
Alesha merapatkan tubuh ke dinding samping jendela. Oh, astaga! Dia hampir saja mati berdiri! Pria berwajah blasteran di sana, kenapa terlihat sangat mempesona? Tubuh tinggi tegap, terbalut kemeja putih dan dilapisi jas berwarna abu-abu.
Alesha menyentuh dada kiri, merasakan jantungnya berdetak cepat. Tersenyum, membayangkan wajah tampan itu. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Oh, apa-apaan ini, Alesha? Kau sudah dewasa, tetapi hatimu bersorak layaknya remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
Dua orang pria itu masih bercakap-cakap di halaman villa milik Leon. Entahlah, Alesha tidak bisa mendengar jelas pembicaraan mereka. Mungkin pria tampan itu adalah pengusaha yang sedang membangun proyek hotel di daerah sini. Dilihat dari penampilannya, dia terlihat berasal dari kalangan atas.
"Apa yang kau pikirkan, Rose?" Alesha mengutuk diri sendiri. "Jangan berharap lebih. Ingat, kau hanya wanita biasa yang tidak akan mungkin bisa menarik perhatian pria kaya."
Coba saja sampai Leon tahu perasaan Alesha saat ini. Dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Mana ada pria kaya yang mau menikahi gadis miskin. Hello ... kisah seperti itu hanya bisa ditemukan di dalam novel. Jika pun ada, perbandingannya adalah satu banding seribu.
Alesha kembali mengintip melalui jendela. Kedua pria itu telah pergi menuju hutan pinus. Ia mendesah, andai saja ia bisa melihat wajah tampan itu dari dekat!
***
Usai meninjau lokasi hutan pinus, Darren masih ingin menemui tetangga Leon. Ia menyuruh Albert untuk menunggu di dalam mobil.
"Tuan, saya mohon jangan bersikap gegabah!" Albert mengingatkan. "Terlepas wanita itu adalah Nyonya ataupun hanya sekedar mirip, saya harap jangan mengatakan apapun. Wanita itu amnesia, jangan membuat kondisi psikisnya memburuk. Ia masih dalam tahap pemulihan."
Darren mengangguk. Membuka pintu pagar kayu, jantungnya berdetak cepat. Ia ingin memastikan apakah tadi dia benar-benar berhalusinasi seperti kata Albert? Ah, Darren sangat yakin dengan penglihatannya. Ia bahkan berani menaikkan gaji Albert sebanyak dua kali lipat jika benar dirinya berhalusinasi.
Darren hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk menunggu pintu terbuka. Seorang wanita berdiri tegak di depan pintu. Tangannya masih memegang handle pintu, terlihat sedikit gemetar.
Baiklah, Darren tidak tahu harus berbuat apa. Apakah harus berteriak pada Albert dan meyakinkan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi? See, wanita itu tidak hanya mirip dengan Alesha. Tapi seharusnya dia benar-benar Alesha!
"Selamat siang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?"
Darren tersenyum miris. Kau dengar itu, Darren? Dia bahkan tidak mengenalimu!
Darren tidak peduli meskipun semua orang menganggap wanita ini sebagai Rose! Namun, naluri Darren tidak bisa dibohongi. Ia bahkan sudah hafal setiap inchi tubuh wanita di hadapannya. Ia mengenal merdunya suara mantan istrinya. Yang paling penting, di dalam rongga dada, Darren masih menyimpan aroma mawar yang sama dengan aroma rambut wanita ini!
Alesha tidak mengenalinya. Seketika Darren merasakan ribuan anak panah menghunjam jantungnya. Menyakitkan!
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Wanita itu mengulangi pertanyaannya.
"Ah, ya!" Darren berusaha menenangkan diri. "Anda tetangga Leon yang bernama Rose?"
"Ya, benar."
"Perkenalkan, saya Darren. Saya baru saja meninjau lokasi hutan pinus. Dan maaf, boleh saya menumpang ke kamar mandi sebentar?"
"Tentu saja. Mari saya antar!"
Darren berjalan di belakang Alesha. Villa itu berukuran minimalis. Hanya meliputi ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Di beberapa sudut, terdapat pot bunga sansivierra. Oke, Darren bisa menjadikan ini sebagai bukti tambahan bahwa wanita itu benar mantan istrinya.
"Silakan, Tuan! Saya akan ... menunggu di luar."
Tapi aku lebih mengharapkanmu untuk ikut ke dalam! Ah, tentu saja Darren hanya berani mengucapkan itu dalam hati. Demi apa, jika saja Alesha memberikan izin untuk menciumnya, maka Darren akan langsung menyeret wanita itu ke kamar detik ini juga.
Alesha melangkah cepat, kembali ke ruang tamu. Duduk di sofa dengan gelisah.
Ya Tuhan, jantungnya berdegup kencang, terlebih saat tahu bahwa pria itu bermata hazel. Tidak hanya itu, sorot matanya yang begitu tajam mengingatkannya pada pria yang selalu mencumbunya di alam mimpi.
Tolong katakan bahwa ini hanya kebetulan! Ada jutaan manusia di bumi ini yang bermata hazel, 'kan? Dan pria asing itu adalah salah satunya. Lalu apa termasuk kebetulan juga jika Alesha sering tanpa sadar melukis mata hazel itu?
"Aku melihat kanvas dan peralatan melukis di kamar! Maaf, pintu kamarmu terbuka dan aku tidak sengaja melihatnya, serius!"
Alesha mengernyit. Bahkan pria ini mulai bersikap sok akrab dengan menyebut aku - kau.
"Ya, aku suka melukis!" sahut Alesha di antara kebingungannya.
"Wow, kebetulan sekali! Untuk menunjang sektor pariwisata, pemerintah setempat akan menggali potensi warga dalam bidang kesenian. Mulai dari seni lukis, seni tari, dan beberapa kesenian lainnya. Karena itu, kami sudah membuka sanggar kesenian. Sayangnya, kami masih kekurangan tenaga pengajar untuk bidang seni lukis. Jika tidak keberatan, kau bisa bergabung bersama kami!"
"Maksudnya, sebagai pengajar seni lukis?"
"Benar sekali. Tenang saja, kami memberikan honor yang cukup besar bagi setiap pengajar."
"Baiklah, saya setuju!"
Darren menjentikkan jari. "Oke. Besok siang aku akan kembali ke sini dan menjemputmu. Kita pergi ke sanggar seni bersama-sama."
Dada Alesha terasa sesak. Kenapa kalimat Darren lebih terasa seperti seorang kekasih yang mengajak gadisnya berkencan! Kedua mata itu saling bertatapan. Sorot mata tajam menguasai, ah ... Alesha benar-benar takluk di bawah kuasanya.
Kenapa Alesha teringat mimpi-mimpinya? Saat pria itu memberikan sentuhan liar dan mencumbunya dengan gairah penuh.
"Aku pergi dulu, Rose!"
Alesha mengangguk. Namun, pria itu tidak kunjung beranjak dari tempatnya. Berdiri tegak, tersenyum misterius. Alesha menggigit bibir bawah, ada sedikit rasa takut di dalam dirinya. Kenapa harus takut? Alesha menenangkan diri sendiri.
Lihatlah, pria itu berwajah rupawan. Rahang tegas dengan bulu-bulu halus tercukur rapi. Hidung mancung, bibir sensual, dan ... mata hazel bersorot tajam. Paket komplit itu masih ditambah dengan tubuh tinggi tegap, dada bidang, serta Alesha yakin bahwa di balik kemeja putih itu terdapat pahatan otot-otot yang sempurna.
Berani taruhan, lengan-lengan kokohnya pasti mampu memberikan rasa nyaman pada setiap wanita yang dipeluknya. Ah, betapa beruntung gadis yang jatuh ke dalam rengkuhannya. Baiklah, seketika kedua pipi Alesha memanas membayangkan jika pria itu bersikap sedikit ... nakal.
Darren menahan senyum. "Ngomong-ngomong, pipimu terlihat merona!"
Refleks Alesha menutupi kedua pipi menggunakan tangan. Astaga, memalukan! Tidak seharusnya ia membayangkan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi! Lagipula kenapa pipinya tidak bisa diajak kompromi, sih?
"Ah, maaf. Pipiku selalu merona saat cuaca panas, dan aku ... lupa menyalakan AC. Ya, benar, AC!" Alesha tergagap, bergegas meraih remote AC di meja sudut ruangan. Dan sekarang Alesha mulai menggunakan kata aku, bukan saya.
Darren terkekeh. "Kau mengambil remote TV, Rose!"
Bravo! Rasa malu Alesha bertambah dua kali lipat. Wajahnya semakin memerah. Ia menghela napas kasar.
"Oke ... oke ... Nampaknya kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Aku pulang dulu. Emmm ... sepertinya mulai besok kita akan lebih sering bertemu." Darren tersenyum, mencoba menetralkan suasana.
Lagi-lagi Alesha mendesah kasar. Ya Tuhan, sepertinya selain amnesia, Alesha juga mulai tidak waras. Bagaimana mungkin ia menangkap kalimat terakhir Darren seolah pria tampan itu mengklaim bahwa mulai besok Alesha akan selalu menemani tidurnya!
Siapapun, tolong bawa aku ke rumah sakit jiwa! Alesha merutuk dalam hati. Memperhatikan Darren melewati pintu pagar. Untunglah Darren tidak suka melompati pagar seperti Leon. Baiklah, mereka memang berbeda.
"Ternyata wanita itu mirip Nyonya, Tuan!" ujar Albert sembari menatap Alesha dari balik kaca mobil.
Darren menutup pintu mobil. "Bukan hanya mirip, tapi dia memang Alesha!" serunya.
"Apa dia mengakuinya?"
"Kau bilang dia amnesia, ‘kan? Ya, dia sama sekali tidak mengenaliku. Seperti yang kau sarankan, aku berbincang dengannya dan menganggap bahwa dia adalah Rose."
"Lalu bagaimana Anda yakin bahwa dia adalah Nyonya? Bagaimana jika mereka hanya mirip?"
"Oke, wajah boleh saja mirip. Tapi aku tidak mungkin melupakan suaranya. Terlebih rambutnya juga memiliki aroma mawar. Tidak ada yang kebetulan jika dia memiliki banyak kesamaan dengan mantan istriku. Satu hal lagi, dia berbakat melukis sama seperti Alesha."
"Sungguh?"
"Masih banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang juga memiliki kesamaan. Alesha selalu meletakkan pot bunga sansivierra di dalam rumah, dan pot kaktus kecil di atas meja. Lalu mawar-mawar di taman, itu bukti kuat bahwa dia benar-benar Alesha. Aku tidak mengerti kenapa Signor Romano tega membohongiku."
Albert mengangguk-angguk. "Sepertinya kita bisa mengambil kesimpulan, Tuan. Nyonya pergi dari Florence dan meminta Signor Romano untuk merahasiakannya. Lalu Nyonya datang ke tempat ini dan mengubah identitas diri menjadi Rose. Mungkin karena Nyonya ingin memulai hidup baru, dan ... maaf, mungkin melupakan Tuan."
"Kesimpulanmu masuk akal, Albert. Alesha pergi ke tempat terpencil ini untuk lari dariku. Tapi kenyataannya, di tempat ini aku justru sedang mengembangkan sayap bisnis. Bukankah ini yang namanya jodoh, pergi ke ujung dunia sekalipun, takdir akan selalu mempertemukan kami."
"Benar, Tuan! Mungkin sekarang saatnya Anda mengambil hati Nyonya. Selagi ingatannya belum pulih, buatlah Nyonya jatuh cinta lagi."
"Tentu saja, aku sudah memiliki rencana agar kami bisa semakin dekat." Darren menyandarkan punggung ke kursi mobil.
Albert mengemudikan mobil, melaju di antara pepohonan pinus di sisi kanan dan kiri jalan. Darren menoleh. Alesha masih berdiri di depan pintu.
Darren tersenyum, rupanya Alesha tidak banyak berubah. Wajahnya masih sering merona, terlihat menggemaskan. Kecantikannya bertambah dua kali lipat, dan Darren benar-benar ingin mencium kedua pipi itu. Ah, tidak! Bukan hanya pipi! Darren benar-benar merindukan seluruh bagian tubuh Alesha!
Tunggu aku, Sugar! Aku pastikan bahwa kau akan jatuh ke dalam pelukanku lagi!
***