Ex-husband

Ex-husband
JEALOUS



Leon menghela napas kasar. Mata hazelnya menatap Alesha tajam. "Semalam Darren menginap di sini?"


"Ya, ban mobilnya kempes dan--"


"Itu hanya modus!" potong Leon. Sekarang ia tahu alasan Albert mengajaknya membeli peralatan melukis di Jakarta. Memberikan kesempatan pada Darren agar lebih leluasa bergerak mendekati Alesha. Pria licik!


"Aku tahu kau tidak menyukai Darren. Tapi bukan berarti kau harus selalu berprasangka buruk padanya." Alesha menyanggah.


"Kalian tidur di ranjang yang sama?" Oke, anggaplah Leon memang berpikir yang tidak-tidak tentang Alesha. Seorang wanita dan pria berada di satu kamar, apa yang akan dilakukan?


"Kau ini bicara apa, Leon! Aku tidur di kamar, sedangkan Darren tidur di sofa. Aku bukan wanita seperti yang kau pikirkan!"


"Ya, pertama kali aku melihatmu, aku pikir kau adalah wanita yang berbeda. Tapi ternyata ... kau dengan mudah menerima pria asing untuk memasuki wilayah pribadimu!" Leon tertawa sinis. Menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Kalian berciuman?"


Kedua pipi Alesha merona. Wanita itu memalingkan wajah menghindari tatapan Leon. "Apa aku harus menjawabnya?"


"Tidak perlu. Kissmark di lehermu sudah mewakilinya." Leon menyibak rambut yang tergerai di leher Alesha. Alesha tidak bisa lagi berbohong. Leon bukanlah anak kecil yang tidak mengerti tanda apa yang membekas di sana.


Alesha mundur selangkah, menutupi leher dengan kedua tangan. Kissmark? Astaga, kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana?


"Baiklah, kami memang berciuman. Tapi tidak lebih dari itu, sungguh!"


"Aku tahu Darren memang tampan dan kaya. Seorang pengusaha sukses. Tidakkah kau bisa membatasi diri dengannya, Rose? Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Semalam mungkin dia hanya meninggalkan kissmark di lehermu. Tidak menutup kemungkinan malam berikutnya Darren akan menelanjangimu dan menitipkan benihnya di rahimmu. Perlu kau ingat satu hal, pria kaya bisa melakukan apapun dengan uangnya, termasuk untuk mempermainkanmu!"


Leon menghela napas. Alesha tertegun, pikirannya kacau. Yang dikatakan Leon benar. Bukankah pria kaya memang senang bergonta-ganti pasangan? Apa Darren hanya mengincar tubuh Alesha, lalu ditinggalkan begitu saja setelah mendapatkannya?


Benar, seharusnya Alesha curiga sejak awal. Kedekatan mereka terlalu cepat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Alesha juga menikmati kedekatan ini. Bahkan, ia menikmati setiap sentuhan dan pagutan bibir sensual milik Darren. Hei, jangan ingat hal itu lagi!


"Lalu aku harus apa?"


"Ikuti kata hatimu!" Leon beranjak dari sana. Melompati pagar dengan lincah. "Tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu, Rose!" serunya sebelum menghilang di balik pintu.


***


Semua terjadi begitu cepat. Alesha menutup kedua telinga, tidak menyukai pertengkarannya dengan pria berbadan tinggi tegap itu.


Detik berikutnya, pria berkemeja putih itu melepaskan dasi yang dikenakan. Dengan mudah meraih kedua pergelangan tangan Alesha, lalu membuat simpul mati di sana. Alesha meringis menatap kedua tangannya yang terikat, mencoba menggigitnya namun gagal. Ikatan itu terlalu kuat.


"Itulah akibatnya jika kau berani menentangku!" Pria itu berteriak, menampakkan seringaian kejam.


Alesha membuka mata. Napasnya terengah-engah, mimpi buruk itu datang lagi. Ini sudah keempat kalinya ia bermimpi seorang pria mengikat kedua tangannya, dengan alasan yang tidak diketahui.


Wanita itu menyeka peluh di dahi, lalu meraih segelas air putih di atas nakas. Diminumnya hingga tandas. Lalu ia memijit kening yang terasa pusing.


Apa sebenarnya arti mimpi-mimpi itu? Kenapa bisa datang beruntun? Mimpi yang sama, pria yang sama. Terkadang mencumbunya dengan kasar, adakalanya memuja dengan kelembutan, lalu berteriak dan mengikat tangan Alesha menggunakan dasi.


Mungkinkah itu adalah potongan-potongan masa lalunya? Siapa pria yang wajahnya terlihat samar itu?


Jam dinding berdentang sebelas kali. Alesha menyingkap selimut dan beranjak dari tempat tidur. Mengetuk pintu villa Leon.


"Rose? Kau baik-baik saja?" tanya Leon cemas.


Alesha tidak menjawab. Melenggang di depan Leon, lalu duduk di sofa. Leon mengedikkan bahu, duduk di seberang Alesha.


"Boleh aku bercerita satu hal? Selama ini aku selalu menyimpannya sendiri, tapi malam ini aku merasa lelah sendirian." Alesha bertopang dagu.


"Tentu saja, sudah kubilang sesama teman harus saling berbagi."


"Kau ingat saat aku melukis mata berwarna hazel?"


"Ya, aku ingat."


"Sejak terbangun dari koma, aku sering memimpikan seorang pria. Wajahnya terlihat samar, namun aku mampu menangkap dengan jelas bahwa matanya berwarna hazel." Alesha menghela napas sejenak. "Berkali-kali mimpi yang sama itu datang, terkadang pria itu menciumku, terkadang menyakitiku secara fisik."


Leon terlihat antusias mendengarkan cerita Alesha. Mencoba menyimpulkan inti dari kalimat wanita itu.


"Apakah dulu aku pernah bercerita sesuatu tentang masa laluku? Mungkin kekasih, atau ... teman?"


"Kau tidak menceritakan apapun selain tentang orang tua yang sudah meninggal. Dan satu lagi, kau datang ke villa ini untuk melarikan diri dari masa lalu. Beberapa saat sebelum kecelakaan itu terjadi, kau berucap ingin Tuhan membuatmu hilang ingatan agar bisa melupakan kenangan pahit yang kau miliki. And then, Tuhan mengabulkan keinginanmu."


Alesha *** rambut dengan cemas. "Oh, benarkah aku berkata seburuk itu?"


"Lupakan, semua sudah terlanjur terjadi."


"Apa menurutmu mimpi-mimpi itu adalah bagian dari masa laluku?"


"Tapi--"


"Percayalah padaku, Rose! Jika saat ini kau sudah merasa bahagia, tidak perlu lagi kembali mengusik masa lalu."


"Bagaimana aku bisa bahagia jika mimpi-mimpi buruk itu selalu menghantui?" Alesha menggerutu. Meletakkan bantal di sisi sofa lalu berbaring di sana. "Aku lelah, Leon! Benar-benar lelah!"


Leon menangkup wajah, mengintip Alesha dari balik jemarinya. Wanita itu terpejam, atau mungkin sudah tertidur. Leon tahu, Alesha tidak bisa menahan kantuk terlalu lama. Kasihan, bahkan setelah lupa ingatan pun, masa lalu selalu menghantuinya.


Leon mencoba merangkai kepingan puzzle dari cerita Alesha. Mimpi yang selalu sama. Pria bermata hazel, mencium dan menyiksa secara fisik. Baiklah, sembilan puluh persen bisa dipastikan bahwa itu adalah bagian masa lalu Alesha. Kenangan buruk yang seharusnya dilupakan oleh wanita itu.


Leon mencoba merangkai puzzle itu dengan Darren, pria itu juga bermata hazel. Darren membangun hotel dengan konsep mawar karena istrinya sangat menyukai mawar, sama seperti Alesha. Kemarin, Albert mengatakan bahwa Darren sudah bercerai sejak satu tahun lalu.


Potongan puzzle yang sangat cocok. Secara tidak sengaja Darren melihat Alesha di sini, lalu berusaha mendekatinya lagi. Tidak mengherankan jika Darren melakukan berbagai cara untuk meluluhkan hati mantan istrinya. Termasuk membuat Leon tidak pulang, sementara Darren sendiri memanipulasi agar ia bisa menginap di villa bersama Alesha.


Leon menggeram marah, mengaitkan antara Alesha yang begitu ingin melupakan masa lalu, dan mimpi-mimpi buruk wanita itu. Jika mimpi buruk itu merupakan bagian dari masa lalu, itu artinya Darren sering menyakiti Alesha secara fisik dan mungkin juga psikis. Darren bukan pria baik. Alesha harus dijauhkan dari Darren, tidak peduli sekalipun pria itu adalah mantan suaminya.


Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti Alesha, desis Leon.


***


Berkali-kali Darren mengetuk pintu villa Alesha, tetapi tidak ada jawaban. Ia melirik jam tangan Rolex miliknya, pukul tujuh. Tidak mungkin jika Alesha belum bangun.


"Terima kasih, Leon! Villamu cukup nyaman untuk membuat tidurku bermimpi indah."


Darren menoleh ke villa sebelah. Alesha sedang merapikan rambut dengan tangan. Sementara tubuhnya masih terbalut piyama bergambar hello kitty. Sepagi ini, apa yang dilakukan Alesha di sana? Tidur bermimpi indah, katanya?


"Bye! Hati-hati di jalan!" Alesha melambai.


Harley Davidson yang dikendarai Leon menderu kencang. Alesha membuka pintu pagar dan menutupnya kembali. Tertegun sesaat melihat seorang pria sedang berdiri di teras.


"Darren!" seru Alesha.


Darren memasang wajah dingin. Menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tubuh tegapnya bersandar di dinding. "Kau tidur di tempat Leon?" tanyanya.


Alesha mengangguk. Interogasi yang sama. Jika kemarin Leon yang menampakkan rasa tidak suka, sekarang giliran Darren. "Semalam aku ketiduran di tempat Leon. Hanya tidur, sungguh!"


"Bukankah sudah kubilang, jangan terlalu percaya pada orang asing. Bagaimana jika Leon berbuat tidak senonoh padamu?"


"Seperti yang kau lakukan kemarin? Itu berarti kau bukan pria yang pantas dipercaya, begitu?"


Darren menepuk dahi. Alesha membalikkan kata-katanya. "Oke, maaf. Malam itu aku khilaf."


"Setidaknya Leon tidak suka khilaf sepertimu. Kami teman baik, dan Leon tahu batasannya."


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Rose!"


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku baik-baik saja." Alesha memutar anak kunci dan membuka pintu. Masih terngiang pesan Leon, jangan terlalu dekat dengan Darren, dia bukan pria baik-baik.


Baiklah, sekuat apapun Alesha berusaha untuk tidak mengacuhkan Darren, tetapi hati kecilnya memberontak. Berkali-kali ia mencuri pandang pada pria berjas hitam itu. Jantungnya berdegup kencang, mengagumi ketampanan Darren.


"Hari ini aku ada meeting di balai kota. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke sini untuk membawakan beberapa macam kue berbahan dasar matcha untukmu." Darren menyerahkan satu kotak kertas berisi kue dengan logo nama café di Jakarta.


"Matcha? Apa rasanya enak?" Alesha mengambil kotak, lalu mempersilakan Darren masuk. Ah, lupakan sejenak nasehat Leon. Itu bisa dipikirkan lagi nanti.


"Kau pasti suka."


"Oke, nanti aku coba. Mau minum apa?"


"Tidak usah repot-repot. Waktuku tidak banyak, sebentar lagi meeting dimulai. Nanti siang aku boleh ke sini lagi?"


Alesha mengangguk. Dalam hati bersorak, masih ingin lebih lama berada di dekat Darren.


"Rose, boleh aku memberitahu satu hal?"


"Tentu saja."


"Tolong jangan terlalu dekat dengan Leon. Aku ... tidak menyukainya."


Belum sempat Alesha menjawab, Darren sudah terlebih dahulu pergi. Alesha termenung. Kenapa mendadak Darren bersikap possessive seperti itu? Alesha hanya berteman dengan Leon, dan ia rasa itu tidak salah.


Mungkinkah karena Darren merasa cemburu? Alesha menyentuh dada, debaran lembut itu selalu terasa saat ia memikirkan Darren. Benarkah ini yang dinamakan cinta? Dan mungkinkah pria itu merasakan hal yang sama? Ah, Alesha tidak sabar menantikan saat Darren kembali datang ke sini.


***