
Roda-roda waktu terus berputar. Tidak terasa, empat musim di Benua Eropa pun berlalu. Tidak mudah bagi Alesha untuk melalui kehidupannya di negara asing. Bukan karena terik matahari di saat musim panas, bukan pula karena tidak tahan cuaca ekstrim saat salju turun di kota Florence.
Tetapi, kesulitan itu lebih mengarah pada perasaan. Tentang bagaimana ia terus membunuh cinta di hati. Tentang bagaimana ia harus memusnahkan rindu yang datang tiba-tiba. Tidak mudah, ketika ia harus berjuang mengenyahkan bayangan pria bermata hazel yang terus menjadi mimpi buruknya.
Ia beruntung, di tengah kesulitannya dalam mengendalikan perasaan, Signor Romano dan istrinya dengan senang hati memberikan dukungan. Termasuk Danu yang selalu bersedia menjadi teman bertukar pikiran, meski pria itu tinggal di Jakarta.
Di tahun inilah, Alesha berhasil meraih titik kesuksesan. Seniman itu berhasil menyerap seluruh ilmu yang diberikan oleh Sang Maestro. Hasil karya seninya bukan lagi lukisan yang dipandang sebelah mata. Tetapi, kini semua mata pecinta karya seni di kancah internasional sedang tertuju padanya.
Semua ini berawal dari seminggu yang lalu, saat beberapa lukisan Alesha dipajang dalam sebuah pameran seni di kota Florence. Karya seninya bersanding dengan ratusan lukisan karya seniman dari seluruh penjuru dunia.
"Kau berhasil menyihir pengunjung pameran dengan lukisanmu, Alesha!" ujar Signor Romano dengan bangga.
Benar saja, pengunjung tidak merasa puas jika hanya melihat lukisan Alesha dalam sekedip mata. Seperti ada kekuatan magic yang membuat seseorang ingin menghabiskan waktu lama untuk menikmati hasil karya luar biasa itu.
Terutama sebuah lukisan berjudul "LOVE IN THE WOUND". Menggambarkan sesosok pria dan wanita yang berdiri saling berjauhan dengan background lembayung senja. Jemari wanita itu menggenggam setangkai bungai mawar, durinya yang tajam menancap dan melukainya. Lukisan itu tidak hanya menghipnotis, bahkan beberapa orang harus meneteskan air mata, seolah mereka benar-benar merasakan sebuah kesakitan.
Atas kesuksesan tersebut, wartawan beramai-ramai mewawancarai Alesha. Keesokan harinya, wajah wanita itu sudah menghiasi sampul di berbagai majalah dan koran. Semua media berlomba-lomba menampilkan berita terupdate di dunia kesenian.
***
Suara cangkir beradu dengan lantai memecah kesunyian pagi. Darren menatap serpihan cangkir porselen dan cairan hijau yang mengotori lantai dapur. Bersandar di punggung kursi, pria itu meremas rambut frustrasi. Satu tahun berlalu, tapi tidak sekalipun ia mampu menghirup aroma matcha.
Jika dulu matcha adalah satu hal yang sangat digemari karena kenikmatannya, berbanding terbalik dengan saat ini. Aroma matcha menyakitkan, mengulik kenangan masa lalu. Membuat Darren merindukan saat-saat di mana ia masih bisa mencium bibir ranum istrinya.
"Selamat pagi, Tuan!" Seorang pria dengan polo shirt hitam menghampirinya. Membungkuk memberi hormat. Albert, salah satu orang kepercayaan Darren.
"Kau datang di saat yang tidak tepat!" dengus Darren.
"Maaf, Tuan. Ada hal penting yang harus saya sampaikan!" ucap Albert dengan nada mantap.
Darren berdecak kesal. "Cepat katakan!"
"Anda sudah membaca koran pagi ini?"
"Sepenting apa? Nilai tukar dolar naik? Atau masalah persengketaan lahan yang akan dibangun perusahaan baruku? Itu bisa kita bicarakan nanti siang!"
"Nyonya Alesha sedang menjadi topik perbincangan di seluruh media!"
Darren menegakkan tubuh. Mendengar kabar tentang Alesha, ibarat hujan di musim kemarau. Sebuah anugerah yang sudah lama dinantikan.
Albert menyodorkan sebuah koran, telunjuknya mengarah pada foto seorang wanita cantik yang tidak asing di mata Darren. Sebaris judul ditulis dengan huruf besar di halaman pertama.
*PELUKIS ASAL INDONESIA BERHASIL MENCURI PERHATIAN PARA PECINTA SENI DI KANCAH INTERNASIONAL
Sebuah museum di kota Florence, Italia, menjadi saksi atas kesuksesan seorang pelukis asal Indonesia. Dengan lukisan yang diberi judul LOVE IN THE WOUND, wanita yang diketahui bernama Alesha sukses menghipnotis para pecinta seni. *.....
"Hampir semua situs berita online di seluruh dunia ramai memperbincangkan hal ini!" tambah Albert.
"Albert, segera kirim orang ke Florence untuk menyelidiki keberadaan Alesha. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan penting, aku akan segera menyusul ke sana!" Darren memberikan perintah.
"Siap, Tuan!" Albert bergegas melaksanakan titah tuannya.
Darren tersenyum. Ditatapnya foto wanita dengan T-shirt putih dan tengah memeluk sebuah buket bunga. Alesha terlihat bahagia, bahkan selama ini Darren belum pernah melihat mantan istrinya tersenyum selebar ini. Tak terasa, mata Darren berkaca-kaca. Ia merasa bangga akan kesuksesan Alesha.
"Tunggu aku, Sayang! Aku akan menjemputmu!" gumamnya.
***
Dengan kamera DSLR menggantung di leher, Alesha berjalan menyusuri sebuah taman. Sesekali kameranya membidik spot-spot yang menurutnya menarik. Ah, tidak seharusnya ia berjalan-jalan di The Guardino Bardini seorang diri. Ia membutuhkan seseorang, setidaknya agar bisa mengabadikan dirinya berpose di antara bunga-bunga.
The Guardino Bardini adalah sebuah taman dengan luas empat hektar. Terletak di antara Piazzale Michelangelo dan Giordino Boboli, di seberang sungai Arno.
Alesha memasuki taman melalui Via dei Bardi. Sebuah kebun mawar memanjakan mata cokelat wanita itu. Sebisa mungkin, ia menghidu aroma harum dari kelopak-kelopak cantik yang sedang bermekaran.
Mendesah lesu, ia teringat taman di rumah Darren. Apakah bunga-bunga mawar yang dulu ia tanam masih bisa dilihat dari balkon kamar Darren? Apakah pria itu masih senang menghabiskan pagi dengan merentangkan kedua lengan seraya menghirup aroma khas yang mendamaikan hati?
Ah, Darren! Kenapa Alesha harus mengingatnya lagi? Lupakan tentang mawar, itu hanya akan membangkitkan luka lama.
Ingin segera menjauh dari aroma yang penuh kenangan, Alesha mempercepat langkah. Mendahului beberapa turis yang masih sibuk berswafoto.
Tidak hanya aneka bunga yang membuat taman itu terlihat menarik. Selain air mancur dan kolam, pengunjung juga bisa menyaksikan keindahan kota Florence dari lereng perbukitan.
Alesha tersenyum, menemukan spot bagus untuk membidikkan kamera. Ia memposisikan tangan kanan pada tombol shutter, menggunakan tangan kiri sebagai tumpuan kamera dengan berada di antara bodi dan lensa, sementara sebelah mata mengintip celah viewvinder.
Jemari wanita itu mulai memutar lensa untuk melakukan zoom. Satu detik kemudian, gerakannya tertahan. Tubuhnya menegang, ia hampir lupa untuk bernapas. Merasa ada yang salah saat lensa kameranya tidak hanya menggambarkan pemandangan.
Entah apa yang terjadi, sehingga lensa kameranya justru menangkap sesosok pria bermata hazel. Mungkin ini hanya ilusi, sebuah fatamorgana karena sejak tadi Alesha terlalu banyak mengenang pria itu. Namun, sampai Alesha menekan tombol shutter pun, bayangan itu masih berada di tempatnya.
"Sampai ke ujung dunia pun, aku bersumpah akan selalu menemukanmu!" Dan kini bayangan itu berbicara!
Alesha kembali mengalungkan kamera di leher. Matanya menatap pria yang berdiri tiga meter di hadapannya. Pria itu nyata, bukan sekedar fatamorgana!
Wanita itu membalikkan tubuh, bergegas meninggalkan lereng perbukitan. Menjauh dari pria yang telah memporakporandakan hatinya.
"Alesha!" Darren berseru. "Beri aku kesempatan untuk berbicara!"
Ia tidak bisa menghindar lagi saat Darren membantunya berdiri. Dengan lembut, jemari kokoh itu mengusap goresan luka di lengan Alesha.
"Aku ingin selalu menjadi orang pertama yang menyembuhkan lukamu! Dan akan selalu menjadi satu-satunya orang yang menghapus air matamu!" Jemari Darren beralih pada pipi Alesha yang sudah berurai air mata.
Ingin rasanya Alesha memberontak, tapi tubuhnya terlalu kaku untuk digerakkan. Ia hanya mampu menatap mata hazel yang tengah menyelami isi hatinya.
"Kenapa setelah malam itu kau meninggalkanku?" tanya pria itu.
"Karena pernikahan kita memang telah berakhir. Dan kau telah memilih wanita yang kau cintai!" Wanita itu menunduk, membiarkan air mata itu semakin menderas.
"Kau salah, Alesha! Kau salah! Bagiku, malam itu adalah saat di mana pernikahan kita baru saja dimulai! Dan aku sama sekali tidak menginginkan akhir dari kisah kita!"
"Kisah kita yang mana, Darren? Kita tidak pernah menciptakan sebuah kisah. Kita hanya menciptakan sebuah permainan!"
"Dan aku telah terjebak dalam permainan yang kita buat! Kalimat seperti apa yang bisa membuatmu percaya bahwa aku tidak menginginkan semua itu berakhir? Aku harus bertanggungjawab atas malam itu!"
"Kenapa? Karena kau telah merenggut keperawananku? Tidak perlu merasa bersalah. Saat itu kau adalah suamiku, dan kau berhak mendapatkannya!"
"Bukan itu alasannya! Bukan itu!"
"Bagiku semuanya sudah berakhir, Darren! Alasan itu tidak penting lagi bagiku!" Alesha mundur selangkah, menjauhkan tubuhnya dari Darren. Berbalik dan melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
"Alasannya adalah karena aku mencintaimu, Alesha! Aku mencintaimu, kau dengar itu?" Darren berteriak sekuat tenaga. Tidak mempedulikan beberapa orang turis yang menatapnya heran. Masa bodoh, toh mereka tidak akan mengerti apa yang Darren ucapkan.
Sembari melangkah cepat, Alesha menutup kedua telinga. Tidak ingin mendengar kalimat Darren.
"Alasannya adalah karena aku mencintaimu, Alesha! Aku mencintaimu, kau dengar itu?"
Kau pembohong, Darren! Kau pembohong!
***
"Tidak mudah bagi Alesha untuk melewati empat musim di Florence," ujar Signor Romano. Jemari berkulit keriput itu terlihat piawai memainkan kuas di atas kanvas.
"Aku mengerti, Signore!" sahut Darren sembari mengambil sebuah kursi kayu dan duduk di samping Sang Maestro.
"Aku sering melihatnya diam-diam menangis seorang diri. Berusaha meredam kesedihannya dengan melukis. Bahkan, saat orang lain tertidur pulas pun dia menenggelamkan diri dengan lukisannya."
Darren tidak berkomentar. Meremas jemari dengan gelisah. Tidak sabar ingin berbicara dengan Alesha, tetapi sayang, wanita itu enggan keluar dari kamar. Mengurung diri setelah perjumpaan di taman siang tadi.
"Alesha menyimpan cinta di dalam luka. Persis seperti lukisan yang dia buat!" Signor Romano terbatuk sebentar.
"Apa dia pernah bercerita tentangku?"
"Dia mencintaimu, tapi kau mencintai wanita lain."
"Ini salah paham, Signore!" sanggah Darren. "Justru saat itu aku berpikir bahwa dia mencintai pria lain."
Signor Romano terkekeh, menampakkan gigi putih dengan noda kopi di sela-selanya. "Kalian saling mencintai, tetapi berlagak saling membenci. Dan saat jarak memisahkan, kalian justru tersiksa oleh perasaan kalian masing-masing."
"Aku ingin memperbaiki hubungan kami!"
Berhenti menggoreskan kuas, Signor Romano beranjak dari kursi. Berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Dibukanya laci meja, jemari tuanya mencari-cari sebuah anak kunci. Setelah mendapatkan yang dicari, ia kembali menghampiri Darren.
"Ini duplikat kunci kamar Alesha. Luluhkanlah hatinya. Aku tidak tega melihat kalian saling menyiksa diri, sementara dengan jelas mata tua ini melihat ada cinta yang sangat besar di antara kalian."
Dengan mata berbinar Darren menerima duplikat kunci kamar itu. "Grazie, Signore!" Ia mengucapkan terima kasih.
Tanpa menunggu lama, ia bergegas meninggalkan studio lukis. Tidak sabar ingin menemui Alesha. Kesalahpahaman di antara mereka harus segera diluruskan.
Kamar Alesha berada di lantai dua. Darren menapakkan kaki telanjangnya di anak tangga dengan tergesa-gesa. Sesampainya di tempat tujuan, ia memutar anak kunci, lalu membuka pintu kamar dengan sekali hentak. Untuk mengantisipasi agar Alesha tidak kabur, pria itu kembali menguncinya setelah ia berada di dalam.
Alesha tersentak mendapati Darren yang sudah berada di kamarnya. Ia bergegas menarik selimut hingga sebatas bibir. Wajah cantik itu terlihat sayu, matanya memerah.
"Darren!" Alesha memekik emosi.
"Tenang, Alesha!" Darren mengangkat kedua tangan. "Aku hanya ingin membicarakan kesalahpahaman di antara kita. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun, kecuali ... kau yang memintanya terlebih dahulu!"
Pria itu menahan senyumnya, mengedipkan sebelah mata pada Alesha. Emosi gadis itu semakin tersulut. Darren bercanda di saat yang tidak tepat!
"Pergilah, Darren!"
"Tidak akan! Aku hanya akan pergi setelah masalah kita selesai!"
Alesha menyerah. Darren adalah seseorang yang keras kepala. Percuma wanita itu membantah, Darren tidak akan mendengarkannya.
Wanita itu memilih untuk menenggelamkan seluruh tubuh ke balik selimut. Berada di satu ruangan dengan Darren, membuat jantungnya berdegup kencang. Benci tapi rindu. Arrrrgh ... Alesha mengutuk diri sendiri karena tidak bisa menolak pesona mata hazel itu.
Oh, yang benar saja! Sekalipun kerinduan itu menikam jantungnya, namun Alesha tidak bisa melupakan goresan luka yang terlanjur membekas di hati. Katakan, apa yang harus Alesha lakukan? Apakah memperbaiki hubungan dengan Darren adalah jalan terbaik? Entahlah!
***