Ex-husband

Ex-husband
TETANGGA BARU



Bayangan wajah Alesha terus menari di benaknya, membuat Leon tidak bisa berhenti tersenyum. Cantik dan menarik. Baiklah, mungkin ini bisa dikatakan sebagai love at first sight. Leon tidak peduli sekalipun Alesha mengusirnya hanya karena ia bermata hazel. Memangnya kenapa dengan mata hazel?


Leon menyalakan lampu yang menggantung di atas meja. Mengambil selembar kertas putih, duduk dengan santai dan bersiap memainkan pensil-pensil kesayangannya.


Pria itu duduk menghadap meja. Mengukur seluruh sisi kertas menggunakan penggaris kecil, tidak lupa memberikan sebuah tanda titik sekitar 3 inchi dari bagian tepi. Lalu, double tape ditempel di sekeliling kertas sesuai tanda. Perfect!


Bayangan Alesha siap diimajinasikan di atas kertas. Jemari kokoh Leon mulai bergerak lincah. Membuat garis sesuai dengan sketsa wajah Alesha. Membentuk mata, hidung, bibir, dan telinga. Tidak sulit bagi Leon untuk mempertajam sketsa kelopak mata, iris dan pupil. Mata cokelat dengan bulu mata lentik menghiasinya. Alis tebal melintang di atasnya, semakin menambah daya tarik wanita itu.


"Binar matamu terlihat indah, Rose! I like it!" gumamnya.


Jemari Leon kembali menari di atas kertas, mempertajam bagian hidung Alesha, kemudian beralih ke bagian bibir yang terlihat sensual. Tanpa senyuman, memberikan kesan tak acuh, tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya.


Arsiran berlanjut pada rambut panjang yang tergerai dan tertiup angin. Leon menghentikan gerakan pensilnya. Mata terpejam, kembali mengingat pertemuannya dengan Alesha di tepi pantai. Serius, Leon tidak bisa melupakan aroma khas dari rambut indah itu.


Arsiran Leon beralih pada dress hitam dengan aksen bunga mawar berwarna merah. Nampaknya, wanita itu menyukai semua hal yang berhubungan dengan mawar. Tidak heran jika banyak rumpun mawar ditanam hampir di seluruh sudut halaman. Berbeda dengan halaman villa milik Leon, hanya ditumbuhi oleh pohon bougenville dan pakis.


Tak butuh waktu lama bagi Leon untuk menyempurnakan karya terbarunya. Wajah Alesha terpampang cantik di atas kertas. Pria itu tersenyum, dalam hati mengklaim bahwa ini adalah lukisan terindah yang pernah ia buat.


Jemari Leon bergerak membuang double tape di bagian tepi kertas. Sejenak dipandanginya wajah ayu itu. "Alangkah beruntungnya pria yang bisa mendapatkan hatimu, Rose! Dan akulah satu-satunya orang yang akan beruntung itu!"


Lukisan itu ditempel di dinding. Saat Leon berbaring di ranjang maka wajah Alesha berada dalam jangkauan mata. Siapa tahu dengan memandangi wajah Alesha sebelum tidur, maka Leon akan bermimpi indah dengan wanita itu. Hidup itu berawal dari mimpi, bukan? Sekarang boleh saja hanya bermimpi, siapa tahu nanti bisa menjadi kenyataan.


***


"Ada yang ingin Anda bicarakan, Tuan?" Albert duduk di depan meja kerja Darren.


Darren mendongak, mengalihkan perhatian dari laptopnya. Tersenyum singkat seraya membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


"Ya, aku ingin menanyakan bagaimana perkembangan proyek pembangunan hotel terbaruku di Pulau Teratai?" tanya Darren.


Albert mengangguk. Darren mempercayakan Albert untuk mengawasi proyek pembangunan hotel terbarunya. Hotel itu terletak di sebuah pulau kecil bernama Pulau Teratai.


Nantinya, Darren akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengelola pantai agar menjadi obyek wisata yang diminati oleh wisatawan. Darren bahkan sudah membicarakan proyek ini dengan biro perjalanan wisata di mancanegara, untuk mempromosikan surga tersembunyi di pulau kecil tersebut.


"Semuanya berjalan lancar, Tuan. Bangunan ini sudah setengah jadi. Hasil kerja mereka memuaskan." Albert mengambil sebuah amplop cokelat dan mengeluarkan isinya. Bermacam-macam foto dari seluruh sudut bangunan yang sudah hampir setengah jadi.


"Bagus, pastikan bahwa konstruksi bangunan dibuat sekokoh mungkin." Darren memperhatikan foto satu per satu. Tersenyum puas.


"Siap, Tuan!"


"Oh ya, satu hal lagi. Kau masih ingat konsep awal untuk hotel ini?"


"Tentu saja. Hotel bertema wanita dan bunga mawar?"


"Benar sekali. Aku ingin agar semua sudut hotel ditumbuhi oleh bunga mawar. Ingat, mawar asli, bukan imitasi. Lalu seluruh dinding juga harus mengusung konsep ini. Dinding berwarna putih dengan ornamen mawar. Di setiap kamar harus dipajang lukisan seorang wanita dan bunga mawar. Kau bisa menyewa pelukis professional untuk membantu menyelesaikan konsep ini."


Darren mengambil selembar kertas. Menulis beberapa point penting tentang konsep wanita dan bunga mawar itu.


"Jadi begini, Tuan. Saya mendapatkan informasi dari penduduk sekitar, bahwa ada seorang pelukis yang tinggal di villa dekat pantai. Jika Tuan tidak keberatan, saya ingin mengajaknya bekerja sama dengan kami."


"Pria atau wanita?"


"Seorang pria. Menurut mereka, hasil karyanya sangat bagus dan mendekati obyek asli. Tahun lalu, dia mengikutsertakan beberapa lukisannya pada pagelaran seni yang diadakan oleh masyarakat setempat. Banyak orang yang terkagum-kagum oleh lukisannya."


"Segera kontak dia, Albert! Aku mempercayakan semuanya padamu. Kau bisa bernegosiasi dengannya. Jika ada masalah, segera hubungi aku!"


"Siap, Tuan. Kalau begitu, saya undur diri. Saya akan segera menawarkan kerja sama pada pelukis itu."


Darren mengangguk. "Berikan foto-foto ini pada sekretarisku untuk dijadikan arsip!"


Usai kepergian Albert, Darren menyandarkan punggung ke kursi. Merentangkan kedua tangan untuk melepas penat.


Hotel berkonsep wanita dan bunga mawar. Ya, Darren ingin mempersembahkan ini untuk Alesha. Pria itu ingin membuktikan bahwa dia benar-benar serius mencintai Alesha dan ingin memperbaiki hubungan mereka yang sudah terlanjur hancur.


Apapun yang terjadi, dia harus mampu berjuang untuk menyatukan kepingan-kepingan hati Alesha. Membuat wanita itu percaya bahwa Darren akan melakukan apapun, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.


Mengusap wajah dengan kasar, penyesalan itu kembali menyeruak ke dalam dada. Seandainya sejak dulu Darren menyadari bahwa mereka saling mencintai. Tentu semua tidak akan menjadi seperti ini. Kalau saja Darren lebih peka. Menyakiti Alesha sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Hal yang sia-sia, bukankah lebih baik jika kata menyakiti itu diganti dengan menyayangi?


Ah, sudahlah. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Meraung sekeras apapun tidak akan menyelesaikan masalah. Sekarang, Darren hanya perlu bekerja keras untuk mengambil hati Alesha. Lagipula Darren percaya bahwa wanita itu amat mencintainya. Ini hanya soal waktu. Tunggulah sampai waktu menghapus seluruh luka di hati Alesha.


Tunggu dulu! Bagaimana jika ternyata waktu justru menghapus rasa cinta? Darren memejamkan mata rapat-rapat, tidak bisa membayangkan jika seandainya itu terjadi.


***


Alesha mengintip dari balik tirai jendela, memastikan bahwa tetangga bermata hazel itu tidak ada di halaman. Ia bosan mengurung diri di kamar sejak pagi. Semoga saja singa itu sedang tertidur dengan pulas di sore hari. Singa? Iya, maksudnya Leon!


Setelah yakin bahwa tidak ada tanda-tanda bahwa Leon akan mengganggunya, Alesha membuka pintu, melongokkan kepala, dan ... aman!


Huft ... Alesha mendesah lega. Merentangkan kedua tangan seraya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Akhirnya kau menampakkan diri juga, Rose!"


"Bukan dengan cara itu jika kau ingin melupakan seseorang! Semakin kau berusaha melupakan, maka tanpa disadari kau justru sedang menanamkan ingatan itu jauh ke dalam benakmu!"


"Jangan sok tahu! Siapa bilang aku sedang berusaha melupakan seseorang?" Alesha mencebikkan bibir.


Dalam satu gerakan, Leon kembali melompati pagar dan menghampiri Alesha. Pria tidak sopan, apa susahnya jika berjalan sebentar untuk memutari pagar dan masuk melewati pintu.


"Memang apa alasanmu tidak menyukai warna mataku? Hanya karena mataku berwarna hazel lalu kau membenciku tanpa alasan, begitu? Kau pikir aku yang meminta dilahirkan dengan warna mata ini, huh?"


"Tidak bisakah kau berhenti menggangguku? Aku tinggal di sini untuk mencari ketenangan, bukan untuk bertetangga dengan seseorang yang menyebalkan!"


Leon menaikkan kedua alis. "Nah, karena tinggal di sini, seharusnya kau sadar akulah satu-satunya tetangga terdekatmu. Jika ada sesuatu hal yang terjadi, memangnya kau mau minta bantuan siapa? Kau lihat di sekitar villa ini adalah hutan pinus."


Alesha mendesah. Kata-kata Leon ada benarnya. "Tapi bagaimana jika di sini kaulah penjahatnya?"


"Hoho ... sepertinya kau salah menilaiku. Bagaimana jika perkenalan kita mulai dari awal? Tenang saja, aku pria baik-baik."


Mengangkat bahu, lalu mempersilakan Leon duduk. Baiklah, Alesha tidak mempunyai pilihan lain. Lagipula tidak adil bagi Leon jika Alesha membencinya hanya karena wanita itu memiliki kenangan menyakitkan dengan pria bermata hazel.


"Namaku Leon. Aku memilih villa ini sebagai tempat tinggal karena tempat ini nyaman dan cocok untuk mencari inspirasi. Aku menyukai ketenangan." Leon memulai perkenalannya. "Tentang melarikan diri, ya aku memang melarikan diri dari keluargaku."


"Melarikan diri dari keluarga? Kenapa? Karena perjodohan?"


Pria itu tertawa lebar, menampakkan giginya yang putih dan rapi. "Bukan. Aku pergi karena Papa terlalu memaksakan kehendak agar aku menggantikan tugasnya untuk memimpin perusahaan."


"Lalu kenapa kau menolaknya? Wajar bukan jika orang tua ingin anaknya mandiri?"


"Tapi itu bukan passion-ku, Rose. Aku lebih menyukai duniaku!"


"Kau punya dunia sendiri?" Alesha mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Oke, jujur. Sebenarnya Leon adalah orang yang menyenangkan.


"Aku lebih suka berpetualang di alam bebas, memanjat gedung-gedung tinggi, mencari inspirasi untuk dijadikan sebagai obyek lukisan. Duniaku yang sesungguhnya berada di atas kanvas, bukan di balik meja berisi berkas-berkas perusahaan."


Alesha membelalakkan mata seraya tersenyum lebar. Merasa senang karena bertemu seseorang yang memiliki kesamaan passion. "Serius? Kalau begitu kita sama! Duniaku juga berada di atas kanvas!"


"Wow! Surprise! Sepertinya kita memang berjodoh, Rose!"


"Tapi aku tidak setuju dengan keputusan untuk lari dari keluargamu. Seharusnya kau menerima permintaan ayahmu, setidaknya agar mereka bahagia."


"Why? Aku tidak mungkin meninggalkan sesuatu yang sudah menyatu dengan jiwaku!"


Bertumpu pada siku, Alesha menopang dagu. Menatap Leon dengan tatapan serius. Oke, nampaknya wanita itu sudah mulai terbiasa dengan mata hazel di hadapannya. "Suatu saat nanti, jika kedua orang tuamu sudah pergi dari dunia ini untuk selamanya, kau akan menyesal karena tidak bisa membahagiakannya semasa hidup."


Leon terdiam, merenungi ucapan Alesha. "Kau benar. Tapi aku tidak bisa melakukan itu."


"Oke, mungkin saat ini kau belum bisa. Tapi aku berharap suatu saat nanti kau akan kembali pada mereka. Mereka yang sudah merawatmu sejak kecil, lalu setelah besar kau tega meninggalkannya? Percayalah, Leon. Keluarga adalah satu hal yang paling berharga di dunia ini."


"Baiklah, aku akan memikirkan itu nanti. Lalu, kau sendiri kenapa tinggal di sini? Setahuku villa ini adalah milik pria Italia."


"Signor Romano. Setahun ini aku belajar melukis padanya di Florence."


"Wow! Florence! Kota tempat kelahiran Renaissance? Itu keren, Rose! Dulu aku sempat berlibur ke sana, tetapi itu sudah lama. Apa kau juga mengunjungi Uffizi Gallery dan melihat karya beraliran Renaissance?"


Alesha mengangguk. "Allegory of Springs dan Birth of Venus yang dibuat oleh Botticelli, lalu The Annunciation oleh Leonardo da Vinci."


"Madonna of the Goldfinch oleh Raphael, Venus of Urbino oleh Titian, dan masih banyak lagi yang lainnya!" sambung Leon bersemangat. Tangannya bergerak meraih pot kaktus berukuran kecil di atas meja. "Jadi, apa yang membuat kau meninggalkan kota seni itu?"


Alesha menautkan jemarinya. Menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku melarikan diri masa lalu!"


Leon mengangguk seraya memutar-mutar pot kaktus. "Oke, jika nanti sudah siap, kau bisa menceritakan masa lalumu. Untuk melupakan masa lalu, kau tidak bisa melaluinya sendiri. Kau butuh teman untuk menguatkanmu, Rose! Dan aku dengan senang hati akan menjadi temanmu."


Kedua mata itu saling bertatapan. Alesha mencoba mencari ketulusan di mata Leon. Nampaknya, pria ini tulus. "Baiklah, Leon! Mulai detik ini kita berteman!"


Leon menjentikkan jari, matanya berbinar bahagia. "Nah, itu bagus. Oke, kalau begitu aku pulang dulu, sebentar lagi malam datang."


"Terima kasih, Leon!"


Pria itu bangkit dari kursi, bersiap pulang. "Oke, selamat sore, Rose! Jaga diri baik-baik. Kau tahu, pada malam-malam tertentu, dari hutan pinus akan terdengar suara jeritan yang menyayat hati ... " Leon mendekatkan wajah pada Alesha. " ... dan suara lolongan serigala yang mengerikan!"


Alesha tertawa. "Oh ya? Aku justru sedang mencurigai bahwa kau adalah salah satu anggota dari klan serigala di hutan pinus itu."


"Hoho ... Bisa jadi!" Leon tersenyum. "Bye, Rose! Kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk mengetuk pintu rumahku!"


Seperti biasa, pria itu melompati pagar kayu dengan lincah. Sekali lagi melambaikan tangan pada Alesha, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.


Alesha tersenyum, merasa lega. Ada sedikit beban yang terasa berkurang dari hatinya. Leon benar, Alesha membutuhkan teman untuk membantu melepas beban penderitaannya.


***