Ex-husband

Ex-husband
TRAPPED



Leon berdiri di puncak gedung, tempat favoritnya. Tidak peduli gerimis membasahi tubuh, ia melangkah ke bagian tepi, lalu duduk dengan santai di sana. Menatap rumah-rumah penduduk. Berbeda dengan di kota, rumah di perkampungan itu belum terlalu padat.


Dari puncak gedung itu pula ia bisa melihat hutan pinus di dekat villa, serta lautan yang terhampar luas. Paling menakjubkan adalah pemandangan bukit-bukit menghijau di kejauhan. Pemandangan alam yang luar biasa. Harus dia akui, Darren cukup cerdik mendirikan hotel di sini dan bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengelola tempat wisata.


Di saat seperti ini, ia selalu teringat pada Alesha. Ah, rupanya cinta telah benar-benar menguasai hati. Suara merdu yang selalu terngiang di telinga, serta wajah dengan kecantikan natural itu selalu terbayang di benaknya. Cinta bukan hanya indah, tetapi menyiksa.


"Leon!" panggil Albert.


Leon menoleh. Albert duduk di sisinya.


"Tuan Darren memintamu untuk membeli beberapa peralatan melukis yang sekiranya masih kurang. Tuan Darren mempercayakannya padamu, karena kau pasti lebih paham tentang hal ini. Malam ini, kita berangkat ke Jakarta. Peralatan di sana lebih lengkap dibanding dengan di daerah sini," ucap Albert.


"Baiklah, kapan kita berangkat?"


"Malam ini juga."


"Kenapa harus malam ini?"


"Helikopter Tuan Darren sudah menunggu, tidak bisa ditunda. Setelah hujan reda, kita berangkat."


Leon mengangguk. Malam ini, ia tidak bisa bertemu dengan Alesha. Rindu, apakah Alesha juga merasakan hal yang sama? Apakah Alesha membuatkan makan malam untuknya lagi? Atau ... wanita itu sedang sibuk di sanggar kesenian bersama Darren? Instingnya sebagai seorang lelaki mengatakan bahwa pria itu mengajaknya bersaing. Oke, tidak masalah. Dengan senang hati, Leon akan menerima tantangan ini.


***


Langit semakin terlihat gelap. Mendung hitam bergelayut, sementara angin berembus semakin kencang. Tak lama kemudian, rintik hujan mulai membasahi bumi. Anak-anak lelaki yang sedang berenang di pantai bergegas mengakhiri kesenangannya. Berlari cepat, tidak ingin terlalu lama berada di bawah hujan.


"Hai, Nona Rose!" Beberapa di antara mereka melambaikan tangan pada Alesha, masih dengan kecepatan lari yang sama.


Alesha yang berdiri di samping Darren membalas lambaian tangan mereka sembari tersenyum.


"Wah, rupanya kau cukup terkenal di sini," ucap Darren. Keduanya masih belum berniat untuk meninggalkan pantai.


"Ya, mereka sering membantuku mencari kulit kerang kecil. Aku mengumpulkannya untuk dipakai sebagai hiasan."


"Sepertinya hujan semakin menderas. Kita harus segera pulang. Aku tidak ingin kau sakit." Darren menarik lengan Alesha perlahan. Berlari menjauhi pantai.


Alesha tergesa-gesa mengikuti langkah panjang Darren. Secepat apapun mereka melangkah, namun ternyata hujan deras turun lebih cepat.


"Kita berteduh di gazebo itu dulu!" Darren berseru. Masih menggandeng tangan Alesha, berbelok menuju gazebo di sisi kanan jalan.


Gazebo itu biasa dipakai oleh para pemancing ikan untuk beristirahat sejenak. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 2 x 3 meter. Cukup untuk berteduh bagi Alesha dan Darren.


Mereka berdiri bersisian di bawah atap gazebo, menghindari tampias air hujan. Tidak ada siapapun, hanya mereka berdua.


"Astaga, aku tidak pernah membayangkan kita akan terjebak hujan di sini," keluh Alesha, mencoba menenangkan dadanya yang berdebar lembut. Genggaman jemari kokoh Darren memberikan kenyamanan tersendiri.


Darren terkekeh sembari melepas kacamata hitam dan meletakkannya di saku kemeja. "Ini menyenangkan. Aku yakin ini akan menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kita."


Wajah Alesha memanas. Kita! Rose dan Darren sama dengan kita? Terdengar manis, bukan?


"Kau kedinginan? Kalau saja aku memakai jaket, maka aku akan memakaikan jaketku di tubuhmu. Seperti di film-film."


"Darren, jangan membuatku merasa seperti seorang gadis yang sedang berteduh bersama kekasihnya!"


"Jadi, anggaplah aku sebagai kekasihmu!"


Alesha mencubit lengan Darren. Pria itu mengaduh lalu tertawa.


"Meski baru dua hari bertemu denganmu, entah kenapa aku merasa bahwa aku sudah bertahun-tahun mengenalmu," ucap Alesha.


"Karena tubuh kita sudah pernah menyatu ... " Darren bergumam.


Oke, tapi gumaman itu cukup jelas untuk bisa ditangkap oleh indra pendengar Alesha. Wanita itu mengernyitkan alis, menatap Darren penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?"


"Aku tidak mengatakan apapun, Rose!" kilah Darren.


"Tidak! Aku jelas mendengarmu mengatakan bahwa ... tubuh kita ... sudah pernah menyatu?" Alesha *** jemari, gelisah.


"Aku hanya mengatakan hari ini kita memakai pakaian yang sama. Kau memakai rok putih, sementara kemejaku berwarna putih. Blouse yang kau pakai bermotif garis-garis hitam dan putih, sama halnya dengan motif celana milikku."


Alesha menatap pakaiannya, lalu beralih pada Darren. Pria itu benar, tapi meskipun amnesia, dokter tidak menyatakan bahwa fungsi pendengaran Alesha berkurang.


"Darren, aku memang amnesia. Tapi telingaku masih bisa mendengar dengan baik. Kau dengan jelas mengatakan bahwa tubuh kita ... sudah pernah menyatu!"


"Astaga, Rose! Kau berkali-kali mengatakannya. Apa kau memang menginginkan hal itu?"


"Menyatukan tubuh kita ... " Darren mengedipkan sebelah mata.


Alesha membelalak lebar. Bibirnya cemberut. Kalimat Darren terlalu vulgar bagi dua orang yang baru saling mengenal. Atau mungkin Darren adalah type seorang pria mesum?


"Hei, aku hanya bercanda, berhenti memanyunkan bibir seperti itu. Kau tahu, aku senang menggodamu karena aku suka melihat pipimu merona!" Pria itu lagi-lagi tertawa.


"Darren, ini tidak lucu!"


"Sudahlah, hari mulai gelap. Lebih baik kita pulang sekarang. Tidak apa, kehujanan sebentar."


Darren menggandeng tangan Alesha. Pria itu benar, suasana sudah mulai gelap. Tidak ada bedanya mereka tetap berada di situ ataupun memilih beranjak pergi. Hujan semakin deras serta angin kencang membuat tubuh Alesha menggigil.


Berlari menembus rintik hujan. Sesekali kaki Alesha tersandung akar pohon cemara. Untungnya, tidak terjatuh. Bagi Darren, berlari di bawah hujan bersama orang yang dicintai adalah hal paling romantis. Tidak perlu ada drama si wanita harus terpeleset jatuh lalu Darren dengan sigap menangkapnya.


"Aku selalu membawa baju cadangan di dalam mobil. Aku akan mengambilnya, kau masuk ke villa saja dulu."


Mereka berpisah. Darren menuju mobil di halaman Leon, sementara Alesha berlari masuk ke villa. Seulas senyum terbentuk di bibir Alesha. Rupanya, ia sangat menikmati keromantisan ini bersama Darren. Pria itu ... kenapa terlihat begitu istimewa?


***


Alesha menggosok rambut basahnya dengan sehelai handuk kecil. Ia baru saja mandi. Dari ruang tamu, ia melihat Darren berdiri di teras. Tubuh tegapnya bersandar di tiang bangunan.


"Hei, kenapa kau masih di luar? Masuklah, Darren!" seru Alesha.


Darren beranjak, mengambil sebuah paper bag berisi pakaian dari atas meja. Tertegun sejenak di ambang pintu. Melihat Alesha mengeringkan rambut, ingatannya melayang ke beberapa tahun lalu, saat mereka belum lama saling mengenal.


Waktu itu, Darren bertamu ke rumah Alesha di pagi hari. Alesha baru saja selesai mandi, menggosok rambut dengan sehelai handuk. Aroma kelopak mawar yang menguar dari rambut Alesha membuat Darren tergoda, sehingga ia nekat memeluk wanita itu.


Sabar, Darren! Pria itu menenangkan diri sendiri. Kau tidak boleh terburu-buru, sebentar lagi, oke? Tahan hawa nafsumu, atau Alesha akan ketakutan dan lari lagi darimu. Slow, jika saatnya sudah tepat, kau tidak hanya boleh memeluk, tetapi juga boleh mencium dan menyentuhnya di mana-mana.


"Kau kelihatan bingung. Ada masalah?" tanya Alesha.


"Kedua ban mobilku kempes, tertusuk paku. Aku sudah menelepon asisten, tetapi dia sedang sibuk sehingga membutuhkan waktu lama untuk datang. Boleh aku menunggunya di sini sampai dia datang?"


"Oh, begitu. Tentu saja boleh. Di sini daerah terpencil, tidak ada taksi. Mandilah, aku sudah menyiapkan peralatan mandi baru untukmu."


Darren bersorak dalam hati. Rencananya sukses! Setelah mandi, ia bisa menjalankan rencana selanjutnya. Ah, dia benar-benar sudah tidak tahan ingin tidur dan memeluk wanita ini.


Lima belas menit kemudian, Darren selesai membersihkan diri. Alesha menunggu di sofa, melambaikan tangan. Dua cangkir teh hangat mengepul di atas meja. Beberapa toples biskuit tersedia di sana.


"Boleh aku minta air putih?"


"Oke, aku ambilkan sebentar." Alesha beranjak menuju dapur.


Darren bergegas melancarkan aksinya. Menuang serbuk putih ke dalam cangkir teh milik Alesha. Baiklah, ia terpaksa melakukan cara licik ini. Tersenyum, teringat saat ia melakukan hal yang sama sebelum mereka menikah. Waktu itu, Darren juga berbuat curang untuk menjebak Alesha.


Tapi kali ini berbeda. Ia hanya ingin memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memeluk tubuh mantan istrinya. Menatap wajahnya yang tertidur pulas, itu sudah cukup.


Alesha kembali membawa segelas air putih. Darren mengucapkan terima kasih, lalu meminumnya hingga tandas. Wanita itu duduk di seberang Darren. Keduanya terlibat obrolan yang cukup akrab. Sesekali menyesap teh hangat dan memakan biskuit.


Setengah jam kemudian, Alesha mulai menguap. "Apa asistenmu masih lama? Rasanya aku mulai mengantuk."


"Mungkin sebentar lagi," sahut Darren.


Tetapi, Alesha tidak bisa menunggu. Kantuknya tidak tertahankan lagi, ia pun terlelap di tempat duduknya.


"Maaf, Sugar! Aku terpaksa membuatmu tertidur. Kau tahu, aku sangat merindukanmu!" Darren berbisik di telinga Alesha. Kemudian ia memindahkan wanita itu ke kamar.


Darren memadamkan lampu kamar. Hujan sudah lama reda. Dibukanya tirai jendela lebar-lebar, cahaya purnama menerobos melalui jendela kaca. Suasana favorit Darren.


Dihampirinya tubuh Alesha yang terlelap di ranjang. Darren berbaring di sisinya. Dengan bertumpu pada siku, ia memperhatikan wajah Alesha. Mengusap wajah cantik itu, tertegun saat menemukan bekas luka di dahi.


Bekas kecelakaan waktu itu. Hatinya teriris. Saat Alesha terbaring koma di ruang ICU, Darren tidak ada di sampingnya. Justru Leon yang dengan setia mendampingi bahkan rela membiayai tagihan rumah sakit.


Darren dengan bodohnya menolak saat Leon mengajukan pinjaman. Kalau saja Darren tahu bahwa uang itu digunakan untuk perawatan Alesha, jangankan tiga ratus juta, seluruh asset pun Darren rela menukarnya dengan keselamatan Alesha. Bagi Darren, Alesha adalah segalanya.


Darren merunduk, mengecup dahi dengan lembut. Kecupannya membentuk satu garis lurus ke bawah, menuju hidung. Bibirnya gemetar saat bibir mereka bersentuhan. Sengatan halus terasa ke seluruh pembuluh darahnya.


Sungguh, Darren sangat merindukan Alesha. Merindukan setiap inchi tubuhnya, merindukan suara tawanya, dan merindukan semua hal tentang Alesha.


"Aku mohon, Sugar! Tolong beri kesempatan kedua padaku ... " lirih Darren putus asa.


***