How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Ch 9: Menjemput Mereka



Entah sudah berapa kali dia mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk dirinya akan takdirnya. Mengutuk dirinya yang tak  ampu melakukan apapun saat mereka mulai kehabisan makanan. Mengutuk dirinya karena tak mampu melakukan apapun untuk melindungi adik-adiknya selain kabur dan bersembunyi. Di kehidupan yang sekarang pun, terlalu banyak hal yang dia tak bisa maafkan dari dirinya sendiri. Bahkan sampai semua ini terjadi.


“Maafkan aku, Kananga. Seharusnya aku bisa bertindak lebih cepat. Jika saja waktu itu aku punya sedikit keberanian melawan mereka. Sedekit saja...Maka semuanya tidak akan jadi seperti ini.” Air mata Kak Asa jatuh berlinang membasahi lantai kayu usang. Rok panjangnya terlihat sangat kusut karena tak henti diremas olehnya. Pipinya terlihat membiru. Ujung bibirnya terlihat terluka.


“Adikmu, Enrich. Dia berhasil mencapai desa sambil menyeret tubuh Elfad. Dia terus teriak meminta tolong dan berhasil membangunkan sebagian penduduk desa. Dia berhasil membangunkan kami. Kami sempat menolongnya. Namun sayangnya, teriakannya tadi juga berhasil menarik perhatian antek-antek Kepala Desa yang memang sengaja memancing adikmu keluar dari persembunyian kalian. Target mereka adalah Enrich, mereka tau adikmu itu alat yang berhasil kabur. Segera mereka menangkap kedua adikmu. Asa yang saat itu mencegah mereka...” Nenek menggigit bibirnya. Menyadari dibandingkan Kak Asa, cucunya, dia lebih tak berdaya. Membiarkan orang-orang itu melayangkan pukulan ke wajah cantik cucunya. Membiarkan orang-orang itu juga membawa dua bocah yang dia sudah dia anggap juga sebagai cucunya.


“Baron Ledger...Dialah penyebab semua ini terjadi.” Isak Kak Asa. Kali ini wajahnya terlihat merah padam berusaha menahan amarahnya ditengah isaknya.


“Baron Ledger. Dialah yang membawa kedua adikmu. Kananga, kau mungkin tak tau ini, tapi Baron Ledger-lah yang sudah membeli Enrich sebagai alat. Entah bagaimana caranya, mereka berhasil melacak keberadaan Enrich.” Jelas Nenek.


Kananga tertunduk. Meremas telapak tangannya. Tak peduli ada beberapa luka dan goresan di telapak tangannya. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya penuh dengan putus asa. Ini adalah situasi terburuk yang pernah dia perkirakan


bisa terjadi ke mereka.


Apa hanya sampai seperti ini saja? Hari-hariku dengan mereka- Apa hanya sampai disini saja?


“Jangan menyerah...” Bisikan lembut tiba-tiba terdengar di telinga Kananga. Entah dari mana datangnya suara itu.


“Mereka masih menunggumu..Kau sudah berjanji, bukan?..” Lagi-lagi. Seperti dibisikkan langsung ke dalam kepalanya. Tak ada yang menyadari suara itu selain dirinya. Tidak Kak Asa, ataupun Nenek. Ajaibnya, suara itu seperti kembali memberikannya harapan. Binar matanya kembali hidup. Air wajahnya tak lagi berawai.


“Nek. Kak Asa. Maafkan aku. Aku tak bisa terus terusan terbaring seperti ini saat kedua adikku tidak baik-baik saja. Bagaimana pun caranya, aku harus pergi menemukan dan menolong mereka. Jika kaki kananku patah, aku masih bisa menggunakan tongkat. Jika kedua kakiku patah, aku hanya harus menyeret tubuhku. Jika kedua tanganku patah, setidaknya anggota tubuh ini masih lengkap, dengan begitu, dengan cara apapun akan ku seret tubuh ku. Aku sudah berjanji akan menemukan mereka.” Binar matanya bercahaya, seperti api yang baru saja diberikan minyak.


Nenek tau gadis kecil itu bersungguh-sungguh. Dia tau, gadis kecil itu bersungguh-sungguh akan menyeret tubuhnya puluhan-ratusan-bahkan ribuan kilometer demi menyelamatkan kedua adiknya. Dia tau, gadis kecil itu akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kedua adiknya.


“Dasar bodoh” Jari-jemari keriput Nenek mulai mengusap lembut rambut Kananga. “Kau ini pasti lupa kalau Nenek tua ini adalah punya sihir penyembuh terbaik di desa ini, kan?” Seketika semilir angin mengelilingi tubuh ringkih Kananga. Cahaya yang terlihat seperti kunang-kunang berwarna biru terang menyentuh kulitnya. Seketika semua luka-lukanya tertutup. Dadanya yang sedari tadi terasa sakit akibat salah satu tulang rusuknya patah pun tak lagi terasa sakit. Bahkan lebam di tubuhnya pun ikut menghilang. Hebat sekali! Tercengang gadis kecil itu melihat luka-lukanya sembuh seketika. Ini pertama kalinya Kananga melihat cara kerja sihir penyembuhan.


Dilihat kedua tangannya. Diputar berkali-kali tubuhnya untuk melihat apa ada satu luka yang tersisa. Kananga benar-benar takjub.


“Terima kasih, Nek!” Senyum lebar mekar di wajah kurusnya.


“Jika kau ingin menyelamatkan kedua adikmu. Pergilah ke arah barat daya dari desa ini. Di sana kau akan menemukan tambang. Dalam tambang itu ada penjara tersembunyi yang tak lagi digunakan. Aku yakin mereka mengurung kedua adikmu di tempat itu.” Jelas Nenek.


Kananga mengangguk serius mendengar arahan Nenek.


DUARRRR!!


Sebuah ledakan menggetarkan tanah. Membuat fokus Kananga pecah. Bergegas pandangannya terkunci ke arah luar jendela. Langit terlihat merah. Api dan asap dimana-mana. Selain Kananga, ternyata beberapa warga desa juga ikut dirawat di rumah Nenek. Kananga terlihat bingung. Nampaknya setelah beberapa waktu saat dia tidak sadarkan diri, pemberontakan di desa pinggiran negeri itu sudah dimulai. Membuat beberapa rumah warga desa terbakar. Kebun bahkan peternakan mereka. Perempuan dan anak-anak sudah terlebih dahulu diungsikan. Menyisakan warga yang siap menjadi pasukan penyerang. Di luar kamar, beberapa warga merintih kesakitan. Bau darah menyerbak. Kak Asa sejak tadi berlari kesana kemari sedang sibuk mengurusi warga yang sedang terluka, sebelum akhirnya memutuskan memeriksa kondisi Kananga yang tak lama lagi akan siuman. Ini pertama kalinya dia melihat pemandangan seperti itu. Melihat apa yang terjadi disekitarnya membuat keberaniannya hampir saja luntur. Sesegera mungkin Kananga mengesampingkan rasa takutnya.


“Kau tak mungkin bisa mencapai tempat itu jika kau tidak menyusun rencana, nak. Apa kau sudah menyiapkan rencanamu?” pertanyaan Nenek membuat pikiran Kananga kembali fokus. Namun tak membuat tatapannya kembali terfokus ke wajah keriput Nenek. Walaupun keberaniannya hampir saja menghilang, kedua matanya tak berhenti menyapu seluruh bagian ruangan di rumah kayu sederhana itu.


***


“Apa ini sudah cukup?” Gumam Kak Asa ke dirinya sendiri. Sejak tadi, dia tak lagi berlarian kesana kemari mengurusi warga desa yang terluka. Berkat kepiawaiannya dan Nenek, pasien-pasien mereka mulai membaik. Kondisi di rumah kayu tua itupun sudah mulai tenang. Tak lagi fokus dengan warga desa yang terluka, Kak Asa mulai fokus menyiapkan sebuah tas lusuh yang terbuat dari kain goni. Dimasukkannya beberapa barang dalam tas lusuh itu. Beberapa makanan tak mudah rusak; roti dan beberapa buah, sekantong air minum, tak lupa juga peralatan P3K yang sangat diperlukan jika Kananga atau salah satu adiknya terluka.


Tak kalah sibuk dengan Kak Asa yang sedang menyiapkan perbekalan perjalanannya untuk menjemput kedua adiknya, Kananga sibuk mengutak atik sesuatu barang bawaannya yang lain. Tak ada yang tau apa sebenarnya yang gadis bertubuh ringkih itu lakukan.


“Kananga?”


“Ya?”


“Apa barang bawaanmu tak berat? Maksud ku, barang-barang itu.”


Kak Asa mengintip dari balik tubuh kecil Kananga. Dia penasaran dengan benda yang sedari tadi membuat Kananga sibuk. Sebuah kantong berukuran lebih besar dari telapak tangannya. Terlihat berat ketika Kananga


mengangkatnya dengan tangan kurusnya.


“Benda ini? Tak perlu khawatir, Kak. Walaupun terlihat besar, tapi barang-barang ini tidak berat kok.” Kananga tersenyum melihat wajah penasaran Kak Asa. Diletakkannya sekantung bulat itu di atas telapak tangan Kak Asa, dan memang benar, benda itu terasa ringan, seperti hanya berisikan pasir.


“Syukurlah, tidak seberat yang ku bayangkan.” Kak Asa menghelah napas lega.


Ada banyak hal yang dia khawatirkan dalam perjalanan Kananga. Bagaimana mungkin gadis kecil bertubuh ringkih itu bisa menyelamatkan kedua adiknya sendirian. Pasti akan banyak orang yang menjaga dua bocah itu. Sempat dirinya menawarkan diri untuk ikut, namun ditolak oleh Kananga. “Kak Asa jauh lebih dibutuhkan di rumah ini.” Begitulah jawaban Kananga. Berulang kali Kak Asa menawarkan diri untuk pergi bersamanya, namun respon Kananga tetap saja sama. Melihat kegigihan gadis kecil bertubuh ringkih itu, pada akhirnya Kak Asa menyerah. Dia hanya bisa berharap rencana apapun yang sudah disusun oleh Kananga bisa berjalan sukses. Tak lupa dia juga terus berdoa untuk keselamatan kedua adik Kananga.


“Oh, iya. Bawalah ini.” Kak Asa menyerahkan tas lusuh kain goni berisi perbekalan yang sudah dia siapkan.


“Ini...”


“Bawa saja. Perjalan ke tambang itu tidak sedekat yang kau bayangkan. Kau akan membutuhkannya.” Jelas Nenek.


“Terima kasih. Entah bagaimana caraku kelak bisa membalas semua kebaikan Kak Asa dan Nenek.”


“Dasar anak ini. Apa kau pikir kami setega itu berharap gadis kecil membalas semua yang sudah kami berikan? Tapi jika kau memaksa membalas kebaikan kami, maka hiduplah. Hiduplah dengan kedua adikmu. Jika kita bisa bertemu lagi, aku harap tubuh kalian tidak akan sekurus ini. Kalian harus tetap hidup, dan sehat....D-Dengan begitu, kau sudah membalas kebaikan kami.” Mata gadis desa itu berkaca-kaca. Tanpa sadar dia sudah terisak. Dipeluknya tubuh mungil nan ringkih Kananga. Mata Kananga mulai terasa panas. Nenek dengan tubuh bungkuknya, tak perlu menundukkan badannya untuk mengusap lembut rambut mereka berdua dengan jemari keriputnya. Kak Asa yang sangat emosional sepertinya berhasil mempengaruhi emosinya. Begitu pula dengan Nenek. Tanpa sadar, Kananga juga mulai terisak. Menyadari ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertemu. Menyadari dia dan kedua adiknya mungkin tak akan bertemu lagi dengan orang-orang sebaik Nenek dan Kak Asa. Atau mungkin saja.


Salah satu dari mereka tidak akan berumur panjang lagi. Tua-muda, takan ada yang tau kapan usia mereka akan berakhir.


Diiringi dengan mulainya bulir air berjatuhan dari langit. Kananga memulai perjalanannya. Menjemput kedua adiknya. Bersiap membinasakan siapa saja yang akan menghalangi jalannya.