
Darren menangkup kedua pipi Alesha, menatap mata yang kini terpejam. Wajah wanita itu terlihat sedikit tirus, barangkali efek sakit waktu itu.
"Aku mencintaimu apa adanya, Sugar! Aku tahu, sekalipun kau kehilangan ingatan, tapi hatimu tidak pernah melepaskan sosok diriku begitu saja. Sampai detik ini, masih bisa kurasakan detak jantungmu yang begitu hebat menyambut kehadiranku."
Memiringkan posisi kepala, meletakkan indra pendengar di dada kiri Alesha. "Aku menyukai irama ini. Percayalah, Sugar, detak jantungmu menciptakan melodi tersendiri, mengisi setiap kekosongan jiwaku."
Mata Darren terpejam, meresapi setiap nada dari detak jantung milik Alesha. Baginya, nada-nada ini lebih indah dari musik klasik sekalipun, bahkan mengalahkan kedahsyatan musik band metal Amerika favoritnya. Semua yang ada dalam diri Alesha adalah segalanya bagi Darren.
Darren meraih ponsel dari atas nakas. Menggeser layarnya dengan semangat. Dalam waktu beberapa detik, wajah tersenyum putrinya terpampang di sana.
"Hai, My Princess! Maaf, malam ini Papa tidak bisa menemanimu tidur!"
"Papa di mana?" Suara gadis kecil itu terdengar nyaring. Bibir mungil itu cemberut, merajuk karena Darren tidak pulang ke rumah.
"Papa sedang membujuk Mama untuk pulang, Sayang!"
"Mama?" Mata hazel nan jernih itu mengerjap, berkaca-kaca. Ya, hampir setiap malam Alea selalu menanyakan di mana Mama, kapan Mama akan pulang. Darren tersenyum miris seraya mengatakan bahwa Mama sedang berada di tempat yang sangat jauh, dan saat ini belum bisa pulang.
"Kau ingin melihat wajah Mama?"
Bocah kecil itu mengangguk. Sebutir air mata menetes di pipi.
Darren mengarahkan ponsel pada Alesha. Suaranya bergetar mengucap kata, "She is your Mom."
"Hai, Mama ... " sapa Lea. Baiklah, ini sebuah kemajuan. Setidaknya Lea sudah bisa menyapa seseorang yang seharusnya dipanggil dengan sebutan Mama, secara langsung.
Kemarin-kemarin, putri Darren hanya bisa melambaikan tangan pada foto Alesha yang dipajang di kamar. Lea sering berdiri terpaku, menatap wajah wanita cantik di dalam bingkai berukuran besar. "Mama, kapan pulang?" lirihnya.
"Mama sedang tidur, Sayang. Don't cry, oke? Papa akan secepatnya membawa Mama untukmu."
"Pomis?"
"I promise, My Princess!"
"Thank you, Papa!"
"Oke, saatnya tidur!"
"Bye, Papa! I love you .... " Sebuah boneka beruang kecil sudah berada di dalam dekapan lengan mungilnya. Terlihat baby sitter merapikan selimut bergambar Frozen.
"Love you too, My Princess .... " Darren tersenyum lalu mematikan sambungan telepon.
Frozen, Alea sangat mengidolakan Queen Elsa dan Princess Anna. Seringkali bocah kecil itu berceloteh riang, setelah besar ingin seperti Queen Elsa, yang memiliki kekuatan untuk mengubah semua benda menjadi es. Alea ingin bermain di tempat bersalju.
"Bagaimana jika kita merencanakan liburan ke Paris di musim dingin? Princess kita ingin bermain salju, setuju? Sepertinya kita juga perlu merencanakan honeymoon, Sugar! Selama menikah kita belum pernah honeymoon. Kau ingin mencoba sensasi berciuman dengan background Menara Eiffel, 'kan?"
Darren tertawa. "Kehilanganmu membuatku menjadi setengah gila. Kau lihat bagaimana sekarang aku jadi sering bicara sendiri? Please, come back to me, Sugar! Agar aku bisa mendapatkan kewarasanku kembali!"
Darren beringsut, mendekati wajah Alesha. Mencium bibir sensual itu dengan lembut. "Selamat malam, Sugar!"
Lengan kokohnya memeluk tubuh Alesha dengan possessive, sementara wajahnya menyuruk di ceruk leher Alesha. Mencari tempat ternyaman di mana ia bisa menghirup dan mengumpulkan aroma khas Alesha ke dalam rongga dadanya.
"Maaf, aku harus membuatmu tertidur. Putri kita sangat ingin melihatmu secara langsung. Sama halnya denganku, ingin selalu mendekapmu di dalam tidurku. Jangan pernah merasa sendirian, Sugar! Walau kita tinggal berjauhan, aku pastikan bahwa cintaku akan selalu bersemayam di dalam tubuhmu!"
Darren mengetatkan pelukannya, seolah takut bahwa esok ia tidak bisa memeluk tubuh ini lagi. Mata terpejam, tetapi sama sekali tidak ingin tertidur. Pria itu ingin selalu merasakan setiap detik tanpa terlewat, saat kulit tubuh mereka bersentuhan dan mengalirkan getaran-getaran yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.
***
Alesha membuka mata, napasnya terengah-engah. Jemarinya mengusap peluh di dahi. Mimpi itu datang lagi. Pria bermata hazel yang mencumbunya dengan begitu panas.
Wanita itu tertegun. Kenapa suasana kamar gelap? Sejak kembali dari rumah sakit, Alesha tidak pernah memadamkan lampu saat tidur. Ia benci gelap!
Tubuh Alesha gemetar saat menemukan sesosok pria berdiri tegak, tepat di sisi pintu kamar yang tertutup. Siapapun, tolong jelaskan apa Alesha masih berada di dalam mimpi? Kenapa sosok itu terlihat sangat jelas? Bukan sekedar siluet atau fatamorgana!
Sinar rembulan menyusup dari kaca jendela, menerpa tubuh kokoh bertelanjang dada. Tubuh kecoklatannya terlihat eksotis, dengan pahatan otot-otot yang sempurna. Meletakkan lengan kanan di depan dada, sementara tangan kiri mengepal dengan ibu jari menyentuh bibir.
Bibir setengah terbuka itu terlihat menantang, sorot matanya tajam menguasai. Benarkah ini hanya mimpi? Pria inilah yang selama ini selalu hadir di dalam tidurnya. Tubuh kekar yang sama, dan sorot mata yang sama.
Jemari Alesha *** selimut dengan kuat. Ini terlihat nyata! Ia merasakan mata tajam itu sedang mengawasinya. Diam, tidak bergerak sama sekali.
Beberapa detik kemudian, Alesha tersentak. Dia menyadari satu hal. Wajah tampan itu ... sangat menyerupai Darren. Darren!
Alesha bergegas menyibak selimut, tertatih-tatih menuju dinding sebelah kanan untuk menyalakan lampu. Suasana ruangan berubah menjadi terang. Alesha membalikkan badan, ingin menatap sosok Darren.
Tubuh Alesha menegang. Kosong, tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain dirinya sendiri. Pintu kamar dalam kondisi tertutup rapat. Jadi, ia hanya berhalusinasi? Padahal, beberapa menit lalu Alesha benar-benar yakin bahwa ia melihat Darren secara nyata.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum tidur. Berhujan-hujanan dengan Darren, lalu berbincang ringan di ruang tamu. Rasa kantuk menyerangnya secara tiba-tiba. Baiklah, untuk yang satu ini Alesha sama sekali tidak mencurigai Darren. Semenjak kecelakaan, terkadang ia mengalami insomnia. Namun, sekalinya mengantuk, akan susah sekali untuk menahannya agar tetap tersadar.
Apa Darren sudah pulang? Alesha berlari ke ruang tamu. Di ambang pintu penghubung ruang makan dan ruang tamu, ia terdiam. Pikirannya seketika kosong.
Darren tidak sedang bertelanjang dada seperti yang ia lihat di kamar. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi sore, kemeja abu-abu dengan celana pendek warna senada. Duduk setengah berbaring di sofa, menonton TV bervolume kecil.
"Kau ... yang memindahkanku ke kamar?" Suara Alesha terdengar gemetar.
"Ya, tapi aku tidak berbuat macam-macam padamu, sungguh!" Hanya sekedar memberikan ciuman singkat dan memeluk dengan erat!
Darren menghampiri Alesha. Entahlah, ia merasa bersalah karena harus membohonginya.
Bibir Alesha setengah terbuka, dadanya naik turun seiring napas yang terengah-engah. Sorot ketakutan terlihat jelas di mata cokelat itu.
"Kau ... memadamkan lampu?" Alesha mengusap peluh di dahi. Tangannya gemetar.
"Ya, aku pikir dengan memadamkan lampu kau akan lebih nyaman."
"Aku ... takut ... gelap .... " Alesha mundur selangkah, menghindari Darren yang semakin mengikis jarak. Mata hazel itu, kenapa persis seperti mata pria yang selalu mencumbunya di dalam mimpi, dan sering tanpa sadar menjadi imajinasi di atas kanvas? Siapa sebenarnya pria ini?
"Kau baik-baik saja, Rose?" tanya Darren dengan nada khawatir.
Alesha kembali mundur selangkah. "Siapa ... kau?"
"Aku Darren!"
Wanita itu menggeleng. Bibirnya gemetar, napas semakin memburu. "Siapa ... kau ... sebenarnya?"
"Aku Darren! Pengusaha yang sedang mengembangkan bisnis di daerah sini!"
Alesha memejamkan mata, berusaha mengingat apakah pria ini adalah salah satu orang yang dikenal di masa lalu. Usahanya sia-sia, ia hanya melihat gelap dalam memory-nya. Kepalanya terasa nyeri. Ia merasa seperti terlempar ke lorong gelap itu lagi! Ia pun kehilangan separuh kesadarannya.
"Kenapa kau selalu datang di dalam mimpiku?"
Kembali mundur selangkah, menabrak guci hingga benda itu berguling dan pecah berantakan. Tidak! Alesha bahkan tidak bisa membedakan apakah kini dirinya berada di dunia nyata atau di alam mimpi. Tubuh Alesha yang gemetar mulai kehilangan keseimbangan.
Darren dengan sigap meraih Alesha ke dalam rengkuhannya. "Tenangkan dirimu, Rose!"
"Aku takut gelap ... Aku takut sendirian!" Wanita itu terus meracau.
Darren tidak punya pilihan lain. Ia segera menggendong tubuh Alesha dan membawanya ke kamar. Perlahan, direbahkannya tubuh itu di ranjang.
Masih dengan tubuh gemetar, Alesha kembali meracau. "Aku takut gelap ... Aku takut sendirian ... Tolong aku!" Ia mengalungkan lengan di leher Darren, tidak ingin ditinggal pergi.
"Rose, tenangkan dirimu! Kau tidak sendirian, aku ada di sini untuk menemanimu, oke?" Darren duduk di sisi Alesha yang terbaring, tubuh pria itu membungkuk, wajah mereka saling berdekatan. Alesha masih tidak mau melepas lengannya dari leher Darren.
Darren menangkup kedua pipi Alesha, berucap dengan lembut, "Sekarang tatap mataku, aku berjanji tidak akan membiarkanmu sendirian. Rileks, oke? Hilangkan semua rasa takut itu!"
Alesha berusaha mendengarkan kalimat Darren dengan separuh kesadaran. Meski takut, ia menatap mata hazel Darren, sorot mata tajam namun memberikan kehangatan. Sedikit demi sedikit, rasa takutnya berkurang. Deru napasnya mulai normal, kesadaran mulai kembali sepenuhnya.
"Sudah lebih baik?" tanya Darren.
Alesha mengangguk. Perasaannya sudah lebih baik. Tetapi, tubuh Darren yang berada di dekatnya membuat hati berdebar lembut. Sentuhan di pipi itu menyalurkan sebuah sengatan halus yang segera menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Tersentak, Alesha merasa tidak asing dengan sentuhan ini. Kenapa?
Di saat otaknya sibuk berpikir, hasrat sudah terlebih dulu mengambil alih. Tatapannya beradu dengan mata hazel di atasnya.
Kerinduan di hati Darren sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia semakin mendekatkan wajah pada Alesha. Perlahan menyentuhkan bibirnya pada bibir wanita itu. Tidak ada reaksi penolakan, Alesha justru memejamkan mata, menikmati setiap sensasi yang tidak terasa asing lagi.
Darren semakin memberanikan diri. Membuka bibir yang terkatup itu dengan lidahnya, dengan cekatan menyusup dan menginvasi mulut mantan istrinya. Kenikmatan itu masih tetap sama, bahkan terasa berkali-kali lipat lebih nikmat dari saat terakhir kali mereka berciuman.
Alesha terengah-engah, mengimbangi ciuman Darren yang semakin membuat seluruh syaraf tubuhnya menegang. Alesha mengerang, *** rambut Darren dengan gemas, tidak menginginkan semua ini berakhir.
Hawa nafsu semakin membelit tubuh mereka. Tidak puas hanya melumat bibir, Darren beralih pada telinga. Memberikan gigitan kecil dan membuat Alesha menggeliat. Turun ke leher, menghirup aroma mawar sembari mencium penuh gairah. Memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana. Erangan Alesha membuat gairahnya berada di puncak tertinggi. Ia hampir kehilangan kewarasannya.
"I want you, Sugar!" desis Darren.
Kalimat Darren membuat Alesha tersadar dari kabut gairah yang menyelimuti tubuhnya. Darren mencumbunya, sama persis dengan cumbuan pria di dalam mimpinya! I want you! Alesha tahu persis apa yang diinginkan Darren setelah ini. Wanita itu mendesah di antara rasa nikmat dan ketakutan.
"Darren, stop!" Alesha mendorong bahu Darren kasar.
Pria itu beranjak dan berdiri tegak di sisi ranjang. Mengacak rambut frustrasi. Kau tahu bagaimana rasanya saat berada di puncak lalu dihempaskan ke titik terbawah? Dengan perasaan campur aduk Darren mati-matian memadamkan gairahnya.
"Maaf, aku hampir kehilangan kontrol!" Darren menatap Alesha yang meringkuk ketakutan.
"Tolong tinggalkan aku sendiri, Darren!" Alesha bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku ... menunggu di luar. Jika membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku!"
Alesha tidak menjawab. Merasakan tubuhnya semakin gemetar di bawah selimut. Apakah ini bisa dinamakan sebagai kebetulan? Atau memang Darren lah pria yang senantiasa menguasai mimpi-mimpi Alesha, bahkan sebelum mereka bertemu?
Alesha sama sekali tidak mengerti, kenapa ia bisa takluk di bawah kungkungan tubuh pria asing? Benarkah ini karena cinta yang diam-diam tumbuh di hati? Semua ini masih menjadi teka-teki.
***