
Senandung itu terdengar lagi. Tipis menyatu dengan angin. Hampir tidak ada yang bisa mendengar lantunan lembut itu kecuali si sumber suara. Si sumber suara sedari tadi berdiri di atas dahan pohon ek. Dahan yang jauh lebih besar dari tubuh gadis berusia sepuluh tahun itu. Memandang jauh ke arah desa dekat sana. Mengenakan
jubah bertudung hitam. Menutupi wajah kurus dan pucatnya. Angin mulai menghamburkan helaian hitam rambut panjang gadis kecil itu. Cukup dingin untuk seukuran angin sepoi musim gugur di desa kumuh di penghujung negeri.
“ARGHH! PENCURI SIALAN!!” Teriakan dari salah seorang pemilik kios roti memekikkan telinga. Pemilik kios itu kalang kabut. Sepertinya barang jualannya kali ini lagi-lagi jadi target pencurian. Rugi lagi, rugi lagi.
“Lagi-lagi, ya. Kasihan sekali pemilik kios roti itu.”
“Kau kasihan padanya? Dia kan pelitnya minta ampun.”
“Kau tidak kasihan?”
“Tidak juga. Pencuri lihai itu kan hanya menarget orang-orang pelit yang suka menimbun. Bayangkan saja harga satu roti yang sudah hampir berjamur dia jual empat kali lipat. Kepala desa pun bahkan menaikkan pajak dua kali lipat. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin Siapa pun pencurinya, penimbun- penimbun itu pantas dilucuti barang dagangannya.”
“Hush!! Pelankan suaramu! Kau tau kan orang-orang yang menjadi target pencurian itu adalah antek-antek kepala desa? Kalau celotehanmu sampai ke telinga mereka, bisa mampus kita!”
Gunjingan para ibu-ibu yang berdiri tepat di bawah pohon ek itu terhenti sudah sampai disitu. Tak terlewatkan nyinyiran mereka terdengar oleh gadis kecil berambut hitam legam yang lebih dahulu berdiri di dahan pohon ek di belakang mereka.
Akhir-akhir ini, desa pinggiran itu memang digemparkan oleh pencuri yang menargetkan penimbun macam si pemilik kios roti itu. Sebagian dari warga resah, namun sebagian mengutuk para penimbun. Tentu saja, mereka hanya berani mengutuk penimbun dalam hati mereka saja. Tak lupa juga si kepala desa juga ikut dikutuk oleh warganya. Bagaimana tidak? Kepala desa itu terkenal korup. Begitu banyak bantuan yang dikirimkan dari pihak Kerajaan. Tapi tak sepeser, tak segenggam pun sampai ke tangan warganya. Semua bantuan itu tertahan di tangan si kepala desa dan antek-anteknya. Dibagi hanya untuk mereka. Ditimbun karena sudah terlalu banyak. Warganya pun tak bisa berbuat banyak. Desa itu, walaupun masih rajin menerima bantuan dari Ibu Kota, tapi sebenarnya desa itu sendiri sudah lama diterlantarkan oleh Kerajaan.
Mana mau pihak Kerajaan mengutus seseorang untuk membereskan masalah di desa kumuh pinggiran negeri itu. Hanya buang-buang uang dan waktu. Begitu kata pesimis warganya.
Keberadaan pencuri itu sudah cukup menjadi hiburan untuk warga-warga tertindas di desa itu. Pencurinya terkenal lihai. Entah sendiri atau bergerombol. Hanya menarget penimbun. Bukan perhiasan, atau permata, atau barang mewah lainnya yang mereka curi. Bahan pangan adalah target termanis mereka. Dicuri langsung dari gudang penimbun. Sudah beberapa kali para penimbun mencampurkan racun ke jebakan yang sudah mereka siapkan. Namun, seperti cenayang, atau si pencuri cuma lebih cerdik dari para penimbun, jebakan itu malah tak mereka ambil. Mungkin karena kesal, si pencuri malah mencuri pangan lebih banyak lagi dari sebelumnya. Bahkan pernah sewaktu-waktu, si pencuri menjebak penimbun dengan berpura-pura mengambil jebakan untuk mereka. Tapi sesungguhnya mereka hanya menukarkan jebakan itu dengan pangan biasa, tak beracun. Jebakan yang asli mereka campurkan dengan pangan lainnya. Membuat penimbun yang berusaha menjebak mereka mengalami diare hingga dehidrasi parah. Beruntungnya penimbun itu karena belum tiba ajal menjemputnya.
Gadis kecil itu terdiam. Menyadari sesuatu, namun tak membuatnya kaget. Dia sepertinya satu-satunya orang yang tau siapa dalang pencurian itu.
“Hah..Ada ada saja bocah-bocah itu..” Dia menghela napasnya panjang, tersenyum kecut menghadapi kenyataan. Entah berapa kali dia harus memperingatkan adik-adiknya. Jangan mencari masalah dengan para penimbun. Itu bukan urusan kita!. Sekali-dua kali-tiga kali-empat-bahkan lima kali. Dia sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Nampak dua adiknya itu memang bebal. Tau kakak tertua mereka hanya ingin mereka hidup tentram, tapi tetap saja tidak mendengarkan nasihat kakak tertua mereka. Iya. Pencuri lihai yang kata warga desa menghibur mereka adalah kedua adik Kananga. Elfad, si tengah berusia sembilan tahun, dan Enrich, si bungsu berusia enam tahun. Si Kakak sulung, Kananga, sekarang sudah menyiapkan hukuman dan nasihat apa yang akan dia berikan ke kedua adiknya hari ini.
Grasak-grusuk. Kananga menyadari ada orang lain di atas pohon itu. Langkah mereka terdengar ringan. Lincah menaiki pohon ek. Ringan melompat antara cabang satu dan lainnya.
“Kak! Kak Kananga!”
Tak perlu membalikkan penuh badannya. Tak perlu berbalik dengan cepat. Kananga sudah tau itu suara adik bungsunya, Enrich. Elfad dan Enrich kini sudah memanjat ke dahan tempat si sulung berdiri. Enrich cengengesan. Sementara Elfad bertugas membawa sekarung penuh berisi hasil curian mereka.
“Kalian ini. Kalian mencuri lagi?” Kananga tak luput memperhatikan tingkah kedua adiknya. Enrich seperti biasa. Tersenyum lebar ketika melihat wajah kakak sulungnya. Namun berbeda dengan si tengah, Elfad. Kali ini, bocah sembilan tahun itu lebih banyak diam.
“Hehehe” Si bungsu masih cengengesan. Bocah berumur enam tahun itu tentu tidak mengerti konsekuensi dari perbuatan mereka. Beda dengan Elfad yang sudah mengerti semua nasihat dari kakaknya.
“Enrich, berhentilah tertawa. Kakak tidak memujimu sekarang.” Kananga mulai kesal. Sangat sulit membuat kedua adiknya itu menurut. Semua nasihat dari Kananga semata-mata untuk keselamatan mereka berdua. Kananga sungguh tidak ingin terjadi hal yang buruk ke kedua adiknya. Benar-benar. Dia akan melakukan apapun
agar kedua adik kesayagannya terhidar dari marahbahaya. Bahkan ini sudah ketiga kalinya mereka harus berpindah dari desa ke desa lain. Semua hanya untuk melindungi si tengah dan si bungsu.
“Tapi tidak dengan mencuri, Elfad. Apalagi kalian mencurinya dari penimbun. Kakak tau kalian juga kesal dengan ulah penimbum-penimbun itu, tapi itu bukan urusan kita! Kita bahkan tidak pernah dianggap sebagai warga desa ini!” Kesal Kananga sekali lagi harus mengeluarkan kalimat yang sama berulang kali dari mulutnya. Walaupun kesal, Kananga tak luput memperhatikan tingkah kedua adiknya. Elfad dan Enrich, mereka otomatis menundukkan kepala mereka saat dimarahi oleh kakak mereka. Hal yang paling Kananga sadari dari mereka adalah wajah Elfad yang terlihat menyesal. Tidak berdaya. Pasrah dengan keadaan keluarganya.
Elfad, bocah itu memang bebal. Bocah itu memang usil. Tapi bukan berarti bocah itu tidak mengerti tanggung jawab apa yang sedang kakaknya pegang sekarang. Tanpa perlu bertanya, bocah itu sudah tau. Semua demi melindunginya dan Enrich. Entah sudah berapa minggu, Elfad menyadari kakaknya sengaja mengurangi jatah makanan di atas piringnya. Persediaan makanan mereka yang semakin menipis membuat si sulung harus mengalah agar kedua adiknya bisa makan dengan porsi yang normal. Walaupun dirinya sendiri waktu itu masih dalam tahap penyembuhan setelah sembuh dari wabah malaria. Bocah itu memang terbilang peka membaca situasi dan suasana hati orang-orang. Karena itulah, kali ini dia tidak akan mengatakan apapun jika kakaknya memarahinya. Sangat berbeda dengan tingkahnya yang biasa.
“...Maafkan aku” Masih tertunduk, bocah bebal itu akhirnya meminta maaf. Kananga tau. Sungguh si tengah, Elfad, juga tidak ingin mencuri. Karena itulah dia hanya menarget penimbun.
“Tidak.. Tidak. Akulah yang seharusnya meminta maaf. Maafkan aku sama sekali tidak berguna. Disaat seperti ini, yang aku bisa aku lakukan hanya memarahi kalian..”
“Bukan begitu. Kau kan sudah banyak membantu kami. Kau pikir aku tidak sadar kalau kau selalu mengurangi jatah makanmu agar kita berdua bisa kenyang? Hidup kita bukan tanggung jawabmu sendiri, Kananga.”
Benar kata Elfad. Jika dari sudut pandangnya, hidupnya dan Enrich bukan tanggun jawab Kananga seorang. Kananga hanya lebih tua tiga belas bulan darinya. Tak adil membebankan semua ke kakaknya itu. Tapi bagi Kananga, sejak hidup di tubuh baru gadis kecil bertubuh ringkih itu, sebagai wanita dewasa yang terjebak di tubuh ringkihnya sekarang, secara tidak sadar, dia sudah menganggap hidup dan keselamatan kedua bocah itu sebagai sebagai tanggung jawabnya.
Kananga mengusap kepala si tengah. Tersenyum memaklumi adiknya. Disaat bocah seumuran mereka tinggal di rumah yang hangat, bermanja dengan keluarga masing-masing, kedua adiknya tumbuh lebih dewasa dibandingkan dengan usia mereka. Membuatnya merasa bangga sebagai kakak mereka.
“Aku sangat beruntung memiliki kalian sebagai adik. Aku menyayangi kalian.”
Dipeluknya kedua adiknya. Walaupun tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Walaupun tak dilahirkan oleh orang tua yang sama. Elfad dan Enrich memang tau kalau kakaknya itu sangat menyayangi mereka. Tapi sangat jarang mereka mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakak mereka. Aku menyayangi kalian. Membuat si tengah dan si bungsu terdiam. Tersenyum. Memeluk balik pelukan hangat dari si sulung. Air mata sudah tertampung di tepi mata Kananga. Segera dihapus karena tidak ingin disadari adiknya.
Kali ini, Kananga kembali memperlihatkan gestur akan mengusap kepala kedua adiknya. Alih-alih mengusap kepala kedua adiknya, dia malah menjitak kepala mereka.
“ADUH!!”
“Aku memeluk kalian bukan berarti kakak memaafkan kalian! Jika kalian mengulanginya lagi, akan aku buat kalian menyesalinya!”
Kedua adiknya mengaduh karena jitakan dari Kananga. Juga karena ancaman kakak sulung mereka. Jika si sulung sudah berjanji, maka pasti akan dia tepati. Begitu pula degan ancamannya kali ini. Walaupun si sulung sedang memarahi kedua adiknya. Walaupun si tengah dan si bungsu mengaduh. Entah mengapa, suasana disekitar mereka malah dipenuhi kehangatan. Saudara senasib tanpa hubungan darah itu memang sangat harmonis. Tanpa ada rasa canggung. Tanpa ada rasa marah. Tanpa ada dendam. Hubungan ketiga bocah yatim piatu itu tak akan pernah lekang oleh waktu. Bahkan hingga sepuluh-dua puluh-atau tiga puluh tahun kedepan, hingga seterusnya. Janji mereka adalah sedih dan bahagia. Dalam sehat dan sakit. Mereka akan rasakan bersama. Mereka akan jalani bersama. Sesulit apapun itu.
***
Tahun 986, Kerajaan Empyrean. Di salah satu desa pinggiran kerajaan. Wilayah kekuasaan Duke Ambrosh. Desa yang dikatakan sudah ditinggalkan oleh pemerintahan Kerajaan. Beberapa bulan yang lalu, tiga bocah yatim piatu, yang orang-orang sebut-sebut sebagai penghuni gelap. Anak-anak yang terkutuk sejak lahir, baru saja pindah ke desa pinggiran itu. Desa yang si sulung pikir aman untuk pelarian mereka. Untuk menyembunyikan sihir kedua adiknya yang nyatanya jauh lebih besar dari manusia pada umumnya. Seperti jelmaan para dewa.
“Oh ya, Kak. Bukannya Kak Kananga tidak tau cara turun dari pohon?” Enrich, bocah itu, entah karena kepolosannya atau kecerdikannya, dia lagi-lagi berhasil menghancurkan fokus Kananga yang sudah siap menghujaninya dengan berjuta kalimat nasihat.
“E-Elfad...Tolong bantu aku turun...” Kananga memucat. Mengingat dia cuma tau cara memanjat pohon, namun tidak sanggup turun dari pohon karena tidak tahan dengan ketinggian. Kakinya mulai bergetar. “E-Elfad, aku mohon...” Kakinya lemas. Seperti anak kambing yang baru belajar berjalan. Hilang sudah karisma seorang kakak dari diri Kananga. Elfad tertawa terbahak, diikuti Enrich yang juga ikut tertawa. Nampaknya ekspresi si tengah sudah kembali normal. Dia mulai mengganggu kakaknya.
“Kalau tau cara naik, seharusnya kau juga tau cara turun. Kau juga harus mencobanya Kananga! Sampai kapan aku harus membantumu turun setiap kali kau memanjat pohon? Sudahlah! Kau kan sedang marah ke kami. Kau turun saja sendiri! Enrich, ayo kita pulang!” Tentu saja Elfad tidak bersungguh-sungguh meninggalkan kakaknya itu. Ini adalah kesempatannya mengganggu kakaknya, Kananga. Tak sulit bagi Elfad membantu kakaknya turun dari pohon. Tubuh tiga yatim piatu itu memang ringkih. Tapi jika dibandingkan dengan kedua adiknya, Kananga-lah yang memiliki tubuh yang paling ringkih. Malnutrisi. Terlebih lagi setelah sakit dan sembuh dari malaria. Beruntungnya gadis kecil itu masih bisa bertahan hidup. Beruntungnya juga, ada Kak Asa dan Nenek yang selalu membantu yatim piatu itu. Kini sudah beberapa bulan setelah wabah malaria selesai. Kata Nenek, tubuh Kananga sekarang masih dalam tahap penyembuhan. Syukurlah. Kananga terbilang perlahan pulih, namun pasti.
Wabah itu bagai mimpi buruk di beberapa desa pinggiran. Pergantian musim panas ke musim gugur. Tingginya curah hujan, membuat parasit-parasit itu berkembang pesat. Tak banyak penderita yang bisa selamat. Terlebih lagi jika penanganan dilakukan terlambat. Untung saja, waktu itu, Kak Asa-lah yang lebih dahulu sadar kalau Kananga sudah terjangkit parasit dari nyamuk Anopheles. Sempat sekarat. Anehnya, gadis kecil itu berhasil melawan parasit yang menggorogoti tubuh ringkihnya. Kata Nenek, mungkin saja kedua adiknya lah yang membuatnya tetap kuat. Tidak menyerah dengan parasit yang menggerogoti tubuhnya. Sebegitu istimewanya keberadaan si tengah dan si bungsu dalam hidup Kananga. Bukan hubungan darahlah yang membuat mereka menjadi saudara. Kepedulianlah yang membuat mereka menjadi saudara. Bahkan hubungan mereka lebih erat dibandingkan dengan saudara-saudara kandung di luar sana. Tak perlu ada ikatan darah untuk saling menunjukkan kasih sayang mereka satu sama lain.