
Alesha menghempaskan tubuh ke sofa, menyentuh dada yang terasa sesak. Aroma matcha itu membuatnya kembali teringat pada Darren.
"Rose, kau baik-baik saja?" Untuk kesekian kali Leon mengetuk pintu.
"Pergilah, Leon! Aku ingin sendiri!" Alesha berteriak sembari mengusap sudut mata yang berair.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini! Bukankah kita teman? Sesama teman harus saling berbagi, 'kan?" Leon kembali mengetuk pintu. "Ayolah, Rose! Buka pintunya! Jika kau belum bisa bercerita, tidak masalah. Tapi setidaknya izinkan aku menemanimu."
Entah kekuatan apa yang membuat hati Alesha luluh dan akhirnya membuka pintu untuk Leon. Pria itu menghela napas lega. Kekhawatirannya pada Alesha terlalu berlebihan.
"Jangan pernah menyimpan bebanmu seorang diri. Aku akan selalu ada untukmu!"
Tidak bisa berkata-kata, Alesha memeluk Leon. Menumpahkan tangis di dada bidang pria itu. Selama ini, ia selalu menangis seorang diri. Namun, kehadiran Leon perlahan membuat ia merasa nyaman untuk membagi beban perasaan.
Mendekap Alesha dengan erat, setitik warna mulai muncul di hati Leon. Antara senang karena Alesha mempercayai keberadaannya, dan sedih seolah ia bisa merasakan rasa sakit di hati wanita itu.
"Aku membenci semua ini, Leon!"
"Meski aku tidak tahu apa permasalahanmu, tetapi aku bisa merasakan rasa sakit di hatimu. Jangan bersedih lagi, aku ada untukmu, Rose!" Ragu, namun akhirnya Leon memberanikan diri untuk mengecup puncak kepala Alesha. Menghirup aroma mawar yang memabukkan.
Alesha berucap di sela tangisnya, "Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan tidak membuatku hilang ingatan saja? Agar aku bisa melupakan semua kenangan pahit yang aku miliki!"
"Kau tidak boleh bicara seperti itu!" Leon melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menyentuh pundak Alesha. "Bagaimana jika tidak sengaja ada malaikat lewat dan mencatat itu sebagai doa?"
"Tapi aku bosan dengan semua ini!"
"No! Believe me! Mungkin saat ini Tuhan sedang memberikan ujian padamu. Tetapi suatu saat nanti, aku yakin kebahagiaan akan berpihak padamu. Kita hanya perlu bersabar dan berdamai dengan waktu!"
Alesha tidak menjawab, mencoba merenungi ucapan Leon. Selama ini ia sudah cukup bersabar. Namun, semua masih tetap sama. Darren selalu mendominasi kehidupannya. Rasa sakit bercampur rasa cinta itu terlanjur mendarah daging di dalam tubuh.
"Kau membutuhkan nuansa baru untuk melupakan semua kenangan itu."
"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Semua cara sudah kucoba, tetapi tidak ada yang berubah. Aku harus bagaimana?"
"Langkah pertama, hapus air matamu." Leon menghapus air mata Alesha menggunakan ibu jari. "Kedua, kau harus selalu menampakkan senyum di wajah cantikmu!"
Tersenyum di saat bersedih, bagaimana mungkin bisa? Leon sungguh konyol! Ah, tidak juga. Kenyataannya, seulas senyum tipis terulas di bibir Alesha. Oke, meski wanita itu terpaksa melakukannya, tetapi senyuman itu ternyata membuat hati terasa sedikit lega.
The power of smile. Senyum adalah obat paling mujarab saat sedang bersedih. Jangan percaya, kalimat bijak itu hanya teori dari Leon.
"Ketiga?" Alesha mendongak, beradu pandang dengan mata hazel Leon. Teduh dan menenangkan.
"Kau perlu refreshing. Bagaimana jika kita menonton bioskop?"
Ide bagus! Sejak bercerai dari Darren, Alesha belum pernah sekalipun pergi ke bioskop. Kehidupannya hanya diisi oleh sesuatu yang monoton. Tidak ada hal lain kecuali melukis bersama Signor Romano.
"Baiklah!" Alesha mengangguk. "Tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap!"
Leon hampir saja bersalto untuk merayakan keberhasilannya mengajak Alesha berkencan. Apa, kencan? Oke, biarlah Leon menyebutnya seperti itu. Meski bagi Alesha, menonton bioskop dengan lawan jenis tidak bisa dikategorikan sebagai kencan.
Tidak masalah. Intinya, Leon merasa bahwa hubungan mereka mengalami kemajuan satu langkah. Dua langkah jika ia berhasil mencium Alesha di kursi bioskop. Oh, no! Stop it, Leon! Hanya Darren yang boleh mencium Alesha.
***
Motor Harley Davidson itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Pikir Leon, tidak perlu mengebut. Semakin lambat, maka akan semakin lama mereka tiba di tempat tujuan. It's means, Leon memiliki waktu lebih panjang untuk berada dalam jarak sedekat ini dengan Alesha.
Jemari Alesha berpegangan pada sisi jaket kulit yang dipakai Leon. Meski berkali-kali Leon meminta Alesha untuk memeluk pinggangnya, tetapi wanita itu menolak. Bagi Alesha, terasa aneh jika ia harus memeluk pria asing, tidak peduli sekalipun Leon adalah seorang pria dengan ketampanan di atas rata-rata.
"Apa bioskopnya masih jauh, Leon?" tanya Alesha.
"Sekitar setengah jam lagi! Sabarlah, lagipula berduaan denganmu seperti ini terasa sangat menyenangkan!"
Alesha menepuk pundak Leon gemas. Oke, menyenangkan bagi Leon, tapi tidak bagi Alesha.
"Kau harus bersyukur, Rose! Kau adalah satu-satunya wanita yang pernah aku ajak berjalan-jalan dengan motor ini. Itu artinya kau sangat special!"
"Berhenti menggombal! Itu tidak akan mempan!"
"Hemmm ... baiklah! Kau memang satu-satunya gadis yang tidak terpengaruh oleh kata-kata manisku. Betapa sulitnya menaklukkan hatimu."
"Bisa cepat sedikit, Leon! Kita tidak akan cepat sampai jika motormu melaju seperti siput. Langit sudah mendung, aku takut sebentar lagi hujan."
Leon mempercepat laju motor. Jarak bioskop masih cukup jauh, karena terletak di perkotaan dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari villa. Suasana lengang jalanan mempermudah Leon untuk meliuk ke sana kemari, menyalip beberapa kendaraan lain.
Semua kejadian di dunia ini, sudah diatur dengan rapi oleh Tuhan. Begitu pula halnya yang akan terjadi pada Leon dan Alesha. Manusia memiliki rencana, namun Tuhan yang menentukan. Sama sekali tidak pernah terpikir di benak Leon, bahwa musibah sedang mengincar mereka. Satu kejadian yang akan membuat perubahan besar bagi Alesha.
Dari arah berlawanan, sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Kehilangan keseimbangan hingga menabrak Harley Davidson yang dikendarai Leon. Kecelakaan tragis tidak bisa dihindari lagi. Alesha memekik, genggaman jemarinya terlepas dari Leon. Tubuh wanita itu terlempar ke bahu jalan.
Sementara, kedua motor yang baru saja beradu itu sudah tergeletak di jalanan. Termasuk Leon, terkapar tidak berdaya sembari menatap tubuh Alesha di kejauhan.
"Rose!" Leon berteriak kencang.
Namun percuma, Alesha tidak bisa mendengar meski sekencang apapun teriakan Leon. Semuanya terasa gelap. Ia tidak bisa merasakan apapun lagi. Yang ia tahu, seisi dunia ini berubah hitam dan membeku!
***
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Albert seraya menyodorkan tisu pada Darren.
"Entahlah, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Aku ... mengkhawatirkan Alesha." Darren mengelap tumpahan kopi di celana hitamnya. Mata hazelnya menatap cangkir yang sudah berubah menjadi kepingan tidak beraturan di lantai.
"Mungkin Anda terlalu merindukannya. Anda bisa menelepon Signor Romano dan menanyakan keadaan Nyonya."
"Kau benar." Darren bergegas mengambil ponsel dan menelepon Signor Romano. Jantungnya masih berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi dahi.
"Ciao, Darren! Come stai?" Signor Romano menanyakan kabar Darren.
"Kabarku baik-baik saja, Signore! Maaf menyita waktumu sebentar. Aku hanya ingin tahu, apakah Alesha baik-baik saja di sana?"
Hening sejenak. Perasaan Darren mulai tidak karuan, detak jantungnya semakin tidak terkendali. "Signore, apa Alesha baik-baik saja?" ulang Darren, karena Signor Romano tidak kunjung menjawab.
Terdengar suara tawa di seberang sana. "Kau merindukannya, Anak Muda? Tidak perlu khawatir, kami selalu menjaga Alesha dengan baik. Dia ... sedang sibuk menyelesaikan lukisan yang akan dipamerkan di galeri seni bulan depan."
"Oh, oke. Grazie, Signore! Sampaikan salamku pada Alesha. Aku selalu merindukannya."
Darren memutuskan sambungan telepon. Menghela napas kasar, menetralkan debaran aneh di dada. Ia menatap Albert yang duduk di hadapannya. "Alesha baik-baik saja."
"Syukurlah jika demikian. Mungkin kondisi kesehatan Anda sedang menurun, Tuan. Apa perlu saya panggilkan dokter?"
Darren menggeleng. "Tidak perlu, Albert. Oke, sepertinya pembicaraan hari ini cukup. Awasi terus perkembangan pembangunan hotel di Pulau Teratai. Jangan sampai melenceng dari konsep yang sudah ditentukan sejak awal."
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya pamit dulu."
Sepeninggal Albert, Darren merapikan semua berkas-berkas di meja. Mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Diliriknya jam tangan Rolex warna gold yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Jam empat sore.
Darren bergegas menenteng tas, keluar ruangan. Pria itu menghampiri sekretarisnya. "Tolong batalkan meeting. Aku lupa bahwa sore ini ada janji dengan putriku untuk menonton bioskop."
Wanita berambut pendek itu mengangguk. "Baik, Tuan. Jadwal meeting bisa saya ganti besok pagi."
"Oh ya, satu hal lagi. Tolong belikan boneka panda berukuran besar warna pink! Kirim boneka itu ke rumahku sebelum jam lima sore!"
"Saya pastikan kurir akan mengantar boneka ke rumah Anda tepat waktu, Tuan!"
"Terima kasih, putriku pasti akan merasa senang."
Darren tersenyum dan beranjak meninggalkan meja sekretarisnya. Masih dengan sisa-sisa perasaan tidak enak di hatinya. Serta pikiran yang terus tertuju pada Alesha. Tenang, Darren! Alesha baik-baik saja! Ia berusaha menghibur diri sendiri.
***
"Tidak bisakah kau mempercepat kerjamu?" Leon menghardik suster yang sedang membalut luka di tangannya.
"Maaf, Tuan! Sebentar lagi ini selesai!" sahut suster berwajah manis itu. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah wajah tampan Leon.
"Aku ingin melihat Rose, sekarang!"
"Tapi, Tuan! Anda harus beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh Anda!"
Leon menatap suster dengan tatapan tajam. "Peduli apa dengan kondisiku, huh? Aku hanya peduli pada Rose! Bagaimana keadaannya?"
"Luka di tubuh Nona Rose cukup parah. Kepalanya mengalami cedera serius. Dokter sedang merawatnya di ruang ICU. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya! Semua akan baik-baik sa--"
"Bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya, bodoh! Seharusnya aku yang sekarat, bukan dia!" Leon turun dari atas ranjang rumah sakit.
"Anda harus diinfus, Tuan!" Suster berusaha tenang menanggapi sikap Leon. Tampan, tapi sayang galak seperti singa yang sedang mengamuk!
"Masa bodoh dengan infus, aku hanya ingin memastikan bahwa Rose baik-baik saja!" Leon sudah hampir pergi dari ruangan itu, namun kepalanya terasa pusing dan nyeri. Ia terhuyung dan kembali terduduk di ranjang.
"Tuan, dokter sedang menangani Nona Rose. Percuma Anda datang ke sana, dokter tidak akan memperbolehkan masuk. Jika mengkhawatirkannya, seharusnya Anda tetap berada di sini. Pulihkan kondisi Anda terlebih dahulu. Berdoa semoga Nona Rose baik-baik saja!"
Leon kehilangan kata-kata. Ia merebahkan diri di ranjang, membiarkan suster memasang jarum infus di pergelangan tangannya. Kepalanya terasa berdenyut.
Hatinya gelisah. Kenapa harus Alesha yang mengalami cedera parah? Sementara Leon hanya luka ringan dengan beberapa jahitan kecil di dahi, lengan dan kaki.
"Selamat beristirahat, Tuan! Jika membutuhkan bantuan, silakan tekan bel di sebelah Anda!" Suster membereskan peralatan medis dan bersiap meninggalkan ruangan.
"Jaga Rose baik-baik!" Leon berteriak, tidak peduli sekalipun suaranya terdengar hingga ke luar ruangan. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku akan membunuhmu!"
Wajah suster itu berubah pucat. Mundur selangkah dan terburu-buru meraih handle pintu. Sekali lagi, diliriknya wajah tampan yang kini sudah memerah karena emosi. Ah, beruntungnya wanita bernama Rose itu. Memiliki kekasih tampan dan rela melakukan apapun untuknya.
Leon menghela napas kasar. Tuhan, tolong selamatkan Rose-nya!
Pria itu tidak berhenti menyalahkan diri sendiri. Kalau saja ia tidak mengajak Alesha untuk menonton bioskop, semua ini tidak akan terjadi. Ya Tuhan, jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Alesha, maka Leon tidak bisa memaafkan dirinya sendiri!
***