He's mine

He's mine
Part 4



Mereka pun menyelesaikan makan siang mereka. Setelah selesai dosen menyuruh mereka mulai mencari bahan dari hutan.


Steve dan Tony mulai melangkah ke dalam hutan. Mereka menelusuri hutan yang rimbun dan sepi. Mereka menggunakan jaket karena didalam hutan suhunya sejuk, selama perjalanan di hutan tidak ada satupun yang berbicara.


Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tony mendekati sebuah pohon kayu yang cukup besar dan rindang.


Ia penasaran bagaimana keadaan didalam sana, saat Tony hendak pergi melewati pohon itu Steve menahan tangannya.


"Lo mau kemana?" Tanya Steve.


"Bukan urusan lo," Tony berusaha melepaskan tangannya tapi Steve menggenggam tangan Tony dengan kuat.


"Jangan kesana! Dosen udah bilang gaboleh lewat dari pohon ini kan? Pohon ini udah ada tandanya!" Ujar Steve.


"Lo siapa gue? Lo ga berhak ngelarang gue!" Setelah bersusah payah, Tony melepas genggaman tangan Steve dan ia berhasil.


Tony segera berlari lebih dalam ke hutan, Steve bingung harus bagaimana jika ia membiarkan Tony. Dia takut Tony kenapa-kenapa. Tunggu dulu, ada apa dengan nya? Kenapa dia mengkhawatirkan Tony.


Tony bukan siapa-siapanya dia bisa jaga diri dia sudah besar, Steve akhirnya pergi kembali ke tenda. Di tengah jalan, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan Tony.


Akhirnya Steve memutuskan untuk mencari Tony, Steve segera masuk lebih dalam ke hutan.


***


Tony berjalan terus tanpa arah. Ia suka saat saat sendirian seperti ini, Tony adalah pria yang nekat. Ia tidak memikirkan dulu bagaimana bahaya nya berkeliaran sembarangan dihutan.


20 menit berjalan, Tony menemukan sebuah hamparan rumput yang luas ada beberapa bunga-bunga di sana. Tempat itu sangat indah, Tony memilih untuk duduk sejenak dibawah pohon yang rindang sembari menikmati suasana tenang hutan.


Setelah Tony merasa cukup refreshing nya ia segera pergi dari sana untuk kembali ke tenda.


Ia berjalan, pohon demi pohon ia lewati


15 menit sudah ia berjalan tapi ia tidak menemukan jalan keluar.


"Jalan keluarnya mana ya? Apa disana?" Tony segera pergi ke sebuah jalan yang pohonnya tidak terlalu rindang.


Setelah ia berjalan kira-kira 5 menit ia sampai ke sebuah hamparan rumput yang luas. Ia sadar kalau itu adalah hamparan  rumput dimana tadi ia duduk dibawah pohon.


Tony tersesat! Wajah Tony pucat, ia ketakutan. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore ia sudah 2 jam dihutan.


"Gimana nih gue tersesat," Tony yang tidak punya harapan duduk kembali dibawah pohon yang rindang. Berharap ada yang menolongnya.


~Steve~


Steve sedang mencari Tony, sedari tadi ia memanggil nama Tony tapi tidak ada jawaban.


Steve cemas dengan Tony, ia takut Tony kenapa-kenapa.


Sayup-sayup terdengar sebuah suara yang berasal dari semak-semak. Semak itu bergerak, Steve yang penasaran segera mendekati semak-semak itu.


Tiba-tiba muncul ular dari dalam semak-semak itu, ular itu mendekati Steve.


Steve sangat takut ular ia berlari menjauh dari ular itu, dan ular itu mengejar Steve. Steve terus berlari tak tentu arah.


Steve sudah tidak tau dia berada dimana sekarang.


Saat Steve berhenti mengambil nafas, ia tidak melihat ular itu lagi. Ular itu sepertinya kehilangan jejak, Steve menghela nafas lega.


"Gue dimana ya? Gue lupa jalan pulang," lalu tiba-tiba ia melihat ada hamparan rumput yang luas.


Steve yang penasaran segera masuk ke hamparan rumput itu. Ia berjalan dan tiba-tiba ia melihat sosok pria yang sedang tertidur di bawah pohon.


Sedang apa pria itu disini? Batin Steve. Steve menghampiri pria itu dan ternyata itu Tony! Steve terkejut melihat Tony


"Tony! Tony!" Steve membangunkan Tony dan Tony terbangun ia juga terkejut melihat Steve.


"Steve ngapain lo disini!" Bentak Tony.


"Lo sendiri ngapain?" Tanya Steve.


"Gue.. gue cuma pengen jalan-jalan aja," Tony berbohong, ia terlalu gengsi mengatakan kalau dia tersesat.


"Gausah bohong lo kesesat kan?" Tanya Steve.


"Engga, gue tau jalan pulang," jawab Tony.


"Tunjukkan!" Tantang Steve.


Tony terdiam, Steve mengetahui kalau dirinya sedang berbohong.


"Jujur lebih baik," Steve segera berdiri dan beranjak dari sana. Tony lalu menghentikan Steve.


"Lo mau kemana? Lo gamau ninggalin gue kan?" Tanya Tony.


"Kita cari jalan keluar bareng," ucap Steve.


"Baiklah," Tony dan Steve segera berjalan menelusuri hutan.


***


Hari sudah semakin sore, sebentar lagi matahari akan terbenam dan mereka sama sekali belum menemukan jalan keluar mereka hanya berputar-putar di hutan itu.


Tony menyesali tindakan bodohnya, harusnya ia mendengarkan Steve. Jika ia mendengarkan Steve. Dirinya dan Steve tidak akan tersesat seperti ini.


"Gue cape, istirahat dulu yuk," ajak Steve.


"Baiklah," Tony dan Steve segera duduk dibawah pohon.


Keheningan terjadi diantara mereka, hingga tiba-tiba Tony membuka pembicaraan.


"Lo kenapa bisa tersesat?'" Tanya Tony.


"Gue nyariin elo, elo sih nyusahin, pake acara masuk ke hutan segala," komentar Steve.


Tony yang tidak terima dengan kata-kata Steve segera melawan perkataan Steve.


"Ngapain lo nyariin gue? Salah lo sendiri mau nyariin gue!" Bentak Tony.


Steve menghela nafas, ia tidak ingin berdebat sekarang.


"Gue khawatir sama elo Tony! Gue suka sama lo," ucap Steve.


"Apa?" Kaget Tony.


"Lupakan! Gue pengen temenan sama lo Tony," ucap Steve.


"Steve, gue rasa kita bisa mencobanya, " ucap Tony sembari tersenyum.


"Benarkah? Thanks! Btw, maaf soal waktu itu, memang gue yang salah,"ucap Steve.


"Lupakan," ucap Tony.


"Lo masih sanggup cari jalan keluar ga?" Tanya Steve.


Tony tidak menjawab badannya sangat lemas sekarang, ia belum makan. Tadi siang ia tidak makan, karena Tony malas makan waktu itu.


"Wajah lo pucat Ton! Lo belum makan ya?" Cemas Steve.


"Belum," Steve segera mengambil kotak makan yang ada didalam tasnya dan didalam kotak makan itu ada 3 buah roti. Cukup untuk menahan lapar.


"Makan ini dulu deh," ujar Steve.


"Gausah," ujar Tony.


"Makan, lo bisa sakit. Bahaya," ujar Steve.


"Thanks," ucap Tony.


Hari pun mulai malam, mereka masih belum menemukan jalan keluar.


Suhu dihutan sudah mulai dingin, Steve mencari kayu dengan senternya lalu membuat api unggun.


Mereka banyak mengobrol sekarang, dibanding kemarin. Mereka sudah tampak akrab.


1 jam


2 jam


3 jam


Tony mulai lelah, ia mengantuk. Ia menaruh kepalanya dipundak Steve lalu tertidur.


Steve menatap Tony yang sedang tertidur dipyndaknya, sesekali ia mengelus pipi Tony.


Asal lo tau ton, sebenarnya yang gue bilang tadi benar. Gue suka sama lo, gue cinta sama lo. Tapi gue gayakin lo punya perasaan untuk gue. Gue cuma bisa mencintai lo dalam diam, batin Steve.