ELBRASTA

ELBRASTA
Part 19. Permintaan Maaf



Terus lah bersyukur agar hidupmu tidak iri dengan orang lain. ( ◜‿◝ )♡


. . .


"Pulang nanti, lo duluan aja ya, Lang. Hari ini gue ada latihan buat olimpiade, gak apa-apa, kan?" tanya Lisa saat langkahnya dengan langkah Elang sudah sejajar.


Elang mengangguk kecil, ia mengerti untuk beberapa hari ini Lisa akan disibukan dengan olimpiade.


"Mau gue jemput?" tawar Elang.


"Boleh," jawab Lisa sambil mengembangkan senyumnya.


Selanjutnya tidak ada obrolan lagi diantara keduanya, hingga sampai di kelas Lisa Elang langsung pergi begitu saja.


Awalnya suasana kelas biasa-biasa saja, sampai akhirnya Lisa masuk ke dalam dan langsung dikerumuni oleh Tina dan lainnya.


"Sa, gue minta maaf sama lo. Gue yang udah hasut Kelly dan lainnya buat benci sama lo."


"Iya, sa. Kita yang udah nulis kata-kata jahat itu kemarin."


Lisa tertegun, dan murid lainnya pun terkejut dengan pengakuan Tina dan lainnya.


"Kita emang salah, Sa. Lo mau maafin kita, kan?" tanya Mira dengan wajah penuh harap.


Masih tidak bergeming. Lisa tidak mengerti kenapa Tina dan lainnya meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka di depan teman-teman lainnya.


"Jadi lo semua pelakunya? Cih, murahan tingkah lo semua!" umpat Dira yang beranjak dari duduknya.


"Gak nyangka ya gue. Ternyata otak kalian semua rada busuk!" sahut Karin sambil menunjuk keenam gadis yang mengerumuni Lisa.


"Cha, lo ikutan juga?" tanya Bima tak percaya.


Echa mengangguk lemah.


"Ini salah gue, Bim. Gue yang hasut Echa dan lainnya, kalian marahin gue aja!" timpal Tina.


"Lo kenapa jahat banget sih Tin sama Lisa?" tanya Nadia dengan ketus.


Tidak ada jawaban dari Tina, gadis itu menunduk lemah.


"Guys, udah ya jangan mojokin mereka. Gue maafin Tina dan lainnya," ucap Lisa memecahkan keheningan.


Sontak keenam pelaku tersenyum senang.


"Beneran, Lis?" tanya Desi memastikan.


"Iya, bener. Kalau kalian gak suka sama sikap gue, gue minta maaf banget. Kita semua di sini keluarga, jadi jangan ada yang saling benci lagi ya," ujar Lisa kemudian Tina dan lainnya memeluk tubuh Lisa, diikuti oleh Karin, Dira dan Nadia.


Sedangkan para murid cowok menatap penuh haru.


                            🦅🦅🦅


Bel istirahat berbunyi, bukannya mengampiri Lisa di kelas, Elang malah mengambil langkah menuju gudang belakang.


Dan sesampainya di gudang, Elang langsung menendang pintu gudang sampai terbuka.


Sedangkan kelima laki-laki yang berada di dalam gudang tersebut terlonjak kaget dengan kedatangan Elang.


Tanpa basa-basi Elang langsung meninju wajah cowok bernama Eman.


"Maksud lo apa?" tanya Eman, ia meringis kesakitan.


Nafas Elang memburu, rahangnya sudah mengeras. Mati-matian ia mengontrol emosinya.


"Mau kalian apakan Lisa nanti sore?" tanya Elang dengan tatapan tajam.


Eman dan keempat temannya mendadak terkejut dengan pertanyaan Elang.


"Mau kalian apakan, Hah!"


Satu pukulan kembali melayang mulus di wajah Eman.


Tak terima dengan perlakuan Elang, keempat geng star lainnya mulai menyerang Elang.


Akan tetap kalah walaupun mereka mengeroyok Elang karena cowok itu sangat jago bela diri.


Elang terus mengelak saat keempat geng star tersebut melayangkan pukulan dan tendangan kepadanya, tak sedikit pun kulitnya tersentuh.


Ia membiarkan saja mereka menyerangnya duluan, saat tenaga mereka habis baru lah Elang menyerang balik.


Dengan brutal Elang menendang dan memukuli wajah Gerry, hingga cowok itu pun tersungkur.


Elang kembali menangkis pukulan Bastian, sebagai balasan ia menendang kelamin cowok itu.


Hanya Bram dan Rizky yang tersisa, Elang semakin kuat melayangkan tinjunya, hingga akhirnya kedua cowok tersebut juga tersungkur di lantai.


"Apa mau lo?" tanya Eman.


"Batalkan perjanjian kalian dengan Lita dan jangan coba-coba ganggu Lisa!" jawab Elang dengan tatapan tajam.


"Gak bisa, berani bayar berapa lo ikut campur urusan kita?"


Tak kasi ampun Elang kembali menonjok Eman, kali ini ia layangkan ke perut cowok itu. Kemudian Elang menghajar abis-abisan wajah Eman, sampai-sampai tangannya ikut berdarah.


Baru lah Elang menghentikan pukulannya saat Gerry membuka suara.


"I-iya bener, kami batalin. Jangan hajar kami lagi, Lang," timpal Eman mencoba berusaha berdiri.


"Good boy, kalau dari tadi kalian setujui pasti gak akan kayak gini," ujar Elang sambil tersenyum miring.


Setelah cukup puas akhirnya Elang pergi meninggalkan kelima geng star yang sudah K.O tersebut.


Elang cukup senang, tidak hanya melindungi Lisa dia juga bisa melampiaskan emosinya yang sudah lama terpendam.


. . .


"Elang, dari mana?"


Langkah Elang terhenti saat suara Lisa terdengar mengalun indah di telinganya. Ia langsung membalikkan badannya.


"Yaampun, kenapa pakaian lo berantakan? Elang! Lo habis ngapain? Ini tangan lo juga kenapa berdarah?" tanya Lisa beruntun, ia meraih tangan Elang yang berlumuran darah.


Pakaian Elang benar-benar berantakan saat ini, baju yang awalnya dimasukkan dengan rapi ke dalam celana sudah keluar, dasi yang juga melekat rapi di lehernya sudah acak-acakan, dan keringat cowok itu terus bercucuran.


"Gue habis hajar geng star suruhan Lita," jawab Elang sembari mengelap keringatnya dengan ujung baju.


Lisa menatap tak percaya kepada Elang, lalu selanjutnya ia menarik tangan Elang. Hal tersebut membuat Elang terheran.


"Mau kemana, Lis?" tanya Elang tak mengerti.


"UKS," jawab Lisa singkat.


Tak ada lagi pertanyaan dari Elang, ia membiarkan Lisa menarik tangannya. Dan kini mereka kembali menjadi pusat perhatian murid Jaya Tama, banyak dari mereka bertanya-tanya dengan penampilan Elang yang terlihat habis berantam.


Lisa dan Elang tidak peduli sama sekali dengan bisikan-bisikan yang terdengar. Dan sesampainya di UKS Lisa langsung meminta kotak P3K kepada anggota PMR, ia juga meminta Elang untuk duduk di tepi brankar.


"Kak Elang kenapa, Kak Lis?" tanya salah satu anggota PMR.


"Gak apa-apa, cuman habis berantam. Kalian ke kantin aja gak apa-apa, biar Kakak yang obati," ujar Lisa, tak lupa senyum ramah pun ia tampilkan.


"Makasih, Kak. Kita pergi dulu," ucap anggota PMR tersebut dan berjalan keluar.


Lisa meraih tangan Elang, ia mengelap darah tersebut terlebih dahulu. Gadis itu terlihat fokus mengobati luka Elang, sedangkan Elang sendiri tersenyum kecil dengan perlakuan Lisa.


"Aww," lirih Elang saat Lisa meneken kuat lukanya.


"Elang, lo timbulkan luka ini gak kesakitan, kenapa pas diobati malah sebaliknya?" tanya Lisa yang gak habis pikir dengan tingkah Elang.


Tidak ada jawaban dari Elang, cowok itu malah menimpalinya dengan kekehan.


"Gue lapar, Lis."


"Sebentar, Elang! Gue belum selesai," tutur Lisa masih fokus meneteskan obat.


Dan selanjutnya tidak ada protes lagi dari Elang, cowok itu mempasrahkan saja apa yang Lisa lakukan.


                          🦅🦅🦅


"Angka 24 dapat dari mana, Lis?" tanya Vina, ia masih bingung dengan jalan yang di jelaskan Lisa.


Saat ini Lisa, Vina dan Ajeng sedang berada di perpustakaan. Sesuai instruksi dari bu Nilam, mereka diminta untuk membahas dan mengerjakan soal-soal olimpiade tahun lalu.


Selama dua Minggu mereka akan mempersiapkan semuanya, dan selama dua Minggu pula Lisa dan Elang tidak pulang bareng.


"Ini, dari angka 144 dibagi 6, Vin. Tapi harus dieliminasi dulu angka 8 ini," jelas Lisa dan Vina mengangguk ngerti.


"Oh iya, perwakilan tahun lalu siapa aja?" tanya Lisa.


"Kalau gak salah Riska, Citra terus ..." Ajeng tampak berfikir, mengingat-ingat satu nama lagi.


"Lita," jawab Vina tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar soal.


"Ah, iya Lita. Temen sekelas lo itu, Lis."


Lisa terkejut saat Vina dan Ajeng menyebut nama Lita.


"Perkosa dia, tapi jangan sampai kalian bunuh."


Perkataan Lita di gudang kemarin kembali terngiang, ternyata karena ini Lita membencinya. Karena ia terpilih menjadi perwakilan SMA Jaya Tama dan  menggantikan posisi Lita, ternyata karena itu Lita sampai menyuruh para geng star menghancurkan masa depannya.


Lisa tidak menyangka orang sepintar Lita melakukan hal keji hanya karena sebuah posisi. Jika bukan bu Nilam yang meminta, Lisa tidak akan mau menjadi perwakilan. Bu Nilam dan Vina yang memaksanya, karena mereka Lisa terpaksa menerima. Karena pada awalnya Lisa hanya ingin bersekolah dengan tenang tanpa harus memikirkan lomba ataupun olimpiade. Sudah cukup di SMA Garuda ia tertekan dengan itu semua.


Hanya kali ini saja, Lisa berjanji ini yang terakhir ia mengikuti olimpiade.  Setelah ini, ia hanya akan fokus pada ujian-ujian dan mengejar SNMPTN.


Karena sekarang, ia akan melakukan saran dari Elang. Jangan terlalu baik, ya jangan terlalu baik. Ia tidak akan terlalu baik kepada siapapun kali ini, ia sendiri akan menyeimbangkan porsinya.


Elang benar, semua ada porsinya. Kalau porsi itu terlalu banyak akan menyakiti diri sendiri, dan selama itu lah yang Lisa rasakan. Papanya selalu menuntutnya untuk mengikuti olimpiade dan lomba sana-sini tanpa mengerti perasaan Lisa sebenarnya.


Tapi untuk kali ini, Lisa akan melakukan semua sesuai dengan kehendaknya.


Itu hidup kalian.


Kalian sendiri yang mengaturnya.


Jangan terus-menerus berada di atas tekanan orang lain.