
Hari pun berganti menjadi pagi, Tony masih setia tidur dipundak Steve. Lalu bagaimana dengan Steve? Ia tampak lelah, semalaman ia tidak tidur untuk menjaga Tony.
Sebenarnya mereka sudah membuat janji untuk gantian jaga. Tapi saat giliran Tony berjaga, Steve tidak membangunkan Tony. Ia kasihan dengan Tony, Tony tampak lelah jadi jam jaga Tony Steve yang menggantikan.
Steve sungguh perhatian dengan Tony, ia benar-benar mencintai pria kecil yang sedang tidur itu.
Terkadang ia sempat berpikir, bagaimana dirinya bisa menyukai Tony, padahal awal mereka bertemu Steve sangat tidak menyukai Tony.
Mereka saling membenci lalu salah satu diantara mereka mulai merubah perasaan benci itu menjadi cinta.
Tony terbangun dari mimpi indahnya, ia menatap Steve lalu Steve yang melihat dirinya bangun langsung tersenyum manis.
"Morning Tony, how's your sleep?" Suara Steve terdengar sangat lemah. Ia sangat lelah karena tidak tidur seharian, selain itu ia juga lapar karena stok makanan terakhirnya sudah ia berikan ke Tony kemarin.
"Morning Steve, lo keliatan lelah dan pucat. Lo ga tidur semalaman?" Tony sudah dapat menebak kalau Steve tidak tidur semalaman.
"Tidur kok bentar," bohong Steve, ia tidak mau mengatakan pada Tony kalau dirinya tidak tidur.
"Bohong! Muka lo pucat terus lo lelah banget keliatannya," Ketahuan sudah, Steve tidak bisa berbohong lagi.
"Lo kenapa ga bangunin gue aja sih Steve? Kan gue bisa gantiin lo jaga. Kita juga udah buat jadwal jaga bergilir kan?" Tanya Tony.
"Lo keliatan lelah banget, gue gatega," Deg! Jantung Tony mendadak berdegup kencang mendengar perkataan Steve.
Tony tidak menyangka Steve begitu perhatian dengan dirinya (Tony). Padahal, Steve hanyalah temannya ia bisa seperhatian itu.
Entah apa yang terjadi pada Tony, Tony tampak mulai menyukai Steve. Tentu saja ini benar-benar diluar akal pikiran Tony.
Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada laki-laki? Selain itu laki-laki yang ia cintai justru adalah laki-laki yang pernah ia benci.
Ini benar-benar aneh. Tony merasa dirinya sudah gila sekarang. Ia gay? Tidak ia rasa ini hanyalah suka sebagai teman tidak lebih.
Tiba-tiba Steve memegang perutnya, perutnya sakit gara-gara tidak makan semalaman. Steve ada maag jika ia tidak makan ia akan merasakan sakit perut.
Tony yang menyadari Steve memegang perutnya menjadi heran dengan prilaku Steve.
"Lo kenapa?" Tanya Tony.
"Engga gue gapapa," jawab Steve berbohong.
"Lo kek lagi nahan sakit? Perut lo sakit?"tanya Tony.
"Tidak tidak," Steve masih mencoba berbohong.
"Gausah bohong Steve! Oh ya lo gamakan kan tadi malam? Lo tunggu disini gue bakal cari ikan, didekat sini ada sungai gue pernah ga sengaja lewat," Tony segera beranjak pergi dari sana, lalu Grep! Tangan Steve menarik tangan Tony.
Tony segera menatap Steve, pria itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Gausah! Bahaya, gue masih bisa tahan," ucap Steve.
"Engga! Gaada tahan-tahan pokoknya lo tunggu disini, nanti repot kalo lo kenapa-kenapa," ucap Tony sarkastik.
Tony segera pergi. Steve tersenyum kecil, ternyata Tony punya rasa perhatian yang besar.
Walaupun ia tidak menampakan rasa perhatian itu. Steve percaya Tony adalah pria yang sebenarnya sangat perhatian, hanya saja caranya berbeda.
Tony memang sudah tampak bisa menerima Steve. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal dipikiran Steve. Apakah Tony mencintainya seperti dirinya?
Steve berharap Tony memiliki perasaan yang sama untuknya, terkadang cinta itu memang susah ditebak ya?
Tak lama kemudian, Tony kembali dengan membawa 4 ikan yang cukup besar.
Tony segera membakar ikan itu, kebetulan Tony membawa tas dan di tas itu ada garam dan kecap. Sebenarnya yang membawa garam dan kecap itu Steve, hanya saja Tony ingin membawanya untuk berjaga-jaga kalau ternyata Steve lupa membawanya.
"Hey, lo mau gue bantu ga?" Tawar Steve.
"Ga, lo istirahat aja. Kalo lo berani bantu gue gajadi gue bakarin ikan,"ancam Tony.
Steve pun mengikuti apa mau Tony lalu ia membiarkan Tony membakar ikan.
***
Keadaan di perkemahan kini sangat dihebohkan dengan kabar hilang nya Steve dan Tony.
Para dosen sudah mengerahkan berbagai cara untuk mencari Steve dan Tony tapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda dari Steve dan Tony.
Bucky dan Sam tidak tau masalah ini, dari kemarin mereka memang melihat semua orang tampak sedang membicarakan sesuatu. Mereka hanya berpikir yang mereka bicarakan adalah berita yang tidak penting.
"Sam, kok Steve sama Tony belum pulang ya dari hutan? Gue khawatir mereka kenapa-kenapa," ucap Bucky di pagi yang cerah.
"Iya lo benar, tapi kita pikir positive aja lah,btw keluar yuk," ajak Sam.
Bucky mengangguk. Mereka segera pergi keluar untuk menghirup udara segar di hutan.
Di tengah jalan, mereka secara tidak sengaja mendengar dua orang wanita sedang mengobrol.
"Seriusan lo? Steve sama Tony hilang? " ujar salah satu wanita.
"Iyaa mereka belum bisa ditemukan,"
Mendengar perkataan itu Bucky dan Sam terkejut. Mereka segera menghampiri kedua wanita itu.
"Maaf, tadi kami ga sengaja denger pembicaraan lo sama teman lo. Kami dengar Steve dan Tony hilang, apakah benar?" Tanya Sam.
"Seriusan lo berdua gatau? Bukannya lo berdua sahabat akrabnya Steve sama Tony?" Salah satu wanita itu heran mendengar pertanyaan Sam.
"Engga, kami gatau," tambah Bucky.
"Dari kemarin siang sampai pagi ini Steve dan Tony belum kembali ke perkemahan, para dosen udah berusaha mencari tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Steve dan Tony," ucap wanita itu.
"Apa? Lo pasti bercanda!" Bucky terkejut, ia benar-benar cemas dengan Tony sekarang.
"Engga kami gabercanda," jawab wanita itu.
"Baiklah terima kasih," Sam dan Bucky segera pergi ke tenda mereka dan mengambil HP mereka.
Bucky berusaha menelfon Tony dan Sam berusaha menelfon Steve, di daerah perkemahan masih mendapatkan sinyal walau tidak begitu kuat.
"Tones, please angkat telfon gue," ucap Bucky.
Ternyata Tony tidak mengangkat telfonnya.
"Diangkat Sam?" Tanya Bucky.
"Keknya mereka gaada signal deh disana," ujar Sam.
"Gimana ya? Tones, Lo kok bisa hilang sih?" Air mata Bucky mulai merembes keluar.
Tony adalah sahabat dari kecilnya, ia sangat menyayangi pria itu. Bahkan Tony sudah dianggap seperti adiknya sendiri, jika ia kehilagan Tony maka Bucky merasa dirinya gagal sebagai sahabat yang melindungi sahabatnya.
Bucky tidak ingin kehilangan Tony, Tony segala-galanya bagi Bucky.
Sam yang melihat Bucky menangis segera memeluk Bucky dan memberikan ketenangan padanya.