ELBRASTA

ELBRASTA
Chapter 1 (Dinner?)



Jangan lupa tersenyum :)


. . .


"Kalisa Andriani?"


"Iya saya, Pak?"


Dengan mengheran bingung cewek yang bernama Kalisa Andriani tersebut pun mengangkat tangannya.


"Setelah istirahat ke ruangan saya, ada beberapa hal penting yang ingin saya tanyakan ke kamu seputar kepindahan kamu ke SMA Jaya Tama," seru pak Andi yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah.


Cewek yang akrab disapa Lisa tersebut pun mengangguk ngerti sembari tersenyum ramah kepada pak Andi. Setelah kepergian pak Andi teman sekelas Lisa langsung mengerumuni mejanya.


"Lis, itu pak Andi mau nanya apaan ya? Jarang banget loh dia mau tau murid baru di sini," tanya Dira, si biang kepo kelas.


Pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab sebenarnya. Namun Lisa kembali menampilkan ekspresi semenyenangkan mungkin, gadis itu tertawa kecil lalu menjawab pertanyaan Dira, "gue juga gak tau ra, ya mungkin aja mau tanya perihal alasan gue pindah ke sini."


"Tapi kayaknya enggak deh, Lis, atau jangan-jangan itu cuman alibi pak Andi aja supaya bisa berduaan sama lo di ruangannya? Atau mungkin dia suka sama lo, Lis."


Lagi-lagi Lisa tertawa renyah, senyum manis pun kembali terpatri di wajahnya.


"Ra, jangan buat perut gue sakit mulu ihh, gak mungkin lah pak Andi suka sama gue, ada-ada aja deh lo."


Tanpa merasa marah ataupun terganggu dengan kekepoan Dira, Lisa dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Dira. Wajar saja teman sekelasnya ini menganggap pak Andi menyukainya, karena wakil kepala sekolah SMA Jaya Tama tersebut emang masih muda dan belum menikah pula.


Semenjak kehadirannya di SMA Jaya Tama, nama Kalisa Andriani menjadi perbincangan hangat seantero sekolah. Memiliki paras cantik dan kulit putih membuat siapapun terpesona melihatnya. Tidak hanya itu, kebaikan hati, kepintaran serta keramahannya membuat semua orang berbondong-bondong untuk bisa berteman dengannya. Tak hayal, baru dua minggu ia menginjakkan kaki di SMA Jaya Tama sudah banyak murid-murid yang mengenalnya, mau itu dari kelas seangkatannya ataupun kelas bawahannya.


Kalisa Andriani, murid pindahan dari SMA Garuda, Lisa yang sebelumnya bergelar Queen SMA Garuda terpaksa pindah dari sekolah elit tersebut. Alasannya simpel, karena papanya yang meminta ia untuk pindah ke SMA Jaya Tama. Dan sampai sekarang ia tidak mengetahui mengapa papanya memintanya untuk pindah, padahal selama bersekolah di SMA Garuda, Lisa tidak pernah melakukan kesalahan apapun, mau itu melanggar peraturan sekolah ataupun lainnya. Malah nama Lisa begitu harum di SMA Garuda, gelar prestasi dari akademik maupun non-akademik sudah begitu banyak ia raih. Tak heran, banyak juga yang mengidolakan Lisa di SMA Garuda.


Cewek pintar yang selalu mendapat peringkat satu umum di SMA Garuda ini banyak disukai para murid SMA Garuda, mau itu cowok ataupun cewek, hampir tidak ada satupun orang yang membenci Lisa.


Ketidakpelitannya dalam segala hal membuat semua orang menganggap Lisa bak manusia sempurna. Jika biasanya seorang yang pintar selalu mendapat gelar dari kata NERD dan CUPU, tidak dengan Lisa. Tidak ada yang menganggap Lisa sebagai kutu buku maupun cewek cupu, Lisa memiliki sifat yang asik dan berbanding terbalik dari orang pintar pada umumnya.


Kepergian Lisa dari SMA Garuda membuat para murid disana bersedih hati, tidak ada lagi sosok malaikat yang menolong mereka di kala ujian matematika tiba. Ya, meskipun Lisa menjadi murid yang pintar, ia sama sekali tidak pernah pelit ilmu kepada siapapun. Apa lagi saat ujian sedang berlangsung, siapa saja yang minta jawaban kepada Lisa, dengan senang hati Lisa memberikannya tanpa meminta balasan apapun.


Kelas XII IPA-1 menjadi kelas yang beruntung karena adanya kehadiran Lisa, sudah banyak dari mereka yang mengetahui kebaikan Lisa semasa bersekolah di SMA Garuda, tepatnya kebaikan Lisa yang tidak pelit dalam memberikan jawaban, hal tersebut membuat para murid IPA-2 semakin berlomba-lomba untuk bisa dekat dengan Lisa. Mereka tidak perlu repot-repot mengemis jawaban lagi kepada si juara kelas yang terkenal dengan kepelitannya.


"Perhatian semuanya!"


Bu Nilam yang baru masuk kembali ke dalam kelas setelah beberapa menit yang lalu keluar membuat kelas kembali hening. Para murid yang tadinya asik bergosip ria dan mengerumuni meja Lisa kembali duduk di kursi masing-masing.


Wajah bu Nilam yang sangar, badan besar disertai kayu panjang yang ia pegang erat di tangan membuat siapa saja murid yang melihatnya menuduk takut. Pasalnya guru matematika ini terkenal sangat killer, jika melakukan kesalahan sekecil apapun akan berakibat fatal, lebih tepatnya mendapat pukulan keras dari kayu yang dipegang.


Bu Nilam membenarkan posisi kacamatanya sebentar, dan setelah itu ia kembali membuka suara.


"Minggu depan kita akan adakan ulangan harian, soal yang diujikan nanti tentang pertumbuhan dan peluruhan. Akan ada lima soal yang diujikan, ibu harap kalian belajar dengan keras agar bisa menjawab setiap soal tersebut, mengerti!" terang bu Nilam disertai pukulan keras kayu di meja, dan kompak seluruh murid menjawab Mengerti.


"Bagus, dan buat kamu Lisa, apakah sebelumnya pertumbuhan dan peluruhan sudah dipelajari di SMA Garuda?" tanya bu Nilam.


Lisa tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan bu Nilam, "sudah Bu, saya pastikan bisa menjawab soal-soal tersebut dengan benar nantinya," ujar Lisa dengan mantap, para murid lain menatap kagum Lisa, tanpa menyebut 'InsyaAllah' yang biasanya sering digunakan untuk meyakinkan seseorang padahal belum tentu dilakukan, ia dengan mantap memastikan bisa menjawab soal-soal yang diberikan Bu Nilam, hanya cuman 5 soal, tapi beranak.


"Bagus, kalau begitu berarti tidak ada di kelas ini yang tidak paham dengan pelajaran pertumbuhan dan peluruhan karena semuanya sudah masing-masing mempelajari. Baiklah, pelajaran telah selesai dan silahkan istirahat!"


Para murid IPA-2 pun menghela nafas lega setelah berakhirnya pelajaran bu Nilam, dan selanjutnya mereka berbondong-bondong menuju kantin.


Lisa menepati perintah pak Andi, setelah bel istirahat berbunyi ia segera mengambil langkah menuju ruangan pak Andi.


"Mau kita tungguin aja, Lis?" tawar Karin saat jalan beriringan dengan Lisa, letak jalan menuju ruangan wakil kepala sekolah dan kantin searah, itu sebabnya ia masih jalan beriringan dengan ketiga teman barunya.


"Gak usah, Rin, kalian bertiga duluan aja, ntar gue nyusul." Jawab Lisa disertai senyum manis yang menghiasi bibirnya.


"Yaudah kita duluan, Lis," pamit Dira dan mendapat anggukan dari Lisa.


Setelah kepergian ketiga temannya, tak lama akhirnya Lisa sampai di depan pintu ruangan wakil kepala sekolah. Lisa mengetuk pintu ruangan tersebut terlebih dahulu, ia tidak ingin masuk begitu saja, kesopanan harus tetap ia jaga.


Beberapa detik mengetuk, pak Andi muncul dari balik pintu dan mempersilahkan Lisa untuk masuk.


"Silahkan duduk, Lisa," seru pak Andi dan Lisa menuruti ucapannya.


Lisa duduk di kursi yang berseberangan dengan pak Andi. Ia tersenyum ramah saat pak Andi menatapnya lekat.


Pak Andi mulai buka suara, ia menanyakan beberapa pertanyaan pada Lisa, semulanya Lisa menjawab saja pertanyaan dari pak Andi, walaupun pertanyaan tersebut sangat jauh menyambung dari seputar keperihalannya masuk SMA Jaya Tama.


Makanan kesukaan, style favorit, musik favorit, idola favorit,dan lain sebaginya yang menyimpang dari seputar kepindahannya. Hingga pertanyaan yang dilontarkan pak Andi selanjutnya membuat keheranan Lisa semakin besar.


"Lisa, apakah kamu mau dinner bersama saya malam ini?"


Begitulah pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Andi, awalnya Lisa tampak begitu terkejut, namun setelahnya ia memasang kembali ekspresi yang ramah.


Lisa tertawa kecil lalu menjawab pertanyaan pak Andi. "Bapak bercanda ya?" tanya Lisa balik dengan tawanya.


"Saya serius, Lisa," jawab pak Andi sungguh-sungguh.


Lagi-lagi, Lisa tertawa kecil. "Papa Lisa galak, Pak, dan juga Papa Lisa gak suka kalau Lisa keluar malam sama cowok," ucap Lisa jujur, ya, Papa Lisa emang galak dan sangat posesif.


"Papa kamu tidak akan marah jika tau saya yang mengajak kamu keluar saat malam, Lisa," timpal pak Andi membuat dahi Lisa mengernyit bingung, namun detik selanjutnya Lisa tersenyum hangat.


"Bapak ada-ada aja deh, tapi Lisa benar-benar tidak bisa Pak, dan maaf banget ya Pak." Wajah Lisa berubah menjadi sendu,ia menampilkan ekspresi yang tidak enak setelah menolak ajakan dinner pak Andi.


Pak Andi jadi salah tingkah dengan ekspresi wajah Lisa yang berubah sendu.


"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Mungkin, next time saja saya aja kamu dinner," ujar pak Andi dan ekspresi wajah Lisa kembali menjadi ceria.


"Makasih ya Pak, Lisa kira pak Andi bakal marah," celetuk Lisa dengan tawa kecilnya.


"Yaudah Lisa sudah boleh kembali ke kelas belum, Pak?" tanya Lisa, sengaja menanyakan hal itu, ia tidak ingin lama-lama berbasa-basi dengan pak Andi.


"Iya, sudah boleh," jawab pak Andi, wajahnya terlihat murung.


Lisa mengangguk antusias, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan pak Andi.


Sedikit heran mengapa pak Andi mengajaknya tiba-tiba untuk dinner, padahal mereka sama-sama tidak saling kenal. Dan Lisa juga baru dua minggu bersekolah di SMA Jaya Tama.


Tidak ingin berpikir semakin keras, Lisa segera menyusul ketiga temannya ke kantin. Sesekali ia menyapa dan tersenyum hangat saat melewati segerombolan para murid.


Senyum dan sapaan ramah Lisa juga tidak di kacangin, para murid membalas balik senyuman dan sapaan Lisa tak kalah ramah, bahkan ada yang menawarkan Lisa untuk mengantarkannya ke kantin.


Lisa hanya menimpalinya dengan kekehan kecil dan menjawab, "gak usah guys, kalian gak perlu repot-repot seperti itu kok, gue duluan ya," pamit Lisa saat itu lalu melanjutkan langkahnya menuju kantin.


Sesampainya di kantin Lisa mendapat sambutan hangat dari ketiga temannya.


"Duduk, Lis," seru Nadia saat itu, Lisa mengangguk antusias lalu duduk di samping Nadia.


"Gimana? Pak Andi nanya dan ngomong apa aja sama lo?" tanya Dira memulai obrolan.


"Eh tapi sebelumnya lo pesan makan dulu, Lis, MBAK, SINI!" Dira melanjutkan ucapannya dan teriak memanggil pelayan kantin.


Lisa menyebutkan pesannya, dan setelah menuliskan pesanan Lisa pelayanan kantin pun pergi dari meja Lisa dkk.


"Ya gitu deh, pak Andi nanyain seputar kepindahan gue doang," jelas Lisa menjawab pertanyaan dari Dira tadi.


Dira, Karin, dan Nadia terlihat belum puas dengan jawaban Lisa.


"Masa sih, Lis, dia cuman nanyain seputar itu doang?" Lisa mengangguk disertai senyumnya menimpali pertanyaan Nadia.


"Gue kira pak Andi suka sama lo, soalnya dia termasuk guru yang cuek gitu. Belasan murid baru di SMA Jaya Tama gak pernah tuh pak Andi kepoin, tapi kali ini kok dia kepo ya, Lis, sama kepindahan lo," sahut Dila mulai berasumsi sendiri.


"Heh, Juminten! Ya wajarlah pak Andi kepoin Lisa, selama di SMA Garuda Lisa kan banyak prestasinya. Emangnya kayak lu pada, molor mulu pas belajar!" ujar Karin dengan sengit, Dira dan Nadia cengengesan.


"Hehe, iya juga ya," Lisa tertawa kecil disertai gelengan kepala. Ia sengaja tidak memberitahu hal yang sebenarnya, walaupun ia terlihat asik dan ramah pada semua orang, ia masih memiliki batas. Batasan untuk menjaga privasinya.


Kejujuran emang penting, namun sebuah privasi tidak untuk diumbar bukan?