ELBRASTA

ELBRASTA
Chapter 9 (Sedekah Jariyah)



Berbagi itu indah :)


. . .


Lisa dan Elang sudah berada di salah satu lahan kosong di samping taman, lahan yang khusus digunakan untuk menanam berbagai macam pohon.


"Tas kita letak sini aja Lang," ucap Lisa dan mendapat anggukan dari Elang.


Lisa mengambil tas dari punggung Elang lalu meletakkan tasnya dan tas Elang di salah satu kursi yang tersedia. Sedangkan Elang berinisiatif mengambil cangkul yang juga sudah tersedia di tepi lahan tersebut.


Elang mulai mencangkul tanah, namun sebelumnya ia sudah membuka baju dan dasinya agar tidak ikut kotor, dan menyisakan kaos berwarna hitam.


"Kedalamannya berapa meter Lis?" tanya Elang membuat Lisa menghentikan aktivitasnya yang sedang memotret cowok itu.


"Karna di sini tanahnya gembur, cangkul 60 cm aja Lang, kurang lebih juga gak apa-apa," jawab Lisa disertai senyumnya.


Elang kembali melanjutkan mencangkul, cowok itu tampak tenang dengan keringat yang mulai mengucur di pelipisnya, Lisa merasa bosan karena sedari tadi ia hanya duduk sambil memotret Elang. Biasanya jika menanam pohon di sini, ia sendiri yang mencangkul dan mengubur tanaman. Tapi kali ini Elang mengambil alih semuanya.


"Lang, kalau capek duduk aja, biar gue yang cangkul," ucap Lisa membuat Elang menoleh ke arahnya.


"Lo mau jatuhin harga diri gue ya Lis? Ck, yang bener aja gue duduk santai sedangkan lo cangkul tanah, gak gak, gak bisa gitu. Lo duduk aja di situ!" titah Elang, Lisa sempat cemberut mendengar ucapan Elang barusan, namun detik selanjutnya ia tersenyum bahagia karena Elang selalu memperlakukannya seperti seorang princess.


"Jarak antara pohon ke pohon 3 meter ya Elang," ujar Lisa memberitahu saat Elang hampir menyelesaikan cangkulannya di lubang pertama.


"Lo kenapa suka tanam pohon Lis? Buang-buang waktu aja tau gak," cetus Elang membuat Lisa terkekeh geli.


"Buang-buang waktu gini tapi dapat pahala loh Lang," seru Lisa sambil menaik turunkan alisnya.


"Kok bisa?" tanya Elang lagi, ia membentang jarak tiga meter dari lubang pertama.


"Kita tahu, satu pohon memiliki kemampuan menyerap polusi mobil dalam satu tahun. Meski tidak berbuah ia akan tetap menjadi amal pahala bagi yang menanamnya, karena telah membantu mengurangi polusi udara yang bisa menyebabkan penyakit pernapasan. Sebab dengan menanam berarti kita telah turut andil dalam merawat keberlangsungan hidup manusia. Maka dari itu, menanam pohon termasuk salah satu sedekah jariyah Lang," jelas Lisa membuat Elang terpukau.


"Berarti, kalau gue udah mati dan pohon yang gue tanam masih hidup, pahala gue terus mengalir dari pohon itu?" tanya Elang dan Lisa mengangguk mantap.


"Bener banget, dari satu pohon aja pahala kita sudah mengalir, gimana dua, tiga atau ratusan pohon, kebayang kan gimana banyaknya pahala yang mengalir," seru Lisa dengan antusias.


"Kalau gitu gue tanam pohon banyak-banyak juga," ucap Elang bersemangat lalu lanjut mencangkul.


Lisa terus memperhatikan Elang, sudah sejam berlalu cowok tersebut masih setia mencangkul, terhitung sudah ada 15 lubang yang tercetak, Lisa benar-benar takjub dengan yang dilakukan Elang.


"Gara-gara gue lo jadi pulang sore, sorry ya lis," kata Elang merasa tak enak, akhirnya cangkulan terakhirnya selesai.


"Gak apa-apa Lang, lagian kan gue yang ngajak lo ke sini," timpal Lisa sambil mengembangkan senyumnya.


Elang membalas senyum Lisa tipis, lalu selanjutnya ia pamit untuk membeli 15 bibit pohon lainnya. Sebelumnya dua pohon tadi sudah ia tanam dibantu oleh Lisa.


Kedatangan Elang sambil membawa gerobak sorong yang berisikan bibit pohon membuat Lisa kembali takjub.


"Gue bantu ya Lang," seru Lisa dan mendapat anggukan dari Elang. Kemudian gadis itu membantu Elang menuruni bibit pohon satu-satu.


Elang dan Lisa larut dalam aktivitas mereka, keduanya tampak bahagia menanam pohon-pohon tersebut, diiringi canda tawa keduanya membuat rasa letih yang hinggap di tubuh mereka menjadi berkurang.


Tidak hanya pohon mangga saja yang mereka tanam, pohon rambutan, pohon belimbing, dan pohon lainnya yang tidak menghasilkan buah pun ikut serta mereka tanam.


"Lo kalau tanam pohon sendiri aja Lis?" tanya Elang di sela-sela aktivitas mereka.


"Kadang sendiri, kadang juga sama Mama Papa," jawab Lisa sambil tersenyum.


"Pantas aja pekarangan rumah lo di penuhi banyak pohon, satu keluarga hobi tanam pohon ternyata," ujar Elang membuat Lisa terkekeh


kini Elang merasa lega sudah mendapatkan jawaban atas keheranannya selama dua bulan belakangan, saat ia pertama kali ke rumah Lisa, Elang tampak risih karena banyak pohon-pohon yang hampir menutupi bagian rumah Lisa, namun sekarang ia tau mengapa pohon-pohon itu di tanam.


"Emangnya pekarangan rumah lo gak ada pohon ya lang?"


Elang tersenyum miring lalu menjawab pertanyaan Lisa, "rumah aja gue gak punya, gimana mau tanam pohon Lis?"


"Gue tinggal di apartemen Bagas, dan gue anak tunggal yang ditelantarkan, hanya itu yang bisa gue kasih tau Lis," ucap Elang menjawab semua kebingungan Lisa.


Hanya itu, ya hanya itu yang bisa Elang kasi tau, Lisa tidak boleh tau kehidupan pahit yang ia jalani, Lisanya tidak boleh ikut merasakan kehancuran hidup yang sedang ia lalui. Lisa hanya perlu tau kalau kehidupan Elang perlahan membaik dengan kedatangannya.


Lisa menatap sendu Elang, cowok itu tampak memaksakan senyumnya. Selama ini Elang sangat tertutup padanya, Lisa tidak mengetahui kehidupan Elang sebenarnya, yang Lisa tau, Elang memiliki masalah keluarga hingga membuatnya mengonsumsi narkoba. Namun Lisa tidak tahu kalau Elang benar-benar ditelantarkan oleh kedua orang tuanya.


Bagas, yang Lisa tau dari Elang, Bagas merupakan salah satu teman gelap Elang yang bekerja sebagai kurir narkoba, Elang mendapatkan barang haram tersebut dari Bagas, dan cowok itu sebaya dengan Elang dan Lisa.


"Keep spirit lang, you're not alone."


Lisa mengambil tangan Elang dan menganggam lembut tangan cowok itu walaupun tangan keduanya dipenuhi tanah.


Senyum Elang terpatri kembali, karena Lisa kehidupannya berwarna, karena Lisa hatinya menghangat, dan karena Lisa juga jantungnya berdegup kencang.


"Terimakasih Lisa." Batin Elang berseru.


                            🦅🦅🦅


Deru motor Elang terhenti saat sudah berada di depan rumah Lisa. Keduanya turun dari motor dan disambut hangat oleh mama Lisa yang sedang menyirami bunga.


"Assalamualaikum ma."


"Assalamualaikum tante."


"Waalaikumsalam, kok tumben nih pulangnya lama?" tanya Isabel dengan tampang jahilnya.


"Pulang sekolah Lisa sama Elang langsung ke taman Ma, Lisa ajak Elang tanam pohon, maaf ya Ma, Lisa gak kasi tau Mama dulu," jelas Lisa membuat Isabel tertawa kekeh.


"Iya tante, maafin Elang juga karena mengantar Lisa sore hari."


"Sudah-sudah, tidak apa-apa," tutur Isabel membuat Lisa dan Elang melega.


Dari awal kedekatan Lisa dengan Elang, Lisa selalu memberitahu ke Mamanya, mulai dari pertemuan keduanya di depan lab, hingga keduanya menjadi sedekat ini. Namun tidak untuk kehidupan Elang sebenarnya, tidak semuanya Lisa ceritakan ke Isabel.


Awalnya Isabel merasa khawatir dengan kedekatan Lisa dengan Elang, namun setiap kali Lisa bercerita kalau Elang selalu melindungi gadisnya, Isabel menjadi senang dan percaya kalau Elang laki-laki yang baik untuk menjadi teman putrinya.


Namun wanita berjilbab tersebut meminta anaknya untuk menyembunyikan kedekatan Lisa dan Elang agar tidak diketahui Firman, papa Lisa.


Isabel meminta Lisa untuk tidak memberitahu Firman kalau ia sedang dekat dengan Elang, awalnya Lisa penasaran kenapa mamanya melarang ia memberi tahu, namun Lisa hanya bisa mengikuti saja ucapan mamanya.


"Nak Elang suka tanam pohon juga?"


"Awalnya gak suka tante, tapi karena tau itu kesukaan Lisa, dan ternyata banyak manfaatnya saya jadi suka," jawab Elang tersenyum canggung.


"Cie cie," ejek Isabel dan mendapat kekehan dari Elang, sedangkan Lisa menggeleng pelan melihat tingkah mamanya yang mencoba menggoda ia dan Elang.


"Yaudah Tante, saya pamit pulang sekarang ya."


Isabel mengangguk lalu menerima salaman Elang.


"Gue balik Lis, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," balas Lisa dan Isabel berbarengan.


Elang menaiki motornya lalu melajukan motor tersebut menjauh dari pekarangan rumah Lisa.


Dengan kecepatan tinggi Elang melajukan motornya menembus keramaian ibu kota, ia ingin segera tiba di apartemennya, memberi tahu buku itu betapa bahagianya ia sekarang.


Elang mengakui bahwa ia sudah menaruh hati kepada Lisa, walaupun hubungannya dengan Lisa hanya sebatas teman tidak menjadi masalah dengan Elang, masih bisa dekat dengan Lisa saja sudah membuat Elang bahagia, walau terkadang ia suka berharap lebih dengan hubungannya bersama Lisa. Elang pernah berfikir untuk menyatakan perasaannya kepada Lisa, tapi ia semakin sadar siapa dirinya, ia tidak mungkin pantas bersanding dengan Lisa yang nyaris sempurna. Sedangkan ia sendiri, hanyalah seorang anak yang dilantarkan, anak yang tidak dianggap keberadaannya, dan anak yang tidak diinginkan kedua orang tuanya.


Tanam pohon sono! Jangan mau kalah sama gue dan Lisa.


Bye Elang 🦅