Ex-husband

Ex-husband
MAMA



Darren menghempaskan tubuh ke sofa. Menengadah dan menatap langit-langit ruang tamu. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia hampir saja lepas kendali.


"Bodoh kau, Darren!" Pria itu mengutuk diri sendiri. "Kau telah membuat Alesha ketakutan!"


Baiklah, Darren mengakui bahwa ia cukup teledor. Beberapa saat yang lalu, tidak seharusnya ia berada di dalam kamar Alesha, mengawasi wanita itu terlelap. Alesha pasti mengira bahwa dirinya sedang berhalusinasi.


Itu tidak benar, apa yang Alesha lihat adalah nyata. Pria bertelanjang dada itu memang Darren. Awalnya, Darren tidak menyangka bahwa Alesha akan terbangun di saat jam baru menunjukkan pukul dua pagi, dalam kondisi ketakutan.


Saat Alesha berjalan untuk menyalakan saklar lampu, Darren bergegas membuka pintu yang sebenarnya tidak tertutup rapat. Alesha tidak akan menyadari, karena saat itu kesadaran Alesha belum sepenuhnya terkumpul. Masih bingung membedakan antara hanya sekedar mimpi, ataukah nyata.


Keteledoran kedua yang dilakukan Darren adalah kenapa ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Alesha. Kerinduan itu telah membuat Darren kehilangan akal sehat, sehingga hawa nafsu dengan cepat menguasai pikirannya. Terlebih saat Alesha membalas pagutan Darren, kenikmatan yang mereka reguk, membuat Darren menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman.


Lalu, sekarang apa penilaian Alesha tentang Darren? Seorang pria gampangan yang suka mencium para wanita? Pria penyuka seks bebas? Oh, astaga, semoga Alesha tidak berpikir sejauh itu. Tidak ada wanita selain Alesha yang pernah disentuh Darren!


***


Alesha berdiri di depan jendela penghubung lorong kamar dan dapur. Kedua tangannya menyentuh teralis jendela, memperhatikan Darren yang sedang sibuk membuat menu sarapan.


Darren menuang saus cokelat di atas pancake. Stroberi diiris menjadi tiga bagian, lalu diletakkan sebagai garnish. Ponsel di atas meja mendadak berdering. Darren bergegas meraihnya. Albert.


"Ya, bagus!" Darren mengangguk puas menerima laporan Albert. "Oke, jangan sampai telat. Hari ini aku ada meeting penting di Jakarta."


Pembicaraan dengan Albert usai. Darren melanjutkan memasak menu berikutnya. Omelet. Ia memanaskan mentega di atas wajan, lalu menumis wortel, buncis dan daging cincang. Dengan cekatan dipecahnya empat butir telur dan diletakkan dalam sebuah wadah. Bahan-bahan yang sudah ditumis itu dimasukkan ke dalam wadah berisi telur.


Ponsel di meja kembali berdering, kali ini sekretarisnya yang menelepon. Sembari mengocok telur, Darren mendengarkan laporan dari sekretaris.


"Oke, sekitar tiga jam lagi aku tiba di kantor. Siapkan saja semua berkas-berkasnya. Jangan lupa untuk mengundang Mr. Harada dalam meeting penting ini!" ucap Darren. Tangan kanannya dengan cekatan menambahkan garam, lada, daun bawang, susu bubuk, lalu kembali diaduk hingga merata.


Belum sempat ia meletakkan ponsel di meja, benda pipih itu kembali berdering. "Oh, astaga! Tidak bisakah semua orang menelepon setelah aku selesai memasak?" gerutunya. Ia melihat nama yang terpampang di layar ponsel. Pemerintah daerah setempat.


"Maaf, hari ini jadwalku sangat padat. Sepertinya kita harus menunda meeting untuk membahas pengembangan pariwisata sampai minggu depan." Darren memijit keningnya perlahan. "Ya, benar. Tolong persiapan alat menyelam, saya ingin melakukan survey pemandangan di bawah laut." Jeda sejenak. "Baik, terima kasih."


Darren meletakkan ponsel, lalu kembali memanaskan mentega di atas wajan. Adonan omelet dituang, ditaburi keju secukupnya. Dia berharap tidak akan diganggu oleh dering ponsel lagi, atau omelet ini akan gosong. Namun, harapannya tidak terkabul. Divisi keuangan.


"Ada masalah?" Suara Darren meninggi. Mendengarkan laporan dari Divisi Keuangan sejenak.


"Bagaimana mungkin kau tidak menemukan datanya? Bukankah aku sudah memberikan instruksi sejak seminggu yang lalu?" Darren menggebrak meja. "Aku tidak mau tahu, cari sampai ketemu!" hardiknya seraya memutuskan sambungan telepon.


Alesha mendesah perlahan. Kasihan Darren, sepagi ini sudah disibukkan dengan berbagai masalah. Pria itu duduk dengan lesu, melipat kedua lengan di atas meja, lalu membenamkan kepala di antara lengan itu. Ternyata, ponselnya kembali berbunyi. Alesha menahan napas, apa suasana akan tambah memanas?


"Good moning, Papa!"


Alesha mengernyitkan dahi. Papa? Putrinya yang menelepon? Video call?


"Hei, good morning, My Princess? Bagaimana tidurmu? Mimpi indah?" Darren melambai, bersemangat menyapa gadis di layar ponsel. Tidak ada lagi kemarahan dalam nada suaranya. Berubah seratus delapan puluh derajat.


"Yeah ... " Suara gadis kecil itu terdengar nyaring. "Lea beltemu Mama. Mama cantiiiiiik sekali ... "


"Really?" Darren meninggalkan ponsel di meja, membalik omelet di panci, lalu kembali setelahnya.


"Hemmm ... Mama pulang hali ini?"


"Maaf, Sayang. Mama masih sangat sibuk, belum bisa pulang sekarang. Sabar, oke, My Princess? Kau tahu, Tuhan akan selalu menyayangi gadis-gadis kecil penyabar."


"Apa Mama juga sayang Lea?"


"Tentu saja, Lea adalah segalanya bagi Mama dan Papa."


"Apa sekalang Mama sedang beldili di dekat jendela di belakang Papa?"


Alesha mencengkeram teralis jendela. Keberadaannya tertangkap kamera. Dia ketahuan menguping, dan tidak sempat menghindar. Darren terburu menoleh, mata hazel itu menatap datar Alesha.


"Sayang, Papa hari ini sangat sibuk. Jadwal Papa sangat padat. Lea sarapan dulu, oke? Omelet Papa hampir gosong."


"Oke, bye, Papa! I love you!"


"I love you more, My Princess!"


Darren bergegas meletakkan ponsel dan memindahkan omelet ke dalam piring. Alesha keluar dari tempat persembunyian, menghampiri Darren.


Pria itu tersenyum lebar, menatap omeletnya yang mendekati kata gosong. "Aku yang akan memakannya, kau bisa sarapan pancake ... atau kau mau nasi goreng? Sebenarnya masih ada menu sandwich yang harus aku masak. Tetapi telepon-telepon itu sangat menyita waktuku."


Alesha mengangguk, menggigit bibir bawah, menahan senyum. Melihat wajah gelisah Darren cukup membuat wanita itu terhibur. "Tidak usah repot-repot, Darren!"


"Maaf juga sudah membuat dapurmu berantakan." Darren bergegas mengelap mentega dan putih telur yang berceceran di pantry. Sementara lantai dapur pun tidak kalah kotor akibat ulah Darren.


"Darren, biar aku saja yang membersihkannya. Aku tahu hari ini kau sangat sibuk. Kau bisa mandi dan bersiap-siap kembali ke Jakarta."


"Aku menghargai usahamu untuk memasak sarapan. Terima kasih, Darren. Sekarang kau bisa mandi, oke?"


***


Alesha dan Darren duduk berhadapan di meja makan. Pria itu sudah rapi mengenakan kemeja putih, sementara jas hitam dibiarkan tersampir di punggung kursi.


Hening, hanya terdengar denting sendok dan garpu beradu dengan piring. Alesha sibuk dengan pancake, sedangkan Darren menikmati omelet setengah gosong. Tidak masalah bagi Darren, toh rasanya masih tetap enak.


"Pancake-nya ... manis dan enak. Aku tidak menyangka kau pandai memasak." Alesha membuka pembicaraan, bosan berada dalam situasi canggung.


"Setiap pagi aku selalu membuatkan sarapan untuk putriku."


"Wow ... sungguh? Aku terkesan!"


Darren mengangguk. "Lea tidak mau makan kecuali ada pancake dan omelet buatanku. Yah, gadis kecil itu ... sedikit manja. Salahku juga karena terlalu memanjakannya. Tapi sebenarnya dia seorang gadis yang baik dan penurut."


"Lea yang tadi video call denganmu?"


"Ya, kau melihatnya, 'kan?"


Alesha meneguk cokelat hangat, gugup. "Maaf, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian."


"Tidak masalah. Tidak ada yang rahasia."


"Kau pria yang sangat sibuk, tetapi selalu memprioritaskan putrimu."


"Aku hanya berusaha untuk menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi Lea. Menjadi single parents itu tidak mudah, Rose! Lea masih anak-anak, dia membutuhkan sosok kedua orang tua, itu sangat penting bagi perkembangan psikologisnya."


"Dan kau benar-benar tidak berniat untuk menikah dengan wanita lain selain ibu dari putrimu?"


"Tidak bisa, aku terlalu mencintainya."


"Entah kenapa aku tidak percaya bahwa kau mencintainya."


Darren mengerutkan dahi. "Why?"


"Jika kau benar-benar mencintainya, lalu kenapa kau hampir mengkhianatinya? Maaf, menurutku kesetiaan adalah bukti cinta sejati. Tapi ... semalam kau ... menciumku dan hampir .... " Alesha tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kedua pipinya terlanjur memanas.


"Oh, oke. Aku minta maaf soal semalam. Bagaimanapun juga, aku ini pria normal. Bersentuhan sedikit saja denganmu, cukup membuat tubuhku bereaksi. Kau satu-satunya wanita yang bisa membuatku ... bergairah."


"Darren!" Kedua pipi Alesha semakin merona. Huft, kenapa Darren harus berkata sevulgar itu?


Darren tertawa. "Menggodamu adalah satu hal yang menyenangkan, Rose! Kau terlihat lebih cantik saat pipimu merona. Oke, aku berjanji hal seperti semalam tidak akan terulang lagi. Kecuali ... jika kau yang memulai terlebih dahulu."


Darren kembali tertawa. Kali ini lebih keras.


"Itu artinya kau tidak setia pada mantan istrimu. Bagaimana dia mau kembali jika kau juga tidak bisa menjaga diri." Alesha mengerucutkan bibir. Menusuk pancake menggunakan garpu dengan kasar.


"Bukan salahku, tapi salah mantan istriku. Harusnya dia paham bahwa aku pria normal yang membutuhkan pelepasan."


"Darren!" Alesha mengacungkan garpu ke arah Darren. Bibirnya cemberut, menatap kesal.


"Hai, aku hanya bercanda, Rose!" Lagi-lagi Darren tertawa, kemudian meneguk cokelat hangatnya hingga tandas.


Mengenakan jas hitam, bersiap melaju ke heliped dan terbang ke Jakarta. Sopir sudah menunggu di depan. Ban mobilnya sudah diganti sejak satu jam lalu.


"Oh ya, aku tahu kondisimu hari ini masih kurang baik. Besok pagi kau bisa langsung datang ke sanggar kesenian. Kapan-kapan, aku boleh datang menemuimu lagi, 'kan?" tanya Darren.


Alesha mengangguk. Baiklah, tidak munafik bahwa dia juga ingin bertemu dengan Darren lagi. Meski ia belum sepenuhnya melupakan kejadian semalam. Oke, ia takut jika sewaktu-waktu Darren melakukan hal yang lebih dari itu.


Ah, tidak! Darren bukan lelaki brengsek. Jika mau, seharusnya semalam pria itu bisa menyentuh Alesha lebih jauh. Tapi kenyataannya, pria itu justru undur diri setelah meminta maaf. Padahal Alesha tahu, Darren sedang berada di puncak gairah. Darren pasti tersiksa karena harus memadamkan hasrat tanpa penyelesaian.


Entahlah, bagi Alesha, Darren adalah seorang pria yang mampu membuatnya merasa senang dan takut dalam waktu bersamaan.


Mobil yang ditumpangi Darren menderu, melaju perlahan melewati jalan setapak. Meninggalkan segumpal debu di pelataran. Alesha menghela napas lega, kemudian menutup pintu pagar dan berbalik ke villa.


Namun, langkahnya terhenti. Tatapannya beradu dengan mata hazel milik Leon. Pria itu berdiri tegak di teras Alesha, di samping pot lidah buaya. Mengenakan kaos putih, dengan jaket denim diikat di bagian pinggang. Alis tebalnya mengernyit, kedua tangan mengepal menampakkan guratan-guratan ototnya.


Alesha menahan napas. Ya Tuhan, ada apa dengan makhluk tampan yang satu ini? Marah karena melihat Darren? Oh, Leon pasti sudah menyimpulkan bahwa semalam Darren menginap di sini. Lalu Leon berpikiran yang tidak-tidak.


Tetapi, pantaskah Leon marah? Sementara di antara mereka tidak ada hubungan lebih selain teman! Baiklah, teman baik.


Alesha mendekat. Berusaha tersenyum kaku, namun Leon tidak bereaksi. Nampaknya pria itu benar-benar marah! Ya Tuhan, kenapa jadi rumit seperti ini?


***