How She Can Be Loved

How She Can Be Loved
Bab 2: Dia, Ishtarnia



“Hei, lihat!”


“Itu dia, kan?”


“Sang Dewi!! Dewi Kemenangan!! “


“Dewi Kemenangan! Nona kita sudah sampai!!”


Hanya beberapa detik setelah Kananga menginjakkan kakinya ke daratan, dia mendapati dirinya berada di situasi yang aneh. Pelabuhan memang selalu riuh ramai, tapi kali ini suasananya berbeda dengan dia sebagai pusat perhatian di keramaian itu. Hanya dari saling membisik hingga teriakan. Tak hanya rakyat jelata, bahkan beberapa bangsawan pun ikut andil menyoraki Kananga. Mereka menyambut Kananga dengan sangat meriah di pelabuhan. Gadis itu bahkan sampai kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.


“Ada apa ini?” Tanya Kananga yang kebingungan melihat orang-orang itu.


“Tentu saja mereka menyambutmu, Kana!” Baine tersenyum bangga seperti seorang ibu yang melihat putrinya mendapatkan medali emas di olimpiade matematika.


“Hah? Kenapa aku?” Tanya Kananga yang masih saja bingung mendapati dirinya sekarang menjadi pusat perhatian semua orang di pelabuhan. “Tentu saja karena prestasimu di medan perang. Karena kau terburu-buru kembali ke asrama sekolah sebelum perayaan penyambutan prajurit perang, jadi orang-orang baru bisa menyambutmu sekarang.” Baine masih saja tersenyum bangga. “Ayolah Kana, jangan malu. Mereka hanya ingin menyambut seorang pahlawan yang memiliki prestasi lebih besar dari pada Putra Mahkota saat perang beberapa bulan yang lalu. Perang bisa selesai lebih cepat berkatmu! Kau pantas menerima gelar kehormatan dari Yang Mulia Raja.” Baine tidak bisa berhenti merasa bangga dengan prestasi salah satu orang kesayangannya. Mati aku. Kananga hanya bisa tersenyum canggung. Berharap  dia segera bertemu dengan Ayahnya, dan memeluk kedua adiknya.


“Nona Ishtarnia?” seorang pria berusaha merebut perhatian Kananga dari segerombolan orang yang memberinya ucapan selamat. “Nona Ishtarnia?!” Sekali lagi pria itu mengencangkan suaranya. Mendorong beberapa rakyat jelata di depannya untuk menjauh darinya. Tapi tetap saja, suaranya tidak sebanding dengan belasan lusin orang-orang yang sedang berkumpul di pelabuhan. “NONA ISHTARNIA?!!” kali ini akhirnya dia berhasil menarik perhatian Kananga. Bukan cuma Kananga, tapi belasan lusin orang yang sedari tadi juga sibuk menyelamati Kananga. Mereka semua terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan pria itu katakan.


“Ahem..” Pria itu berdehem membersihkan tenggorokannya, berusaha mengembalikan karismanya yang sebenarnya tidak pernah ada sejak awal. Dia berjalan ke arah Kananga, berhenti di depannya, meraih tangan kanannya, dan berlutut di hadapannya. “Menikahlah dengan ku…”


“APA?!!” Baine dan Cella kompak meneriakkan ketidak setujuan mereka dengan apa yang terjadi pada Kananga saat ini.


***


Naiad. Sekitar 1.269 kilometer dari Kota Uchenna, kampung halaman Kananga. Kota pelabuhan yang menjadi pusat perkembangan perekonomian maritim Kerajaan Empyrean. Tempat dimana Kananga menginjakkan kakinya pertama kali ke daratan setelah 3 hari pelayaran, dan juga menjadi tempat pertama kali Kananga mendapati dirinya dilamar di depan umum. Apa dia bahagia? Tentu saja tidak. Dia belum bisa menerima logika di dunia yang dia tulis sendiri, walaupun ini tahun kelimanya hidup di dunia itu.


Menikah? Di usia 15 tahun? Yang benar saja! Terlebih lagi...


“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu. Ku mohon, menikahlah denganku.” Pikiran Kananga buyar seketika mendengar ucapan pria yang masih saja berlutut di hadapannya. Pupil matanya bergetar, tak sanggup dengan ironi di hadapannya.


Apa? Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengannya. Apa di sebuah pesta?? Tidak, tidak mungkin! Tidak ada yang berani menatapku di pesta karena tatapan Ayah yang kata mereka bisa menebas jiwa. Kalau begitu, di medan perang? Apa dia salah satu pasukan Putra Mahkota?


Kananga berusaha mengingat siapa dan dimana mereka pernah bertemu. Dia bukan orang yang mudah lupa dengan wajah seseorang yang pernah ditemuinya, hanya saja dia tidak peduli dengan mereka. Karena itulah dia bahkan tidak sanggup mengingat siapa pria yang sedang melamarnya saat ini. Kananga tidak berhenti memerhatikan pria itu yang masih setia menunggu jawabannya. Dia tersenyum penuh harapan menunggu jawaban ‘Iya’ dari Kananga. Kananga yang masih saja memerintahkan otaknya mencari infomasi tentang pria itu dari ingatannya tentang siapa pria itu seketika memberhentikan perintahnya ketika menyadari sesuatu. Ah, Jadi dia bangsawan. Syukurlah. Kananga segera mengerti apa tujuan pria itu melamarnya di depan umum.


*Kananga Ishtarnia\,* namanya. Tanpa ada nama tengah karena dia bukan terlahir sebagai seorang bangsawan. Dia seperti bunga kenanga. Mekar dengan semerbak\, percaya diri\, dan tak kenal takut. Rambut hitamnya adalah simbol dari kebanggaan para pendahulunya. Para Kuda Hitam Empyrean. Saat Sang Raja bertitah untuk melibatkannya dalam peperangan beberapa bulan yang lalu\, semua orang yakin dengan satu hal. Gadis itu baru saja berusia 15 tahun. Ini adalah kali pertamanya dia menginjakkan kaki di medan perang. Berbeda dengan Ayahnya\, dia sama sekali tidak memiliki sihir. Ya\, Kananga terlahir cacat. Tidak. Tidak ada satupun yang salah dengan tubuhnya. Apalagi psikisnya. Dia sehat wal afiat. Hanya saja\, dia terlahir tanpa sedikitpun sihir dalam


tubuhnya. Ini sudah membuatnya cukup untuk dikategorikan sebagai seorang yang cacat di dunia itu. Gadis berusia 15 tahun, sama sekali tidak memiliki pengalaman di medan perang, terlebih lagi dia tidak bisa menggunakan sihir pelindung.


Dia tidak akan selamat!


Dia akan mati!


Dia tidak akan berguna! Bagaimana mungkin dia bisa melindungi orang lain, dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri!


Seperti itulah apa yang mereka pikirkan tentang Kananga. Tapi takdir malah berkata sebaliknya. Kananga bahkan berhasil kembali dengan prestasi yang melebihi Putra Mahkota. Dia terkenal tak kenal takut dan ampun di medan perang. Tentu saja. Siapa yang bisa menyangka hal itu bisa terjadi. Orang-orang selama ini melihat gadis itusebagai sosok yang rapuh, dibesarkan dan dirawat dengan penuh kasih sayang bagai harta yang tak tergantikan oleh ayahnya. Siapa sangka putri Duke Ishtarnia itu memiliki watak sekeras baja. Jadi istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu memang benar adanya. Bahkan di dunia fantasi seperti ini pun. Jika Ayahnya seorang pahlawan perang, maka putrinya pun juga begitu.


Pulang dengan membawa prestasi terbaik di medan perang, tentu saja menjadikan dirinya sekarang sebagai pusat perhatian di kalangan bangsawan. Para bangsawan mulai membicarakan tentang masa depan Kananga yang akan terjamin cerah. Bahkan tidak sedikit yang meragukan kalau Kananga akan diberikan nama tengah secara langsung oleh Raja. Entah dari mana mereka mendengar kabar itu. Tapi yang pasti, perhatian yang mereka tujukan ke Kananga semakin besar. Mereka tidak lagi menganggapnya haya sebagai gadis cacat yang beruntung. Tapi kali ini sebagai batu loncatan mereka. Seperti halnya dengan pria yang sedang berusaha meminang Kananga saat ini. Dia pikir pengaruhnya di kalangan bangsawan bisa semakin diperkuat jika dia berhasil meminang putri Duke Ishtarnia itu. Tidak perlu persetujuan dari ayahnya. Jika putri kesayangannya sudah berkata “Iya”, maka ayahnya sudah tidak bisa merubah dan menghancurkan hati putrinya.


*Seorang bangsawan melamar putrinya yang bukan siapa-siapa di depan umum. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidupmu bertemu sebuah keberuntungan seperti diriku. Kau akan malu jika menolakku yang memiliki*derajat lebih tinggi darimu, bukan? Dasar tidak tau diri! Sampai kapan dia akan membuatku terus berlutut di depannya?!


Kananga, seperti seorang cenayang, tau benar apa yang pria itu incar dan juga isi kepalanya yang saat ini sedang memaki dan mengutuknya.


“Kana..” Tepukan lembut di pundak Kananga datang dari Baine, sahabatnya. Gadis cantik yang disebut-sebut sebagai Bunga Empyrean itu sedari tadi berdiri di belakang Kananga. Memandang pria di depan sahabatnya seperti induk harimau yang akan menerkam lawannya dalam sepersekian detik. Parasolnya sedari tadi masih setia melindunginya dari sengatan matahari di kota pelabuhan itu. Kananga berbalik mendapati dua gadis dibelakangnya, Baine dan Cella tersenyum. Sungguh jika seseorang tidak mengenal dekat dua gadis itu, mereka pasti akan berpikir betapa manisnya senyum mereka. Tapi bagi Kananga, senyuman mereka membuatnya merinding. Itu adalah senyuman ‘aku akan melenyapkannya dari pandanganmu’. Dua gadis itu memang selalu seperti itu. Overprotektif jika urusannya sudah berkaitan dengan Kana dan Nona kecil mereka. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Kananga. Pria itu tentu bukan orang baik. Tentu saja mereka mengerti maksud dari pria itu melamar Kanangan di depan umum. Mereka tidak akan membiarkan Kananga harus menerima pinangan itu dengan terpaksa.


“Tenang saja. Aku bisa mengatasinya.” Bisik Kananga dengan senyum percaya dirinya. Nampaknya dia sudah mantap dengan jawaban lamaran itu, membuat Baine dan Cella sedikit lebih tenang. Orang ini. Dia berusaha menjebakku. Dia melamarku di depan umum, berpikir aku akan malu jika menolaknya lantas terpaksa menerimanya karena statusnya yang lebih tinggi dariku.


Di dunia itu, menolak lamaran seorang pria adalah hal yang sangat tidak terhormat dan memalukan. Bukan bagi pihak prianya. Tapi bagi pihak gadis yang menolak. Calon mempelai pria lain pun akan memandang rendah keluarga gadis itu. Bahkan gadis itu bisa sama sekali tidak menikah seumur hidupnya jika berani menolak lamaran yang datang. Kata mereka, gadis itu bisa jadi gadis tua. Terlebih lagi jika yang datang melamar adalah seorang bangsawan. Seperti Kananga sekarang. Ayahnya memang seorang Adiapati yang sangat dihormati. Tapi gelar itu datang bukan dari garis keturuan bangsawan. Garis keturunan Ishtarnia memang tidak pernah sekalipun tercampur dengan darah bangsawan. Kananga dan Ayahnya tidak ada bedanya dengan rakyat biasa. Hanya saja mereka diberikan keistimewaan, merasakan hidup mewah bangsawan, namun dalam waktu yang terbatas. Derajat, tahta, bangsawan, tata krama... Apa dia pikir semua itu akan berlaku bagi seorang Ishtarnia seperti Kananga? Lagipula dia sudah terkenal dengan wataknya yang liar sejak kecil. Tidak mungkin hanya menjadi seorang pahlawan di medan perang bisa mengubah segalanya tentang dirinya. Apa semua tata krama dan aturan di dunia itu bisa menghalanginya? Hah! Tidak akan pernah.


Kananga bersikap tenang, mempersiapkan jawabannya dengan anggun. Memberikan senyum terindah di bibirnya.


“WALAUPUN HARUS MATI, OGAH!” Senyumannya sangat riang. Jika Ayahnya terkenal dengan pandangannya yang bisa menebas jiwa, maka putrinya itu terkenal dengan senyumnya yang bisa menghancurkan jiwa targetnya hingga berkeping-keping. Tentu saja, senyuman itu bukan ditujukan untuk maksud yang baik, tapi lebih ke arah sarkas. Menyerang pria itu sebagai targetnya.


“Aku sudah memberikan jawabanku, Tuan Muda. Kalau bergitu aku permisi. Ayahku pasti sudah menungguku—“ Belum selesai kalimatnya dia ucapkan, pria itu menarik tangannya dengan sangat kasar. “KAU!! KAU SANGAT TIDAK TAU DIRI!! KAU PIKIR SIAPA DIRIMU?!! BARU SAJA PULANG DENGAN SELAMAT DARI MEDAN PERANG SUDAH MEMBUATMU BESAR KEPALA! PRESTASI SEPERTI ITU TIDAK ADA APA-APANYA! SEMUA ORANG BISA MENDAPATKANNYA DENGAN SANGAT MUDAH!!” Pria itu sudah kehilangan kesabarannya. Dia mulai berteriak dan memaki gadis yang baru saja menolaknya mentah-mentah. Kananga hanya menatapnya dengan dingin. Tentu ini bukan pertama kalinya dia menghancurkan mental seseorang. Bukan hanya di dunia bagai negeri dongeng ini, tapi juga di dunia sebelum dia mati. Ketagihan? Mungkin saja. Di sisi lain, Baine dan Cella sudah bersiap untuk benar-benar melenyapkan pria bangsawan itu. Baine dengan parasolnya dan Cella dengan kopernya. Mereka sudah siap menghantam kepala pria itu dan kompak berencana akan membuang tubuhnya ke laut. Kalau soal melindungi Kananga, mereka seperti punya telepati.


“APA KAU TIDAK TAU SIAPA AKU INI?!. AKU INI ADALAH BANGSAWAN—“ entah kalimat apa yang akan diucapkan pria itu selanjutnya. Tapi kalimat itu seketika terpotong. Suaranya yang menggelegar seperti singa buas mengintimidasi mangsanya sekarang perlahan mengecil seperti kucing yang baru saja disiram air saat mengganggu tidur orang-orang di malam hari. Lenyap seketika saat menyadari sebuah tangan besar menggenggam keras kepalanya.