ELBRASTA

ELBRASTA
Chapter 2 (Ulangan Harian)



Kalau kemana-mana, bahagianya jangan lupa di bawa ya :)


. . .


"Sa, sudah belajar?" tanya Firman saat melihat Lisa duduk santai di teras rumah.


"Bentar lagi Pa, Lisa masih mau menikmati angin malam dulu," jawab Lisa disertai senyum manisnya.


"Yasudah, jangan kelamaan diluar ya, nanti putri cantik Papa masuk angin loh," canda Firman sambil mengacak-acak rambut Lisa.


"Iya Papa," ujar Lisa tetap menampilkan senyum manisnya.


Beberapa menit setelah kepergian Firman, Lisa membuka group wa kelasnya. Semenjak kehadiran Lisa di XII IPA-1, ia juga sudah menjadi bagian dari group kelas tersebut. Seperti saat ini, Lisa terkekeh pelan membaca isi pesan yang dikirim teman-teman sekelasnya.


Elsen_Hinanu


Tidur woi! Besok mulung 💩


IchaAcha


**** Elsen, besok ulangan harian fisika yg bener!


Elsen_Hinanu


Off, ada bendahara


Deren_Hinanu


Lah, apa iya cha?


Bima_Sakti


Lu nonton si montok mulu sih ren, makanya lupa besok ulangan


IchaAcha


Kayak lo enggak aja Bim😒


Bima_Sakti


Ehehe, enggak lagi sayangku😘


Jeje_


Dih, najis💩


Elsen_Hinanu


#2


Deren_Hinanu


Ikan teri, ikan paus


Aku iri, kapan putus?


Bima_Sakti


Satu dua bola ubi


Bukan urusan lu ****!


Leony


Tuh tangan gak pernah disekolahin?


Jeje_


Tangan mana bisa di sekolahin bege.


IchaAcha


Tau tuh Leonel Messi!


Dan selanjutnya para anggota group pun menyerang Leony.


Lisa menggeleng-geleng kecil, ternyata teman-teman sekelasnya pada receh. Untunglah ia membuka group, ia sempat lupa jika besok ada ulangan harian. Lisa langsung masuk ke dalam rumahnya dan berjalan menuju kamarnya untuk belajar.


🦅🦅🦅


Seluruh murid IPA-1 bernafas lega, ulangan harian telah berlangsung. Dan benar apa yang di katakan anak-anak SMA Garuda, Lisa benar-benar tidak pelit. Selama ulangan berlangsung, siapa saja yang meminta jawaban akan diberi Lisa dengan senang hati. Jika ulangan pertama Lisa mau berbagi dengan mereka, itu berarti di ulangan berikutnya Lisa mau berbagi juga, mereka tidak perlu susah-susah belajar jika seperti ini.


"Gila ya, keberadaan Lisa bener-bener bantu kelas kita banget," celoteh Acha disertai anggukan lainnya.


"Haha, bisa aja lo, Cha," ujar Lisa tertawa kecil.


"Beneran, Lis, selama gak ada lo, si juara satu kelas itu pelit banget ngasi jawaban," seru Dira ikut menimbrung.


"Mungkin aja dia capek belajar, dan mau menikmati hasil usahanya sendiri."


"Gila ya Lisa, positif thinking mulu perasaan," ujar Leony membuat suasana kantin menjadi riuh karena tawa para cewek-cewek IPA-1.


"Mau gue temenin, Lis?" tawar Karin lagi, diantara cewek-cewek IPA-1, hanya Karin lah yang sering menawarkan diri kepada Lisa.


"Gak usah Rin, gue sendiri aja gak apa-apa, makasih buat tawarannya," ucap Lisa dengan senyum yang mengembang, Karin mengangguk ngerti dan membiarkan Lisa pergi.


Selesai mengambil beberapa alat di tasnya, Lisa kembali melangkahkan kakinya menuju lab. Letak lab tersebut berada di ujung dan jauh dari ruangan kelas-kelas.


Suasana koridor yang sepi tidak membuat nyali Lisa takut, ia segera memasuki lab dan meletakkan barang yang ia pinjam pada tempatnya, setelah menutup pintu lab kembali Lisa segera melangkahkan kakinya menuju kelas.


Namun baru beberapa melangkah, Lisa tertunduk melihat tali sepatunya yang terlepas, Lisa ingin berjongkok namun tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya hingga Lisa tersungkur di lantai.


Lisa sempat meringis kesakitan sebelum melihat sang pelaku yang menyebabkannya tersungkur di lantai.


Mata Lisa bertemu dengan tatapan dingin seorang cowok yang menabraknya. Namun detik selanjutnya Lisa menampilkan senyum ramahnya, tidak perlu menyuruh cowok tersebut untuk membantunya berdiri, Lisa memilih berdiri sendiri dengan senyuman yang masih mengembang.


"Lo barusan nabrak gue, gak mau minta maaf?" tanya Lisa disertai senyumnya, ia hanya sekedar basa-basi saja sebenarnya.


Cowok dihadapan Lisa masih menutup rapat mulutnya, cowok yang tidak memiliki nametag di bajunya, serta penampilan yang urak-urakan tersebut kembali menatap tajam mata Lisa.


Lisa yang mendapat tatapan tajam dari cowok tersebut tidak menampilkan raut wajah yang takut, ia malah semakin melebarkan senyumnya.


"Nama gue Kalisa Andriani, biasa di panggil Lis-"


"Udah tau!" potong cowok tersebut dengan cepat, Lisa menyengir lebar, ya iyalah, siapa yang tidak tahu dia di sekolah ini. Seluruh murid SMA Jaya Tama juga sepertinya tahu siapa Lisa.


"Kalau lo udah tau nama gue, bolehkan gue tau nama lo?" tanya Lisa masih dengan senyumannya, ekspresi cowok dihadapan Lisa berubah menjadi sendu, Lisa yang mengetahui perubahan ekspresi cowok tersebut langsung ia tatap mata cowok itu lekat-lekat, Lisa bisa mengambil kesimpulan, dibalik mata tajam itu banyak menyimpan kesedihan dan kepahitan.


"Jangan ngarep!" ujar cowok tersebut dan berlalu meninggalkan Lisa sambil meninting tasnya.


Lisa membiarkan cowok tersebut pergi, ia rasa cowok berpenampilan urak-urakan tersebut sedang ingin cabut.


Saat hembusan angin yang kencang, Lisa menyingkirkan rambutnya dari wajah, namun betapa terkejutnya ia saat pita pemberian mamanya tidak ada di rambut. Lisa begitu panik, ia memegangi rambut bawah dan atasnya bergantian, namun tidak ada juga. Di sekitar lantai koridor juga tidak ada, Lisa melirik ke belakang, tepat ke arah cowok yang menabraknya tadi. Pitanya, pitanya menyangkut di tas cowok itu, Lisa berlari kecil menghampiri cowok tersebut yang sudah memanjat tembok pagar.


"Pita gue nyangkut di tas lo!"


Sayangnya ucapan Lisa tidak di dengar cowok tersebut karena sudah melompat duluan dari tembok.


Lisa menghembuskan nafas kasar, jika mamanya tau ia menghilangkan pinta itu, habislah ia terkena semprot sang mama.


🦅🦅🦅


"Lo kenapa Lis, sakit?" tanya Nadia merasa heran dengan keterdiaman Lisa semenjak tadi pagi.


"Enggak kok, Nad," jawab Lisa lesuh, semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan pita pemberian mamanya, sampai-sampai ia tidak makan malam demi menghindari sang mama, ia tidak ingin mamanya kecewa karena keteledorannya yang sudah menghilangkan pita itu, Lisa menjadi merasa bersalah, tadi pagi juga ia sengaja pergi buru-buru supaya mengalihkan perhatian mamanya.


"Jadi, lo kenapa? Ada masalah? Cerita aja ke kita-kita, gak keberatan kok," timpal Karin dan mendapat anggukan setuju dari Dira dan Nadia.


Lisa diam sejenak, haruskah ia menceritakan pitanya yang menyangkut di tas seorang cowok? Sepertinya tidak perlu, Lisa hanya perlu tau keberadaan cowok itu saja.


"Kalian tau cowok yang berpenampilan urak-urakan di sini?" tanya Lisa dengan ekspresi yang tidak murung lagi. Lisa yakin ketiga temannya ini pasti tau dimana kelas laki-laki kemarin.


"Cowok urak-urakan yang gimana maksud lo? Disini banyak cowok yang berpenampilan urak-urakan soalnya," tanya Dira balik, Lisa berpikir sejenak, ia mengingat hal apa yang mencolok dari cowok kemarin.


"Yang wajahnya datar, terus tatapannya tajam, iya itu," jawab Lisa antusias. Dira, Karin dan Nadia saling bertatapan membuat dahi Lisa mengernyit heran.


"Lo diapain sama cowok itu, Lis? Cowok itu gangguin lo? Bilang sama gue, biar gue hajar tuh cowok," seru Karin dengan ekspresi marahnya, Lisa semakin bingung, sepertinya ketiga temannya ini tidak suka dengan cowok tersebut.


Lisa tertawa kecil, ditatapnya kini Dira, Karin dan Nadia bergantian. "Guys, gue gak di apa-apain kok, gue cuma ada perlu aja sama cowok itu. Jadi, bisa kalian kasi tau nama dan kelas cowok yang gue maksud?" pinta Lisa dengan senyumannya.


"Namanya Elang, dia anak kelas XII IPS-3, urusan apapun itu, gue harap lo selalu hati-hati sama cowok itu," ujar Karin memberi tahu, Lisa kembali bingung, apakah cowok bernama Elang tersebut berbahaya?


Dira yang mengerti kebingungan Lisa, kembali membuka suaranya dan menjawab kebingungan Lisa.


"Elang terkenal Freak banget di Jatam, cowok itu bahkan tidak mempunyai teman disini. Semua orang disini bahkan yang sekelas dengan dia gak ada yang berani mendekat Lis, Elang juga jarang memunculkan dirinya di keramaian, bisa dihitung berapa kali dia terlihat berada di kantin, dia sering mengasingkan diri. Tidak ada murid yang berani berinteraksi dengan Elang, cowok itu, memiliki banyak misteri. Hanya satu orang saja yang berani mengajaknya bicara."


"Siapa orang itu?" tanya Lisa, terjawab sudah keheranannya saat Karin memintanya untuk berhati-hati.


"Vina, cewek nerd itu yang berani mengajak Elang bicara, dan cewek itu juga sepupu dari Elang. Mereka berdua sama-sama aneh," jelas Nadia.


Lisa menggangguk paham, lalu gadis itu berpamitan untuk menghampiri Elang, namun baru beberapa melangkah, kakinya langsung terhenti setelah Karin membuka suara kembali.


"Kalau lo gak nemuin Elang di kelas, cari ke atas rooftop, hanya tempat itu yang menjadi sarang Elang."


Lisa mengangguk dan tersenyum lebar, ia melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di kelas XII IPS-3, Lisa memanggil salah satu siswi kelas tersebut.


"Ehh Lisa, ada apa, Lis?" tanya siswi bernametag Wana tersebut dengan ramah.


"Elangnya, ada didalam?" tanya Lisa tanpa basa-basi, wajah Wana tampak heran dengan keberadaan Lisa yang mencari Elang.


"Elang ya Lis, dia gak ada di kelas dari les ketiga," jawab Wana disertai kelesuhan Lisa.


"Yahh, gitu ya, Na. Yaudah makasih ya, gue balik ke kelas lagi."


Lisa segera berpamitan dan setelah mendapat sahutan dari Wana ia pun melangkahkan kakinya menuju rooftop. Seperti yang dikatakan Karin, kalau Elang tidak ada di kelas, berarti cowok tersebut sedang berada di rooftop.


Setelah kepergian Lisa, Wana langsung masuk kembali dengan kabar yang heboh, cewek biang gosip tersebut langsung memberi tahu teman sekelasnya perihal Lisa yang mencari Elang.


Mengapa banyak sekali manusia yang menyimpan kepahitan hidup di balik wajah datar?