How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 3: Bos Besar Datang!



Naiad, kota pelabuhan yang selalu penuh huru-hara. Melepas-menyambut orang tersayang dari perjalanan panjang di lautan lepas. Siang itu, nampaknya huru-hara kegiatan di pelabuhan terhenti seketika. Semua perhatian para penggarap kebisingan di pelabuhan tertuju pada satu momen. Ya, kejadian dilamarnya seorang gadis, Sang Dewi Kemenangan, julukan seperti itulah yang mereka berikan ke gadis berusia 15 tahun itu. Julukan yang sangat berat untuk seorang gadis seperti Kananga. Perhatian mereka tertuju pada kelompok eksentrik yang ada di hadapan mereka. Sang Dewi Kemenangan yang tangannya sedang ditarik kasar oleh seorang pria bangsawan yang entah siapa. Sang Bunga Empyrean yang terkenal dengan kecantikannya sedang bersiap menyingkirkan serangga dengan senjata parasolnya. Pelayan cilik mengangkat koper yang beratnya setengah dari tubuhnya dengan enteng. Terlihat seenteng mengangkat segenggam kerikil di kedua telapak tangan mininya. Terlebih lagi..


“Bocah. Coba katakan sekali lagi apa yang baru saja kau katakan ke putriku.” Duke Ishtarnia, datang entah dari mana tiba-tiba berdiri dibelakang pria bangsawan itu. Tidak perlu meninggikan suaranya untuk mengintimidasi orang ada di depannya. Tidak perlu mempelototi orang di depannya untuk membuat mereka takut. Tangannya masih memegang kuat kepala pria muda itu. Dia mengaduh. Kepalanya serasa mau pecah cukup dengan genggaman satu tangan Duke Ishtarnia. Dia tampak seperti beruang berdiri disamping pria bangsawan yang sekarang terlihat seperti pecundang. “Katakan kau berasal dari keluarga mana. Aku akan membantu orang tuamu mengajarkan cara mendisiplinkan bocah manja sepertimu.” Kakinya sekarang sudah seperti jelly. Tidak bertulang. Gemetaran menghadapi Sang Kuda Hitam Empyrean. Julukan itu bukan hanya sekedar gertakan belaka. Lihat saja, tanpa satupun senjata di tangannya, ayah Kananga itu berhasil membuat kerumunan orang-orang merinding melihatnya. Entah bagaimana dengan nasib musuh-musuhnya di medan perang.


Bos besar! Akhirnya dia datang juga. Mata Kananga membulat, senyum merekah di wajahnya ketika menyadari Bos Besar sudah datang. Ya, Bos Besar. Seperti itulah terkadang Kananga menyapa Ayahnya. Memang sungguh aneh hubungan ayah dan anak ini. Daripada hubungan seperti orang tua, mereka lebih seperti atasan-bawahan. Tapi tentu saja Kananga menganggap DUke Ishtarnia sebagai figur seorang ayah. Begitu pula Duke Ishtarnia yang melihat Kananga sebagai figur putri kesayangannya. Hubungan mereka tidak semanis hubungan ayah dan anak yang orang-orang idamkan dari mereka. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan. Tapi yang pasti, mereka keluarga yang hangat dan saling menyayangi, walaupun mereka saling berusaha menyembunyikan rasa peduli mereka satu sama lain. Dasar! Ayah-anak itu memang malu-malu kucing menunjukkan kasih sayang mereka. Orang-orang disekitar mereka kadang mendapati tingkah lucu mereka. Mereka hanya bisa tertawa geli melihat tingkah ayah-anak itu. Mungkin inilah salah satu penyebab orang-orang menganggap hubungan ayah-anak itu sebagai hubungan yang layak didambakan.


Pria bangsawan itu sekarang sudah tersungkur. Jatuh tidak tahan dengan intimidasi seorang ayah dari gadis yang baru saja menolak pinangannya mentah-mentah. Tidak perlu meneruskan masalah dengan pecundang itu, Duke Ishtarnia menjulurkan tangannya. “Kemarilah, nak.” Itu dia. Gestur yang sangat Kananga rindukan. Kananga menggenggam tangan besar itu, menenggelamkan wajahnya ke pelukan Ayahnya. “Aku pulang, Ayah.” Disaat-saat seperti ini, ayah-anak itu sudah membuang ego mereka sejauh mungkin. Tidak ada lagi tingkah malu-malu kucing, yang ada hanyalah tingkah ayah-anak yang saling melepas kerinduan. Saling memberi pelukan yang hangat. Lihat. Inilah salah satu adegan yang membuat orang-orang, terutama para orang tua, mengidamkan hubungan ayah-anak itu. Suasana tegang di pelabuhan itu, seketika mejadi hangat dengan pelukan mereka.


Adegan tegang saling tarik menarik tangan itu segera mereka lupakan. Meninggalkan seorang pria bangsawan yang sekarang benar-benar menjadi pecundang. Tertinggal tersungkur di tanah.


“Bagaimana sekolahmu? Apa menyenangkan?”


“Tentu saja!”


Duke Ishtarnia berjalan meninggalkan keramaian, membuka kerumunan sambil menggandeng tangan putri tersayangnya. Baine dan Cella mengikut di belakang mereka. Baine, belum merasa puas, sekarang dia berniat mengerjai pria itu. “Sangat memalukan. Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan menunjukkan diriku lagi di depan umum. Bahkan aku akan malu menjadi diriku sendiri.” Setidaknya dengan perkataannya yang seperti itu, pria itu tidak akan berani mendekati Kananga sekali lagi. Gadis itu memang belum puas kalau belum melenyapkan saingan saudara kembarnya.


Sudah beberapa tahun terakhir, Baine menyadari perasaan adik kembarnya ke Kananga. Bahkan sejak mereka kecil. Baine terkadang melihat wajah adiknya, Tyran, merah padam ketika bersama Kananga. Baine yang memang sedari dulu menyayangi Kananga, tentu saja akan mendukung adiknya sepenuh hati. Walaupun terkadang Baine cemburu dengan kedekatan mereka, tapi sudahlah, itu akan diceritakan nanti saja.


Beberapa pelayan menyambut kedatangan Baine dengan kereta kuda. Beberapa dari mereka masih sibuk merapikan barang bawaan Nona mereka ke bagian belakang kereta kuda. Barang itu bahkan sudah sampai di depan kereta, lebih dulu daripada pemiliknya yang terhadang insiden lamaran Kananga. Baine mengintip ke dalam kereta. Lagi-lagi Ayah dan adiknya tidak menjemputnya. Baine sudah terbiasa. Tidak ada rasa berat hati dalam dirinya. Lagipula jika dia pulang, dia bisa dengan bebas mengusili mereka. Keluarganya sudah beberapa generasi menjadi penyokong keuangan Kerajaan Empyrean. Ayahnya, Duke Setto, memerintah wilayah yang menjadi sarang berkumpulnya serikat-serikat perdagangan. Wilayahnya terbilang paling makmur dalam segi perekonimian dibandingkan dengan wilayah Duke lainnya. Adiknya, Tyran, yang lebih muda delapan menit darinya, adalah seorang genius. Kemampuan sihirnya jauh dibelakang kakaknya, namun dalam jika hal yang berkaitan dengan pelajaran, dialah juaranya. Adiknya itu lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadi keluarga mereka dibandingkan menjemput Baine, berada di kerumunan huru-hara pelabuhan. Ada dua hal yang paling dia benci ketika kakaknya itu pulang. Pertama, kakaknya itu akan membuatnya malu di depan umum. Terakhir kali dia ikut mengantarkan Baine ke pelabuhan, dia dibuat malu oleh tingkah Baine yang memeluknya sambil menangis, menarik semua perhatian orang yang mulai menduga-duga kembar sepasang itu sedang berkelahi, berujung si kembar perempuan merungut memeluk si kembar laki-laki. Kedua, untuk apa dia menjemput kakaknya itu? Toh, kakaknya itu pasti akan langsung menemuinya di perpustakaan dan pasti berniat menjahilinya. Entah itu tentang Kananga...Kananga...Atau Kananga. Haha, Baine benar-benar menemukan kelemahan Tyran. Baine sudah cengengesan hanya dengan membayangkan wajah adiknya yang memerah seperti tomat. Pada akhirnya, dia juga akan meminta maaf dan menyogok adiknya itu dengan berbagai buah tangan yang dibawa dari Kota Alden. Baine memang sudah tidak sabar mejahili adik dan Ayahnya. Tapi itu artinya, Baine juga harus berpisah dengan Kananga sekarang.


Ditengah kesibukan para pelayannya, Baine mencuri waktu untuk menemui Kananga di depan kereta kudanya.


“Kana...”


Hah..Baine mulai lagi ritual perpisahannya.


Kananga sudah menduga hal ini akan terjadi. Ritual perpisahan Baine. Rutin dia lakukan setiap liburan akhir semester. Matanya sekali lagi berkaca-kaca. Siap-siap merungut sambil memeluk Kananga. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Kananga. Inilah yang Tyran maksud. Ritual ini membuatnya malu hingga ke ubun-ubun. Untung saja, Kananga sudah kebal dengan efek samping ritual itu setelah berkali-kali Baine lakukan di hadapannya.


“Aku akan sangat merindukan Kana. Aku akan mengirim surat untukmu dua kali sehari.”


Seperti jadwal minum obat saja.


Dia memeluk Kananga. Kali ini air matanya sudah mengalir deras seperti sumber mata air baru.


“Haha..” Kananga berusaha menguatkan mentalnya dengan tawa canggungnya. Insiden lamaran tadi sudah cukup menguras tenaganya, sekarang dia harus menenangkan Baine. Gadis cantik itu sudah seperti anak kucing yang tak mau dipisahkan dari induknya.


“Lima menit lagi, ku mohon..”


“Nona, Tuan sudah menunggu Nona.”


“Aku mohon..”


Kali ini tangisannya semakin deras. Pelukannya semakin erat. Rajukannya tak terhenti. Semakin mengundang perhatian orang-orang. Pelayannya sudah kehabisan akal. Memang sulit memisahkan kedua gadis itu. Pelayan itu menatap Kananga. Tatapan yang penuh harapan untuk membantunya membujuk Nona nya.


“Baine, inikan hanya liburan akhir semester. Sembilan hari lagi kita akan bertemu lagi di Einherja, Ibu kota, kau ingat kan? Pesta perayaan itu?” Betul. Pesta perayaan kemenangan dan penyambutan kembalinya semua prajurit perang diadakan di Ibu kota, Einherja. Sembilan hari lagi, jalan-jalan di Kota Einherja akan dipenuhi dengan orang-orang yang juga ikut merayakan. Musik dan tarian akan memenuhi jalan semalam suntuk. Pesta besar-besaran juga akan diadakan di Istana Kerajaan Empyrean, tentu saja hanya berlaku untuk para bangsawan. Seminggu lalu, Kananga menerima undangan langsung dari Raja. Membuatnya dan Baine bergegas bersiap-siap pulang Beruntungnya mereka, liburan akhir semester akhirnya tiba tak lama setelah undangan itu diterima.


“Baine, tolong sampaikan salamku ke Tyan.” Tyan. Panggilan Baine untuk adiknya semasa kecil, sulit baginya mengucapkan huruf r saat itu. Sangat jarang Kananga memanggil Tyran dengan nama masa kecilnya. Ini adalah kabar yang baik untuk kembar sepasang itu. Cukup dengan satu kalimat itu dan tepukan lembut di kepala gadis cantik itu. Sampaikan salamku ke Tyan. Pipi gadis itu mulai merona, matanya berbinar. Dia terlalu senang dengan perkembangan hubungan kedua orang kesayangannya.


“Kalau begitu aku akan pulang secepat mungkin!” Ceria wajahnya berbalik berjalan ke kereta kuda. Dia berjalan puas. Tidak punya beban nan penyesalan dalam hidupnya. Pelayannya mengekor di belakangnya setelah mengucapkan terima kasih ke Kananga.


“Hati-hati di jalan, ya.” Anak ini, dia gampang sekali ditebak. Kananga memang tidak pernah gagal membujuknya. Ada saja selalu akalnya untuk meyakinkan gadis itu.


“Kana! Sampai jumpa!” Belum cukup membuat pelayannya kewalahan dengan ritual perpisahannya, Baine malah menjulurkan badannya keluar jendela kereta saat kuda-kuda sudah mulai menariknya. Membuat pelayannya harus memegang sekaligus menarik tubuhnya. Tingkah gadis yang dulunya tenang dan pemalu. Sekarang benar-benar sudah berbanding terbalik. Kata Tyran, kakak kembarnya itu salah pergaulan. Sudah ternodai oleh ular sawah (Kananga), katanya.


“Apa yang kau sudah lakukan ke Nona Setto sampai selengket itu padamu? Lihat dia, benar-benar selengket perangko.”


“Jangan tanyakan padaku.”


“Apa dia berusaha menjodohkanmu dengan Tuan Muda Setto?”


“..Diamlah, jangan bertanya lagi.”


Kananga butuh jeda berapa saat untuk menjawab pertanyaan Ayahnya. Entah sejak kapan Baine mulai berusaha mencomblangkannya dengan Tyran. Pertanyaan yang dia sendiri bingung bagaimana cara menjawabnya. Dulu dia berharap Baine menjadi gadis yang lebih percaya diri dan pemberani. Layaknya Baine, si tokoh utama dalam salah satu seri cerbungnya. Entah dimana salahnya mendidik Baine hingga dia bisa berubah 180 derajat setelah bertemu dengannya. Gadis itu malah menjadi bocah pecicilan. Kananga selalu merasa deja’vu saat bersama Baine. Seperti menjaga balita super aktif, tidak bisa diam.


“Oh iya, kemana perginya liontin mu? Kau tau kan, benda itu token keluarga kita. Apa jangan-jangan kau sudah menjualnya?!” Ayahnya itu benar tau tabiat putrinya. Liontin berhiaskan batu mulai berwarna hijau itu kebetulan memiliki warna yang sama dengan warna mata putrinya. Kadang gadis itu mengancam Ayahnya akan menjual token keluarganya jika tidak diberikan uang jajan yang cukup. Tapi kali ini, sepertinya dia benar-benar kehilangan benda berharga itu. Dia bahkan tidak berani bercanda ‘sudah dijual’ seperti biasanya.


“Ah, itu.. Sepertinya tertinggal di asrama.” Ragu gadis itu menjawab. Sepertinya dia benar-benar kehilangan liontin itu. “Tenang saja, Ayah! Semua barang di asrama pasti akan aman, kok. Lihat! Sepertinya kereta kuda kita sudah siap.” Kali ini dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Tentu saja Ayahnya tau ada sesuatu yang sedang putrinya sembunyikan. Entahlah rahasia apa lagi itu. Ayahnya memilih untuk tidak menanyakannya lagi. Tanpa mereka tau, kasus hilangnya liontin itu, menjadi kunci berubahnya jalan hidup mereka. Berubahnya segala cerita dalam cerbung itu. Lalu, berubahnya masa depan setiap orang yang terlibat dengan mereka.


Seiring dengan kereta kuda Baine menjauh, Kananga dan Ayahnya pun juga segera berangkat ke kediaman mereka. Selain bertemu kembali dengan Ayahnya, bagian inilah yang sangat Kananga nanti-nantikan. Pulang ke rumah dan melihat kedua adiknya tersenyum untuknya. Memberikan sapaan terhangat untuk kakak mereka. Ah, suasana itulah yang Kananga sebut rumah. Dimana orang-orang yang dia sayangi menunggunya. Dia akan pulang.