How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Prolog: Untuknya, Dariku



Gadis itu mulai menarik napasnya. Perlahan namun dalam. Sudah berapa menit terlewat sejak dia memegang pena berhiaskan bulu burung. Ada banyak yang dia ingin tulis, tapi tak bisa diungkapkannya lewat kata-kata. Selalu saja. Selalu saja dia seperti ini saat mulai menulis surat tanpa alamat penerima itu. Sudah penuh tiga laci di meja tulisnya dia gunakan untuk menyimpan surat-surat itu. Dia sendiri pun tidak tau kemana dia harus mengirimkan surat-surat itu. Tidak ada yang tau siapa penerimanya kecuali dirinya.


Dia mulai tersenyum. Solusi terbaik untuk menyembunyikan rasa sakit dan kerinduannya yang teramat mendalam. Juga untuk menahan air matanya yang entah kapan saja bisa mengalir deras membasahi pipinya.


Perlahan, dia mulai menggerakannya pena di tangannya. Satu garis, dua garis, mulai dia tarik di atas kertas. Satu kata, dua kata, dia mulai rangkai menjadi sebuah kalimat, paragraf.


Untukmu, malaikatku.


Bagaimana kabarmu? Ku harap kelak surat ini bisa sampai padamu. Entah bagaimana caranya, aku pun juga tidak tau.


Apa kau mengkhawatirkanku?


Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.


Aku baik-baik saja di dunia ini..


Karena aku dicintai..


Malamnya sekali lagi dia habiskan dengan merangkai semua ingatan berharga dalam hidupnya. Dituliskannya dengan rapih dan beruntun. Dalam setiap baris kertas surat itu.