Ex-husband

Ex-husband
Episode 20



Mine


baru saja terbangun dari tidurnya. Ia tertidur di sofa ruang televisi. Semalam ia


pulang cukup malam dan langsung tertidur di atas sofa masih dengan memakai


kemeja putih dengan roknya.


                “Huaaa jam berapa ini,” gumamnya


beranjak bangun seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku.


                “Kenapa tidur di sini?”


pertanyaan itu membuat Mine langsung menoleh ke sumber suara.


                “Sean?” seru Mine dan Sean


terlihat tengah duduk di sofa single yang berada di dekat sofa yang ia gunakan


untuk tidur.


                “Kapan datang?” tanya Mine


mengucek kedua matanya.


                “Aku sudah sampai 1 jam yang


lalu,” seru Sean.


                “Kenapa tidak membangunkanku,”


seru Mine mengulung rambutnya asal, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang


putih dan mulus.


                “Aku tidak tega membangunkanmu.


Kamu terlihat sangat kelelahan,” seru Sean.


                “Iya. Pekerjaanku benar-benar


banyak. Syukurlah itu sudah berlalu dan sekarang aku bisa sedikit bersantai,”


seru Mine.


                “Pergilah ke kamar mandi, aku


akan buatkan sarapan,” seru Sean.


                “Kau baru saja datang. Bagaimana


kalau kita pesan saja untuk sarapan,” seru Mine.


                “Bukan ide yang buruk.


                Mine mengambil handphonenya dan


mengotak atiknya. “Mau pesan apa?”


                “Sandwich saja,” seru Sean.


                “Oke.”


                “Aku ke kamar mandi dulu.” Mine


beranjak menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.


***


                Sesuai rencana awal, kini Sean


dan Mine pergi berlibur. Mereka sudah berada di dalam mobil sport milik Sean


dan bersiap untuk berangkat. Mine sudah siap dengan setelan casualnya begitu


juga dengan Sean. Ia mengikat rambutnya dengan ikat kuda. Kacamata hitam


bertengker di hidung mancungnya. Iya terlihat elegan, anggun dan sosialita.


                “Kamu mau membawaku kemana


sebenarnya?” tanya Mine.


                “Lihat saja nanti,” seru Sean


fokus menyetir mobilnya.


                Mine melihat ke luar jendela dan


menikmati pemandangan yang mereka lalui.


                Setelah cukup lama menghabiskan


waktu di perjalanan. Mereka pun sampai di tempat wisata sebuah bukit yang di


penuhi pohon-pohon juga binatang yang di lestarikan di sana.


                “Ah tempat ini cukup terkenal


akhir-akhir ini. Banyak pasangan yang datang kesini,” seru Mine.


                “Kau benar. Ayo kita masuk,”


seru Sean.


                Mine dan Sean berjalan


berdampingan memasuki area tempat itu.


                “Wah tempatnya sangat sejuk,


udaranya lebih segar,” seru Mine merentangkan kedua tangannya seraya menghirup


udara di sana.


                “Hmm, setiap hari kita menghirup


udara yang tidak bersih. Polusi berada di mana-mana,” seru Sean.


                “Kamu benar. Apalagi aku yang


selalu berada di tengah kota,” seru Mine.


                “Wah, Sean lihat burungnya


cantik sekali,” seru Mine menunjuk seekor burung yang ada di batang pohon.


                Sean tersenyum melihat wajah


ceria Mine dan begitu bersemangat. Bahkan Mine berlari kesana kemari


benar-benar seperti anak kecil. Tetapi entah kenapa itu malah menggemaskan bagi


Sean.


                “Hati-hati Mine!” Sean bergegas


saat kaki Mine kesandung dan hampir saja kepalanya membentur tanah kalau Sean


tidak dengan sigap menarik tangan Mine hingga Mine tertarik ke dalam


pelukannya. Tatapan mereka bertemu, membuat mereka sesaat terpaku saling


memandang satu sama lainnya.


                “Ck, kapan kamu tidak teledor,”


seru Sean menyadarkan lamunan Mine.


                Mine melepaskan pelukannya dan


mundur satu langkah.


                “Habis di sini sangat


menyenangkan, banyak sekali binatang yang lucu,” seru Mine kembali berjalan


meninggalkan Sean seorang diri.


                Setelah cukup lama berjalan,


Sean melihat ada panggilan masuk ke handphone nya. Ia kemudian melihat Mine


yang berada beberapa meter di depannya tengah menggendong seekor kelinci. Mine


tampaknya sedang asyik dengan kelinci nya itu. Sean pun memutuskan melimpir


sebentar untuk menerima panggilannya.


                Setelah 15 menit menerima


telpon, Sean kembali ke tempat tadi dan matanya melebar saat di sana tak ada


siapa-siapa. Sean menoleh ke sana kemari mencari sosok Mine yang entah


menghilang kemana.


                “Shit!” umpatnya dan mulai


bergerak cepat mencari keberadaan Mine. “Mine!” panggilnya dengan suara yang


keras. “Jasmine!”


                Sean mulai khawatir dan berlari


mencari keberadaan Mine.


                Di sisi lain Mine masih mengejar


kelincinya ke bagian sedikit menurun dan pohonnya lebih rimbun. Di sana ia


kehilangan kelincinya.


                “Hei!” panggil Mine tetapi


kelinci itu sudah masuk ke pelosok.


                “Sean, kita ke arah lain saja.


kaget saat tak melihat siapapun di sana.


                “Sean!” panggilnya.


                Mine berjalan ke arah ia tadi


dengan sedikit kebingungan dan terus memanggil nama suaminya.


                “Sean!” panggil Mine.


                Setelah cukup lama berjalan,


Mine menjadi kebingungan, ia merasa sudah nyasar dan tidak tau harus kemana


lagi.


                “Sean!” seru Mine sudah


berkaca-kaca ingin menangis. “Bagaimana ini, aku sangat takut.”


                Mine melihat langit yang sudah


mulai gelap, sepertinya akan turun hujan.


                “Sepertinya akan turun hujan,”


seru Mine. Ia mengeluarkan handphone nya dan hendak menghubungi Sean tetapi


ternyata tak ada sinyal.


                “Apa ini, tidak ada sinyal,”


seru Mine melongo melihat layar handphone nya.


                “Astaga bagaimana ini. Sean!”


teriak Mine mulai kalang kabut dan sangat gelisah.


                Mine berjalan kembali seraya


melihat ke kanan ke kiri. Tak ada petunjuk apapun di sana, berbeda dengan


sebelumnya dimana ada arah panah untuk menunjukkan arah mereka supaya tidak


nyasar.


                “Sean!” Mine membungkuk karena


kelelahan, kakinya terasa sangat sakit. Ia melepaskan sepatu ketsnya dan


ternyata di bagian belakang kakinya berdarah kedua-duanya karena iritasi.


                “Aku tidak bisa berjalan lagi,”


gumamnya mulai menjatuhkan air matanya.


                Mine berjongkok dan mulai


menangis terisak.


                “Sean, kamu dimana? Aku sangat


takut, hikzz…” isak Mine sudah sangat ketakutan.


                Mine mendengar suara aungan


srigala dan suara anjing menggonggong.


                “Ahhhh!” jeritnya ketakutan


seraya menutupi kedua telinganya.


                “Tolong! Siapapun tolong!”


jeritnya menutup kedua matanya sambil menangis. “Sean!”


                Isakan Mine terhenti saat ia


merasa sesuatu menyelimuti tubuh bagian belakangnya.


                “Buka matamu,” seru seseorang


membuat Mine perlahan membuka matanya dan saat itu juga ia melihat wajah tampan


Sean yang juga berjongkok di depannya. Ia seperti menemukan cahaya di dalam


kegelapan.


                “Sean!” Mine langsung memeluk


tubuh Sean hingga Ia terjungkal ke belakang dan Mine tidak perduli, ia terus


memeluk tubuh Sean dan menangis meraung-raung di dada Sean. Sean hanya bisa


menghela nafasnya. Ia tidak keberatan rebahan di atas tanah, ia pun memeluk


Mine dan menepuk pelan pundak Mine, berusaha menenangkannya.


                Setelah cukup lama Mine sudah


tak menangis lagi.


                “Sudah lebih baik?” tanya Sean.


                “Hmm.”


                “Kalau begitu bangunlah,


punggungku sakit,” seru Sean dan dengan gerakan cepat Mine beranjak dari atas


tubuh Sean.


                “Maafkan aku,” seru Mine.


                Sean berdiri dari duduknya


seraya membersihkan pakaiannya. Mine membantu Sean membersihkan area


belakangnya.


                “Kita sebaiknya turun sebelum


hujan,” seru Sean.


                “Iya,” jawab Mine. “Ah!”


                “Kenapa?” tanya Sean.


                “Kakiku sakit.”


                Sean melihat kedua kaki Mine


yang ternyata terluka cukup parah, bahkan sampai berdarah dan membasahi sepatunya.


                “Bagaimana kau bisa berjalan


dengan luka separah ini. Apa kamu tidak menyadarinya?” tanya Sean sedikit


meninggikan suaranya karena khawatir.


                “Jangan marah, aku memang


teledor,” seru Mine menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


                “Aku tidak marah, aku hanya


bertanya.”


                “Aku terlalu takut dan terus


berjalan tanpa perduli kakiku tersandung. Aku terlalu takut,” isak Mine.


                Sean menghela nafasnya.


                “Lepaskan sepatumu,” seru Sean


dan Mine pun menurutinya. Sean kemudian berjongkok di depannya. “Naiklah. Kau


tidak mungkin bisa berjalan untuk turun ke bawah.”


                Mine pun menaiki punggung Sean.


Dan Sean membawa Mine pergi dengan menjinjing sepasang sepatu Mine.


                “Kamu memasuki area terlarang,”


seru Sean saat mereka baru saja keluar dari area itu.


                “Ah pantas saja tidak ada


petunjuk apapun,” seru Mine.


                “Sean, saat tadi aku sendirian


dan kamu menghilang.  Aku benar-benar


ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku benar-benar


kehilangan kamu. Aku benar-benar sangat ketakutan memikirkannya,” seru Mine.


“Sean berjanjilah. Jangan pernah menghilang dan meninggalkanku,” seru Mine


membuat Sean terdiam cukup lama.


                “Sean?”


                “Baiklah,” jawab Sean membuat


Mine tersenyum.


                Mereka pun berjalan menuju pintu


keluar dengan Mine berada di dalam gendongan Sean.


***