ELBRASTA

ELBRASTA
Part 4. Bolehkah Kita Berteman?



Bersyukurlah! Jangan ngeluh terus, oke :)


. . .


Lisa berjalan di sepanjang koridor, sapaan ramah dan senyum hangat selalu menemani hari-harinya, senyumannya tidak luntur dan terus ia tampilkan. Lisa semakin mengembangkan senyumnya saat menangkap sosok yang ia cari. Lisa berlari kecil mengejar langkah Elang, dan saat langkahnya sudah beriringan dengan langkah cowok tersebut, Lisa menampilkan senyumnya kembali.


"Pagi Elang," sapa Lisa sambil mengimbangi langkahnya karena Elang melangkah begitu lebar.


Elang tidak membalas sapaan Lisa, pandangannya masih fokus ke depan, dengan hanya melirik ia bisa mengetahui Lisa kini tengah tersenyum.


Lisa dan Elang yang kini sedang jalan beriringan menjadi pusat perhatian murid Jaya Tama, banyak yang merasa heran dengan kedekatan si peri baik hati dan dedemit itu. Mereka saling berbisik-bisik menebak hubungan apa yang sedang terjadi diantara kedua orang tersebut.


Elang menghentikan langkahnya, ditatapnya kini Lisa lekat-lekat, cowok itu juga mengubah posisinya menjadi menghadap Lisa, lalu ia dekatkan wajahnya ke telinga Lisa.


Hal tersebut semakin menambah keheranan murid Jaya Tama, bagaimana tidak, keduanya tampak seperti sedang ciuman di posisi seperti itu, dari mereka ada juga beberapa yang langsung memotret Lisa dan Elang.


"Temuin gue di rooftop saat jam istirahat," bisik Elang lalu menjauhkan dirinya dari Lisa, Elang berjalan menaiki tangga menuju kelasnya yang berada dilantai dua.


Lisa semakin mengembangkan senyumnya, sepertinya Elang ingin mengembalikan pitanya, syukurlah kalau seperti itu mamanya tidak akan mendumel lagi.


Gadis itu melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga, sama dengan kelas Elang, kelas Lisa juga berada di lantai dua.


Setelah memasuki kelas, Lisa langsung dihujani pertanyaan dari teman-temannya.


"Lis, lo ada hubungan apa sama tuh sunggokong?" tanya Dira yang sudah kepo akut.


"Siapa ya, Ra?" tanya Lisa balik karena bingung dengan sunggokong yang dimaksud.


"Si Elang maksud gue, lo ada hubungan apa sama dia?"


Ralat Dira dan kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


"Oh si Elang, gue gak ada hubungan apa-apa kok sama dia," jawab Lisa disertai senyum manisnya.


"Tapi kenapa lo berdua bisa sedekat ini?"


Dira menunjukkan layar handphonenya yang menampilkan foto Lisa dan Elang yang seperti sedang ciuman.


"Haha, siapa sih yang fotoin? Kok bisa persis banget kayak lagi ciuman ya," celetuk Lisa dengan kekehan kecil.


"Lis, lo jangan dekat-dekat sama tuh sunggokong, cowok freak itu gak pantas dekat sama peri baik hati seperti lo!" sahut Tina disertai anggukan teman cewek lainnya.


"Buset, kok jadi lo pada sih yang ngatur hidup Lisa? Biarin lah Lisa mau dekat sama siapa aja, iri aja lu pada!" cetus Bima, dan mendapat tatapan tajam dari para murid cewek.


"Heh, Bima sakti! Kita semua yang ada di sini itu khawatir sama Lisa. Kalau dia di apa-apain saman tuh cowok yang gak jelas asal-usulnya, gimana?" sewot Dira.


"Guys, kalian tenang aja, gue pastiin Elang gak akan ngelukai gue, dan terimakasih banget kalian semua sudah mau peduli sama gue," ujar Lisa masih dengan senyum manisnya.


Para teman Lisa pun bernafas lega setelah mendengar penuturan dari Lisa. Mereka kembali duduk di kursi masing-masing, kedatangan bu Nilam membuat suasana kelas menjadi tegang.


"Ujian dimulai, jangan ada yang berbuat curang!"


Bu Nilam memukul mejanya dengan kayu yang setiap mengajar selalu ia bawa. Lalu guru berkacamata tersebut menuliskan soal yang akan di ujikan di papan tulis.


"Kerjakan yang bener, dan jangan berisik! Ibu mau main Facebookan dulu," ujar Bu Nilam dan mendapat kekehan dari murid-murid, namun seketika kekehan itu hilang diganti dengan keheningan.


Lisa bernafas lega, setelah selesai mengerjakan soal-soal yang diberi Bu Nilam selama satu jam, ia memfoto lembar jawabannya dulu lalu mengumpulkannya.


Bu Nilam memperbolehkan Lisa keluar dari kelas walaupun jam istirahat belum tiba. Lisa segera mengirim beberapa foto lembar jawabannya ke group kelas.


Setelah itu ia bingung mau ke mana, lingkungan sekolah begitu sepi dan hanya dia saja yang baru selesai. Teman-temannya masih berjuang di sana, Lisa diambang kebingungan, jika ia ke kantin ia akan ditegur guru piket karena letak kantin emang bersebrangan dengan meja piket.


Pikiran Lisa pun langsung menuju ke rooftop, ia segera ke sana. Elang tidak akan berada di rooftop sekarang, laki-laki itu pasti tengah duduk manis di kelasnya.


Setibanya di pintu rooftop, Lisa langsung membuka pintu yang tidak dikunci. Ia berjalan ke tepi rooftop saat menyadari seseorang sedang tertidur. Lisa mengenali orang yang tertidur itu, orang itu adalah Elang. Lisa duduk dengan hati-hati di samping Elang.


"Gak usah liatin wajah gue mulu, gue emang ganteng," ucap Elang tanpa membuka matanya.


"Iya, emang lo ganteng." Seketika mata Elang terbuka lebar, tangan Lisa masih setia mengelus rambut Elang.


Tatapan mata Elang dan Lisa bertemu, Elang merasakan ada yang aneh pada dirinya, jantungnya berdegup kencang tak karuan sekarang, pertanda apa ini? Apakah ia terkena serangan jantung dadakan?


"Lo bolos ya, Lang?" tanya Lisa, namun tidak dengan ekspresi menyudutkan.


"Iya, lo sendiri?" tanya Elang balik, tatapan matanya masih mengarah ke wajah Lisa, ia juga menikmati elusan lembut di rambutnya, nyaman, entah mengapa Elang menjadi nyaman berada di dekat Lisa.


Dari awal bertemu dengan Lisa di depan lab, Elang sudah menaruh hati pada gadis di hadapannya ini. Wajah cantik dan kebaikan hati Lisa membuat Elang jatuh dalam pesonanya. Elang sempat berfikir ingin mengenal Lisa lebih dekat, tapi dia sadar siapa dirinya. Cowok pecandu narkoba sepertinya tidak pantas bersanding dengan peri baik hati seperti Lisa.


"Gue ada ulangan harian, dan gue udah selesai ngerjain terus disuruh istirahat duluan sama bu Nilam, gue bingung mau kemana, kalau gue ke kantin gue bakal ditegur oleh guru piket. Makanya gue kesini, mau menikmati angin pagi dari atas sini, gue kira lo gak ada di sini. Maaf ya Lang, gue udah lancang datang ke sini."


Lisa merasa bersalah, namun tangan yang ia pakai untuk mengelus rambut Elang langsung cowok itu raih dan membuka telapak tangannya.


"Ini pita lo, gue harap lo lupain kejadian kemarin dan jangan muncul lagi di hadapan gue. Anggap aja kita gak pernah ketemu sama sekali," ujar Elang sambil memberikan pita Lisa.


Entah mengapa saat Elang menyuruhnya untuk tidak muncul lagi di hadapan cowok itu, hati Lisa begitu nyeri mendengarnya.


"Elang, gue gak bisa jadi temen lo?" tanya Lisa menatap lekat tepat di manik mata Elang.


"Enggak!" jawab Elang cepat sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Lisa.


"Lo bohong Elang, lo sebenarnya ingin memiliki teman yang selalu ada di sisi lo kan? Tapi lo gengsi karena lo beranggapan cowok pecandu narkoba gak pantas mempunyai teman, iya kan, Elang?"


Elang terdiam, yang dikatakan Lisa barusan emang lah benar. Lagian siapa juga yang mau berteman dengan cowok aneh sepertinya.


"Gak usah sok tau! Pergi sana!"


Elang mengusir Lisa dengan ketus. Cowok itu memposisikan dirinya menjadi duduk, ditatapnya kini mata Lisa lekat-lekat.


"Jangan mimpi bisa deket sama gue!" ucap Elang sarkas membuat kedua sudut bibir Lisa menurun.


"Pergi sana!"


Lisa menundukkan kepalanya sejenak. Namun, detik berikutnya ia angkat wajahnya dan bibir gadis itu kembali melengkung menampilkan senyum manisnya.


"Gue tetap di sini, boleh ya, Lang? Gue janji gak ganggu lo."


Tidak ada jawaban dari Elang, cowok itu kini kembali membaringkan tubuhnya di atas tikar.


"Gue anggap lo bolehin," ujar Lisa dengan senyum yang masih mengembang.


Lisa beranjak dari duduknya, ia berjalan ke tepi rooftop. Tanpa ia sadari Elang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


Gadis itu tetap mengambangkan senyumnya, ia semakin melangkahkan kakinya ke tepi rooftop, selangkah lagi tubuhnya bisa terjun bebas.


Elang tampak khawatir saat Lisa berjalan ke tepi rooftop, dan kini gadis itu mengangkat kaki kanannya hingga tidak memijak tepi rooftop. Elang terkejut bukan main ia berlari sekencang mungkin menghampiri Lisa yang sepertinya ingin terjun bebas.


Elang memeluk tubuh Lisa lalu menarik gadis tersebut menjauh dari tepi rooftop. Lisa tersenyum kecil, dalam hati bersorak gembira karena Elang mau peduli dengannya.


"Lo gila ya? Kalau mau bunuh diri jangan di sini, ****!" bentak Elang, rahang cowok tersebut tampak mengeras.


Elang membawa Lisa kedalam pelukannya dan memeluk tubuh gadis itu erat-erat.


"Sebesar apapun masalah yang lo hadapi jangan sampai mati, Lisa!"


. . .


Sebuah rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.