
Dua minggu kemudian, dokter menyatakan bahwa kondisi Alesha sudah membaik. Dia diperbolehkan pulang, dan hanya memerlukan rawat jalan.
"Villa ini tempat tinggalku?" tanya Alesha.
"Ya, dan aku adalah satu-satunya tetanggamu." Leon membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu setinggi satu setengah meter.
Alesha berdecak kagum. Sebuah villa dengan pemandangan hutan pinus di sisi kanan dan kiri. Sementara itu, di kejauhan terlihat hamparan pasir pantai.
Pemandangan di halaman villa, tidak kalah menakjubkan. Berbeda dengan halaman Leon yang hanya ditumbuhi pakis dan bougenville. Halaman Alesha bisa disebut sebagai miniatur taman bunga. Berbagai macam bunga tumbuh di sana, terutama rumpun mawar yang ada di hampir seluruh sudut bangunan.
"Ayolah, Rose! Kau harus istirahat, ini sudah sore. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sibuk untukku. Ada beberapa lukisan yang harus segera aku kirimkan pada customer. Sedangkan dua hari lagi, proyek baru di hotel milik Darren akan dimulai." Leon berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka, melambai pada Alesha.
Alesha terkesiap. Mendengar nama Darren, seperti ada aliran listrik menyengat tubuhnya. "Darren?"
"Pemilik hotel yang memintaku untuk menjadi salah satu creative arts team di proyeknya."
Bibir Alesha setengah terbuka, membentuk huruf 'O'. Barangkali dulu Leon sering bercerita tentang proyeknya bersama Darren, sehingga Alesha merasa tidak asing dengan nama itu.
"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Sewaktu kecelakaan, tas yang kau bawa hilang entah ke mana. Semua ponsel, dompet beserta kartu identitas lenyap semua. Kalau ada waktu, aku akan mengantarmu untuk mengurus pembuatan kartu identitas baru."
"Kenapa kau sangat baik padaku, Leon?"
"Bukankah sudah kubilang, kita ini teman baik." Leon mengedipkan sebelah mata. "Bye, Rose! Selamat beristirahat. Jika membutuhkan sesuatu, ketuk saja pintu rumahku."
Alesha mengawasi Leon. Pria itu dengan lincah melompati pagar kayu untuk sampai di halaman sebelah. Apa itu salah satu kebiasaan buruknya?
***
Alesha kehabisan napas, merasakan seorang pria melumat bibirnya dengan kuasa penuh. Membangkitkan sebuah hasrat yang tidak terkendali. Memicu hormon estrogen untuk bereaksi. Oh, tidak! Tubuhnya bisa hancur jika kenikmatan itu terus mendera.
Napas Alesha mulai tersengal-sengal, namun tidak ada tanda-tanda jika pria itu ingin mengakhiri ciumannya. Alesha ingin memberontak, tetapi di sisi lain ia tidak ingin kenikmatan itu berakhir.
Beberapa detik kemudian, pria itu memberi jeda. Menangkup wajah Alesha dengan jemari kokohnya. Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Alesha semakin gemetar tatkala mata hazel itu semakin bersorot tajam dan penuh gairah.
Jeda itu tidak lama, karena selanjutnya tubuh tinggi tegap itu kembali berkuasa atas tubuh Alesha. Mendorong wanita itu ke atas ranjang dan menindihnya. Alesha ingin berteriak, namun sebuah ciuman terlanjur membungkam bibirnya.
Tidak! Alesha tidak menginginkan ini! Ia merasa ketakutan, terlebih saat mata tajam itu menatapnya dengan penuh intimidasi. Seolah berkata bahwa dialah yang berkuasa atas tubuh Alesha. Mengumpulkan tenaga, kemudian memberontak hingga Alesha mampu melepaskan diri dari cengkeraman pria asing itu!
Alesha membuka mata dengan gelisah. Napasnya terengah-engah, keringat dingin mengalir di dahi. Ia menoleh ke sekeliling ruangan. Ternyata, dia hanya seorang diri.
Menyibak selimut, lalu bangun dan mengambil segelas air putih di atas nakas. Disekanya keringat yang menetes di dahi. Lagi-lagi ia bermimpi tentang pria itu. Mimpi yang sama.
Semenjak tersadar dari koma, Alesha sering memimpikan pria asing itu. Bercumbu di antara kenikmatan dan ketakutan. Siapa pria itu? Meski Alesha mampu melihat dengan jelas bahwa pria itu memiliki warna mata hazel, namun wajahnya selalu terlihat samar.
Leon bermata hazel. Tidak! Alesha tahu persis bahwa pria di dalam mimpinya berbeda dengan Leon. Apakah pria itu berasal dari masa lalunya? Atau hanya sekedar bunga tidur?
Ia melirik jam digital di atas nakas. Pukul 23.17. Namun, mimpi itu membuat rasa kantuknya hilang. Nampaknya ia membutuhkan teman. Mungkin Leon belum tidur.
Alesha mengetuk pintu villa Leon. Pintu terbuka, Leon menyambut dengan senyuman. Pria itu tetap terlihat tampan sekalipun hanya memakai celana selutut dipadu kaos V-neck putih, dengan noda cat di beberapa bagian.
"Ada yang bisa aku bantu, Rose?" tanya Leon. Tubuh tegapnya bersandar di kusen pintu.
"Kau sudah tidur?"
"Belum. Sepertinya malam ini aku harus bergadang sampai pagi karena harus menyelesaikan lukisan yang sudah dikejar deadline. Customer tidak bisa menunggu terlalu lama."
"Boleh aku menemanimu? Aku bosan sendirian."
"Wow! Suatu kehormatan bisa ditemani oleh wanita secantik dirimu, Nona!" Leon mengedipkan sebelah mata.
Villa itu memiliki dua kamar. Satu kamar untuk tidur, sedangkan kamar kedua disulap menjadi studio lukis. Ada beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Di sudut ruangan, terdapat sebuah lemari kecil, tempat untuk menyimpan semua peralatan melukis.
Leon duduk di depan kanvas, menyelesaikan lukisan sebuah istana dari negeri dongeng. Sementara Alesha lebih memilih duduk di meja tidak jauh dari Leon. Di sana terdapat selembar kertas, pensil, kuas dan cat air.
"Jangan lupa, tiga hari lagi kau harus kontrol ke dokter!" Leon mengingatkan.
"Tenang saja, walau amnesia tapi aku tidak pikun."
Alesha mengambil pensil dan menggoreskannya di atas kertas. Menggambar sketsa mata, lalu mewarnainya dengan cat air. Memoles dengan hati-hati.
Alesha termenung, ia baru saja menyelesaikan lukisannya. Entah kekuatan apa yang baru saja merasukinya, sehingga tanpa sadar ia menggambar sepasang mata tajam berwarna hazel. Benar, mata pria yang selalu datang di alam mimpi dan mencumbunya dengan hasrat berlebihan.
"Rose!"
"Sejak tadi aku berkali-kali memanggilmu. Sedang melamunkan apa?" tanya Leon seraya mengambil lukisan Alesha.
"Aku tidak melamun, mungkin ... aku mulai mengantuk," sanggah Alesha.
"Kau menggambar mataku?"
Alesha merebut kertas dari tangan Leon, lalu meremasnya. "Mata ini memang berwarna hazel sepertimu! Tetapi jelas berbeda, kau bermata teduh sedangkan yang kulukis memiliki sorot mata tajam dan mengintimidasi. Ini hanya imajinasiku saja. Sudahlah, Leon! Aku mau pulang, aku mulai mengantuk!"
Leon tersenyum, mengawasi Alesha yang menghilang di balik pintu. Mata hazel. Ah, meskipun amnesia tetapi bayangan mata hazel itu masih mendominasi alam bawah sadar Alesha. Sebegitu special-kah pria masa lalu itu bagi Alesha?
Leon menyentuh jantungnya yang berdetak cepat. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba ia merasakan satu hal asing. Ia merasa takut kehilangan Alesha.
***
Sebuah helikopter mendarat dengan mulus di heliped. Tak lama kemudian, Darren turun dengan tergesa. Menghampiri Albert yang sudah menunggu tidak jauh dari sana.
Albert membuka pintu belakang mobil. "Tuan ingin meninjau lokasi pembangunan hotel, atau meninjau hutan pinus terlebih dahulu?"
"Hutan pinus terlebih dahulu, Albert! Aku ingin tahu seberapa cocok tempat itu jika dijadikan sebagai taman mawar di bagian tengah hutan," ujar Darren sembari masuk ke mobil.
Albert mengangguk. Duduk di belakang kemudi, dan segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, Darren berdecak kagum. Di kiri dan kanan jalan, hamparan padi menguning bagaikan permadani. Sesekali melewati sawah yang ditanami buah semangka, jagung, cabai, dll. Mata pencaharian penduduk sekitar adalah petani dan nelayan.
Albert memarkirkan mobil di halaman sebuah villa. "Ini villa milik Leon. Seminggu ini dia sudah mulai bekerja di proyek hotel kita. Pagi tadi kami bertemu di proyek, dan saya sudah meminta izin untuk memarkir mobil di halaman villa miliknya. Lokasi hutan pinus itu tidak jauh dari sini, Tuan!"
"Oke." Darren keluar dari mobil. Menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dengan udara segar. Ah, betapa murninya udara di sini. Sama sekali tidak ada polusi. Hei, tunggu dulu! Darren menghirup aroma harum yang tidak asing. Bunga mawar!
Darren mengedarkan pandangan, mencari pusat aroma harum tersebut. Itu dia! Sebuah taman kecil di halaman sebelah. Pria itu mendekat. Dari balik pagar, menatap bunga-bunga mawar yang bermekaran.
Hatinya berdenyut sakit. Ia teringat Alesha. Dulu Darren sering melihat Alesha memberikan pupuk di rumpun-rumpun mawarnya. Rajin menyiram tanaman sekalipun Darren sudah menyediakan seorang tukang kebun. Alesha bukan seorang wanita yang suka memberikan perintah pada orang lain.
Darren mengalihkan perhatian pada pot kaktus kecil di meja teras. Di samping meja dekat jendela, terdapat sebuah pot bunga sansivierra. Ingatannya kembali melayang pada Alesha. Wanita itu selalu meletakkan pot bunga sansivierra di kamar. Katanya bagus untuk menyerap karbondioksida, sehingga udara lebih sehat.
Seketika tubuh Darren menegang. Kedua tangan mencengkeram pagar kayu dengan erat. Tatapannya terpaku pada sesosok wanita yang berdiri di balik jendela kaca. Kaca itu transparan sehingga orang di luar bisa melihat ke dalam villa dengan jelas.
Baiklah, Darren tidak akan sekaget itu jika wajah wanita di balik kaca itu ... persis Alesha. Wanita dengan tank top putih itu memiringkan kepala, memberikan tatapan datar pada Darren. Detik selanjutnya, wanita itu menyingkir sehingga Darren tidak bisa menatapnya lagi.
"Tuan, bisa kita meninjau lokasi sekarang?" Albert berdiri di belakang Darren.
"Albert, apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa Alesha ada di dalam villa itu?"
Albert terkekeh sejenak. "Tentu saja tidak. Saat ini Nyonya tinggal di Florence."
"Tapi aku benar-benar melihat dia berdiri di balik jendela kaca itu!"
"Sepertinya taman mawar ini membuat Anda terlalu merindukan Nyonya. Tetangga Leon adalah seorang wanita bernama Rose. Dia yang kemarin mengalami koma karena kecelakaan bersama Leon."
"Jadi tentang biaya rumah sakit, Leon serius?" Darren menatap Albert, sorot kekecewaan nampak di matanya.
"Benar, Tuan! Saat ini malah wanita bernama Rose itu mengalami amnesia."
Darren mendesah. "Aku menyesal karena saat itu tidak mempercayai Leon. Saat itu pikiranku sedang kalut sehingga tidak bisa berpikir jernih. Nanti, kau bisa tanyakan pada Leon apakah dia masih membutuhkan uang itu. Jika masih, segera kabari aku."
"Baik, Tuan!" Albert mengangguk. "Kita tidak memiliki waktu banyak. Setelah ini, kita ada pertemuan dengan pemerintah setempat untuk membicarakan proyek tempat wisata di daerah ini."
Sekali lagi, Darren menatap jendela. Tidak ada siapapun. Ah, benarkah Darren hanya berhalusinasi karena terlalu memikirkan Alesha? Jelas-jelas mantan istrinya sedang berada di Florence.
"Kau pernah bertemu dengan wanita bernama Rose itu?"
"Belum, Tuan. Menurut Leon, wanita itu sangat cantik dan menarik."
"Sepertinya dia memiliki wajah mirip Alesha. Aku yakin bahwa mataku belum rabun untuk melihat dengan jelas siapa wanita di balik jendela itu."
"Benarkah mereka mirip?"
"Sekembali dari hutan pinus, aku akan menemuinya. Jika tidak, aku bisa mati penasaran, Albert! Kita masih punya waktu beberapa menit sebelum bertemu dengan pemerintah daerah, bukan?"
Albert mengangguk. Tidak ada gunanya membantah perintah atasannya. Sepertinya, pria itu benar-benar frustrasi karena bercerai dengan Alesha. Sehingga sampai saat ini masih sering terbayang-bayang oleh wajah wanita itu. Terlebih aroma mawar yang membangkitkan nostalgia. Wajar jika Darren berhalusinasi di tempat ini.
***