
Steve sedang duduk di taman belakang rumahnya, ia tidak sendiri. Ia ditemani dengan 5 sahabatnya. Sam, Bruce, Scott, Loki, dan Wade.
Mereka memang berencana untuk berkumpul sekedar untuk mengobrol. Mungkin memang terasa cepat, karena Steve dan Sam baru saja masuk ke universitas itu dan mereka sudah memiliki 4 sahabat. Ditambah 4 orang itu adalah mahasiswa favorite.
Sedari tadi, mereka sibuk mengobrol. Tapi tidak dengan Steve. Steve sama sekali tidak mengobrol, pikirannya terus melayang ke arah Tony dan perasaan cinta nya yang tak kan mungkin terbalaskan.
Fakta tentang Tony yang memiliki pacar masih terbayang dibenaknya. Hatinya yang tergores belum juga sembuh.
Steve sebenarnya sudah mencoba untuk ikhlas dari sebuah kehilangan dan mencoba tersenyum dalam kesakitan. Tapi ia tidak bisa, ia gagal. Pria itu selalu muncul dipikirannya, suara nya, wajahnya selalu terbayang dibenaknya.
Memang susah melupakan seseorang yang kita cintai, tapi jika Steve tidak mau tersakiti lagi, ia harus melakukannya.
5 sahabat Steve yang heran dengan tingkah Steve yang biasanya bawel mendadak menjadi pendiam segera bertanya pada Steve.
"Lo kenapa Steve? Diem banget," tanya Loki.
"Engga gue gapapa," Steve berbohong, biasanya ia memang bercerita pada sahabat-sahabatnya jika dirinya ada masalah. Tapi untuk masalah ini, Steve memilih untuk menyimpan sendirian. Cukup dirinya saja yang tau tentang masalah ini.
"Lo bohong? Jujur aja Steve, kami bakalan bantuin lo sebisa kami," Scott tampaknya menyadari kalau Steve sedang berbohong didepannya dan keempat sahabatnya yang lain.
"Engga Scott, gue gapapa," Steve tetap bersikeras untuk berbohong.
"Apa ada hubungannya dengan Tony?" Sam dengan tepat menebaknya, jika sudah begini Steve tidak bisa berbohong lagi. Sam begitu teliti, ia bisa dengan mudah menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Steve.
"Tony? Tony Stark? Emang ada apaan sih?" Wade yang penasaran bertanya pada Sam.
"Pada gatau kan? Steve suka sama Tony," ucap Sam.
"Sembarangan lo, mana ada," bantah Steve.
"Halah gausah bohong dah, muka lo aja udah merah," ledek Sam.
"Terserah," ucap Steve.
"Tapi bukannya Tony udah punya pacar ya? Mantan mahasiswi fakultas akutansi," Bruce yang paling up to date diantara mereka mulai angkat bicara.
"Mantan mahasiswi? Mereka baru pacaran donk berarti," Steve cukup kaget mendengar perkataan itu, tapi ia memilih untuk diam saja.
Mendengar pengakuan Tony kalau dia sudah pacaran sama Pepper saja sudah sangat menyakitkan, ditambah sekarang teman-temannya membicarakan hal itu. Hati Steve yang tergores semakin perih, mengingat Tony yang selalu memuji Pepper dan selalu berjuang untuk wanita itu, sudah menjawab semuanya. Tidak mungkin ia akan berpaling dari Pepper.
Walau badai menerpa sekalipun, Tony pasti akan selalu berusaha melindungi Pepper, dan Steve harus bisa menerima itu. Karena dirinya bukanlah seseorang yang ia inginkan.
Melihat perubahan raut Steve yang tadinya datar menjadi raut wajah yang penuh dengan kesedihan. Kelima sahabat Steve sudah dapat menebak masalah Steve.
"Steve, berhentilah berharap. Jangan menyakiti diri lo sendiri, kalau lo cinta sama Tony, biarkan dia bahagia. Biarkan dia tertawa walau bukan sama lo, " nasihat Scott.
"Lucu ya gue, masih mengharapkan cinta dari Tony. Padahal itu gaakan mungkin," ucap Steve ditengah kegalauan hatinya.
"Masih ada orang lain yang lebih baik dari Tony, lo tampan, gue yakin lo pasti bisa nemu yang lebih baik," Wade juga ikut memberikan nasihat.
Steve segera beranjak pergi, ia tidak mau membicarakan hal itu lagi. Ia tidak tahan, hatinya kian sakit mendengar nama Tony. Kelima sahabatnya hanya menatap kepergian Steve, baru kali ini mereka melihat Steve seperti ini.
"Hii!!" Sapa Bucky.
"Kalian ngapain kesini?" Tanya Sam.
"Tadi kami mau jalan, lewat sini eh liat kalian, jadi mampir deh," ucap Natasha.
"Stevie mana?" Tanya Tony.
"Tadi barusan pergi, gatau kenapa mendadak pergi," ucap Sam.
Mendadak pergi bukanlah gaya Steve, jika seperti itu ia pasti ada masalah. Tony segera pergi meninggalkan mereka semua untuk mencari Steve.
"Apa kabar Sam?" Bucky segera menghampiri Sam.
"Baik, kesana aja yuk ngobrolnya," ajak Sam.
Bucky dan Sam segera pergi ke tempat yang agak jauh dari sana, mereka mengobrol disana. Entah apa yang terjadi pada Sam dan Bucky, akhir akhir ini mereka lebih sering bersama.
Sam merasa Bucky adalah pria yang sangat baik dan ya Sam mulai jatuh cinta pada Bucky.
Itu Sam dan Bucky, lalu bagaimana dengan keadaan pria yang sedang memendam perasaan sakit yang begitu dalam?
Steve sedang duduk di bawah pohon, yang mengarah ke sungai menatap air sungai yang mengalir dengan tenang. Hatinya sedikit terhibur mendengar deru angin yang sejuk. Suasana ditempat itu sepi, jelas saja sepi.
Jarang ada yang mau duduk disana sekedar untuk menatap sungai, karena itu menghabiskan waktu. Sedangkan Steve, justru ia suka menghabiskan waktu di tempat itu.
Tony berhasil menemukan Steve, ia segera menghampiri Steve yang duduk dibawah pohon itu.
"Hai Stevie!" Sapa Tony.
Steve menolehkan pandangannya ke arah Tony, ia mungkin tersenyum memandang wajah pria itu, tapi hatinya sakit mengingat pria itu tidak akan pernah bisa ia miliki.
Jujur Steve akui, ia rindu berduaan seperti ini. Tapi bagaimana bisa ia merindukan sesuatu yang tak akan bisa ia miliki?
"Lo kenapa coba? Kok wajahnya galau gitu," tanya Tony.
Alasan gue seperti ini simple kok, lo. Lo alasan gue seperti ini. Gue belum bisa melupakan lo, melupakan semua perasaan yang pernah gue miliki buat lo, batin Steve.
Tony yang melihat Steve diam, melamun. Segera mengejutkannya.
"Woi! Malah melamun, kenapa sih? Cerita aja," ujar Tony.
"Engga, gapapa kok Ton," Steve segera meninggalkan Tony. Steve tidak mau menambah luka dihati nya, hatinya cukup perih sekarang menahan semua perasaan itu sendirian.
"Steve, kalo lo gini gara gara gue, gue mohon hentikan Steve. Gue udah sama Pepper, gue gamau lo tersakiti. Lupain perasaan lo sama gue, gue yakin lo bisa nemu yang lebih baik dari gue," ucap Tony.
"Lo pikir mudah? Lo pikir mudah gue bisa ngelupain perasaan itu? Tidak Tony! Tidak mudah! Lo gatau bagaimana perasaan gue tau lo udah pacaran sama Pepper, sakit Tony. Lo gatau gimana rasanya mencintai tanpa dicintai," bentak Steve. Steve tidak bisa menahan rasa sakitnya. Ia sekarang benar-benar tidak bisa berpikir, kata kata Tony yang baru saja ia ucapkan benar benar menyakiti hatinya.