
Mine
baru saja terbangun dari tidurnya. Ia tertidur di sofa ruang televisi. Semalam ia
pulang cukup malam dan langsung tertidur di atas sofa masih dengan memakai
kemeja putih dengan roknya.
“Huaaa jam berapa ini,” gumamnya
beranjak bangun seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku.
“Kenapa tidur di sini?”
pertanyaan itu membuat Mine langsung menoleh ke sumber suara.
“Sean?” seru Mine dan Sean
terlihat tengah duduk di sofa single yang berada di dekat sofa yang ia gunakan
untuk tidur.
“Kapan datang?” tanya Mine
mengucek kedua matanya.
“Aku sudah sampai 1 jam yang
lalu,” seru Sean.
“Kenapa tidak membangunkanku,”
seru Mine mengulung rambutnya asal, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang
putih dan mulus.
“Aku tidak tega membangunkanmu.
Kamu terlihat sangat kelelahan,” seru Sean.
“Iya. Pekerjaanku benar-benar
banyak. Syukurlah itu sudah berlalu dan sekarang aku bisa sedikit bersantai,”
seru Mine.
“Pergilah ke kamar mandi, aku
akan buatkan sarapan,” seru Sean.
“Kau baru saja datang. Bagaimana
kalau kita pesan saja untuk sarapan,” seru Mine.
“Bukan ide yang buruk.
Mine mengambil handphonenya dan
mengotak atiknya. “Mau pesan apa?”
“Sandwich saja,” seru Sean.
“Oke.”
“Aku ke kamar mandi dulu.” Mine
beranjak menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.
***
Sesuai rencana awal, kini Sean
dan Mine pergi berlibur. Mereka sudah berada di dalam mobil sport milik Sean
dan bersiap untuk berangkat. Mine sudah siap dengan setelan casualnya begitu
juga dengan Sean. Ia mengikat rambutnya dengan ikat kuda. Kacamata hitam
bertengker di hidung mancungnya. Iya terlihat elegan, anggun dan sosialita.
“Kamu mau membawaku kemana
sebenarnya?” tanya Mine.
“Lihat saja nanti,” seru Sean
fokus menyetir mobilnya.
Mine melihat ke luar jendela dan
menikmati pemandangan yang mereka lalui.
Setelah cukup lama menghabiskan
waktu di perjalanan. Mereka pun sampai di tempat wisata sebuah bukit yang di
penuhi pohon-pohon juga binatang yang di lestarikan di sana.
“Ah tempat ini cukup terkenal
akhir-akhir ini. Banyak pasangan yang datang kesini,” seru Mine.
“Kau benar. Ayo kita masuk,”
seru Sean.
Mine dan Sean berjalan
berdampingan memasuki area tempat itu.
“Wah tempatnya sangat sejuk,
udaranya lebih segar,” seru Mine merentangkan kedua tangannya seraya menghirup
udara di sana.
“Hmm, setiap hari kita menghirup
udara yang tidak bersih. Polusi berada di mana-mana,” seru Sean.
“Kamu benar. Apalagi aku yang
selalu berada di tengah kota,” seru Mine.
“Wah, Sean lihat burungnya
cantik sekali,” seru Mine menunjuk seekor burung yang ada di batang pohon.
Sean tersenyum melihat wajah
ceria Mine dan begitu bersemangat. Bahkan Mine berlari kesana kemari
benar-benar seperti anak kecil. Tetapi entah kenapa itu malah menggemaskan bagi
Sean.
“Hati-hati Mine!” Sean bergegas
saat kaki Mine kesandung dan hampir saja kepalanya membentur tanah kalau Sean
tidak dengan sigap menarik tangan Mine hingga Mine tertarik ke dalam
pelukannya. Tatapan mereka bertemu, membuat mereka sesaat terpaku saling
memandang satu sama lainnya.
“Ck, kapan kamu tidak teledor,”
seru Sean menyadarkan lamunan Mine.
Mine melepaskan pelukannya dan
mundur satu langkah.
“Habis di sini sangat
menyenangkan, banyak sekali binatang yang lucu,” seru Mine kembali berjalan
meninggalkan Sean seorang diri.
Setelah cukup lama berjalan,
Sean melihat ada panggilan masuk ke handphone nya. Ia kemudian melihat Mine
yang berada beberapa meter di depannya tengah menggendong seekor kelinci. Mine
tampaknya sedang asyik dengan kelinci nya itu. Sean pun memutuskan melimpir
sebentar untuk menerima panggilannya.
Setelah 15 menit menerima
telpon, Sean kembali ke tempat tadi dan matanya melebar saat di sana tak ada
siapa-siapa. Sean menoleh ke sana kemari mencari sosok Mine yang entah
menghilang kemana.
“Shit!” umpatnya dan mulai
bergerak cepat mencari keberadaan Mine. “Mine!” panggilnya dengan suara yang
keras. “Jasmine!”
Sean mulai khawatir dan berlari
mencari keberadaan Mine.
Di sisi lain Mine masih mengejar
kelincinya ke bagian sedikit menurun dan pohonnya lebih rimbun. Di sana ia
kehilangan kelincinya.
“Hei!” panggil Mine tetapi
kelinci itu sudah masuk ke pelosok.
“Sean, kita ke arah lain saja.
kaget saat tak melihat siapapun di sana.
“Sean!” panggilnya.
Mine berjalan ke arah ia tadi
dengan sedikit kebingungan dan terus memanggil nama suaminya.
“Sean!” panggil Mine.
Setelah cukup lama berjalan,
Mine menjadi kebingungan, ia merasa sudah nyasar dan tidak tau harus kemana
lagi.
“Sean!” seru Mine sudah
berkaca-kaca ingin menangis. “Bagaimana ini, aku sangat takut.”
Mine melihat langit yang sudah
mulai gelap, sepertinya akan turun hujan.
“Sepertinya akan turun hujan,”
seru Mine. Ia mengeluarkan handphone nya dan hendak menghubungi Sean tetapi
ternyata tak ada sinyal.
“Apa ini, tidak ada sinyal,”
seru Mine melongo melihat layar handphone nya.
“Astaga bagaimana ini. Sean!”
teriak Mine mulai kalang kabut dan sangat gelisah.
Mine berjalan kembali seraya
melihat ke kanan ke kiri. Tak ada petunjuk apapun di sana, berbeda dengan
sebelumnya dimana ada arah panah untuk menunjukkan arah mereka supaya tidak
nyasar.
“Sean!” Mine membungkuk karena
kelelahan, kakinya terasa sangat sakit. Ia melepaskan sepatu ketsnya dan
ternyata di bagian belakang kakinya berdarah kedua-duanya karena iritasi.
“Aku tidak bisa berjalan lagi,”
gumamnya mulai menjatuhkan air matanya.
Mine berjongkok dan mulai
menangis terisak.
“Sean, kamu dimana? Aku sangat
takut, hikzz…” isak Mine sudah sangat ketakutan.
Mine mendengar suara aungan
srigala dan suara anjing menggonggong.
“Ahhhh!” jeritnya ketakutan
seraya menutupi kedua telinganya.
“Tolong! Siapapun tolong!”
jeritnya menutup kedua matanya sambil menangis. “Sean!”
Isakan Mine terhenti saat ia
merasa sesuatu menyelimuti tubuh bagian belakangnya.
“Buka matamu,” seru seseorang
membuat Mine perlahan membuka matanya dan saat itu juga ia melihat wajah tampan
Sean yang juga berjongkok di depannya. Ia seperti menemukan cahaya di dalam
kegelapan.
“Sean!” Mine langsung memeluk
tubuh Sean hingga Ia terjungkal ke belakang dan Mine tidak perduli, ia terus
memeluk tubuh Sean dan menangis meraung-raung di dada Sean. Sean hanya bisa
menghela nafasnya. Ia tidak keberatan rebahan di atas tanah, ia pun memeluk
Mine dan menepuk pelan pundak Mine, berusaha menenangkannya.
Setelah cukup lama Mine sudah
tak menangis lagi.
“Sudah lebih baik?” tanya Sean.
“Hmm.”
“Kalau begitu bangunlah,
punggungku sakit,” seru Sean dan dengan gerakan cepat Mine beranjak dari atas
tubuh Sean.
“Maafkan aku,” seru Mine.
Sean berdiri dari duduknya
seraya membersihkan pakaiannya. Mine membantu Sean membersihkan area
belakangnya.
“Kita sebaiknya turun sebelum
hujan,” seru Sean.
“Iya,” jawab Mine. “Ah!”
“Kenapa?” tanya Sean.
“Kakiku sakit.”
Sean melihat kedua kaki Mine
yang ternyata terluka cukup parah, bahkan sampai berdarah dan membasahi sepatunya.
“Bagaimana kau bisa berjalan
dengan luka separah ini. Apa kamu tidak menyadarinya?” tanya Sean sedikit
meninggikan suaranya karena khawatir.
“Jangan marah, aku memang
teledor,” seru Mine menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak marah, aku hanya
bertanya.”
“Aku terlalu takut dan terus
berjalan tanpa perduli kakiku tersandung. Aku terlalu takut,” isak Mine.
Sean menghela nafasnya.
“Lepaskan sepatumu,” seru Sean
dan Mine pun menurutinya. Sean kemudian berjongkok di depannya. “Naiklah. Kau
tidak mungkin bisa berjalan untuk turun ke bawah.”
Mine pun menaiki punggung Sean.
Dan Sean membawa Mine pergi dengan menjinjing sepasang sepatu Mine.
“Kamu memasuki area terlarang,”
seru Sean saat mereka baru saja keluar dari area itu.
“Ah pantas saja tidak ada
petunjuk apapun,” seru Mine.
“Sean, saat tadi aku sendirian
dan kamu menghilang. Aku benar-benar
ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku benar-benar
kehilangan kamu. Aku benar-benar sangat ketakutan memikirkannya,” seru Mine.
“Sean berjanjilah. Jangan pernah menghilang dan meninggalkanku,” seru Mine
membuat Sean terdiam cukup lama.
“Sean?”
“Baiklah,” jawab Sean membuat
Mine tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju pintu
keluar dengan Mine berada di dalam gendongan Sean.
***