How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 1: Tiga Hari Pelayaran



Sial! Sial! Sialan!!


Malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Walaupun api terus melahap rumah megah itu, tetap saja terasa dingin untuk orang yang masih hidup di dalamnya. Api terus berkobar. Tidak peduli genangan merah di lantai.Terus menerus melahap segala yang ada di depannya.


Laril!


    Larilah!!


    Hiduplah, putriku!


Pria itu meminta putri satu-satunya itu lari dari marah bahaya yang berdiri tepat di hadapan mereka.


Dia terluka, menjadikan badannya sebagai tameng untuk anak kesayangannya. Tahta yang selalu dia banggakan, rumah yang selalu menjadi tempatnya menghabiskan waktu dengan putri kesayangannya, para pelayan dan prajurit yang sangat loyal kepadanya, semuanya lenyap. Hancur. Hancur sudah sejarah keluarganya yang telah dibangun ratusan tahun. Semua hancur akibat ulahnya sendiri. Atau lebih tepatnya akibat keegoisan putri semata wayangnya itu.


Putrinya, Kananga, dia gila kekuasaan. Dia selalu ingin berada di atas orang lain. Jika mereka bisa, maka aku jauh lebih bisa. Hidup dengan ambisi seperti itu, dia berhasil membuat dirinya menjadi selir Raja saat berusia 17 tahun. Tentu banyak kontroversi saat Sang Raja mengumumkan pernikahan mereka. Bagaimana tidak, Kananga bahkan lebih muda 3 tahun dibandingkan dengan Putra Mahkota. Namun terlambat, Sang Raja sudah membulatkan keputusannya. Entah apa yang membuat Sang Raja jatuh dalam pelukan wanita serakah itu. Dia benar-benar tergila-gila dengan selir mudanya. Dia bahkan lebih menyayanginya dibandingkan Sang Ratu yang sudah memberikannya penerus tahta.


Disayangi oleh Sang Raja; hidup mewah di Istana; pakaian, perhiasan, dan berbagai properti mewah yang sudah dihadiahkan Sang Raja. Hal itu tentu tidak cukup untuk seorang wanita serakah seperti Kananga. Masih ada tiga orang yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan diri di Kerajaan saat ini. Statusnya sebagai selir belum bisa memuaskan ambisinya. Posisi Putra Mahkota terlalu kuat untuk dia singkirkan. Maka kali ini, posisi Sang Ratu-lah yang dia incar. Sibuk merancang rencananya untuk menyingkiran Sang Ratu, sebuah kabar dari peramal kerajaan sampai ke telinganya.


Selir Sang Raja ditakdirkan untuk menjadi pemimpin Kerajaan yang sesungguhnya!


Kananga mengetahui ramalan itu pulang menemui Ayahnya untuk menyampaiakan kabar terbahagia baginya. Seisi kediaman mewah itu heboh mendengarnya. Ayahnya yang begitu menyayangi dirinya segera menyusun rencana untuk melakukan kudeta, melengserkan Sang Raja dan melenyapkan penerusnya. Jujur saja, sebagai salah satu Duke terhormat dan terkuat di kerajaan, bukan hal yang sulit bagi pria itu untuk melancarkan serangan kudeta.


Semua rencana itu berjalan mulus. Satu persatu rencana itu dieksekusinya dengan sangat baik. Bahkan Kananga berhasil melenyapkan Sang Raja dengan racun tanpa membuat dirinya dicurigai. Kananga dengan segala kelicikannya berhasil melempar tanggung jawabnya atas kematian pemimpin kerajaan ke Sang Ratu. Membuat Sang Ratu dieksekusi beberapa hari kemudian setelah pemakaman Sang Raja. Sekali mendayung, dua tiga pulau berhasil dia lampaui. Sekarang, kosong sudah kepemimpinan kerajaan. Kini tinggal melenyapkan Putra Mahkota.


Sayang sekali, Putra Mahkota bukan seseorang yang mudah mereka tangani. Ayahnya sampai harus mengerahkan seluruh pasukannya, perang saudarapun tidak terelakkan. Kerajaan terbagi menjadi dua kubu, faksi Duke, berisikan orang-orang dan petinggi-petinggi kerajaan yang percaya dengan ramalan kerajaan; dan faksi Putra Mahkota yang beropini pemimpin kerajaan harus keturunan langsung dari Sang Pendiri kerjaan. Namun kali ini, keberuntungan tidak berpihak ke mereka. Hancur sudah semua rencana yang sudah dia susun. Sang Duke bahkan terdesak hingga menjadikan kediaman mewahnya sebagai benteng pertahanan terakhirnya. Semua ini hanya untuk putri nya. Dia akan melakukan apapun untuk putrinya itu. Namun, kasih sayangnya yang terlalu berlebihan itu, membuat purtinya tumbuh sebagai orang yang egois, tidak perduli dengan siapapun. Bahkan Ayahnya sendiri. Lihat saja, tanpa ragu wanita itu berlari melewati pintu meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Ayahnya yang sedang terkapar sekarat di lantai, bersama seorang pria yang siap membunuhnya.


Tak ada penyesalan sama sekali di mata wanita itu melewati puluhan tubuh dingin yang beberapa jam yang lalu masih menyapanya dengan hangat. Malah tidak henti-hentinya mengutuk mereka yang tidak becus melenyapkan satu orang pria. Ayahnya pun tak luput dari makian yang tidak bisa dia ucapkan dari mulutnya karena sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Napasnya tersengal-sengal melewati lorong yang sepi. Langkah kakinya terus menerus menggema, seakan memberikan isyarat hanya dia satu-satunya manusia yang masih bernapas di rumah itu. Dia terus berlari tanpa henti ke arah jalan keluar tersembunyi, yang memang pendiri rumah itu sediakan jika saja penerusnya mengalami hal yang seperti sekarang ini. Pembantaian.


Belum sempat memasuki jalur rahasia, seorang pria menghadangnya. Napas wanita itu serasa terhenti melihat pedang pria itu yang sudah berlumuran darah. “Sekarang apa lagi yang akan kau korbankan? Tidak ada lagi yang bisa melindungi mu. Bahkan Duke Ishtarnia.” Pria itu menatap dingin, mengarahkan pedang perak yang sudah berubah warna menjadi merah ke arah wanita itu.


“Yang Mulia…Yang Mulia, Putra Mahkota. Jika Anda membunuhku sekarang, Anda hanya akan menghancurkan karajaan ini.” Wanita itu masih saja tidak tau diri. Dia sadar dengan keadaannya yang sedang terjepit. Menyerah hanya satu-satunya jalan keluar baginya, tapi dia tetap saja memegang tinggi harga dirinya. Layaknya apa yang selalu ayahnya ajarkan padanya. Dia masih berharap Putra Mahkota akan menyerahkan tahta kepadanya yang sekarang sudah tidak punya apa-apa. Dia pikir, hanya dengan kata-kata omong kosongnya bisa meyakinkan Putra Mahkota.


“Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah dengan ayahmu? Obsesimu sudah menghancurkan ayahmu. Ayahmu pernah diingat sebagai seorang pahlawan, sekarang hanya akan dikenang dan dikutuk sebagai seorang pengkhianat” Pria itu tidak menunurunkan pedangnya dari hadapan wanita gila itu seinci pun.


“Kenapa?” Wanita itu bertanya-tanya kenapa dia harus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Baginya, apa yang dia lakukan adalah hal yang paling benar.


“Mereka pantas mati untukku..Bahkan Ayah mengatakan rela mati untukku!! KARENA AKULAH YANG PALING LAYAK BERDIRI DI ATAS SEMUA ORANG!! BAHKAN JIKA HARUS MENGORBANKAN AYAH, AKU AKAN MEMENUHI TAKDIRKU!!!” dari mulai memelankan suaranya. Wanita itu mulai berteriak menggila, tertawa terbahak-bahak mengingat janji bodoh Ayahnya untuk mengabulkan apapun keinginannya. Dan lihat sekarang, Ayahnya hanya terbaring di lantai yang dipenuhi darah, tanpa menyelamatkannya yang sekarang sudah hampir menjemput ajalnya.


“SIAL!! SIAL!! SIALAN!! INI SEMUA KARENA AYAH!! INI SALAH AYAH!!!” tertawanya sekarang berganti dengan tangisan dan teriakan. Runtuh sudah semua ego yang dia perjuangkan sampai beberapa detik yang lalu. Dia menyalahkan segalanya, menyalahkan Ayahnya, menyalahkan para prajurit dan pelayannya. Bahkan menyalahkan takdirnya yang harus berakhir tragis. Dia menyalahkan semuanya, terkecuali dirinya sendiri. Sang Putra mahkota hanya bisa diam. Tidak mengatakan apapun. Hanya melihat wanita itu lambat laun menghancurkan mentalnya sendiri. Berpikir kematian seorang pahlawan terkenal, Duke Ishtarnia, menjadi hal yang sangat tragis. Belum lagi putri kesayangannya yang terkenal egois dan serakah sama sekali tidak merenungkan kematiannya, dan hanya memikirkan obsesinya. Jujur saja, dia merasa iba dengan akhir hidup sang pahlawan.


“Berterima kasihlah pada ayah dan buyut mu.” Putra mahkota yang sedari tadi melihat kehancuran Kananga dengan sangat dingin, sekarang mulai menurunkan pedangnya. “Karena aku mengingat jasa mereka, aku tidak akan memberikan kematian yang menyakitkan padamu.” Ucapnya menatap kasihan ke arah Kananga yang sudah hancur. Menggenggam pedangnya lebih erat  sekali lagi.


“Hah?— ”Belum sempat mencerna apa yang pria itu katakan, Putra Mahkota menghunuskan pedangnya di leher wanita gila itu. Seketika menghentikan tawa gilanya yang menggema di lorong. Menyisahkan air mata yang belum sempat menetes di matanya. Entah apa maksud dari air mata itu. Penyesalan? Rasa sakit? Atau mungkin rasa takut akan kematian. Entahlah.  Yang jelas. Seperti itulah akhir hidup dari seorang wanita serakah nan egois, Kananga Ishtarnia.


***


“HAH!!”


Kananga terbangun kaget. Mendapati dirinya sekali lagi bermimpi buruk. Tiga hari berturut-turut dalam pelayaran ke Kota Naiad. Mimpi itu semakin lama bertambah buruk, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan mimpi-mimpi yang dia alami hari-hari di asrama sekolah setelah pulang dari medan perang. Setelah pertemuannya dengan Putra Mahkota di medan perang, dia terus-terusan bermimpi tentang akhir hidup “Kananga Ishtarnia”. Kisah seorang wanita serakah. Salah satu dari beberapa seri cerbung (cerita bersambung) fantasi yang pernah dia tulis untuk sebuah majalah di masa remajanya, sebelum mati dan dikutuk untuk menjalani hidup sebagai karakter terjahat dalam salah satu seri ceritanya sendiri. Entah apa yang membuatnya terkena kutukan itu, dia sendiripun tidak mengerti.


Tidak. Dia sebenarnya mengerti apa kesalahannya. Mengerti kenapa leluhur di dunia itu mengutuknya. Sibuk mengatur napasnya yang masih terengah-engah, suara ketukan dari pintu kabinnya terdengar. “Nona kecil? Apa anda sudah bangun?” Seorang pelayan berusia 11 tahun, sepantaran dengan adik bungsunya, muncul dari balik pintu. Itu Cella. Warna rambutnya selalu saja mengingatkan Kananga dengan langit senja. Awalnya, Kananga merasa sangat terganggu dengan panggilan Nona kecil itu . Semua pelayan dan prajurit ayahnya tidak pernah berhenti memanggilnya seperti itu sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di kediaman Ishtarnia. Lima tahun telah berlalu, sekarang Kananga menganggap panggilan itu sebagai bukti kasih sayang dan loyalitas mereka kepadanya.


“Tidak ada apa-apa, Cella.” Kananga tersenyum menghargai kepekaan gadis cilik itu. “Hari ini sepertinya laut terasa lebih tenang. Ya, ampun! Kepalaku rasanya masih pusing setelah badai semalam” Kananga berusaha mengalihkan pembicaraan agar bisa secepat mungkin melupakan mimpi buruknya. Dia masih mengingat semalaman pandangannya berasa berputar, makan malamnya serasa memberontak ingin keluar dari tenggorokannya. Bagaimana mungkin dia bisa bermimpi indah saat kondisinya seburuk itu?


“Tentu saja, Nona. Ini kan sudah hari ketiga pelayaran.” Cella tersenyum lebar berusaha meredakan semangatnya yang menggebu-gebu, memberikan petunjuk dari kabar baik yang sedari tadi ingin dia sampaikan ke nona kecil kesayangannya. “Jangan-jangan..” Mata Kananga membulat menduga-duga kabar dari Cella. “Iya! Daratan,Nona! Sebentar lagi kita akan tiba di pelabuhan!” dengan setengah teriak, Cella tidak bisa menahan kegembiraannya. Kananga segera mengganti pakaian tidurnya yang basah karena keringat. Tentu saja dengan bantuan Cella. Kananga bergegas berlari ke arah dek utama. Membuktikan kabar yang Cella bawa.


“Kana! Lihat!! Daratan!!” teriak seorang gadis cantik ke Kananga. Dia sudah sedari tadi mendahului Kananga berdiri di dek utama. Dia Baine, sahabat Kananga yang juga ikut di pelayaran itu.  Mereka bertiga sangat bersemangat. Sangat merindukan keluarga yang mereka tinggalkan di daratan itu untuk menuntut ilmu di daratan lain. Senangnya bukan main, sampai-sampai Baine melompat-lompat dan tersenyum sumringah melihat daratan depan mereka. Sungguh tingkah yang tidak akan Baine tunjukkan ke orang lain kecuali ke Kananga dan adik kembarnya.


Hanya beberapa menit lagi, Kananga akan bertemu kembali dengan Ayah dan kedua adiknya. Melepas rindu dengan ketiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya selama lima tahun terakhir, sejak dirinya menjadi Kananga.