ELBRASTA

ELBRASTA
Part 14. Undangan Ultah



Harapan tidak sesuai kenyataan? Jangan menyerah!


. . .


Suara bel rumah Lisa berbunyi, entah siapa sore-sore begini yang bertamu disaat Mama dan Papanya tidak ada di rumah.


Lisa beranjak dari kasur kemudian berjalan ke depan rumah.


Terlebih dahulu Lisa mengintip dari jendela, memastikan kalau yang bertamu saat ini adalah orang yang ia kenal. Dan ternyata benar, di depan rumahnya sudah ada Hana, teman sekelasnya sewaktu di SMA Garuda. Lisa segera membuka pintu rumah dan mendapati Hana yang langsung berlari heboh dan memeluk tubuhnya.


"Aaaa, kangen banget," seru Hana yang semakin mengeratkan pelukannya, Lisa hanya terkekeh geli mendengar penuturan teman lamanya itu.


"Eh, tunggu-tunggu, lo beneran Lisa, kan?" Hana memicingkan matanya setelah setelah pelukan terlepas.


"Ya beneran lah, Han." Lisa menggeleng kecil, emangnya wajahnya berubah menjadi kupu-kupu sampai-sampai Hana bertanya seperti itu.


"Gila, gila, makin cantik aja lo," Hana berdecak kagum.


Teman Lisa satu ini emang lebaynya minta ampun, padahal tidak ada yang berubah dari Lisa. Tapi ya namanya sudah berbulan-bulan tak jumpa, ya, wajar saja lah Hana seperti itu.


"Bisa aja lo, Na. Masuk gih!"


Lisa menarik lembut tangan Hana, membawa gadis itu masuk dan mempersilahkannya duduk di sofa ruang tamu.


"Mau minum apa, Na?" tanya Lisa.


"Jus aja, Lis. Eh, tapi terserah deh. Apa aja gue minum, kok." Lisa mengangguk kecil lalu mengambil langkah menuju dapur.


Beberapa menit kemudian, Lisa datang membawa segelas jus Apel dan beberapa toples cemilan ringan.


"Repot-repot amat lo, Lis. Padahal gue cuman sebentar loh."


"Gak apa-apa kali, Na. Kan lo jarang ke sini," timpal Lisa lalu meletakkan makanan dan minuman tersebut di atas meja.


Hana meminum jus tersebut terlebih dahulu untuk menghargai sang tuan rumah.


"Btw, nyokap lo mana, Lis?" tanya Hana, gadisnitu merasa heran karena rumah Lisa terlihat begitu sepi.


"Mama gue lagi ke pasar sama bi Ayu," jawab Lisa dan mendapat anggukan kecil dari Hana.


"Langsung aja ya, Lis. Gue ke sini mau ngasi ini." Hana menyodorkan sebuah amplop berwarna pink kepada Lisa.


Lisa mengernyitkan dahinya, di depan amplop tersebut tidak ada tulisan sama sekali yang bisa menjawab pertanyaan di otaknya.


"Buka aja," titah Hana yang malah asik mengemil.


"Birthday Party, lo?" Hana mengangguk antusias.


"Datang ya, Lis. Awas aja lo gak datang," cetus Hana, Lisa hanya tertawa kecil.


"Iya, gue datang kok," timpal Lisa membuat Hana mengembangkan senyumnya.


Lisa membaca deretan kalimat di dalam isi amplop tersebut. Kartu undangan itu tampak cantik dan elegan.


"Ajak cowok lo juga ya, Lis."


Lisa mengalihkan pandangannya ke arah Hana.


"Cowok?" tanya Lisa tak mengerti dengan yang Hana maksud.


"Iya, cowok lo di SMA Jatam, si Elang Elang itu loh," jawab Hana gemas.


Lisa tertawa renyah, benarkah ia dan Elang pacaran. Mengapa banyak sekali orang yang mengira kalau mereka ini pacaran.


"Cuman teman kali, Na."


"Ya apapun itu, pokoknya lo datang harus bawa pasangan, oke." Lisa mengangguk saja, mengiyakan ucapan Hana.


Mereka pun larut dalam obrolan seru, Hana tampak antusias mendengarkan cerita dari Lisa, dan begitu juga sebaliknya.


🦅🦅🦅


Saat jam istirahat tiba, Lisa langsung mengambil langkah menuju kelas Elang. Kali ini ia sudah mantap untuk mengajak Elang ke birthday party Hana.


Semenjak Hana pulang dari rumahnya kemarin, ia sudah ingin memberi tau hal tersebut kepada Elang. Namun ia merasa gak enakan dan takut Elang menolak.


Hingga di ambang kebingungannya, Lisa pun menceritakan keresahannya kepada Nadia dan Karin tadi pagi. Dan ya, kedua temannya itu menyarankan Lisa untuk memberanikan diri mengajak Elang, mereka juga meyakinkan Lisa kalau Elang tidak akan menolak ajakannya.


Setibanya di kelas Elang, Lisa mendapati laki-laki tersebut yang sedang menenggelamkan wajahnya di atas meja.


Lisa menggeleng kecil lalu menghampiri meja Elang.


"Elang," panggil Lisa yang sudah duduk di samping Elang.


Elang terbangun dari tidurnya, namun matanya belum terbuka sempurna.


Pertama kali yang Elang lihat adalah wajah cantik Lisa yang tengah tersenyum manis.


"Mau ke kantin ya, Lis?" tanyak Elang sambil mengucek matanya.


"Iya," jawab Lisa dengan kedua sudut bibir yang terus mengembang.


"Yaudah, ayo." Elang menarik lembut tangan Lisa, kini kesadarannya sudah kembali.


"Cuci muka dulu, Lang. Bibir lo ada ilernya." Elang melebarkan matanya, kedua tangannya sontak memegang bibirnya.


Sebenarnya tidak ada apa-apa di bibir ataupun di wajah Elang. Ia hanya sekedar menjahili Elang saja, dan ternyata benar-benar seru. Pantas saja Bagas selalu menjahili Elang.


Lisa menunggu Elang di depan pintu toilet cowok, dan banyak juga cowok-cowok yang langsung caper ke Lisa, pura-pura memasuki toilet padahal cuman ingin disapa Lisa.


Beberapa menit menunggu, Elang pun akhirnya keluar dari dalam toilet. Wajah dan rambut cowok itu tampak basah.


"Lap dulu, Lang. Tenang aja, sapu tangan ini bersih kok." Lisa menyodorkan sapu tangan yang setiap hari ia bawa.


Elang mengambil sapu tangan tersebut dan langsung menarik Lisa menjauh dari toilet.


Keduanya masih saling diam, padahal sudah sampai di kantin.


Elang melepaskan genggamannya dan mempersilahkan Lisa untuk duduk.


"Pesan kayak biasa ya, Elang."


Belum sempat Elang membuka suaranya, Lisa terlebih dahulu bersuara dan hanya dibalas anggukan saja oleh Elang.


Setelah kepergian Elang, Lisa mencari-cari keberadaan Karin dan Nadia. Dan ketemu, kedua temannya duduk di meja yang tidak jauh dari meja ia dan Elang. Di meja tersebut juga sudah ada Vina dan Dira.


Akhir-akhir ini Dira sudah mau bergabung dengan mereka, walupun masih menolak saat ada Elang.


Dari kejauhan, Nadia dan Karin mengacungkan jempol sembari mengucapkan semangat lewat pergerakan bibir. Lisa hanya membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum manis.


Elang pun tiba sambil membawa nampan yang berisi makanan mereka.


"Belum lo bayar kan, Lang?" tanya Lisa saat Elang sudah duduk di hadapannya.


Elang menggeleng pelan sambil meletakkan semangkuk siomay di depan Lisa.


"Gue yang bayar ya, Lang," seru Lisa. Ia merasa tidak enak kalau Elang yang terus membayar pesanannya.


Elang mengangguk saja, setiap Lisa yang meminta ia tidak bisa berbuat banyak.


Senyum Lisa semakin mengembang, Elang selalu menuruti permintaannya. Dan itu membuat Lisa semakin nyaman berada di samping Elang.


Lisa terpikir kembali dengan rencananya tadi, ia pun kembali membuka suara.


"Gue di undang ultah sama teman di SMA Garuda, menurut lo, gue harus datang gak, Lang?" tanya Lisa yang sibuk menuangkan saus di mangkuknya.


Elang mengehentikan aktivitasnya terlebih dahulu. Kini pandangannya ia alihkan ke wajah Lisa.


"Lo maunya gimana?" tanya Elang balik, wajahnya selalu menampilkan ekspresi datar.


"Gue mau datang, sih, Lang. Tapi bingung bareng siapa," jawab Lisa dengan wajah yang lesuh.


"Temen lo, kan banyak, Lis."


"Tapi mereka datang berpasangan, Lang." Lisa mengaduk-aduk makanan dihadapannya.


"Ternyata jadi jomblo gak enak ya, Lang. Mau kemana-mana aja harus sendirian," ucap Lisa menirukan gaya bicara Nadia tadi pagi. Kata-kata itu lah yang disarankan oleh Nadia dan Karin.


Dahi Elang mengkerut, sepertinya ada yang tidak beres dengan Lisa. Tumben sekali gadis ini mengucapkan kata-kata lebay.


"Lo gak lagi sakit kan, Lis?" tanya Elang was-was, takut kalau Lisa bener-bener sakit.


"Ihh, Elang! Ya enggak lah." Lisa mengerucutkan bibirnya, emangnya ucapannya ada yang salah, sampai-sampai Elang mengiranya sakit.


"Terus?" tanya Elang bingung.


"Tau, ah! Elang nyebelin!" Lisa melipatkan kedua tangannya di dada. Lagi-lagi ucapan dan tingkahnya adalah saran dari Nadia dan Karin.


Raut wajah Elang semakin bingung, mengapa Lisa menjadi manja dan labil kali ini. Benar-benar membingungkan bagi Elang.


"Kayaknya lo bener-bener sakit deh, Lis."


Lisa membulatkan matanya tak percaya, lagi-lagi Elang mengiranya sakit. Saran dari Nadia dan Karin sepertinya tidak mempan. Oke lah, Lisa harus memakai caranya sendiri kali ini.


"Enggak kok, Lang. Gue gak sakit apa-apa, yaudah jangan dipikirin lagi. Lanjut makan aja, Lang!" ucap Lisa sambil mengembangkan senyumnya. Elang mengangguk saja dan lanjut menyodorkan sendok ke mulutnya.


"Jadi lo mau datang sama siapa, Lis?" tanya Elang setelah selesai mengunyah.


"Sama lo ya, Lang. Lo mau kan?"


Akhirnya terucap juga kata-kata yang sedari tadi Lisa tahan.


Sebenarnya Lisa tidak suka basa-basi, namun ketakutannya kalau Elang menolak membuat ia harus menggunakan saran dari Nadia dan Karin yang ternyata sama sekali tidak mempan.


"Lo mau sama gue?" tanya Elang balik dan mendapat anggukan antusias dari Lisa.


"Oke," ucap Elang dengan singkat.


Lisa mengembangkan senyumnya lebih lebar, ternyata tidak sulit mengajak Elang.


Berbeda dengan Lisa yang tersenyum lebar, Elang menundukkan wajah dan menahan senyumnya.


"Siapa sih, yang ngajarin Lisa lebay kayak tadi." Batin Elang berseru.


Warna-warni pelangi indah ya, tapi lebih indah senyummu.


Tbc(人*´∀`)。*゚+