
Jangan lupa tersenyum untuk hari ini (◠‿◕)
. . .
Motor Elang berhenti saat tiba di salah satu rumah mewah. Setelah mengantar Lisa pulang ia tidak langsung pergi ke bengkel, melainkan ke rumah mewah tersebut. Bahkan seragam sekolahnya masih melekat di badan.
Elang langsung turun saat seorang gadis menghampirinya dengan senyum yang mengembang. Gadis itu adalah Tina, teman sekelas Lisa.
"Sorry lama," ucap Elang karena waktu yang dijanjikan tidak sesuai.
"Gak apa-apa," timpal Tina dengan senyum yang terus ia tampilkan.
Gadis itu terlihat bahagia karena Elang mengajaknya jalan-jalan, awalnya ia tidak percaya saat sebuah pesan yang tidak lain adalah dari Elang sendiri mengajaknya untuk jalan-jalan.
Tina sudah lama menyukai Elang, tapi karena sikap Elang yang dingin membuat Tina hanya menyukai Elang secara diam-diam.
"Gak pamit dulu sama orang tua lo?" tanya Elang saat Tina meraih helm di motornya.
"Nyokap bokap gue gak ada di rumah. Gak apa-apa Elang, kita pergi aja."
Elang mengangguk saja, kemudian membantu Tina mengaitkan pengait helm.
Mendapatkan perlakukan manis dari Elang membuat hati Tina berbunga-bunga. Seharusnya dari dulu saja ia notice Elang.
Setelah memakai helmnya juga, Elang segera menaiki motornya diikuti oleh Tina.
Motor Elang melaju cepat, tanpa tau malu Tina melingkarkan tangannya di pinggang Elang sebagai alasan takut jatuh.
Awalnya baik-baik saja saat motor Elang melaju di keramian kota, tapi tiba-tiba motor Elang melaju di tempat yang sepi. Meskipun mereka terlibat obrolan ringan, Tina tetap merasa was-was.
"Lo kenapa tumben ngajak gue jalan?" tanya Tina.
"Pengen aja," jawab Elang tanpa melirik sang lawan bicara.
"Sering-sering ya, Elang."
Dari balik helm, Elang berdecih tak suka. Gadis ini tidak ada malunya, Elang udah mengetahui semua kebusukan Tina. Dia lah dalang dari semuanya, dia yang sudah menghasut Kelly dan lainnya untuk membenci Lisa. Dan Elang juga sudah tau lama kalau Tina menyukainya.
"Kita mau ke mana, Lang?" tanya Tina bingung karena motor Elang melaju melewati pepohonan rindang, jalanan juga begitu sepi.
"Elang!" panggil Tina saat tidak ada sahutan dari Elang. Cowok itu semakin melajukan motornya dengan kencang, hingga beberapa menit kemudian motornya berhenti di sebuah rumah yang dikelilingi pepohonan.
"Turun!" titah Elang saat Tina masih memeluk erat tubuhnya.
"Eh, iya Lang."
Elang memasuki rumah tersebut meninggalkan Tina yang masih terheran di mana mereka berada. Namun, detik selanjutnya gadis itu menyusul Elang masuk ke dalam.
Tina terkejut saat pintu tiba-tiba tertutup, dan selanjutnya lampu rumah tersebut mati. Sontak Tin menjadi ketakutan, ia terus berjalan mencari Elang yang entah kemana.
"Elang! Lo dimana?"
Tidak ada sahutan, suasana semakin mencekam, yang terdengar hanya derap langkahnya. Tina semakin menguatkan pegangannya pada tas, ia benar-benar takut dengan kegelapan.
Semakin terkejut, Tina semakin terkejut saat seseorang menarik tubuhnya dan dihempaskan begitu saja. Seketika lampu menyala, namun kali ini hanya remang-remang.
"Elang," ucap Tina saat wajah Elang sudah terlihat. Cowok itu tengah tersenyum, namun bukan senyum yang manis. Sebuah senyuman yang sangat menakutkan.
"Elang! Lo mau ngapain!" sentak Tina saat Elang naik di atas tubuhnya.
"Lo mau kita senang-senang, bukan?" tanya Elang lalu menyunggingkan senyumnya.
Tidak ada jawaban dari Tina, gadis itu berusaha keras mendorong tubuh Elang agar menjauh. Dan hasilnya nihil karena tenaga Elang lebih kuat darinya.
"Gue mau pulang!" ucap Tina, bibirnya bergetar hebat. Elang semakin membuatnya merinding.
"Lo suka sama gue, bukan?" tanya Elang, tangannya mengelus lembut pipi Tina.
Jika Elang mengelus pipinya dengan lembut saat berada di tempat yang romantis, mungkin Tina dapat menerimanya.
"I-iya, bisa kita pergi dari sini?" tanya Tina sambil menghindari tangan Elang yang merambat mengelus lehernya.
"Gue mau buat anak sama lo!"
Mata Tina terbuka lebar, jantungnya berdetak hebat, Elang semakin membuatnya takut. Biarpun Tina menyukainya, gadis itu tidak mau menghancurkan masa depannya walaupun dia bisa memiliki Elang sepenuhnya.
"Gimana? Lo mau, kan?"
Elang semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak wajahnya dengan wajah Tina hanya terbentang beberapa centi.
"Gue gak mau!" Tina membuang mukanya.
"Oh ya? Kenapa gak mau? Bukannya lo suka sama gue? Jadi gak apa-apa kan kalau gue perkosa lo?"
Suara Elang terdengar menyeramkan, bahkan Tina sudah menangis histeris.
"Lepasin gue, Elang ... hiksss."
"Kenapa nangis? Lo sendiri tergila-gila sama gue, sampai-sampai fitnah Lisa dan pengaruhi yang lainnya buat benci Lisa. Itu semua rencana lo buat ngejauhi gue sama Lisa, bukan?"
Tangisan Tina mendadak berhenti, gadis itu memandang Elang tak percaya. Ternyata Elang mengetahui semuanya, dan mungkin cowok itu ingin membalas dendam kepadanya dengan cara ini.
"Jadi lo giniin gue karena Lisa?" tanya Tina mulai berani, tapi selanjutnya nyalinya langsung menciut saat Elang membuka baju.
"Ayo buat anak!" ucap Elang dengan seringainya, baju seragamnya sudah terlepas.
Tina semakin menangis histeris, ia tidak mau masa depannya hancur. Ia benar-benar menyesal sudah menyukai Elang.
"Lepas, Elang! Gue akan minta maaf sama Lisa, lepasin gue!"
Merasa cukup puas sudah membuat Tina takut setengah ******. Elang pun melepaskan cengkramannya kemudian beranjak berdiri. Ia memakai baju seragamnya kembali. Sementara Tiba memposisikan badannya menjadi duduk, tangisannya masih terdengar.
"Besok ... lo dan teman-teman lo harus minta maaf sama Lisa!" ucap Elang sambil mencekram wajah Tina. Gadis itu mengangguk lemah.
"Kalau besok lo gak minta maaf, gue pastikan hidup lo benar-benar hancur!"
Elang menghempaskan wajah Tina, isak tangis gadis itu semakin menjadi-jadi.
"Berhenti suka sama gue, Tina. Atau lo bakal mati muda." Lagi-lagi Tina hanya bisa mengangguk lemah.
Tersenyum puas, Elang tersenyum puas. Apapun untuk Lisa akan selalu ia lakukan.
"Gu-gue mau pulang," lirih Tina, badannya gemetar hebat. Bagaimana tidak, ia hampir saja diperkosa. Walaupun dia sendiri menyukai Elang tapi ia tidak mau masa depannya hancur, terlebih lagi kedua orangtuanya merupakan pengusaha terkenal. Pasti keluarganya akan malu jika hal itu benar-benar terjadi.
Selama ini ia salah sudah menyukai Elang, seharusnya ia tidak menyukai Elang sampai mengganggu ibu peri cowok itu.
"Mau gue antar?" tawar Elang namun langsung mendapat gelengan kuat dari Tina.
Lampu kembali menyala dengan terang.
"Gue bisa sendiri," ucap Tina sambil beranjak. Gadis itu langsung berlari keluar, sementara Elang kembali tersenyum puas.
Tidak ada yang boleh mengganggu Lisanya, siapapun itu bahkan kedua orang tuanya sendiri ia haramkan untuk menggangu Lisa.
"Ayo buat anak! Wuhahaha."
Elang melirik sekilas ke arah persembunyian Bagas. Ya, sedari tadi Bagas berada di sini menyaksikan semuanya. Lampu dan pintu tertutup adalah ulah dari Bagas. Elang yang meminta Bagas untuk membantunya mengerjai Tina. Dan kini cowok berbadan tinggi tersebut mulai mengejeknya.
"Gaya lo sok-sokan mau buat anak, *****!"
Bagas keluar dari persembunyiannya kemudian duduk di samping Elang.
"Buat anak sama gue aja, yuk?"
Sontak Elang bergedik ngeri dan menggeser duduknya.
"Sinting lo!" ucap Elang, ia jijik melihat wajah Bagas yang terlihat "Omes".
Tawa Bagas kembali pecah, bahkan cowok itu sampai memegangi perutnya.
"Ayo dong Mas Elang, buat dedek bayi sama aku aja, yuk." Setelah tawanya berhenti Bagas kembali menggoda Elang, tangannya kini bergelantungan manja di lengan Elang.
"Gas! Jijik, *******!" Elang menghempaskan tangan Bagas, kemudian melempar Bagas dengan bantal kecil yang ada di sofa.
"Kasar kamu, Mas!" lirih Bagas sambil berekspresi sedih.
"Gue mau balik," ucap Elang tanpa menghiraukan perkataan Bagas.
Elang beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar.
"Jangan pergi dulu, Mas! Sini buat anak sama Bianca!" teriak Bagas yang tetap tak dihiraukan oleh Elang. Lalu detik selanjutnya Bagas terkekeh geli melihat kepergian Elang.
🦅🦅🦅
Langkah Lisa terhenti saat Papanya muncul dari balik pintu. Kemudian ia berlari menghampiri dan menyambut Firman.
"Kangennnnn," ucap Lisa antusias sambil memeluk erat tubuh Firman.
"Papa juga kangen sama putri kesayangan Papa," timpal Firman dan membalas pelukan Lisa.
"Oh iya, Papa punya hadiah buat kamu." Firman melepaskan pelukannya, Lisa semakin antusias saat mendengar kata 'Hadiah'.
"Sini duduk!"
Firman menarik lembut tangan Lisa, membawa putrinya duduk di sofa. Kemudian pria paruh baya tersebut menyodorkan sebuah paper bag kepada Lisa dan diterima dengan senang hati.
"Mas, baru sampai?" tanya Isabel yang muncul dari dapur.
"Iya Sayang," jawab Firman sambil mencium kening Isabel.
"Gaun?" Lisa tampak heran saat mengeluarkan isi dari paper bag yang diterimanya.
"Papa sengaja beli ini untuk kamu. Sebentar lagi kamu akan tunangan." Isabel langsung mencubit gemas perut Firman, sementara Lisa menyatukan kedua alisnya.
"Tunangan? Papa suka bercanda deh," timpal Lisa, ia terkekeh pelan.
"Haha, Papa kamu emang suka bercanda," seru Isabel sambil melotot tajam saat Firman ingin membantah.
"Gaunnya bagus Pa, Lisa suka."
Lisa memperlihatkan gaun tersebut yang ia tempelkan di badannya.
"Iya bagus, anak Mama tambah cantik." Isabel membenarkan, sementara Firman tak berani lagi bersuara setelah mendapat pelototan tajam dari istrinya.
"Lisa bawa ke kamar ya, Ma, Pa."
Isabel dan Firman mengangguk dan membiarkan Lisa pergi dari hadapan mereka.
"Belum saatnya! Kenapa ucapan kamu tidak bisa dijaga!"
Ada banyak hal yang tidak kita ketahui di hidup ini. Teruslah mencari jawaban dari segala keraguan.