
Bersyukurlah atas nikmat yang masih Tuhan berikan. (灬º‿º灬)♡
. . .
Lisa tengah menunggu Elang di teras rumahnya. Malam ini Elang mengajaknya pergi ke pasar malam sebagai hadiah karena Lisa berhasil memenangkan olimpiade.
Empat hari berada di balaikota tidak menjadi sia-sia bagi Lisa dan kedua teman setimnya. Mereka berhasil mengalahkan SMA Garuda yang bertahun-tahun memegang posisi pertama. Jika biasanya SMA Jaya Tama hanya mampu menempati posisi harapan pertama, namun tidak untuk tahun ini.
Keberadaan Lisa membuat SMA Jaya Tama beruntung, gadis pintar tersebut benar-benar tidak bisa disepelekan.
Deru motor Elang membuat Lisa langsung berdiri, gadis itu langsung berlari kecil membuka gerbang.
"Sorry lama," ucap Elang sambil membuka helmnya.
"Gak apa-apa, Elang." Lisa tersenyum.
"Gak pamitan sama Mama lo dulu?" tanya Elang saat Lisa mengunci pintu rumahnya.
"Mama gak ada di rumah, gue udah bilang kok."
Elang mengangguk kecil, dilihatnya kini Lisa lekat-lekat.
"Kenapa gak pakai jaket?" tanya Elang setelah sadar Lisa tidak mengenakan jaket.
"Kan ada jaket lo," jawab Lisa dengan entang, tak lupa cengiran lebar pun ia tampilkan.
"Ck, lo ini." Elang menggeleng kecil lalu membuka jaket yang ia kenakan, selanjutnya jaket tersebut sudah melekat di badan Lisa.
"Elang, kangen sama gue gak?"
Gerakan tangan Elang terhenti, dan pandangan Elang beralih ke manik mata Lisa. Padahal pengait helm yang dikenakan Lisa belum terpasang sempurna.
"Penting kah gue jawab?" tanya Elang balik yang semakin menipiskan jarak di antaranya dan Lisa.
"Penting, Elang." Senyum Lisa semakin mengembang.
"Kalau gue jawab enggak lo bakal marah?"
"Enggak."
"Yaudah itu."
"Itu apanya, Elang?"
"Jawaban gue."
Pengait helm Lisa pun terpasang sempurna oleh Elang. Sedangkan Lisa malah cengengesan.
"Menurut lo, gue cantik gak, Lang?"
"Cantik."
"Pinter?"
"Pinter."
"Ka-"
"Buruan naik!"
Cengiran Lisa semakin melebar, sesuai perintah Elang ia segera naik ke atas motor.
Tangan Lisa melingkar manis di pinggang Elang. Gadis itu terus mengoceh sepanjang jalan.
"Lo kedinginan gak, Lang?"
"Enggak."
"Pastinya dong, kan udah gue peluk."
Elang tersenyum kecil, malam ini Lisa terlihat begitu antusias. Dan sesampainya di pasar malam Lisa semakin antusias dan bersemangat.
"Wahh keren ya, Lang?"
Lisa menatap takjub keramaian dan wahana permainan di pasar malam tersebut. Ini pertama kalinya ia datang ke pasar malam.
"Ayo!" Elang menarik lembut tangan Lisa, membawa gadis itu masuk ke dalam.
Wahana bianglala menjadi sasaran Lisa, kini ia dan Elang tengah mengantri menaiki wahana tersebut. Sebelumnya Elang sudah membeli minuman dan makanan ringan.
Giliran Elang dan Lisa pun tiba, Elang membantu Lisa menaiki wahana tersebut, memastikan gadis itu tidak terjatuh.
Bianglala mulai memutar, lagi-lagi Lisa berdecak kagum melihat pemandangan pasar malam. Apalagi saat sangkar yang mereka tempati berada di paling atas. Keindahan kota dengan lampu-lampu jalan yang menyala terang semakin membuat suasana menjadi indah.
"Lo gak takut?"
"Kalau ada lo, apapun itu gue gak akan takut," jawab Lisa sukses membuat Elang menegang di tempat.
"Jangan lihat ke bawah terus!" Elang menegakkan kepala Lisa.
"Lo sering ke sini ya, Lang?"
"Jarang."
Lisa mengangguk singkat, dan selanjutnya tidak ada pembicaraan lagi diantaranya dan Elang. Gadis itu asik memandangi suasana pasar malam, sementara Elang sendiri asik memandangi wajah Lisa.
Lima kali memutar akhirnya bianglala kembali berhenti, memaksa pengunjung untuk segera turun. Dan selesai turun dari bianglala Lisa mengajak Elang menaiki wahana Kora-Kora. Wahana yang sangat-sangat Elang hindari.
"Ayo dong, Lang. Masa gue naik sendiri," ucap Lisa saat Elang menolak mentah-mentah ajakannya.
"Kita lihat tong setan aja, gimana?"
"Gue mau naik itu, Elang!" kekeuh Lisa sambil menunjuk wahana Kora-Kora.
Elang menghembus nafas pasrah dan menyetujui permintaan Lisa walupun sebenarnya ia takut menaiki wahana tersebut.
Wahana Kora-Kora akan berayun dengan kecepatan yang lumayan cepat sehingga mampu membuat pengunjungnya menjerit-jerit ketakutan. Meskipun menegangkan, tapi wahana Kora-Kora ini cukup banyak digemari oleh para pengunjung pasar malam.
Lisa berhasil mendapatkan tiket wahana tersebut, dan saat giliran mereka tiba Elang naik dengan ragu-ragu. Sementara Lisa sudah duluan duduk di kursi belakang. Kursi yang benar-benar sangat Elang benci, dimana kursi tersebut banyak memakan korban jiwa.
"Kita duduk di tengah aja, ayo!"
"Gak mau, Elang! Di sini aja!" tolak Lisa dengan cepat. Lagi-lagi Elang hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Lisa.
Beberapa menit kemudian wahana tersebut mulai berayun, awalanya Lisa menikmati ayunan wahana tersebut karena berayun cukup pelan. Namun, detik selanjutnya Lisa menyesali pilihannya. Wahana berayun dengan cepat, seluruh pengunjung yang menaiki wahana tersebut berteriak histeris. Sementara Elang terlihat tenang walaupun sebenarnya ia takut setengah ******.
Elang melepaskan cengkraman tangan Lisa, kemudian mendekap erat tubuh gadis itu. Sementara sebelah tangannya berpegang kuat pada ujung kursi.
"Ada gue, jangan takut. Lo cukup merem aja," ucap Elang. Detak jantung keduanya berpacu lebih cepat seperti sedang di ambang kematian.
Beberapa menit kemudian ayunan wahana memelan, dan selanjutnya wahana tersebut berhenti dengan mulus. Elang menghela nafas legah, kemudian melepaskan dekapannya di tubuh Lisa.
"Ayo turun!"
Tubuh Lisa bergetar hebat, hal tersebut membuat Elang panik mendadak.
"Yaampun, Sa." Elang membantu Lisa berdiri, dan dengan hati-hati ia menuntun Lisa untuk turun. Tubuh Lisa masih bergetar, Elang dirundung kepanikan. Ia membawa Lisa duduk di kursi yang tidak jauh dari wahana tersebut.
"Minum dulu," ucap Elang setelah mengambil botol minuman di dalam tas Lisa.
Setelah Lisa cukup tenang baru lah Elang bernafas legah.
"Maaf ya, Lang." Lisa menyesali pilihannya, ia tidak menyangka wahana tersebut berayun dengan cepat.
"It's okey, kedepannya lo bisa nentuin pilihan yang tepat," ujar Elang sembari tersenyum kecil.
"Ada lagi yang mau dinaiki?"
Lisa langsung menggeleng kuat membuat Elang terkekeh geli.
"Atau ... mau es krim?"
"Boleh," jawab Lisa antusias.
"Tunggu di sini!" Elang langsung beranjak pergi.
Lisa tersenyum bahagia, Elang selalu menuruti permintaannya walau permintaan tersebut salah. Ia semakin bersyukur memiliki teman seperti Elang, karena berada di sisi Elang membuat Lisa merasa aman dan nyaman.
Dan tak lama Elang kembali datang dengan membawa dua buah es krim coklat dan vanilla.
"Makasih Lang," ucap Lisa saat Elang menyodorkan es krim coklat kepadanya. Elang selalu tau apa kesukaan Lisa, hal tersebut membuat Lisa merasa spesial.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, tak ada obrolan yang tercipta. Baik Elang dan Lisa hanya diam sambil menikmati es krim masing-masing. Namun, beberapa menit kemudian Lisa mengajak Elang untuk pulang.
"Gak mau naik wahana lain?" tanya Elang sambil mensejajarkan langkah mereka.
"Enggak, Elang. Gue udah capek," jawab Lisa tanpa melihat sang lawan bicara.
"Oke," timpal Elang. Ia tak mengerti dengan suasana hati Lisa hari ini. Saat pergi Lisa terlihat antusias dan semangat, tapi saat pulang ia malah diam membisu dan lesuh.
Tidak mau terus-menerus larut dalam penasarannya Elang mencoba berfikir positif. Sesampainya di parkiran ia memasangkan jaket dan helm kepada Lisa. Gadis itu masih tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Elang semakin bingung dengan sikap Lisa.
"Lisa."
"Hm."
"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Elang sambil melirik Lisa dari kaca spion.
"Gak apa-apa, Elang," jawab Lisa yang semakin mengeratkan pelukannya.
Akhirnya Elang bernafas legah, ia kembali fokus menyetir. 35 menit menempuh perjalanan akhirnya motor Elang tiba di rumah Lisa.
"Udah sampai," ucap Elang sembari melepaskan tangan Lisa di pinggangnya.
"Oh, iya." Lisa turun dengan hati-hati kemudian melepaskan jaket Elang.
"Makasih ya, Lang."
Elang hanya mengangguk kecil, suasana rumah Lisa terlihat sepi. Sepertinya orang tua gadis itu belum pulang.
"Mau mampir dulu?" tawar Lisa sambil mengucek matanya.
"Lain kali aja, lo harus istirahat." Elang membelai lembut rambut Lisa. Kemudian menyuruh gadis itu segera masuk, setelah itu ia pun pergi.
Suasana malam semakin dingin, Elang memberhentikan motornya sejenak di warung kopi. Namun, belum sempat ia memasuki warung tersebut sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
Layar panggilan menampilkan nama Lisa, ia segera menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Lis. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Lang. Itu ... emm anu."
Dahi Elang mengernyit bingung.
"Anu apa? Lo kenapa?" tanya Elang yang gak sabar dengan ucapan Lisa.
"Gu-gue kedatangan tamu, lo bisa beli pembalut buat gue?"
Dari balik telpon Lisa mengigit bibirnya dengan perasaan malu. Ia tidak menyangka kalau tamunya datang lebih awal bahkan stok pembalut di rumahnya belum sempat ia beli.
Sementara Elang terkekeh geli dari balik telepon. Pantas aja sikap Lisa berubah drastis, ternyata ini penyebabnya.
"Bisa, 15 menit lagi gue ke sana."
"Makasih, Elang. Gue matiin ya telefonnya, assalamualaikum."
Tuuttttt.
"Waalaikumsalam."
Elang menggeleng kecil, senyumnya terus terpatri, yang namanya kaum hawa benar-benar lucu saat sedang kedatangan tamu.
"Jadi, karena ini?"
Hallo readers, thank you so much udah mau baca cerita abal-abal ini.😆
Btw, ini belum memasuki konflik besar. Hanya konflik pertemanan biasa.
Ditunggu aja ya part selanjutnya, ajak teman, saudara, sahabat, pacar, dan siapa pun orang-orang terdekat kalian untuk baca cerita ini yuk.😆
Tunggu sampai ending, dan nikmati cerita ini, guys.❤️
Happy reading ❤️
Salam hangat
Anggi_kk