
Main sana! Jangan rebahan Mulu :)
. . .
"Gimana Ren?" tanya Zidan saat Rendy yang menjabat sebagai ketua kelas IPS-3 baru saja datang dari ruang piket.
Rendy tersenyum jahil, ditatapnya kini teman sekelasnya yang menunggu jawaban darinya.
"Bu Dita gak masuk woiii! Kita free!"
Sontak kelas pun menjadi ricuh, kabar bahagia seperti ini sangat jarang terjadi. Kapan lagi guru matematika yang sangat rajin datang mengajar itu tidak datang.
Bu Dita merupakan guru matematika terkiller kedua setelah bu Nilam, keduanya memiliki watak yang sama serta sangat rajin mengajar, dalam satu semester hampir tidak ada kedua guru tersebut absen. Namun untuk kali ini keberuntungan sedang memihak kelas XII IPS-3.
"Keluarin Do!" titah Elang yang sedari tadi hanya menyimak kegirangan teman sekelasnya.
Seluruh murid cowok berbondong-bondong duduk di lantai belakang setelah Elang bersuara. Kini mereka membentuk lingkaran besar yang di tengah-tengahnya sudah ada botol air mineral yang terisi sedikit.
Semuanya ikut serta bermain challenge botol, mau itu murid pintar atupun tukang molor, mereka semua ikut serta bermain challenge botol tersebut jika Elang yang mengajak.
Semenjak kedekatannya dengan Lisa, Elang sedikit banyak bicara. Teman-teman sekelasnya pun tidak takut lagi jika ingin mengobrol dengan Elang.
Berbeda dengan murid cowok, para murid cewek juga mengumpul di barisan meja Wana, mereka mulai menggosipi adik-adik kelas yang menurut mereka sangat caper dan centil. Wana yang merupakan pembawa gosip pun mulai berceloteh gemas, sedangkan yang lain menyimak saja dan ada yang merespon juga.
"Mulai dari gue," ucap Elang dan kompak teman lainnya mengangguk.
Elang mengambil botol tersebut, ia berjongkok agar saat melempar botol itu bisa berdiri seperti semula. Elang mengamati teman-temannya yang pada diam sambil memperhatikan arah botol yang akan Elang layangkan. Ia tersenyum miring, dalam hati berkata, "siap-siap kalian."
Botol pun melayang sambil berputar-putar, Elang dan lainnya begitu penasaran dengan posisi botol selanjutnya. Jika botol tersebut jatuh dan berdiri dengan mulus, maka Elang bebas mengeplak kepala mereka satu-persatu dengan botol lain yang sudah disediakan beserta air yang lebih banyak dari botol yang dilempar.
Dan ternyata botol yang dilayangkan Elang pun mendarat sempurna dalam keadaan berdiri.
"*****, pertama main langsung kena keplak."
"Pelan-pelan Lang!"
Elang tersenyum penuh kemenangan, ia meraih botol satu lagi yang disodorkan Agus lalu mengeplak kepala temannya satu-persatu. Ada 16 kepala yang harus Elang keplak.
"Kuat amat lo ngeplaknya Lang."
"Pelan Lang, pelan!"
"Alhamdulillah gak sakit."
"Yang kuat dong Lang ngeplak kepala Juna."
"Pukul di sini aja Lang, sebelah sini masih ada bekas bisul gue."
"Jangan pas di botak gue *****!"
"Itu Darel belum kena Lang."
"Awww."
"Aduh kapan lagi dikeplak sama cowok ganteng."
"Homo lu sat!"
"Becanda ****!"
Elang terus mengeplak kepala temannya satu-persatu tanpa menyahuti ocehan-ocehaan mereka. Namun ia juga menuruti permintaan mereka, seperti saat ini. Iya mengeplak bagian kanan kepala Aji, karena bagian kiri cowok itu masih ada bekas bisul yang belum kering.
Setelah mengeplak seluruh kepala temannya, Elang melemparkan botol yang ia pegang kepada Agus.
"Giliran lo Jar," ujar Juna.
Cowok bernama Fajar tersebut meraih botol yang dilemparkan Juna. Namun sayangnya kali ini botol yang ia layangkan tidak mendarat sempurna, alias jatuh tidak dengan posisi berdiri.
Keplakan bertubi-tubi pun melayang di kepala Fajar yang menerima dengan pasrah.
"Gila ya Fajar, diam bae di keplak," seru Rendy yang tak habis pikir dengan kesabaran yang Fajar punya, padahal mereka saja mengumpati Elang saat mengeplak mereka. Lah ini si Fajar, dapat 16 keplakan bertubi-tubi malah diam tanpa mengeluarkan sepatah kata yang mengumpat.
"Gue mah ikhlas lapang dada diapain aja," sahut Fajar setelah keplakan berkahir.
"Giliran lo," ujar Elang sambil melempar botol yang ia rampas dari Fajar.
Dengan sigap Rendy meraih botol yang dilemparkan Elang kearahnya. Cowok yang menjabat sebagai ketua kelas tersebut pun mulai melayangkan botol itu lalu dalam posisi berdiri botol tersebut mendarat dengan mulus.
"Yessss, ****** lo pada!"
Rendy tertawa puas sambil mengambil botol di sebelah Agus, ia sudah siap-siap mengeplak kepala Elang namun gerakannya langsung terhenti saat sebuah kayu panjang terpukul kuat di atas meja hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"KALIAN SEDANG APA? HAH?" tanya bu Nilam dengan wajah menyeramkan.
Seluruh murid yang tadinya ribut kembali duduk di kursi masing-masing. Dan kini kelas mereka pun kembali hening.
"Tidak ada yang berani jawab?" tanya bu Nilam lagi disertai pukulan keras kayu di meja.
"Lagi main challenge botol Bu, daripada gabut," jawab Elang dengan santainya.
Murid lainnya menatap gemas ke arah Elang, bisa-bisanya cowok itu menjawab dengan nada enteng.
"Berani kamu menjawab!"
Bu Nilam jalan mendekati meja Elang yang kini malah cengengesan.
"Ibu nanya, ya saya jawab," seru Elang masih dengan nada santainya.
"Pandai kamu menjawab ya!"
"Ya pandai lah Bu, anak TK juga pasti pandai kalau tinggal jawab. Ntar diam mulu dikira bisu."
Bu Nilam menggeleng-geleng pelan, baru kali ini ada siswa yang tidak takut dengannya.
"Oh kamu yang namanya Elang ya?"
Elang mengangguk antusias, ternyata namanya femous juga.
"Bener Bu, kok Ibu tau? Kita kan belum kenalan Bu," ujar Elang membuat bu Nilam menyunggingkan senyumnya.
"Siapa yang tidak kenal siswa tukang bolos seperti kamu," jawab bu Nilam sambil berjalan kembali ke meja guru.
"Sudah-sudah diam semuanya!"
Kelas yang tadinya ribut karena ulah Elang kembali hening.
"Berhubung bu Dita sedang sakit, saya yang akan menggantikannya mengajar di kelas ini."
Seluruh murid menghembus nafas pasrah, ternyata segalak-galaknya bu Dita, masih ada yang lebih galak lagi.
🦅🦅🦅
"Elang kok belum ke sini ya?"
Bingung Lisa, biasanya setiap istirahat Elang sudah berada di depan kelasnya.
"Masih di kelas mungkin Lis, samperin aja gih," seru Karin yang sedang memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Yaudah yuk bareng aja," ajak Nadia dan mendapat anggukan dari Lisa dan Karin.
"Lo gak ikut Ra?" tanya Lisa saat melewati meja Dira, cewek tersebut tampak sibuk dengan handphonenya.
"Enggak," jawab Dira seadanya tanpa melihat Lisa yang bertanya.
"Lo kenapa sih Ra? Gue ada salah ya sama lo?" tanya Lisa lagi yang sudah merasa jengah dengan sikap Dira yang terus mendiaminya.
"Gak ada," jawab Dira masih tetap menatap layar handphonenya.
"Udah Lis gak usah diajak bicara, lagi kesambet nih anak."
Karin menarik tangan Lisa keluar dari kelas diikuti Nadia.
Sesampainya di kelas Elang, ketiganya dibuat bingung dengan kericuhan yang terdengar sampai luar kelas.
"Ada apa ya di dalam? Gak biasanya nih kelas berisik," heran Nadia.
Karin memanggil salah satu siswi yang baru keluar dari dalam kelas.
"Di dalam ada apaan Cil?" tanya Karin kepada siswi bernama Cicil tersebut.
"Anak cowok pada main challenge botol."
"Oh gitu, yaudah makasih ya Cil," ucap Karin dan mendapat anggukan dari Cicil lalu cewek berbadan kurus tersebut pun pergi dari hadapan mereka.
"Masuk aja Lis," titah Nadia memberi saran.
Lisa memasuki kelas, sedangkan Nadia dan Karin berjalan duluan ke kantin.
"Elang, gak ke kantin?"
Elang menoleh ke arah sumber suara. Senyumnya mengembang kala Lisa berada di belakangnya.
"Bubar dulu, nanti kita sambung lagi."
Teman Elang lainnya mulai mengoceh heboh.
"Gak asik lo Lang!"
"Padahal lagi seru-serunya."
"Udahlah, ntar juga disambung."
"Do, ke kantin?"
"Meluncur."
Elang menarik lembut tangan Lisa keluar dari kelas, namun sebelumnya cewek tersebut tersenyum ramah kepada teman-teman Elang.
"Terus seperti ini ya Lang, terus berbaur sama teman-teman lo," ucap Lisa di sela-sela langkah mereka.
"Iya princess," timpal Elang sambil melemparkan senyum tipisnya.
"Gue senang kalau lo punya teman selain gue di sini," tutur Lisa lagi sambil mengembangkan senyumnya.
"Apapun yang buat lo senang, akan gue lakuin."
Elang menatap lekat mata Lisa. Kemudian mulai bersuara kembali.
"Anything for you Princess," ucap Elang diikuti oleh Lisa, lalu detik selanjutnya mereka tertawa kecil.
Empat kata itu selalu membuat hati Lisa menghangat, entah mengapa ia merasa spesial di hidup Elang.
. . .
Semua terasa ringan kalau lo yang meminta.
Tbc❤️