How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 7: Kutukan Si Penulis



Tok! Tok! Tok!


Suara pintu itu diketuk. Menggema ke seluruh gubuk tua berisikan tiga yatim piatu. Kali ini ketukannya jauh lebih cepat dan keras, seperti berirama dengan detak jantung ketiga bocah di dalamnya. Sulit rasanya bernapas dalam keadaan seperti ini. Elfad yang berdiri di tepat di depan pintu, napasnya mulai tersengal-sengal. Kananga yang memeluk Enrich di salah satu sudut ruangan mulai mengeratkan pelukannya ke si bungsu, juga tak lupa dieratkan pula genggamannya ke belati yang dia siapkan jika terjadi hal seperti sekarang. Perlahan, satu-dua-tiga langkah, Elfad mulai mendekati pintu perlahan. Semakin dekat, semakin berat dadanya bernapas.


“Kananga? Elfad? Enrich? Apa kalian di dalam? Ini aku, Asa.” Pelan suara seorang gadis dibalik pintu. Itu Kak Asa! Bersamaan ketiga bocah itu menghela napas mereka. “Ya ampun, Kak Asa. Ku pikir siapa.” Kananga membuka pintu perlahan dengan Enrich yang masih memeluknya ketakutan. “Maafkan aku sudah mengagetkan kalian.” Kak Asa mengelus kepala si bungsu sambil dipersilahkan masuk oleh Kananga. “Sebagai permintaan maafku, kali ini aku membawa lebih banyak persediaan makanan untuk kalian.” Kak Asa meletakkan kerangjang rotan yang sedari tadi dia bawa di punggungnya. “Wah!” Kagum si tengah dan si bungsu. Mata mereka berbinar melihat isi kerangjang rotan di atas meja makan mereka.


“Kananga, kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kak Asa menyarankan mereka berbicara di belakang gubuk. DI luar, Kak Asa terlihat bingung dan gelisah. Berusaha berpikir bagaimana cara menyaimpaikan kabar buruk yang dia bawa. Kak Asa sengaja memilih hanya memberitahukan si sulung, Kananga, karena percaya gadis kecil itu akan bertindak cermat menangani kabar buruk itu. Apa yang harus aku katakan? Harus mulai dari mana, ya? Tak berhenti kalimat itu terus berputar di kepala Kak Asa bahkan sejak dia sendiri juga menerima kabar buruk itu.


“Kak Asa, apa ini tentang pemberontakan itu?” Kananga nyatanya sudah tau. Kabar buruk itu sudah dia dengar dari gunjingan orang-orang yang lewat di bawah pohon ek, tempat biasanya dia mangkal, berusaha mengumpulkan informasi dari orang-orang desa tanpa harus berkomunikasi dengan mereka. Dugaan Kananga tentang rencana pemberontakan dari warga desa ternyata benar. Kak Asa tertegun. Kagum dengan kecermatan si sulung, dan khawatir dengan nasib ketiga bocah yatim piatu.


“Kananga, kau tau dari mana kabar itu?”


“Dari gossip ibu-ibu.”


“Hah, dasar, ember-ember bocor itu.”


Kak Asa terduduk jongkok. Berusaha menurunkan badannya hingga sejajar dengan tinggi badan gadis kecil di hadapannya. “Kananga...” Ada jeda saat memanggil nama gadis kecil di hadapannya. Sekarang sudah saatnya mengatakan kabar buruk lainnya. Kabar yang membuat Kak Asa dan Nenek sangat berat hati. “Kananga, aku dan Nenek juga tidak tau kapan pemberontakannya akan dimulai. Kemungkinan besar ini terakhir kalinya aku akan mengantarkan makanan ke kalian.” Genggaman tanggannya di lengan Kananga semakin erat. Air wajahnya terlihat berat. “Desa terpencil dan terbelakang di perbatasan seperti ini akan tidak aman untuk kalian. Pergilah ke arah timur. Daerah timur adalah wilayah Duke Ishtarnia. Aku dengar Duke Ishtarnia sangatlah bijak. Jika kalian berhasil menyebrang ke wilayahnya, akan semakin mudah kalian mendapatkan keadilan dan kesempatan hidup.” Kali ini air mata Kak Asa sudah berkumpul di ujung matanya. Sungguh sulit bagi Kak Asa mengatakan kabar itu. Bagi dia, tiga bocah yatim piatu itu sudah seperti adik-adiknya. Tiga bocah itu mengingatkannya dengan masa kecilnya. Jika tanpa Nenek, mungkin dia juga akan menjalani hidup sama seperti ketiga bocah itu.


“Baiklah, aku mengerti, Kak.” Kananga tersenyum lembut menatap gadis berusia tujuh belas tahun itu. Sekarang air matanya sudah terlalu banyak untuk terkumpul di ujung matanya. Basah sudah pipi gadis itu oleh air mata. “Kananga, sungguh, maafkan Kak Asa dan Nenek. Maaf, kami tidak bisa banyak membantu kalian.” Tangan Kak Asa bergetar. Dia terisak di hadapan gadis kecil itu.  “Kenapa Kak Asa minta maaf? Aku malah sangat berterima kasih ke Kak Asa dan Nenek. Berbicara pada kami saja sudah sangat berbahaya, apalagi membantu kami. Akupun masih bisa bersama Elfad dan Enrich sampai sekarang berkat bantuan kalian. Tanpa Kak Asa dan Nenek, kami tidak akan bisa bertahan sampai sekarang. Terima kasih kak. Tolong sampaikan juga ucapan terima kasihku ke Nenek.” Kanangan tersenyum tulus, menghapus air mata di wajah Kak Asa dengan tangan kecil nan kurusnya.


Sesuai dugaan Kak Asa, gadis kecil itu memang selalu cermat dan tenang menghadapi segala kabar buruk. Tingkah Kananga terlihat jauh lebih dewasa setelah selamat dari parasit malaria yang menggerogoti tubuhnya berapa bulan yang lalu. “Kak Kananga, Kak Asa? Apa masih lama?” Enrich tiba-tiba muncul di belakang Kak Asa. Dia terus memegangi perutnya yang sudah sedari tadi keroncongan. Kedatangan Enrich saa pembicaraan haru itu membuat senyum di wajah Kak Asa dan Kananga mekar. “Haha, baiklah, Kak Asa juga akan membantu kalian menyiapkan makanan.” Kak Asa berbalik perlahan seraya menghapus air matanya. “Benarkah? Asik!” Enrich kegirangan, pikirnya jika Kak Kananga dan Kak Asa yang masak artinya dia akan mendapatkan porsi lebih banyak, apalagi jika dia bertingkah menggemaskan di hadapan mereka. Makan malam di hari itu terasa lebih hidup berkat Kak Asa. Kananga dan Elfad yang masih saja meperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Kak Asa yang berusaha melerai mereka. Enrich yang berusaha bertingkah menggemaskan agar bisa mendapatkan porsi makan lebih banyak. Gubuk itu dipenuhi oleh tawa canda mereka ditengah-tengah cahaya petromak yang redup.


***


“Pemberontakan, ya..”


Gumam Kananga. Setelah makan malam dan Kak Asa pamit pulang, setelah kedua adiknya tertidur pulas, ini menjadi waktu terbaik Kananga untuk memikirkan apa saja yang menyangkut di hatinya. Ada begitu banyak hal yang membuatnya terus termenung beberapa minggu ini. Hidupnya di dunia yang dia ciptakan, tubuh barunya, masa depan si tengah dan si bungsu, takdirnya sebagai orang terhina di Kerajaan, nasib keluarganya di dunia dia berasal. Semua hal itu terus berputar di kepalanya. Dia tak berhenti berdiskusi dengan dirinya sendiri. Berusaha menjawab satu persatu pertanyaannya sendiri. Pikirannya dibuat kalut. Terlebih lagi, sudah beberapa minggu terakhir dia mengetahui desas-desus pemberontakan penduduk desa di penghujung negeri itu. Beberapa kelompok warga desa, tidak, kali ini semua warga desa kompak berencana melakukan pemberontakan melawan ketidakadilan kepala desa dan antek-anteknya.  Keikutsertaan seorang bangsawan korup membuat warga desa makin geram. Baron Ledger, seorang bangsawan yang juga merupakan tuan tanah di desa itu. Seorang tuan yang menghancurkan ketentraman warganya sendiri. Tingkahnya pun tak jauh beda dengan bawahannya. Tikus serakah, penimbun, korup, itulah kata yang paling tepat mendeskripsikan Baron Ledger. Entah apa yang tuan tanah itu pikirkan. Dia bahkan tidak memikirkan konsekuensi perbuatannya jika Duke Ambrosh tau seekor tikus berani mencicit di wilayahnya. Sungguh masalah yang besar bagi desa pinggiran negeri itu. Juga masalah besar bagi ketiga bocah yatim piatu itu.


Jika mereka tau kekuatan Elfad dan Enrich di saat terburuk seperti itu..Ah, tidak. Tidak boleh. Sebaiknya kita pergi secepatnya dari tempat ini.


Bagi Kananga, tidak ada gunanya terlibat dalam konflik mereka. Lagipula, mereka juga bukan penduduk desa pinggiran negeri itu. Kecuali Kak Asa dan Nenek, tidak ada satu pun warga desa yang peduli dengan mereka. Tak ada gunanya ikut terlibat dalam pemberontakan itu. Hal itu sama saja seperti bom bunuh diri bagi Kananga dan kedua adiknya. Maka dengan mantap, Kananga memutuskan besok akan membawa adik-adiknya menjauh dari desa itu. Sejauh mungkin. Meninggalkan gubuk reyot yang beberapa bulan terakhir mereka anggap sebagai rumah. Satu masalah yang mengepul di kepala si sulung sudah diselesaikan, maka bertambah lagi hal yang harus dia pikirkan. Kemana mereka akan pergi?


Tadi, sempat Kak Asa menyarankan ketiga yatim piatu itu pergi ke wilayah Duke Ishtarnia. Kananga iyakan usulannya karena tak ingin membuat Kak Asa semakin mengkhawatirkan mereka. Berapa jam berlalu, sampai cahaya matahari pun sudah terlelap di cakrawala barat, si sulung masih saja mempertimbangkan saran Kak Asa. Kedua adiknya mungkin saja bisa selamat. Namun bagaimana dengan dirinya? Kilas balik beberapa bulan yang lalu, saat baru saja mendapatkan tubuh barunya, saat sadar dunianya sekarang adalah dunia tulisannya belasan, bahkan hampir puluhan tahun yang lalu, Kananga menyadari dua hal terpenting bagi dirinya yang tersesat di dunia tulisannya sendiri.


Pertama, dirinya dikutuk dan terjebak dalam tubuh Kananga, Si wanita gila. Kutukan berasal dari leluhur dunia bak negeri dongeng itu karena kesalahan dirinya belasan tahun silam saat menulis cerbungnya. Yang kedua adalah masa lalu setiap tokoh yang pernah dia tulis. Gadis itu, sebagai penulis dunia itu, dia sendiripun sama sekali tidak tau Kananga bukan putri kandung Duke Ishtarnia. Juga si bungsu, Enrich, kelak menjadi penyihir dan pertarung terhebat dalam cerita; si tengah, Elfad, seorang penasehat Raja di masa depan; dan seorang pemberontak seperti dirinya, menjalani masa kecil dan tumbuh di dunia kejam itu bersama. Intinya, gadis itu tak punya kuasa apapun atas cerita yang dia tulis. Sebelum cerita yang dia tulis dimulai, dia buta akan masa lalu semua karakter ciptaannya sendiri. Mungkin ini adalah salah satu kejahilan leluhur dunia itu untuk membuatnya lebih merana. Jika dia mengikuti arahan Kak Asa, ke wilayah Duke Ishtarnia, akankah semua cerita yang dia tulis akan terjadi? Akankah pemberontakan itu terjadi? Akankah takdir tragis seorang selir gila yang dia tulis dengan tangan kanannya sendiri akan benar-benar terjadi padanya?


Gadis kecil itu mengkerutkan alisnya. Rambut depannya sudah acak-acakan diremasnya. Wajah peliknya terlihat dibalik remang pertomak. “Kak?... Belum tidur?...” Elfad terbangun. Mengucek matanya. Suaranya terdengar parau setelah tertidur pulas selama dua jam. “Belum ngantuk. Maaf, apa aku membangunkanmu?” Tersenyum si sulung dibuatnya ketika mendengar si tengah memanggilnya ‘Kak’. Jarang sekali bocah nakal itu memanggilnya ‘Kak’. Elfad menggeleng sebagai jawaban pertanyaan kakaknya. Menguap. Merenggangkan badannya yang masih terduduk diatas tikar lusuh pemberian Nenek, beralaskan jerami. Lekas kakaknya mematikan petromak di hadapannya sebagai isyarat untuk si tengah untuk melanjutkan tidurnya.


“Aku akan mematikan apinya sekarang-“


“Kak, jika terjadi sesuatu, katakan padaku. Tolong jangan menyimpannya sendiri. Setidaknya, mungkin aku bisa membantumu memikirkan solusinya.” Terdiam Kananga mendengarnya. Bocah itu memang pengamat terbaik. Entah sejak kapan adiknya mulai menyadari perubahannya. Elfad memang tak banyak menunjukkan kekhawatirannya, tapi sepertinya kali ini dia benar-benar khawatir dengan tingkah kakaknya.


Dasar, bocah nakal ini... Mungkin karena sifatnya yang seperti ini, kelak dia akan menjadi orang terpercaya Putra Mahkota.


“Elfad, akan terjadi pemberontakan di desa ini. Entah kapan pemberontakan itu dimulai, tapi sebaiknya kita harus pergi meninggalkan desa ini besok.” Jelas Kananga dengan tenang.


“Baiklah. Besok aku akan membantumu membereskan barang-barang.” Tak perlu banyak tanya. Senyum lega merekah di wajah bocah nakal itu. Lega karena setidaknya satu pikiran kakaknya sudah menemukan solusi.


“Baiklah, sudah terlalu larut. Sudah saatnya tidur!” Kananga mematikan petromak di hadapannya. Berjalan menjauh dari meja dan kursi reyot, tempat favoritnya untuk termenung. Memperbaiki selimut tipis si bungsu yang sudah hampir sama sekali tidak menutupi badannya.


“Kali ini kita akan kemana?”


“Ke timur. Wilayah Duke Ishtarnia.” Kananga tersenyum mantap mengatakan keputusannya. Tak perlu mengkhawatirkan tentang Duke Ishtarnia. Solusinya gampang. Mereka hanya tidak perlu bertemu. Maka segala takdir yang pernah dia tulis tidak akan pernah terjadi.


Hah, pada akhirnya, tak perlu sesulit itu menemukan solusinya.


Kananga bersiap-siap tidur. Mencari posisi ternyaman di sebelah si bungsu yang tertidur lelap, melewatkan percakapan penting kedua kakaknya. Selimut lusuhnya sekali lagi dia tendang. Membuat sebagian badannya diterpa udara dingin malam hari. Cepat-cepat Kananga memperbaiki posisi selimut si bungsu. Memang selimut lusuh dan tipis itu tidak terlalu bisa melindungi tiga bocah yatim piatu itu dari dinginnya udara musim gugur di desa pinggiran negeri ini. Membuat mereka harus menghimpit tubuh mereka satu sama lain saat tidur. Si sulung dan si tengah menyerahkan tempat terhangat untuk si bungsu. Tidur terhimpit diantara kedua kakaknya.


Sekali lagi, Kananga berusaha mencari posisi tidur ternyaman. Menyadari seseorang baru saja merebahkan diri di sampingnya, si bungsu yang selimut lusuhnya sudah kembali menutupi badannya, sekarang berusaha mencari kehangatan baru. Memeluk si sulung yang sedang berusaha memejamkan matanya. Si bungsu tersenyum tipis dalam tidurnya. Puas mendapatkan sumber kehangatan yang baru.


Lihat itu. Lihat senyum lega adik-adiknya. Senyum lega si tengah saat mendengar keputusan kakaknya. Senyum lega si bungsu dalam lelap tidurnya saat tidak kedinginan lagi. Sungguh, apa sekarang dia harus menghawatirkan dirinya? Asalkan kedua adiknya bisa tetap tersenyum, apapun yang terjadi, tak ada yang namanya nasib buruk untuknya. Tersenyum Kananga mengistirahatkan pelupuk matanya.


Selamat tidur, Elfad, Enrich.


Satu malam sekali lagi terlewatkan di gubuk reyot itu. Sayang sekali, ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka untuk menghabiskan malam di desa, di gubuk reyot ini.


Grasak-grusuk. Suara mencolok dari luar gubuk pun tak mengganggu tidur mereka. Itu mungkin suara binatang liar di hutan. Grasak-grusuk. Terdengar kembali. Semakin mendekat. Semakin terdengar jelas. Aneh sekali suara itu. Tidak seperti suara aktivitas binatang malam yang biasa ketiga bocah yatim piatu itu dengar. Tak ada daya. Ketiga bocah itu benar-benar tertidur pulas. Kananga yang biasanya siaga, kali ini sudah terlalu kelelahan. Mereka sama sekali tidak menyadari keanehan di luar gubuk mereka.


Itu adalah langkah kaki seseorang!


DUARRRR!!


Sekejap gubuk reyot itu diledakkan. Tak ada satupun tersisa dari bangunan itu. Bahkan pohon yang selama ini berdiri kokoh menyembunyikan gubuk itupun tak tahan dengan ledakan itu. Gelombang kejut memporak-porandakan seisi gubuk. Rata dengan tanah. Tak ada satupun tanda-tanda kehidupan di gubuk itu. Remuk. Remuk sudah tubuh ringkih ketiga yatim piatu itu. Taka da satupun yang selamat. Meninggalkan genangan merah di tanah.


Dalam sekejap. Hanya sepersekian detik. Setelah jantung Kananga berhenti berdetak. Setelah jantungnya tak lagu memompa darah ke seluruh tubuhnya. Kutukannya aktif. Membawanya kembali ke detik-detik sebelum ledakan itu terjadi.