
Setelah mengatakan hal itu, Steve langsung pergi meninggalkan Tony. Tony tidak tau ada apa dengan Steve, ia benar-benar aneh. Tak biasanya Steve seperti ini, Steve yang Tony kenal adalah Steve yang lembut, dan tidak emosional.
Tony ingin mengejar Steve, saat ia hendak mengejar Steve. Sebuah mobil berhenti di pinggir tempat itu, dan Tony sangat kaget saat melihat pengendara mobil itu, pengendara mobil itu ternyata adalah Pepper. Pacarnya, gadis yang ia cintai.
Saat ia hendak menghampiri Pepper, seorang pria datang menghampiri Pepper. Tony yang penasaran segera mendekat dan sembunyi dibelakang pohon yang besar.
Pria dan gadis itu sedang bercakap-cakap, Tony tidak sengaja mendengar kata-kata persiapan nikah. Siapa yang ingin menikah? Batin Tony.
Tony yang teramat penasaran segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri mereka. Pepper terkejut melihat Tony.
"Tony, kau sedang apa disini?" Tanya Pepper.
"Jalan-jalan, uhm permisi bolehkah aku berbicara dengan Pepper sebentar?" Tanya Tony pada pria itu.
"Ya tentu," Tony dan Pepper segera pergi agak jauh dari tempat pria itu. Sungguh Tony tidak menyangka ia akan kembali bertemu dengan gadis yang ia cintai.
"Akhirnya kau kembali sweetheart, aku merindukanmu," ucap Tony.
"Tony, maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi," DEG! Hati Tony bagai tertusuk jarum, awalnya ia berpikir kalau dengan kembalinya Pepper. Tony akan mendapatkan kembali kebahagiaannya, tapi ternyata itu salah. Justru ia mendapatkan luka yang begitu perih.
"Tapi kenapa?" Tanya Tony.
"Gue udah mau nikah Tony, pria itu adalah calon suami gue. Gue balik karena gue mau nikah sama dia, " jawab Pepper.
"Apa? Kenapa lo ngelakuin ini?" Tanya Tony tidak percaya.
"Maaf Tony, gue pergi dulu ya," Pepper segera pergi menghampiri calon suaminya, saat ia hendak pergi Tony menahan tangannya.
"Jelasin dulu sama gue!" Ucap Tony.
"Apa yang harus dijelasin lagi sih Ton? Lo gapernah contact gue lagi. Seakan lo menghilang, gue contact lo gapernah balas, gue cape," ya akhir akhir ini Tony memang jarang menelfon Pepper, ia lebih sering pergi bersama sahabat-sahabatnya ditambah lagi ia tersesat di hutan, tidak ada signal. Setelah keluar dari hutan, Tony lebih banyak menghabiskan waktu dengan Steve.
"Gue minta maaf kalo gue emang udah nyakitin lo, kasih gue kesempatan," sesal Tony.
"Gue maafin, tapi gue gabisa kasih lo kesempatan ke dua, gue akan nikah lusa," ucap Pepper lalu pergi dari sana.
Tony hanya menatap kepergian Pepper. Hatinya sakit, karena Pepper telah meninggalkannya, dan ini terjadi juga memang karena salah Tony yang tidak mau mengabari Pepper akhir akhir ini.
Tony segera beranjak dari sana, lalu teringat sebuah nama dibenaknya. Ya, Steve Rogers. Ia harus mengejar Steve, dan meminta maaf. Ia sadar perkataannya tadi benar benar menyakiti hati Steve.
Tony berjalan di tengah ramainya jalan raya, ia terus mencari keberadaan pria itu. Setelah dia berjalan kira-kira 5 menit, Tony melihat sosok pria tinggi sedang duduk di sebuah kafe. Tony segera menghampiri pria itu, dan ya pria itu adalah Steve.
Steve melihat Tony sebentar lalu kembali fokus pada minumannya ia sama sekali tidak menyapa Tony.
"Hi Steve," sapa Tony.
"Lo ngapain disini?" Tanya Steve dingin.
"Steve, maafin gue ga bermaksud ngomong gitu. Sumpah, gue cuma gamau lo tersakiti lagi, maafin gue Steve. Gue mohon," ucap Tony.
Steve terdiam ia sebenarnya masih tersakiti dengan perkataan Tony tapi ia tidak bisa lama lama marah dengan pria itu. Ia sangat mencintai pria itu.
Steve menganggukkan kepalanya, ia memaafkan Tony.
Steve tersenyum lalu mengangguk, Tony sudah baikan sama Steve tapi raut wajah Tony belum berubah. Tetap masih sedih, ia masih memendam rasa sakit nya karena putus dengan Pepper.
"Tones, lo kenapa?" Tanya Steve.
Tony tidak tau harus menjawab apa, ia takut menyakiti hati Steve lagi. Tapi dilain sisi ia tidak tega mengabaikan Steve. Steve telah berkorban banyak untuknya, sudah waktunya ia berpaling dari Pepper. Steve adalah pria yang tulus mencintainya,berharap saja Steve masih membuka hatinya untuk Tony.
"Gue, habis putus sama Pepper," ucap Tony akhirnya.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Steve penasaran. Ada rasa senang dihatinya mengetahui hal itu, jika begitu tanda nya kesempatan mendapatkan Tony masih terbuka untuknya.
"Dia mau menikah dengan pria lain," ucap Tony.
"Apa?" Ada perasaan senang dihatinya, tapi dilain sisi ia kasihan pada Tony. Tony telah mendapatkan kebahagiaan, tapi mengapa kebahagiaan itu malah mengkhianatinya.
"Ya, gue ga nyangka sih dia bakal kek gitu. Steve," panggil Tony pelan.
"Ya?" Ucap pria itu.
"Apakah hati lo masih terbuka untuk gue?" Tanya Tony tiba-tiba.
Steve terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Masalah hatinya masih terbuka untuk Tony atau tidak Steve masih bingung.
"Gue rasa semua nya udah terlambat, maafin gue Steve. Gue pergi dulu ya," saat Tony hendak pergi, Steve segera menarik tangan Tony dan mencium bibirnya. Tony terkejut saat Steve mencium bibirnya, ia tidak menyangka Steve akan melakukan ini.
1 menit kemudian Steve melepas ciumannya dan menggenggam tangan Tony.
"Hati gue selalu terbuka buat lo Tones, gue bakal bantuin lo ngelupain Pepper, dan tentu gue masih mau nerima lo," ucap Steve.
"Benarkah? Thanks! " ucap Tony.
"Jadi? Kita jadian sekarang?" Goda Steve.
"Tentu saja Steve, " jawab Tony sambil tertawa kecil.
Steve tersenyum dan ia mencium Tony lagi, dan kali ini Tony membalas ciuman itu. Ciuman itu sangat lembut dan Tony menyukai ciuman itu. Setelah mereka kehabisan nafas mereka melepaskan ciuman mereka.
"I love you, moonlight," ucap Steve.
"I love you too, senjaku" ucap Tony.
"Hah senja? Kenapa senja?" Tanya Steve yang heran dengan panggilan sayang Tony.
"Kau seperti senja di sore hari, sangat indah. Karena itu aku mau memanggilmu senja," ucap Tony.
"That's cute," ucap Steve sambil tersenyum.
Steve kini bahagia, Tony, pria yang awalnya ia benci sekarang menjadi pacarnya. Dan ya, Steve tidak perlu merasa tersakiti lagi sekarang, Tony sudah menjadi miliknya. Steve berjanji ia tidak akan menyakiti pria itu.
Memang benar, tidak selamanya seseorang yang mencintai dalam diam akan selalu mencintai dalam diam.