
Steve berjalan menuju sebuah sungai, Steve akui ia tidak tau tempat ini awalnya. Setelah ia berjalan beberapa menit ia tersadar, ini adalah jalan masuk ke sungai dekat daerah perkemahan mereka.
Steve tentu saja mengetahui tempat ini, ia segera duduk di hamparan rumput yang luas seraya memandang air sungai yang mengalir dengan tenang.
Pura-pura tidak mencintai Tony, ya itulah yang harus dilakukan Steve. Walau itu berat, tapi Steve harus melakukannya. Percuma dirinya mencintai seseorang yang tidak mungkin menjadi miliknya.
Duduk dihamparan rumput ini membuatnya kembali teringat kenangan nya bersama Tony ditempat ini sebelum mereka tersesat di hutan selama 2 hari. Ia ingat bagaimana dirinya dan Tony mengobrol waktu itu, walau kata-kata Tony tidak sehangat selembut saat mereka tersesat.
Ditengah heningnya tempat itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat kepadanya. Langkah kaki itu semakin mendekat lalu 5 menit kemudian langkah kaki itu berhenti.
Steve merasa ada seseorang menepuk pundaknya, Steve pun mengalihkan pandangannya dan ternyata itu Tony.
"Steve, terima kasih telah mencintai gue. Tapi percayalah, lo pasti bisa dapat yang lebih baik dari gue, gue udah punya Pepper Steve, gue gamungkin bisa ninggalin dia. Mungkin kita bisa jadi sahabat?" ucap Tony.
"Ya gue tau Tony, dan ya gue rasa tidak apa-apa kita menjadi sahabat," Hati Steve sakit mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin dia menjadi penghancur hubungan Pepper dan Tony. Kalau ia melakukan itu, sama saja ia tidak mencintai Tony.
Jika memang dirinya dan Tony tidak ditakdirkan bersama, ia tidak bisa memaksa dan mengubah takdir.
"Thanks udah menghargai hubungan gue sama Pepper," ucap Tony.
"Ya, btw gue denger sahabat-sahabat yang lain manggil lo Tones, emang artinya apaan?" Tanya Steve berusaha merubah suasana.
"Oh itu, itu sebenarnya panggilan sayang. hanya orang-orang tertentu, sahabat gue, keluarga dan pacar gue yang boleh memanggil gue dengan panggilan itu. Kalo lo mau manggil gue Tones gue ga masalah," ucap Tony.
"Oh ya, lo ingat tempat ini?" Tanya Steve.
"Ya, ini sungai dekat perkemahan. Itu artinya kita bentar lagi sampe ke daerah perkemahan," ucap Tony senang.
"Ayo kita pergi sebentar lagi kita akan keluar dan lo bisa telfonan sama Pepper lagi," ucap Steve dengan hatinya yang sebenarnya masih sesak sedari tadi.
Tony dan Steve segera kembali untuk mengambil barang-barangnya lalu pergi ke arah perkemahannya.
Setelah mereka berjalan selama 3 menit, Sam dan Bucky lewat. Kedua pria itu sangat terkejut melihat Steve dan Tony.
"Tones?" Bucky terkejut.
"Hi buck," sapa Tony.
Bucky segera memeluk tubuh Tony, dan Tony membalas pelukan dari sahabatnya itu.
"Oh my god! Tony! Lo kemana aja? Lo gapapa kan?" Tanya Bucky yang cemas dengan sahabat kesayangannya itu.
"Steve?" Sam juga memeluk Steve.
"Gue gapapa Buck. Lo tenang aja," ucap Tony.
"Ayo kita kembali ke perkemahan, hari ini kita akan pulang," ajak Bucky.
"Ya," Steve, Bucky, Sam dan Tony segera pergi ke daerah perkemahan.
Setelah mereka sampai di perkemahan, semua orang terkejut melihat Steve dan Tony. Awalnya mereka berpikir kalau kedua pria itu sudah mati karena mereka tidak kembali selama 2 hari.
Tapi ternyata pikiran mereka salah, terbukti kedua pria ini masih sehat sehat saja. Setelah kembalinya Steve dan Tony, mereka segera pulang.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, mereka sampai di universitas mereka. Kebetulan saat itu sedang jam istirahat, sahabat-sahabat Tony dan Steve datang menghampiri mereka.
Raut wajah mereka terlihat panik setelah mendengar kabar kalau kedua pria itu sempat hilang.
Tony mulai menceritakan kejadian dihutan, apa yang ia lakukan bersama Steve selama mereka tersesat.
Strange tampak tidak suka mendengar Tony melakukan banyak hal berdua dengan Steve. Strange tau kalau Tony mencintai Pepper, tapi ia bukan seperti Steve yang menghargai hubungan mereka.
Strange orang yang nekat, ia akan berusaha untuk mendapatkan Tony. Dulu Strange pernah mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang Pepper. Ia sempat bertengkar dengan Tony karena hal itu, tapi setelah itu Strange meminta maaf dan Tony memaafkan nya. Karena ia percaya kalau sahabatnya itu bisa berubah.
Jujur terkadang Tony tidak suka dengan sikap Strange yang seperti anak-anak itu. Tapi Tony tetap yakin, semua orang pasti bisa berubah, dan tentu saja ia percaya pada Strange.
"Tones, gue duluan ya!" Pamit Steve tiba-tiba.
"Oh oke, thanks for last two days Stevie," ucap Tony.
"Siapa?" Tanya Steve bingung saat mendengar Tony memanggilnya dengan nama Stevie
"Nama panggilan spesial untuk lo dan cuma gue yang boleh panggil lo dengan nama itu, awas saja jika sampai ketahuan ada yang panggil lo Stevie selain gue!" Ancam Tony tentu saja dengan bercanda.
"Baiklah Tones," tawa Steve.
Natasha, Strange, Bucky, dan Thor terkejut dengan perubahan sikap Tony pada Steve. Setau mereka Tony sangat membenci Steve, bahkan melihat dia saja Tony sudah kesal.
Apalagi mereka sering mendengar Tony mengatakan ah anjir Steve lagi-lagi. Kenapa coba dia masuk kelas gue. Sumpah muak gue lihat muka dia ya, itulah kata-kata yang sangat sering Tony ucapkan.
Aneh, sikap Tony terhadap Steve benar-benar berubah 360° sekarang. Nada bicaranya pada Steve lebih hangat, lebih lembut. Bahkan sahabatnya sendiri tidak pernah mendengar Tony berbicara dengan mereka menggunakan nada yang ia gunakan saat berbicara pada Steve.
"Gue duluan ya, bye," pamit Steve.
"Bye," Steve cs pun pergi meninggalkan Tony cs yang masih dilanda kebingungan.
"Tones, tumben banget lo ngomong sama Steve pake nada lembut gitu? Bukannya lo benci Steve ya? Kok sekarang kek akrab gitu?" Tanya Natasha.
Tony hanya membalas pertanyaan Natasha dengan senyuman yang manis lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa sih sama sahabat lo nat?" Tanya Clint heran.
"Bukan sahabat gue, sahabat gue masih waras," canda Natasha.
"Eh anjir lu nat," Tony yang tidak sengaja mendengar langsung menghampiri Natasha.
"Habis elo aneh main pergi aja, lo ada apa sih sama Steve? Kepo nih gue," ucap Natasha.
"Paling jatuh cinta tuh. Secara kan mereka berduaan selama dua hari didalam hutan," ledek Thor.
"Enak aja lo, gue masih ada Pepper yaa. Gue cowo setia bukan kek elo, gonta ganti pacar mulu. Dari Jane, ke Carol entar ke siapa lagi," balas Tony.
"Biarin aja sih, gonta ganti pacar tandanya gue cowo playboy, kan keren tau," ucap Thor.
"Playboy aja bangga," sindir Peter.
"Iya donk," jawab Thor.
"Untung sahabat gue ya, kalo ga udah gue gorok," ujar Bucky.
"Wah Bucky sades," ujar Natasha.
Semua orang tertawa, itulah.sifat alami Thor. Ia selalu bisa membuat suasana menjadi lucu, dan seru.