
Kananga berlari menerobos hujan. Kini sudah sudah berada di penghujung desa. Rumah Kak Asa dan Nenek sudah jauh tertinggal di belakang. Tudung yang dia gunakan sejak berangkat mulai terkibas angin, membuat rambut terguyur hujan. Hal itu sama sekali tak membuatnya risih. Bahkan beberapa kali kakinya tergelincir masuk di kubangan air berlumpur tak membuat larinya melambat. Sekarang dipikirannya hanya ada kedua adiknya. Secepat mungkin kaki kurusnya terus berlari. Secepat mungkin sebelum para bedebah itu mencelakai kedua adiknya.
Elfad, Enrich, aku datang. Ku mohon, bertahanlah!
BRUKK!
“Aw!” Suara jeritan seorang gadis setelah tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah. Karena terlalu fokus memikirkan Elfad dan Enrich, Kananga tak sengaja menabrak tubuh gadis itu. Entah menggunakan tenaga apa, tubuh ringkih Kananga malah sama sekali tidak oleng setelah menabrak gadis itu. Justru malah gadis itu yang sungkur.
Kananga berpaling ke sumber suara itu. Betapa terkejutnya dia melihat gadis yang tak sengaja baru saja ditabraknya. Bajunya terlihat rapi, seperti nona-nona bangsawan. Rambut lurus panjang berwarna peraknya terurai indah membingkai wajahnya yang mungil. Rambut peraknya sama sekali tak membuat kulit putihnya terlihat kusam. Pipi dan bibirnya merah seperti mawar. Dan yang lebih mencolok adalah warna matanya yang seperti mirah delima. Cantik sekali. Kecantikan gadis itu seperti tak nyata. Wajah Kananga sewaktu berada di tubuh aslinya pun yang sering dipuji cantik, sekarang tak layak dibandingkan dengan kecantikan gadis itu.
“Ah! Nona, maafkan aku! Apa Nona baik-baik saja?” Segera Kananga menyadarkan dirinya yang sedari tadi sibuk mengagumi kecantikan gadis itu. Dia menjulurkan tangannya, membatu gadis itu berdiri. Seketika wajahnya panik menyadari gadis itu mungkin saja putri seorang bangsawan. Jika orang tuanya tau, makhluk dekil seperti Kananga sudah menabrak putri mereka hingga jatuh tersungkur di tanah berlumpur. Jangankan pergi menyelamatkan Elfad dan Enrich, keluar hidup-hidup dari desa ini pun akan mustahil!
Setelah memeriksa dengan cepat kondisi gadis itu, syukurlah tak ada satupun luka di kulit putih bersihnya. Kananga menghela napas lega. Bergegas dibantunya gadis itu membersihkan lumpur dari gaun mewahnya.
“Syukurlah Nona baik-baik saja. Maaf Nona, aku sedang terburu-buru. Kalau begitu aku pergi dulu! Daah!”
Dengan entengnya Kananga melambaikan tangan sambil berlari menjauh secepat kilat meninggalkan gadis cantik itu yang sedari tadi belum sempat mengatakan satu kata pun.
Mata mirah delimanya membulat kaget dan bingung memerhatikan tingkah Kananga. Sempat dicobanya untuk menghentikan lari Kananga, namun terlambat. Kaki kurus Kananga jauh lebih cepat meninggalkannya dengan tangan yang masih bergantung di udara, berharap bisa menggapai tubuh ringkih gadis kumal itu.
“Bocah itu.....Dia bisa melihatku!” Gumamnya. Teringat kembali wajah panik gadis kecil itu. Rambut hitam panjangnya yang dikuncir dua agar tidak mengganggunya bergerak terlihat berantakan. Mata hijaunya yang terlihat kontras dengan warna rambutnya.
“Jangan-jangan.....” Gadis cantik itu menyadari sesuatu tentang gadis kumal yang baru saja menabraknya.
“Sepertinya ini akan menjadi semakin menarik.” Senyum licik menghiasi bibir merah nan tipisnya. Tak perlu mengejar gadis kumal itu. Karena takdir gadis kumal sendiri itulah yang akan membawanya ke hadapannya sekali lagi.
***
Selekas kepergian Kananga, tak henti-hentinya Kak Asa melihat ke luar jendela. Terlihat kepulan asap di luar sana kini sudah tersapu dengan derasnya air hujan. Langit merah pun tak berani mengintip dari sela-sela awan mendung. Air wajahnya tak tenang. Dia terus menerus menekuk alisnya. Beberapa kali dia berusaha mengalihkan rasa cemasnya dengan berbicara dengan warga desa. Namun tak berhasil. Dia seakan tak bosan memandangi jendela.
“Asa. Dahi mu akan berkerut seperti dahi Nenek jika kau seperti ini terus. ” Nenek yang sedari tadi memerhatikan tingkah cucunya yang entah sudah berapa menit terus menatap jendela itu akhirnya memutuskan untuk menegurnya.
“Kemarilah. Biar nenek sembuhkan lebam di wajahmu itu.”
“...Tak perlu, nek. Lebam ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kondisi mereka.”
“Nenek tau kau sedang mengkhawatirkan ketiga bocah itu. Walaupun Nenek sendiri tak tau apa yang bocah itu rencanakan, tapi percayalah kali ini pada Kananga. Dia pasti bisa menyelamatkan Elfad dan Enru.” Pungkas nenek melihat tatapan Kak Asa yang masih saja terkunci ke luar jendela.
“Bukan hanya ketiga anak itu yang aku khawatirkan, Nek...” Pelan suaranya menjawab Nenek. Wajahnya tertunduk sendu.
“Nek?”
“Ya?”
“Apa Nenek baik-baik saja?”
“....”
Nenek tak menjawab pertanyaan Kak Asa. Sebenarnya tubuhnya sekarang terasa seperti sedang dibakar perlahan. Dia tetap diam karena tak ingin membuat cucu semata wayangnya itu khawatir.
“Nenek keracunan sihir, kan?”
Wajah Kak Asa sekarang menatap lurus ke wajah Nenek. Sekali lagi Nenek tak bisa menjawab apapun.
Keracunan sihir. Ditandai dengan munculnya bercak dan noda kehitaman pada kulit. Hal itu bisa terjadi ketika seseorang terlalu banyak menggunakan sihir, terlebih lagi dalam skala besar. Nenek memang menggunakan sihir penyembuh untuk menghentikan pendarahan warga desa yang terluka. Namun ketika menyembuhkan Kananga, Nenek memaksakan dirinya. Semua luka, patah tulang, goresan, dan bahkan lebam yang menghilang dari tubuh Kananga dibayar dengan konsekuensi Nenek yang keracunan sihir. Ditambah lagi tubuh sepuhnya yang sudah tak mampu menggunakan terlalu banyak sihir.
“Hah..Tubuh sepuh ini sekarang sudah membatasi Nenek untuk menolong orang lain.” Nenek terduduk beristirahat di samping cucunya.
Kak Asa tak bisa mengatakan apapun. Sekarang dia bisa melihat bercak hitam di tubuh Nenek dengan jelas. Kak Asa mengigit bibirnya. Menyadari kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan segera dia hadapi.
“Sebenarnya, kenapa Nenek membantu Kananga sampai sejauh ini?”
Nenek mulai tersenyum lembut.
“Itu karena....”
Suara Nenek menyatu dengan deru hujan di luar jendela. Terdengar tipis, hampir dikalahkan oleh suara jutaan butiran air yang menambrak atap rumah kayu sederhana mereka. Bingung, adalah satu-satunya ekspresi yang tertinggal di wajah Kak Asa setelah mendengar jawaban Nenek.
***
Langit tak lagi kelabu. Seiring dengan hujan yang mulai mereda, Kananga sampai di depan hutan. Pundaknya naik turun. Dia masih sibuk mengatur napasnya setelah berlari entah berapa lama ditengah hujan deras. Dia menarik tas lusuh kain goni pemberian Kak Asa dari pundaknya. Merogoh secarik kertas lecek dari dalam tas itu.
Itu adalah peta yang dibuat seadanya oleh Kak Asa. Mulai dari tambang tempat Elfad dan Enrich disekap, hingga arah menuju ke perbatasan wilayah Duke Ambrosh dan Duke Ishtarnia. Semua berhasil Kak Asa gambarkan dengan jelas di secarik kertas itu.
“Jika aku bisa berlari secepat tadi, aku pasti bisa sampai lebih awal dari yang ku perkirakan.” Gumam Kananga ke dirinya sendiri.
Kananga mendongakan kepalanya. Semburat jingga mulai memenuhi cakrawala. Pandangannya lalu diarahkan ke hutan di depannya. Dedaunan rimbun yang sulit ditembus cahaya matahari membuat hutan itu terlihat lebih gelap.
Kananga menghela napas panjang.
“Lebih baik bergerak sebelum benar-benar gelap.”
Kananga sekali lagi mulai berlari. Rasa lelahnya seakan tak akan pernah datang. Kulit kakinya mungkin saja sudah lecet dan mengelupas dibalik sepatu lusuhnya. Yang ada di kepalanya sekarang benar-benar hanya kedua adiknya. Bahkan rasa sakit di jemari kakinya saja tak cukup membuatnya bisa berhenti memikirkan mereka.
Tubuh ringkih itu terus berlari. Melesat di jalan setapak yang sengaja dibuat warga untuk berburu dan mencari tanaman di hutan itu. Dua-tiga kali ditabraknya semak yang menghalangi jalannya.
Cepat.
Lebih cepat!
Tak usah pedulikan yang lain!!
Matahari tak lagi terlihat di cakrawala, menyisakan cahaya rembulan yang tak banyak bisa menembus rimbun daun pepohonan di hutan. Sudah seperempat perjalanan menyusuri hutan itu. Sejak tadi Kananga mulai mendengar derap langkah. Entah manusia atau hewan liar. Membuatnya semakin waspada. Dia mulai memelankan langkah kakinya dan memutuskan beristirahat sejenak. Di rogohnya sebuah belati yang sudah dia siapkan dari dalam tas lusuhnya. Belum sempat terduduk di bawah salah satu pohon rindang, Kananga mendengar derap langkah kaki segerombolan orang yang datang dari sebelah kirinya, memaksanya harus memanjat dan bersembunyi di atas pohon.
Siapa mereka? Apa penduduk desa? Atau antek si keparat, Baron Ledger? Pertanyaan itu tak henti-hentinya muncul di benaknya.
Tepat saat mereka berada di bawah pohon tempat persembunyian Kananga, akhirnya Kananga bisa melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka. Ada sekitar lima pria dewasa di bawah sana. Celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
“Sial! bukannya bisa bersantai, Baron sialan itu malah memerintah kita mencari anak yang lain.”
“Hei! Bukan kau saja yang ingin bersantai! Aku pun juga!”
“Upahnya juga tidak seberapa, tapi harus kerja ekstra seperti ini.”
“Jika tau seperti ini, aku tidak akan mengkhianati penduduk desa! Mereka akan membunuhku jika aku kembali ke rumahku!”
Sahut mereka berempat menimpali satu sama lain. Sepertinya Baron serakah itu bukan pemimpin yang baik bagi mereka. Mereka terus menerus mengeluh. Tangan mereka tak bergerak, lupa kalau mereka sedang mencari seseorang di hutan yang gelap itu. Saat mereka lengah, sebuah tendangan dilayangkan ke salah satu perut mereka. Orang itu mengaduh, terbatuk, terkejut tiba-tiba mendapatkan sebuah tendangan dari rekannya sendiri. Tak ada dari mereka yang berani memprotes. Tiga dari mereka hanya bisa membantu orang yang sekarang tersungkur di tanah itu untuk berdiri.
“Diamlah! Kalian ini berisik sekali! Jika aku sekali lagi mendengar ocehan kalian, akan ku robek mulut busuk kalian!” Seorang pria bertubuh kekar menimpali ocehan mereka dengan ancaman. Seperti mengunci mulut, tak satupun dari mereka berani mengoceh lagi. Nampaknya pria itu adalah pemimpin mereka.
“Bos, apa tak sebaiknya kita kembali ke pos jaga saja?”
“Hah?”
“Hari sudah mulai gelap. Hutan ini terlalu gelap. Hanya sedikit cahaya bulan yang bisa menembus hutan ini. Selain itu...Walaupun kita tak menemukan satu anak yang tersisa itu, dia bisa saja mati tercabik oleh beruang. Jika tidak kembali, nyawa kita sendiri taruhannya” Timpal seseorang dalam kelompok pencari itu yang cukup berani menyuarakan pendapat rasionalnya.
Hutan itu memang terkenal dengan kawanan beruang ganas yang akan mencabik-cabik siapapun yang mereka targetkan. Sejauh ini, tak pernah ada yang selamat setelah bertemu dengan kawanan beruang itu. Jika berhasil lari dari seekor beruang maka beruang lain yang mengejar dan menyerang mereka. Pengejaran mereka tak akan terhenti hingga orang itu tercabik-cabik. Berjalan di hutan itu pada malam hari sama saja seperti menantang maut.
“ARGH!! Kau tak mengerti seberapa berharganya satu bocah tengil itu! Baron Ledger sudah berjanji akan memberikan kita upah tujuh kali lipat! Kau lupa?!!”
Nampaknya pemimpin mereka ini sangat naif. Atau mungkin dia hanya bodoh saja. Dia mau saja percaya dengan janji manis dari orang serakah seperti Baron Ledger. Bahkan anak buahnya pun sedari tadi tau kalau upah tujuh kali lipat itu hanya sekedar janji manis belaka. Mana sudi Baron serakah itu membayar mereka sebegitu tinggi. Bahkan upah yang dijanjikan ke mereka saat menjadi antek Baron serakah itu pun sampai sekarang belum dilunasi.
“Tapi itu jika bocah itu juga seorang penduduk gelap. Tak ada yang bisa menjaminnya!-“ Tak sengaja orang itu meninggikan suaranya. Mengakibatkan satu pukulan keras mendarat di pipinya, namun tak seperti rekannya, pukulan itu tak sampai membuatnya tersungkur di tanah.
“Dari tadi mereka menyebut-nyebut bocah tengil. Apa mereka sedang mencariku?” Gumam Kananga dengan suara yang tentu saja sekelompok orang yang saling bertikai itu tak bisa mendengarnya.
Mereka hanya fokus menangkap Elfad dan Enrich. Bagaimana mungkin mereka tau tentang keberadaanku?
Kananga sibuk menduga-duga mengapa sekarang mereka malah menargetkan dirinya juga. Sementara itu, pertikaian masih berlanjut di bawah sana. Bahkan setelah wajah pria malang itu memar dan bengkak. Melihat buahnya yang masih bisa berdiri setelah menerima pukulannya, pria itu lebih geram lagi. Dia mulai menarik menarik kerah baju pria malang itu hingga membuatnya sedikit tercekik. Pria malang itu mengaduh.
“Kau! Kau berani meninggikan suaramu padaku?!! Apa kau mau ku pukuli seperti dua bocah tengil itu?! Yang satu cuma berlagak sok keren. Cuma dipukul sekali sudah pingsan. Yang satunya lagi sangat menyebalkan/ Dia terus berteriak Kakaknya akan datang menyelamatkannya. Kau sama saja berisiknya dengan dua bocah itu. Apa perlu aku menendang dan membenturkan kepalamu ke tanah berkali-kali agar kau diam seperti bocah-bocah tengil itu juga?!!” Teriak pria bertubuh kekar itu tepat di depan wajah bawahannya.
Cengkaramannya terlalu kuat. Mengaduh pria malang itu. Bahkan tiga bawahannya yang lain pun tak bisa melepasnya.
Di tengah kericuhan mereka. Kananga mematung. Memandang kosong menatap ke bawah. Ke pria bertubuh kekar itu. Di genggamnya belati yang sedari tadi dia keluarkan dari tas lusuhnya semakin erat. Gadis ringkih itu, dia bersungguh-sungguh ingin melenyapkan pria itu. Sekarang juga. Walaupun tubuhnya ringkih, dengan berat tubuhnya seperti itu saja ditambah dengan tarikan gravitasi, pasti sudah bisa menancapkan dalam belati di tangannya ke punggung pria itu. Kananga mulai bersiap melompat turun dari pohon dengan belati di tangannya. Tak peduli sisa empat orang dewasa lainnya. Pikirannya sudah benar-benar kosong kala mendengar apa yang pria itu lakukan ke adik-adiknya. Hanya amarah saja yang mengendalikan dirinya saat ini.
Sesaat sebelum Kananga melompat. Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh kelima pria dewasa itu. Seakan ada predator yang sedang mengintai mereka. Pertikaian mereka kini berganti menjadi siaga. Bulu kuduk mereka berdiri mengisyaratkan sesuatu yang berbahaya sedang mengincar mereka.
Hawa dingin itu tak lain dan tak bukan berasal dari seorang gadis kecil kumal yang sedaritadi mengintai mereka dari atas pohon. Hawa dingin itu berasal dari insting membunuh milik Kananga. Bersiap membinasakan targetnya.