
“Si gadis beringas, Si gadis bengis, Malaikat Kematian Empyrean, Dewi Kemenangan, dan lain-lain. Diantara semua julukan yang diberikan untukmu, hanya satu yang artinya baik. Haha, orang-orang tadi pintar juga memilih julukan untukmu.”
Duke Bhaltair Ishtarnia. Berusaha membuka percakapan dengan putrinya yang sedari tadi memangku wajah. Sudah sedari tadi, sejak kereta kuda mereka mulai berjalan, gadis itu terus termenung. Menatap jauh ke luar jendela sambil sesekali menghela napasnya. Walaupun perang dengan Kerajaan sebelah sudah berakhir, nampak pikirannya masih keluh. Entah apa yang putri tunggalnya itu pikirkan. Apa tentang masa lalunya? Atau tentang seri cerbung yang dia pernah tulis? Kananga memang tidak menyembunyikan masa lalunya
dari Ayahnya. Dia percayakan sepenuhnya rahasia itu ke Ayahnya.
“Hah..” Putrinya sekali lagi menghela napas. Kali ini jauh lebih panjang dari sebelumnya. Kali ini duduknya lebih malas.
“Bos besar. Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak kapan aku menjadi pusat perhatian mereka? Jika mereka ingin memuji, artinya mereka memuji orang yang salah.” Tanpa mengalihkan pandangannya. Gadis itu masih mengunci pandangannya keluar jendela. Menyesali kesalahannya yang bahkan dia tidak ketahui. Hancur sudah rencananya untuk tidak menarik perhatian siapa pun selama hidup di dunia itu.
Bukan dia yang seharusnya menjadi pusat perhatian. Bukan dia yang seharusnya mendapatkan ucapan hormat dan terima kasih dari berbagai macam pihak. Jika bukan karena adik-adiknya, Kananga Ishtarnia mungkin hanya tinggal nama belaka. Seharusnya semua perhatian dan pujian itu ditujukan untuk kedua adiknya.
Sebelum pergi berperang, kedua adiknya itu memberinya senjata mutakhir buatan mereka. Kalau soal merakit senjata, dua bocah itu jagonya. Belum ada yang tau tentang senjata itu. Dua bocah itu memang hanya ingin kakaknya itu yang mencobanya lebih dulu daripada orang lain. Doaku bersamamu, Kak. Kami harap ini bisa melindungimu. Kananga masih ingat betul kalimat Elfad dan Enrich, kedua adiknya, saat memasukkan senjata itu ke dalam kopernya secara diam-diam. Tidak ingin diketahui siapapun soal penemuan baru mereka. Kananga
tau betul. Kedua adiknya pasti sudah menanamkan sihir mereka ke senjata itu. Bukan main. Kemampuan sihir kedua adiknya itu jauh lebih besar dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Jika mereka berdua menanamkan sihir mereka bersamaan di benda itu, dia sudah bisa membayangkan seberapa menyeramkannya
kekuatan senjata itu. Membuatnya bergidik ngeri. Karena itulah Kananga memutuskan hanya menggunakan senjata itu jika keadaannya sedang terjepit. Takut orang-orang berniat menyalahgunakan kemampuan adik-adiknya.
Benar. Dugaan Kananga tentang senjata berupa senjata api itu. Keputusan Kananga untuk menggunakannya hanya saat berada di situasi terjepit, semuanya benar. Hanya dengan menarik pelatuknya sekali. Kekuatan benda itu sampai bisa melubangi sebuah bukit. Membuat prajurit musuh di depannya kocar kacir. Takut terkena tembakan senjata api misterius itu. Seperti doa adik-adiknya, senjata itu benar-benar melindunginya. Juga berhasil membuat prajurit musuh takut padanya. Inilah asal usul julukan-julukan menyeramkan yang diberikan prajurit musuh untuk Kananga.
Di mata mereka, Kananga sebelum menarik senjata misterius itu keluar dari tempat persembunyiaannya adalah tumbal peperangan. Tumbal yang dikirim langsung oleh Raja Empyrean. Tentu ada kepuasan dan kebangaan tersendiri bagi mereka jika berhasil menghabisi tumbal itu. Putri tunggal Duke Ishtarnia, Sang Kuda Hitam Empyrean. Tapi setelah Kananga menarik pelatuk senjata api itu, pandangan mereka ke Kananga tiba-tiba berubah. Seperti melihat iblis atau malaikat maut yang tersenyum lebar saat mengarahkan moncong senjatanya ke kepala musuh-musuhnya. Kananga justru memanfaatkan ketakutan musuh-musuhnya. Membiarkan mereka pergi hidup-hidup dari hadapannya, menyebarkan teror kalau ada seorang gadis beringas dari pasukan Empyrean yang memiliki kemampuan yang menakutkan. Teror itu berhasil menyebar. Membuat musuh-musuhnya enggan berhadapan langsung dengan Kananga. Ketakutakutan mereka sangat berlebihan. Sampai-sampai pihak Kerajaan sebelah menarik seluruh pasukannya karena teror yang mereka buat sendiri.
Peperangan selesai hanya dalam berapa bulan. Si gadis beringas menjadi pahlawan perang yang digadang-gadang memiliki prestasi yang lebih besar dari pada Putra Mahkota. Dan beginilah kondisi si gadis beringas itu sekarang. Dia menyesal sudah memanfaatkan ketakukan musuh-musuhnya saat itu.
“Sudahlah, Nak. Bukannya keadaan sekarang malah menguntungkan kita?” Bhaltair memecahkan konsentrasi putrinya yang mengubek-ubek ingatannya beberapa bulan yang lalu. “Semua orang sudah menganggapmu sebagai pahlawan mereka. Para bangsawan juga sudah mulai melihatmu sebagai peluang yang berharga. Karena itulah kejadian seperti tadi mungkin akan terulang lagi jika Ayah tidak ada di sampingmu.” Memang benar apa yang Ayahnya katakan.
“Hah! Paling tidak, Raja sialan itu tidak akan berani menyentuh putriku sekarang!” Duke Ishtarnia itu melipat tangannya, tersenyum bangga dengan keadaan yang menguntungkan mereka sekarang. “Ayah, pelankan suaramu. Bagaimana jika ada yang mendengarnya dan membuat kita dieksekusi mati seperti cerbung bodoh itu?” Setelah insiden lamaran, ritual perpisahan Baine, sekarang malah Ayahnya mulai berulah. Kananga hanya bisa
menghela napas. Pusing kenapa orang-orang disekitarnya selalu saja berulah.
“Bukannya ini yang kau inginkan? Sejak ada di dunia ini, sejak menjadi Kananga. Bukannya kau ingin menghindari semua masalah dan hidup tenang selama sepuluh tahun kedepan, bukan? Dalam cerbung mu itu, masalah kita adalah Yang Mulia Putra Mahkota. Yang Mulia Putra Mahkota, tidak, bahkan sekarang Yang Mulia Raja pun tidak akan bisa menyentuhmu. Paling tidak sampai beberapa tahun kedepan.” Benar kata Bhaltair. Situasi ini memang persis seperti apa yang Kananga inginkan.
“Entahlah Ayah. Aku merasa...Sesuatu yang buruk akan terjadi..”
“Tenanglah, Nak. Kau hanya perlu menghindari berinteraksi dengan kedua orang itu.” Gadis itu masih saja melipat alisnya, melihat ke luar jendela kereta kuda yang sedang melaju.
“Lihat! Kau sudah tenang sekarang?” Bhaltair mengarahkan jarinya ke luar jendela. Menunjuk sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh ditengah halaman lega yang hijau. Kali ini dia berhasil membuat kerutan di alis putrinya itu menghilang seketika. Dia tidak lagi menatap jauh ke luar jendela. Sekarang pikirannya benar-benar berfokus ke bangunan itu. Itu rumahnya. Tempat dimana adik-adiknya menunggunya.
Begitu kereta kuda itu berhenti, tanpa perlu dibukakan oleh pelayan, Kananga buru-buru membuka pintu kereta itu. Tanpa perlu dibantu turun, Kananga langsung melompat turun. Bergegas berlari ke dua orang yang sedang tersenyum menyambutnya. Meninggalkan Ayahnya yang baru saja mau membantunya turun, namun didahului oleh langkah lebar Kananga. Melesat, melompat memeluk keduanya.
“Kakak!” Enrich menyambut pelukan Kananga. Bocah yang baru saja berusia 11 tahun itu sepertinya bertambah tinggi lagi. Lihat saja, dia bahkan hampir menyamai tinggi kakak perempuannya.
“Kananga!” Elfad, si adik tengah yang sekarang berusia 14 tahun. Lagi-lagi. Salah satu adiknya itu sudah lebih tinggi dibandingkan Kananga. Walaupun mereka terus tumbuh, Kananga masih saja memperlakukan mereka seperti dulu. Seperti bocah. Atau mungkin seperti anaknya? Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan jiwa tuanya dibalik tubuh remaja itu. Elfad yang sekarang sudah memasuki masa pubertasnya pun kadang menghindari pelukan kakaknya. Tapi sepertinya dia mengalah kali ini. Mungkin dia juga merindukan kakaknya itu sebanyak kakaknya juga merindukannya.
Di sudut lain halaman hijau nan lapang itu, Cella turun dari kereta kuda lain. Seorang gadis pelayan sudah menunggu di depan kereta kuda itu dengan mata berkaca-kaca. Dia Eyjah, kakaknya, yang sudah menjadi figur orang tua sekaligus kakak bagi Cella. Cella tidak sabaran turun dari kereta kuda. Meninggalkan koper yang berisi barang bawaanya sembarangan di belakangnya. Memeluk erat sang kakak. Penuh sudah halaman itu dengan suasana hangat. Saling merangkul melepas kerinduan.
***
Matahari sudah lama menenggelamkan dirinya di ufuk barat langit. Tak ada lagi gradasi warna jingga di cakrawala. Sekarang sudah pekat gulita, bersamaan dengan beberapa cahaya di jendela rumah yang telah padam. Tapi tidak untuk di kamar gadis itu. Sumber cahaya kamar itu belum juga padam. Walaupun diterpa angin malam dari arah balkon. Serindai meniup tirai gorden putih. Membuat cahaya rembulan mulai mengintip masuk ke kamar itu. Sepertinya memang sengaja pemilik kamar itu lakukan.
Kananga kini berada di balkon kamarnya. Memandang langit malam yang entah mengapa terlihat gelap dan cerah disaat bersamaan. Mungkin karena bintang-bintang. Tidak ada awan. Cerah hingga tidak sulit melihat hamparan gugusan bintang di cakrawala. Berjejer membentuk sebuah jalan seperti pasir putih yang berkilauan.
Angin malam menyapa pipinya dan membuat rambutnya mulai melambai seperti helaian benang sutera. Berkilauan di bawah sinar rembulan. Dengan hanya menggunakan gaun tidurnya, tidak membuat Kananga merasa kedinginan dan menghentikan rasa kagumnya dengan langit malam di dunia itu. Senandung lembutnya pun tak berhenti. Senandungnya di malam hari selalu saja terdengar lembut. Menjadi melodi pengantar tidur untuk beberapa orang yang berhasil mendengarnya. Entah melodi apa yang sedang dia senandugkan. Tak ada yang tau. Ini hanya bagian dari kebiasaan kecilnya saat memikirkan sesuatu. Entah apa yang dia pikirkan.
Suara ketukan pintu menghentikan senandung lembutnya. Menghilangkan fokusnya dari cakrawala malam. Seorang pelayan mulai membuka pintu kamar saat diizinkan masuk.
“Sudah ku duga. Nona kecil pasti sedang berada di balkon” Eyjah, si gadis pelayan yang berambut merah. Rupanya benar-benar mirip dengan adiknya, Cella. Gadis itu memasuki kamar Kananga dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa cemilan. Dia sangat mengerti Nona kecil nya perlu menghangatkan tubuhnya setelah diterpa angin malam. Melihat Eyjah menyusun seisi nampan itu di atas meja membuatnya menutup pintu balkon dan berjalan masuk kembali ke kamarnya.
“Terima kasih, Eyjah.” Kananga tersenyum ramah pada gadis yang sudah membantu mengurusnya sejak 5 tahun yang lalu.
“Nona kecil, tolong jangan tidur terlalu larut. Besok adalah hari yang penting untuk Nona.” Sepertinya tidak ada istirahat untuk Nona kecil nya. Besok masih harus mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan keberangkatannya ke Einherja dalam berapa hari lagi.
“Aku mengerti Eyjah, terima kasih.” Tak banyak bicara, atau mungkin juga sudah kelelahan, Kananga terduduk manis di depan cemilan dan teh yang Eyjah siapkan. Setelah memastikan kali ini Nona kecil nya benar-benar akan beristirahat, Eyjah mulai mematikan sumber penerangan dan meninggalkan kamar itu setelah mengucapkan selamat tidur pada Nona kecil nya.
Oh, iya. Kananga teringat sesuatu. Dia berjanji akan menceritakan sesuatu pada seseorang. Dia mulai mengambil beberapa lembar kertas surat bermotif floral berwarna pastel di laci meja tulisnya. Dengan pena di tangan kanannya, perlahan dia mencelupkan ujung pena itu ke tinta. Pena sudah ditangan, namun Kananga masih saja duduk termenung di depan kertas itu. Tangannya terasa keluh untuk menulis.
Gadis itu mulai menarik napasnya. Perlahan namun dalam. Sudah berapa menit terlewat sejak dia memegang pena berhiaskan bulu burung. Ada banyak yang dia ingin tulis, tapi tak bisa diungkapkannya lewat kata-kata. Selalu saja. Selalu saja dia seperti ini saat mulai menulis surat tanpa alamat penerima itu. Sudah penuh tiga laci di meja tulisnya dia gunakan untuk menyimpan surat-surat itu. Surat tanpa penerima. Dia sendiri pun tidak tau kemana dia harus mengirimkan surat-surat itu. Tidak pernah ada yang tau, apakah surat itu akan sampai kepada orang yang dituju. Namun, hal itu tidak membuat Kananga mengingkari janjinya.
Gadis itu mulai tersenyum. Solusi terbaik untuk menyembunyikan rasa sakit dan kerinduannya yang teramat mendalam. Juga untuk menahan air matanya yang entah kapan saja bisa mengalir deras membasahi pipinya. Perlahan, dia mulai menggerakannya pena di tangannya. Satu garis, dua garis, mulai dia tarik di atas kertas. Satu kata, dua kata, dia mulai rangkai menjadi sebuah kalimat, paragraf.
____________________________________________________
Untukmu, Malaikatku.
Bagaimana kabarmu? Ku harap kelak surat ini bisa sampai padamu.
Entah bagaimana caranya, aku pun juga tidak tau.
Apa kau mengkhawatirkanku?
Tidak. Tidak perlu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.
Aku baik-baik saja di dunia ini.
Aku..
Banyak berubah sejak sampai di dunia ini.
Aku yang dulunya egois. Hanya memikirkanmu dan diriku sendiri.
Sekarang mulai memikirkan banyak orang.
Ku harap kau tidak membenci perubahanku ini.
Di tempat ini..
Berbeda dengan di dunia kita.
Aku yang ditakdirkan untuk
dibenci begitu dicintai di dunia ini.
Hari-hari ku selalu berwarna berkat mereka.
Tentu saja, tidak semua berwarna cerah dan pastel.
Terkadang warna itu juga gelap, dan bahkan berkabut.
Tapi berkat mereka, aku yakin semua akan baik-baik saja.
Kau pasti bingung siapa ‘mereka’, bukan?
Tenang saja.
Aku akan menceritakan semuanya padamu.
Cerita tentang dia, tentang mereka yang kukasihi.
Aku akan berusaha menceritakannya sedetail mungkin, semampuku.
Hingga kau merasa seperti ada disampingku saat itu.
____________________________________________________