
Hari- hari yang ku lalui tak pernah berbeda aku memcoba berdamai dengan keadaan masih berharap ada aku di hatinya. Kejadian tempo hari di cafe lambat laun mulai teralih kan setiap pagi aku masih dengan rutinitasku dan aku sendiri lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan bukan aku seorang wanita yang bodoh yang tidak bisa tegas dengan hidupku tapi aku selalu teringat ada orang-orang yang selalu mencintai dan menyayangi diriku jika saat ini aku menyerah betapa hancurnya hati orang tuaku dan juga mertuaku, biar ...biar lah aku diam untuk saat ini.
Gelak tawa terdengar dari luar cafe terlihat Marisa berdiri sambil terus tersenyum dengan sangat manis beberapa kali terlihat tertawa dengan sangat bahagia dan sesekali terlihat wajahnya memerah saat melihat itu pasti orang akan penasaran apa yang sedang gadis itu lakukan hingga dia terlihat sangat bahagia dan terlihat juga seorang pria yang tiba-tiba menyentuh rambutnya si pria pun juga ikut tertawa sambil sesekali berucap sesuatu hal yang membuat muka Risa berubah seperti udang rebus.
namun mereka tak menyadari bahwa di luar ada sesosok pria sedari tadi memperhatikan mereka ekspresi tidak bisa di tebak entah marah entah apa yang pasti seperti tidak bisa ditafsirkan.
'" dasar perempuan itu apa dia lupa kalo dia sudah menikah, kenapa dia begitu bahagia saat Dito menyentuh rambut nya dan dia dari tadi tak berhenti tersenyum, dia bahkan tidak pernah tertawa seperti itu di depan ku" pria itu terus menggerutu sendiri di dalam mobil dan ternyata Andre sedari tadi melihat itu semua dari dalam mobil.
Di dalam cafe
saat itu yang terjadi adalah Risa, Niken dan Dito sedang duduk bertiga dan membicarakan tentang rencana ulang tahun Dito yang di adakan lusa dan Niken berencana kan mengundang Risa sebagai tamu istimewanya. Tentu bukan hanya Risa yang di undang tapi seluruh karyawan cafe juga turut di undang akan tetapi kali ini Niken ingin melakukan sesuatu hal pada Risa Niken ingin tahu seperti hubungan Andre dan Risa lebih tepatnya adalah hati Andre.
"Risa lusa kamu datang ke tempat ku pagi-pagi ya ada sesuatu hal yang harus aku lakukan dan hal itu tidak mungkin terjadi kalo nggak ada kamu" celoteh Niken
" iya, mbak tenang aja nanti aku datang pagi-pagi kalo perlu abis subuh aku datang dech" jawab Risa dengan di sertai senyum.
" oh ya Risa ini ada hadiah dari kami buat kamu semoga kamu suka" kata Dito sambil menyodorkan kotak berwarna marron.
" apa ini mas Dito?"...
" ehm buka aja yang pastikan ntar kamu pakai y pas datang kepesta barang ini di pesan khusus oleh tunangan ku yang cantik ini lo ris..." jawab Dito sambil mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik di sebelahnya Niken dia orangnya.
Seketika senyum mengembang di bibir Risa lalu diambilnya sebuah jepit rambut denga ornamen yang membuat jepit tersebut terlihat begitu indah. dan tanpa menunggu Risa sudah tidak sabar ingin mencobanya namun terlihat kesusahan. Saat itu Dito segera berdiri untuk membantu Risa memakaikan jepit rambut tersebut dirambutnya tak lupa pula Dito memberikan pujian kepada karyawannya tersebut. Bahkan Niken pun ikut memuji dan itulah yang terjadi sebenarnya namun di dalam mobil Andre sudah berfikir yang macem-macem terhadap istri nya itu.
Lama Andre berdiam diri dalam mobil sempat dia berfikir u ntuk pergi saja tanpa masuk tapi itu tidak mungkin tadi saat di kantor mama udah mewanti-wanti agar Andre menjemput menantu tersayangnya itu.
" huuuffht....kalo bukan terpaksa, kalo bukan karena mama mungkin aku tidak akan ada disini" gumam Andre sambil melangkah kan kakinya dengan terpaksa menuju dalam cafe.
Didalam cafe terlihat Risa baru selesai melayani pelanggan dan tidak menyadari ada sesosok pria yang berdiri di depan pintu memperhatikannya.
" Risa...!!!" panggil seseorang dengan nyaring dan membuat Risa menoleh kearah sumber suara.
Risa begitu kaget dengan terpaksa dirinya tersenyum pada sosok tersebut yang tak lain adalah suaminya.
" kak Andre ngapain kesini, tadi manggil Risa ya? " tanya Risa balek kepada Andre.
" nggak aku nyari bini orang yang suka senyum-senyum sama sembarang laki-laki" jawab Andre dengan sewot.
" udah dech, tadi mama nelpon minta supaya jemput kamu'" masih dengan suara dingin nya Andre berkata.
" maaf merepotkan pekerjaanku belum selesai kalo kak Andre mau tunggu sebentar kalo tidak kak Andre duluan juga nggak papa" jawab Risa sambil menunduk.
"kamu itu y masih untung aku mau jemput kamu, jangan buat aku Kena msalah dech selesaikan pekerjaaanmu dan cepat kita pulang" jawab Andre masih dengan ada dinginnya.
Setengah jam kemudian Risa telah selesai dengan pekerjaannya dan mendatangi meja suaminya di lihatnya kopi di dalam cangkir tela tandas.
" Kak Andre mari kita pulang aku sudah selesai" kata Risa tak lupa senyum tak lepas dari bibirnya.
Andre hanya berlalu berjalan mendahului langkah Risa menuju parkiran cafe. Kini mereka telah berada dalam satu mobil pelan-pelan mobil melaju meninggalkan cafe dan hilang di diujung jalan. Lima menit, sepuluh menit masih hening di dalam mobil tak ada satu pun yang memulai pembicaraan Risa hanya menghela napasnya dan berbalik ke arah luar jendela suasana apa ini sungguh tidak nyaman. Namun tiba-tiba Andre mengeluarkan suaranya namun anehnya nada bicaranya seperti orang yang sedang di sulut emosi.
" hei kamu bisa tidak kamu itu menjaga sedikit perilakumu itu apa kamu lupa statusmu itu menantu Wijaya,jangan sembarang senyum dan tertawa dengan pria lain kalo ada yang mengenalmu bukan kah sungguh tidak pantas" ntah apa maksudnya dia berkata seperti itu bahkan nada bicaranya pun sungguh sangat membuat orang lain jengkel.
" tapi kak aku...." belum selesai Risa bicara Andre sudah memotong kata-katanya.
" Aku hanya mengingatkanmu jangan kamu mempermalukan keluarga Wijaya dan jaga sikapmu di depan umum" kini suara Andre lebih meninggi dari sebelumnya.
" iy kak, akan aku ingat maaf...." jawab Risa kini di sudut matanya telah penuh oleh butir-butir kristal yang sudah siap meleleh dan Risa hanya bisa menghela napas dan kini pandangannya kembali pada luar jendela.
Dalam hati Risa masih bingung hari ini dia tidak merasa membuat kesalahan kenapa sikap Andre seperti itu apa dia tidak pernah di anggap seperti manusia oleh Andre, Risa juga manusia biasa yang juga punya hati.
Kini mobil Andre sudah terparkir di garasi rumah Wijaya tanpa memperdulikan Andre lagi Risa berlalu meninggalkan Andre seorang diri. Didalam ruang keluarga di hempaskannya tubuh Andre sesekali dia memijit keningnya.
" oh Andre apa yang kau lakukan tadi dan kenapa kau harus marah bukankah dia itu bukan siapa-siapa ..." kini Andre merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinnya. Tapi senyum itu membuatnya marah, saat Risa tersenyum di depan pria lain.
Di kamar Risa segera membersihkan diri hatinya masih sebal dengan Andre tanpa tahu salahnya apa kenapa harus marah-marah bahkan risa tidak pernah mencampuri urusan Andre bahkan di saat Andre terang-terangan selingkuh di depannya.
" Aaargghhh....dasar pria menyebalkan, kenapa aku bisa sangat mencintaimu tidak ada gunanya aku marah lebih baik aku tidur" dibaringkan tubuhnya di atas sofa tempat biasanya dia tidur y Risa masih saja tidur di sofa sampai saat ini Andre masih tidak ingin berbagi ranjang dengan nya.
readers yang Budiman semoga novel ini bisa menjadi favorit kalian, jangan lupa klik favorit dan like juga sumbang komen nya.
terimakasih
😘😘😘😘