Ex-husband

Ex-husband
A SLANDER



Alesha merapatkan mantel bulu berwarna hitam. Sore itu, angin di kota Florence bertiup cukup kencang. Ranting pohon bergoyang seiring arah angin, membuat beberapa helai daun yang sudah mengering melayang dan mendarat di hamparan rumput.


Alesha memberikan isyarat pada gadis kecil yang duduk di kursi taman agar tersenyum lebih lebar, menampakkan lesung pipit di pipi kiri.


"Perfect! You are so beautifull." seru Alesha. Ia duduk dengan memberi jarak sekitar tiga meter dari gadis kecil itu. Jemarinya kembali memainkan kuas di atas kanvas. Memberikan sapuan cat minyak pada pola wajah, terlihat indah seperti aslinya.


Gadis kecil dengan rambut berkepang dua itu adalah putri dari tetangga Signor Romano. Dengan senang hati, gadis itu bersedia menjadi obyek lukisan bagi Alesha.


Seperti yang dikatakan oleh Sang Maestro, agar obyek di dalam sebuah lukisan bisa terlihat hidup maka harus persis dalam beberapa aspek sekaligus. Mulai dari bentuk, warna, karakter benda, karakter manusia, ekspresi, maupun suasana. Semua itu harus tersusun dalam perbandingan yang tepat dan harmonis.


Untuk mendapatkan semua hal yang dijelaskan tadi, maka pelukis harus bisa berdialog dengan alam. Sebanyak mungkin melukis obyek secara langsung dari alam nyata. Bukan dari foto, sebab obyek di dalam foto itu terbatas, banyak kekurangan dan kelemahannya.


"Hanya sekedar mengingatkan, gadis kecil itu bermata hijau, bukan hazel!"


Gerakan Alesha terhenti, menoleh pada pria yang sudah berdiri di sampingnya. Bibir tipis pria itu melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman.


"Surprise! Aku tidak menyangka bahwa kau akan datang hari ini, Danu!" Alesha terkekeh.


Danu, pria yang telah membawa Alesha melarikan diri dari Jakarta, sekaligus mengenalkan Alesha pada Signor Romano. Sebagai teman baik Darren, sebenarnya Danu merasa tidak nyaman. Tetapi, mengingat rasa sakit yang ditorehkan Darren pada Alesha, membuat ia bersikukuh menjauhkan wanita itu dari mantan suaminya.


"Hal apa yang membuatmu jauh-jauh datang dari Jakarta ke tempat ini?" Alesha kembali ke kanvasnya. Memoles bagian alis dari wajah si gadis kecil yang nampaknya mulai terganggu akan kedatangan Danu.


"Aku merindukanmu!"


Dua kata yang sangat singkat, namun cukup membuat Alesha menghentikan gerakan kuasnya untuk kedua kali. Baiklah, jangan lupakan bahwa Danu memang terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Alesha.


"Danu, bukankah sebelum aku ikut denganmu ke tempat ini, kita sudah berjanji. Bahwa sampai kapanpun, kita hanya sebatas ... teman," lirih Alesha.


"Ya, aku tahu! Kau tidak pernah bisa lepas dari si mata hazel itu. Bahkan, mata gadis kecil yang seharusnya hijau pun, kau buat menjadi hazel!"


Alesha mendesah, mengamati mata si gadis kecil dengan cermat. Benar, warna mata itu hijau. Namun, entah apa yang membuat Alesha mewarnai lukisannya menjadi warna hazel, warna mata milik Darren. Barangkali Danu benar. Alesha tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang mantan suaminya.


"Bisakah kita tidak membahas ini sekarang, Danu? Gadis kecil itu sudah menunggu lukisannya cepat selesai!"


Danu bergumam menyetujui. Pria bertubuh jangkung itu memilih untuk berkeliling sekitar taman. Menunggu Alesha menyelesaikan tugasnya.


Tidak berapa lama, lukisan itu selesai. Si gadis bermata hijau bertepuk tangan riang mengagumi hasil karya Alesha. Setelah mengucapkan terima kasih, dia undur diri dan mengatakan pada Alesha agar mengantarkan lukisan ke rumahnya. Tidak mempermasalahkan meski mata hijaunya sudah berubah menjadi hazel. Ia justru merasa senang akan warna mata barunya.


Alesha menghampiri Danu. Pria itu berdiri menghadap danau kecil. Sepatu boot di kaki Danu sangat serasi dengan mantel cokelat yang menghangatkan tubuhnya. Tampan, tetapi sayang itu tidak pernah bisa membuat Alesha berpaling dari Darren.


"Bagaimana kabar Jakarta?" Alesha membuka percakapan.


"Semakin kacau, itu jika yang kau tanyakan adalah tentang Darren."


"Apa maksudmu?"


Danu tersenyum miris. Menatap Alesha dengan tatapan sendu. "Seharusnya kau tidak perlu tahu akan hal ini. Terlalu sakit!"


"Katakanlah jika itu tentang Darren!" Alesha mengerjapkan mata, memohon.


"Kau masih mencintainya?"


"Please, Danu! Ini bukan tentang cinta atau benci. Aku hanya ingin tahu apakah dia ... menjalani kehidupannya dengan baik-baik saja!"


"Alesha, Darren sudah banyak menyakitimu. Tetapi kenapa kau masih mempedulikannya. Tidakkah kau mempedulikanku? Seseorang yang mencintaimu!" Danu meradang. Rahangnya mengeras, melemparkan sebuah kerikil kecil ke tengah danau. Menciptakan riak di permukaan air.


Danu benar. Seharusnya Alesha membenci dan melupakan Darren, bukan malah mengkhawatirkan keadaannya. Kau bodoh, Alesha! Darren sedang berbahagia dengan wanita yang dicintainya!


"Ayah Darren tidak pernah mengabarimu?" Suara Danu melembut. Ia tahu, untuk meluluhkan hati Alesha bukanlah dengan cara kekerasan.


"Terakhir kali menelepon, Daddy mengabarkan bahwa hakim sudah memutuskan aku dan Darren resmi bercerai. Kau tahu, aku sama sekali tidak punya nyali untuk berbicara tentang Darren dengan Daddy. Itu terlalu menyakitkan." Alesha mengusap sudut matanya yang sudah berair.


Angin berembus semakin kencang. Alesha merapatkan mantelnya. Sementara tangan Danu sudah sibuk dengan ponselnya. Membuka laman berita di mana sebuah video sedang marak diperbincangkan.


"Nona Tania, benarkah kabar yang beredar bahwa kau siap menggantikan posisi mantan istri dari Darren Anderson?" Video itu mulai menampilkan seorang wartawan menyodorkan sebuah microphone pada Tania.


Tania, dengan wajah bangga memamerkan senyuman. "Tentu saja, Darren sudah memilihku. Itu artinya, bagi Darren aku adalah seorang wanita yang sangat istimewa."


"Benarkah bahwa mantan istri Darren menghilang dan tidak diketahui keberadaannya?"


"Benar, wanita itu menghilang setelah menjual beberapa asset penting keluarga Anderson!"


Itu fitnah! Alesha pergi tanpa membawa harta Darren sepeser pun! Bahkan untuk biaya hidup saja, ia meminjam uang pada Danu dan akan diganti setelah Alesha mempunyai penghasilan sendiri. Tetapi kekasih Darren justru memutarbalikkan fakta. Dan Darren membiarkan mulut wanita itu berkoar tanpa membela Alesha sedikitpun? Bersembunyi di mana pria itu?


"Kau lihat sendiri, Alesha! Darren bahkan tidak berani menampakkan wajahnya! Dia bersembunyi seperti seorang pengecut! Pria seperti itukah yang kau khawatirkan keadaannya? Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan keadaanmu! Wanita itu jelas memfitnahmu! Apa aku perlu melakukan konferensi pers dan memberikan kesaksian bahwa semua itu tidak benar?"


Alesha menggeleng seraya mengusap air mata yang mengalir lebih deras. "Tidak perlu. Itu hanya akan membuat keadaan bertambah rumit. Aku tidak ingin Darren tahu bahwa kaulah yang membawaku pergi!"


"Tapi ini pencemaran nama baik!" desak Danu.


"Aku memang pantas menerima semua fitnah itu! Semua orang tahu, bahwa sebelum menikah dengan Darren, aku hanyalah seorang pelukis miskin yatim piatu! Wajar jika mereka berasumsi bahwa aku menikah dengan Darren karena ingin mengeruk harta kekayaannya!"


"Aku tahu itu tidak benar, Alesha!"


"Cukup, Danu! Jangan bahas masalah ini lagi! Terserah apapun yang akan dikatakan oleh Tania! Mulai sekarang, aku tidak ingin mendengar kabar apapun tentang mereka! Aku tidak peduli sekalipun pernikahan mereka akan menggemparkan seluruh dunia!"


Danu menatap Alesha dengan perasaan iba. Ia tidak tahu kenapa kehidupan seolah tidak pernah berpihak pada gadis setulus Alesha. Penderitaan terus menimpanya tanpa henti.


Dengan gesit, Alesha membongkar ponsel miliknya, mengeluarkan SIM card dari sana. "Lihat ini, aku akan membuang nomor ponselku! Mulai sekarang, aku tidak ingin berhubungan dengan siapapun termasuk dengan Daddy. Jika kau bertemu dengannya, tolong sampaikan kata maafku. Aku hanya tidak ingin berhubungan dengan seseorang yang bisa mengingatkanku pada Darren. Aku ingin membuang semua kenangan menyakitkan itu!"


Danu meraih jemari Alesha, menyalurkan kekuatan pada wanita rapuh itu. Andai saja Danu bisa membahagiakan Alesha!


"Sampaikan pada Daddy bahwa aku menyayanginya seperti menyayangi orang tuaku sendiri. Tapi aku ingin memulai hidup baru, tanpa Darren, dan tanpa seseorang yang bisa mengingatkanku pada sosok Darren! Biarkan semua mengalir apa adanya! Jangan pernah kau usik kebahagiaan mereka. Aku mohon, aku hanya ingin memulai kehidupan baruku!"


Alesha melepaskan genggaman jemari Danu. Menjatuhkan SIM card ke permukaan danau. Benda kecil itu melayang sebentar, kemudian tenggelam sesaat setelah menyentuh permukaan air.


Lalu, Alesha melangkah menuju kanvas. Beranjak meninggalkan taman setelah membereskan semua peralatan melukisnya.


Dari kejauhan, Danu berteriak, "Apapun yang kau inginkan, Alesha! Aku akan melakukannya untukmu!"


***


Darren mencengkeram pergelangan tangan Tania. Murka setelah melihat video yang beredar di berbagai situs berita online.


"Apa maksudmu mengadakan konferensi pers tanpa sepengetahuanku?" hardik Darren. Wajahnya memerah menahan emosi.


"Aku hanya ingin agar semua orang di dunia ini tahu bahwa kita akan segera menikah!"


"Jangan bermimpi, Tania! Sudah berapa kali kubilang, menjauhlah dari kehidupanku! Kau tahu bahwa aku masih mengharapkan Alesha kembali!"


"Alesha tidak akan pernah kembali, Darren! Dia sudah pergi meninggalkanmu, untuk apa mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi?" Tania menghempaskan tangan Darren.


"Aku mencintainya!" Nada suara Darren naik satu oktaf.


"Tapi dia tidak mencintaimu!"


"I don’t care! Aku akan mencarinya sekalipun Alesha bersembunyi di ujung dunia!"


"Carilah sesukamu! Dan kau akan tahu bahwa akulah satu-satunya wanita yang mencintaimu dengan tulus!"


Darren tersenyum miring. Menatap Tania penuh kebencian. "Tulus? Selama ini aku salah menilaimu, Tania! Ternyata kau sudah banyak berubah, bukan lagi gadis baik hati yang selalu menghargai orang lain. Sejak kapan memfitnah orang lain menjadi hobi barumu?"


"Sejak kau memberikan tawaran padaku untuk menjadi pengganti istrimu!"


Astaga, Darren benar-benar menyesal telah menyeret Tania ke dalam permainannya. Sekarang, ia harus terjebak dan membuatnya tidak leluasa bergerak. Tania sudah melampaui batas.


"Tolong dengarkan aku, Tania! Kesabaranku sudah habis! Hari ini kita akan kembali mengadakan konferensi pers. Meluruskan semua salah paham, bahwa Alesha bukanlah wanita serendah itu. Dan satu hal yang paling penting, aku membatalkan rencana pertunangan kita. Itu artinya, di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku tidak bisa menerima sikap keterlaluanmu pada mantan istriku!"


"Tapi--"


"Aku tidak peduli sekalipun ayahmu memutuskan kerja sama antar perusahaan yang sudah sekian lama kami bangun!"


Kalimat terakhir Darren membuat Tania lemas. Kecewa, kehilangan harapan. Karena hari itu juga, konferensi pers kembali diadakan. Membersihkan nama baik Alesha, dan mengumumkan bahwa hubungan antara Tania dan Darren sudah berakhir.


Tetapi, apa yang dilakukan oleh Darren hanyalah sia-sia. Alesha sudah terlanjur menutup mata dan telinga dari semua berita yang tersebar di tanah air. Ia sama sekali tidak tahu bahwa hari itu Darren dengan bersemangat mengumumkan bahwa ia akan mencari keberadaan mantan istrinya.


Fokus menimba ilmu dari Sang Maestro, itu yang menjadi prioritas Alesha. Mengabaikan semua hal yang membuyarkan titik fokusnya. Mati-matian membunuh rindu yang sesekali menyambangi malam-malam sunyi.


Tentu saja, bukan hal mudah bagi Alesha untuk menghapus nama Darren dari hatinya. Bagaimanapun juga, pria itu telah menggoreskan nama dan menorehkan luka dalam waktu bersamaan di hati Alesha. Sesuatu yang indah, tetapi menyakitkan.


***