
Jantung Bucky mendadak berdegup kencang. Ia tidak tau mengapa jantungnya berdegup kencang saat Sam memeluknya.
Bucky meluapkan semua kekhawatiran nya di dalam pelukan Sam. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sosok seperti Sam.
Entah apa yang terjadi pada Sam setiap ia berada di dekat Bucky, jantungnya berdegup kencang.
"Buck, lo tenang aja gue yakin Tony gaakan apa-apa," ucap Sam.
"Ya, thanks," ucap Bucky.
Sedangkan Steve dan Tony masih berusaha mencari jalan keluar. Tempat demi tempat sudah mereka lewati. Tapi tetap mereka sama sekali tidak menemukan jalan keluar.
Sudah 2 jam mereka berjalan dan mereka tidak menemukan jalan keluar. Steve sudah tampak lelah, mungkin efek tidak tidur seharian.
Tony yang melihat Steve lemas menjadi tidak tega. Steve seperti ini karena menggantikan dirinya berjaga kemarin malam. Steve memang menyebalkan tapi jauh didalam Steve sangat sangat mulia.
"Steve, lebih baik lo istirahat dan tidur dulu disini gue yang jaga," ujar Tony.
"Gausah, gue ga ngantuk kita cari jalan aja. Semakin kita cepat cari jalan keluar semakin cepat kita keluar dari hutan ini," Steve sebenarnya ingin sekali tidur sekarang, tapi memikirkan nasibnya dan pria yang ia cintai, Steve tidak mungkin bisa tidur nyenyak.
"Gaada penolakan! Gue gamau tau lo harus tidur!" Perintah Tony dengan nada yang cukup tinggi.
"Baiklah kalau begitu," Steve akhirnya mengikuti kata-kata Tony.
Kedua pria itu segera duduk diatas batang kayu yang besar dan panjang. Steve segera membaringkan tubuhnya di kaki Tony.
Dalam beberapa detik, Steve langsung tertidur. Tony menatap mata biru Steve yang sangat indah. Tony seakan terhipnotis dengan keindahan mata Steve.
Tony tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, melihat Steve seperti ini membuat dirinya tidak bisa melepaskan pandangan nya dari pria tampan itu. Steve terlalu tampan, mata biru bagaikan laut itu benar benar membuat dirinya terpesona.
Tony tidak pernah berpikir kalau dirinya bisa seperti ini jika berada didekat Steve. Padahal ia membenci Steve saat pertama kali bertemu.
Tony yang tidak tahan langsung menggerakan tangannya ke arah pipi Steve dan mengelus nya pelan.
2 jam berlalu, Steve terbangun dari tidurnya. Tony yang masih terbangun sedari tadi langsung tersenyum melihat Steve.
"Thanks for protecting me," ucap Steve pelan.
"Gue ga ngerasa ngelindungin lo, orang gaada apa-apa disini," ujar Tony.
Tony mengambil sesuatu dari tasnya, kompas. Tony ternyata menyiapkan kompas didalan tasnya. Ia tidak menyadari itu, saat tadi ia hendak mengambil minum ia melihat kompas didalam sana.
"Gue ada kompas, kita bisa keluar dari sini," ucap Tony.
"Bagus! Ayo kita pergi mencari jalan," Steve dan Tony segera berjalan.
SKIP: Malam
Hari sudah malam, mereka masih terus berjalan mengikuti arah kompas. Hingga tiba-tiba ada suara serigala melolong, Steve dan Tony ketakutan.
Tapi mereka tetap melawan ketakutan itu agar bisa keluar dari hutan, ditengah jalan ada dua ekor serigala berada didepan mereka. Steve dan Tony berjalan mundur, dan serigala-serigala itu mendekat pada mereka.
Tiba-tiba muncullah seorang pria dan pria itu mengusir serigala-serigala yang menyerang Steve dan Tony.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya nya setelah mengusir serigala-serigala itu.
"Tidak, terima kasih," ujar Steve.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya pria baik itu.
"Kami tersesat," jawab Steve
"Ah tidak usah terima kasih tuan," ujar Steve.
"Seriusan? Aku tidak keberatan kalian tinggal dirumahku," bujuk pria itu lagi.
"Tidak, kami tidak apa-apa terima kasih banyak," tolak Steve halus.
"Baiklah kalau begitu, berhati-hati lah," pesan pria itu dan Pria itu segera pergi dari sana.
"Jadi bagaimana apa kita akan melanjutkan perjalanan? Atau mendengar nasihat pria itu?" Tanya Tony.
"Kita ikutin saja apa kata pria itu, lo tunggu disini gue cari kayu bakar," saat Steve hendak pergi meninggalkan Tony. Tony menarik tangan Steve.
Steve meghentikan langkahnya lalu ia menatap Tony, mendadak mereka tidak bisa berbicara apa-apa. Steve dan Tony, mereka menatap satu sama lain. 1 detik, 2 detik, 3 detik.
Mereka pun tersadar, seketika pipi mereka memerah.
"A..ada apa?" Steve sangat gugup sekarang.
"Jangan tinggalin gue sendirian. Gue takut,"ucap Tony dengan nada yang juga sama gugup nya dengan Steve.
"Tenang lah gue cuma bentar," Steve segera pergi meninggalkan Tony untuk mencari kayu bakar.
5 menit kemudian Tony kembali dengan setumpuk kayu bakar, untungnya ia masih ada stok korek api. Jadi mereka masih bisa menyalakan api disana.
Malam kedua di hutan bersama Steve. Tony sudah mulai terbiasa dengan Steve, awal nya Tony yang selalu berbicara pada Steve dengan nada yang ketus kini Tony sudah mulai melembut.
Steve dan Tony, 2 pria yang awalnya saling membenci kini saling memendam perasaan satu sama lain.
Benar ternyata, cinta itu selalu saja datang dengan cara yang unik. Ia bisa muncul dari sebuah kebencian.
Steve berharap hubungannya dan Tony bisa baik seperti ini. Kalaupun memang mereka tidak bisa saling memiliki, setidaknya memiliki hubungan yang baik dengan Tony saja sudah lebih dari cukup untuk Steve.
"Gue laper, kalau udah malam bakalan susah nyari ikan, apalagi kita ga tau tempat ini," keluh Tony.
"Tunggu sebentar," Steve mengambil sesuatu dari tas nya. Satu bungkus mie instant
"Gue ada mie tapi cuma sebungkus," ujar Steve.
"Gapapa lo makan aja," ujar Tony.
"Kita makan bareng, gue kebetulan ada panci kecil sama piring, garpu," Steve segera mengeluarkan panci kecil, dan segera memasak air untuk memasak mie.
5 menit kemudian mereka selesai memasak mie, mereka memakan mie itu bersama. Terkadang Steve iseng diam-diam menyuapi Tony.
Setiap Steve menyuapkan makanan ke mulut Tony, jantung Tony terus berdegup kencang.
"Udah ah, gue gamau disuapin Steve! Gue udah besar!" Kesal Tony.
"Sekali lagi," Steve segera menyuapi Tony, Tony tersenyum menatap Steve.
Mata Steve tidak bisa lepas dari senyuman Tony, mendadak ia menarik Tony dan mencium bibirnya. Tentu saja Tony terkejut, tapi ia menikmati ciuman itu. Bahkan ia membalas ciuman itu.
2 detik kemudian Steve dan Tony melepas ciuman itu. Pipi mereka memerah. Tony pasti akan memarahi Steve jika ia menciumnya seperti ini, tapi anehnya Tony tidak bisa marah. Ia suka ciuman Steve.
"Maaf maaf sumpah gue ga sengaja! Maafin gue ton," Steve tampak bersalah mencium Tony secara tiba-tiba.
"Eng...engga a..apa apa," ujar Tony Gugup.
Setelah kejadian itu tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara, suasananya menjadi canggung.