, namun tidak berguna. Bagaimana mungkin dia bisa memasak makan malam mereka tanpa api? Ah, dia memang tidak mahir menggunakan batu api. Di dunianya dulu, dia sama sekali tidak punya pengalaman menyalakan api dengan batu-batu itu. Pengalamannya yang hanya pernah menggunakan korek api kayu, gas, dan gas elpiji sama sekali tidak berguna di dunianya sekarang. Sudah hampir menyerah, Kananga berhenti sejenak mengadu dua batu di tangannya. Dia menunduk, berusaha mengistirahatkan tangannya, melihat ke arah perapian itu yang tak kunjung menyala. Sekilas ada setitik cahaya di dalam perapian itu. Itu api! Perapian itu akhirnya menyala juga. Tapi ada yang aneh. Bukannya Kananga sedari tadi sudah tidak mengadu batu api lagi. Lalu bagaimana api itu bisa muncul?


“Elfad! Sudah aku bilang jangan menggunakan sihirmu sembarangan!” Teriak Kananga menyadari api itu ulah sihir Elfad. “Bagaimana jika ada yang melihatnya?” Tegur Kananga, tapi bocah itu malah santai membalas tegurannya. “Kau ini payah sekali memakai batu api. Lagipula tidak ada yang tau tempat ini selain kita bertiga, Kak Asa, dan Nenek. Bagaimana mungkin ada orang lain bisa melihatnya?” Bocah itu memangku wajahnya di atas meja dengan wajah memalas. “Ayolah, aku kan hanya ingin membantumu” pungkas Elfad.


“Kalau mau bantu, gunakan batu apinya saja! Dasar kau ini!” Balas Kananga tak mau kalah. “Kananga, akhir-akhir ini kau cerewet sekali. Apa kau sudah kehilangan setengah otakmu setelah jatuh dari pohon? Bodoh sekali. Kan lebih efisien kalau menggunakan sihir. Aku tidak mau terlihat bodoh seperti dirimu, memandangi perapian dan berharap perapian itu bisa menyala dengan sendirinya.”  Elfad kembali meledek Kananga.


“Maksudmu ‘Kak Kananga’ kan? Dan aku tidak bodoh! Aku tidak berharap perapian itu bisa menyala sendiri. Aku hanya beristirahat. Hah, tolong jangan sama ratakan isi kepalamu denganku.” Kananga kembali mengolok Elfad. “Aku hanya beda tiga belas  bulan darimu! Hah! Baiklah! Baiklah! Kau memang lebih tua daripada aku. Lihat saja kerutan di wajahmu sekarang!” Balas Elfad tak mau kalah. Ah! Gawat! Jika sudah seperti ini, adu olok-mengolok antara si sulung dan si tengah sudah dimulai. Bisa jadi mereka akan makan terlambat. Atau yang paling parahnya, si sulung malah ngambek. Kalau sudah sampai seperti itu, maka tidak akan ada makan malam untuk mereka. Termasuk Enrich yang sedari tadi duduk manis, membantu mengupas kentang-kentang yang akan di masak Kananga. Sungguh penmandangan keseharian yang normal untuk Enrich. Malah menurutnya, ada hal yang aneh jika kedua kakaknya itu tidak berkelahi dalam seminggu. Setidaknya mereka akan adu olok-mengolok dua sampai tiga kali dalam setiap minggu. Aneh, tapi bagi Enrich, ini cara yang paling gampang untuk membuktikan kedua kakaknya itu saling peduli satu sama lain.


“Hah...Elfad kau ini..” Kananga mendengus panjang berjalan mendekati Enrich yang masih duduk manis. “Jika kau tidak bersikap manis seperti Enrich, akan ku berikan semua jatah makananmu ke anak manis ini!” Hah, muncul lagi gertakan andalan Kananga. “Benarkah, Kak?” Enrich berseri-seri mendengar ucapan Kananga.”Tentu saja! Apapun jika untuk Enrich-ku yang imut ini~” Kananga memainkan pipi si bungsu dengan kedua tangannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan keimutan Enrich, menurutnya. Hanya dengan memainkan kedua pipi si bungsu saja sudah bisa memperbaiki mood Kananga yang rusak akibat ulah si tengah, Elfad. “Tunggu! Apa kau serius?!” Protes Elfad yang berpikir kali ini mungkin saja gertakan kakaknya itu serius. “Hahaha, tenang saja. Mana mungkin aku membuat adikku yang satu ini kekenyangan disaat adikku satunya lagi kelaparan.” Kananga tertawa puas. Akhirnya adu olok mengoloknya itu dimenangkan oleh Kananga. “Tapi aku benar-benar serius, Elfad.” Suara si sulung sekarang sudah jauh lebih tenang, namun tak kehilangan ketegasannya. “Kau dan Enrich itu special. Kalian tidak boleh menggunakan sihir kalian sembarangan. Kita tidak tau apa yang akan mereka lakukan pada kalian jika tau tentang kemampuan sihir kalian.” Kananga bergidik ngeri hanya dengan membayangkan nasib kedua adiknya itu jika tertangkap. Entah dibunuh, atau yang lebih parah lagi, malah dijadikan sebagai alat oleh bangsawan-bangsawan serakah.


“Tenanglah. Hanya kita bertiga di tempat ini sekarang.” Elfad sekali lagi berusaha meredakan kekhawatiran kakaknya.


”Tidak akan ada yang tau-“


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk menggema memotong kalimat Elfad. Membuat tiga yatim piatu itu membeku terdiam. Tak ada yang berani bersuara. *S*iapa? Kak Asa? Nenek? Tidak! Ini kan bukan jadwal kunjungan mereka. Lalu siapa?


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kembali menggema. Kali ini Kananga refleks mengambil belati di atas meja makan yang sengaja dia letakan kalau saja terjadi hal seperti sekarang.


“Enrich, kemarilah.” Bisik Kananga ke adik bungsunya. Dia bergegas memeluk dan menarik Enrich ke sudut ruangan. Sedangkan Elfad berjinjit pelan-pelan mematikan semua sumber cahaya dan mengambil belati lainnya. Gemetar Enrich di pelukan kakak sulungnya. Kananga menggigit bibirnya. Apa persembunyian kita sudah ketahuan?.